POIN KETUJUH:
Lem'alar · hlm. 176
Israf menghasilkan hirs (ketamakan). Hirs memberi tiga akibat.
Yang pertama:
Ketidakcukupan (hilangnya kanaah). Adapun ketidakcukupan mematahkan semangat untuk berusaha dan bekerja. Ia membuat orang mengeluh sebagai ganti bersyukur, melemparkannya ke kemalasan. Dan ia meninggalkan harta yang halal, sedikit, lagi sah{(Catatan): Karena ketiadaan iktisad, para pengonsumsi bertambah banyak, para produsen berkurang. Setiap orang mengarahkan matanya ke pintu pemerintah. Saat itu “seni, perniagaan, pertanian” yang merupakan sumber kehidupan sosial berkurang. Bangsa itu pun merosot dan jatuh, menjadi fakir.}; lalu mencari harta yang tak halal, tanpa kepayahan. Dan di jalan itu ia mengorbankan kemuliaannya, bahkan harga dirinya.
Akibat kedua dari hirs:
Kekecewaan dan kerugian. Yaitu terlepasnya tujuan, terpapar sikap dipandang berat (tak disukai), serta terhalang dari kemudahan dan pertolongan. Bahkan ia menjadi kenyataan dari peribahasa اَلْحَر۪يصُ خَائِبٌ خَاسِرٌ yakni “Ketamakan adalah sebab kerugian dan ketidakberhasilan.” Pengaruh hirs dan kanaah berlaku di alam makhluk hidup dengan suatu dustur yang sangat luas. Sebagai contoh: sebagaimana kanaah fitri pohon-pohon yang membutuhkan rezeki membuat rezekinya berlari mendatanginya; demikian pula berlarinya hewan-hewan menuju rezeki dalam kepayahan dan kekurangan karena hirs, memperlihatkan besarnya kerugian hirs dan besarnya manfaat kanaah. Dan kanaah seluruh anak-anak makhluk yang lemah dengan lisan keadaan mereka — yaitu mengalirnya suatu makanan lembut seperti susu kepada mereka dari tempat yang tak mereka duga — serta serbuan binatang buas dengan hirs kepada rezekinya yang kurang lagi kotor; membuktikan dakwaan kami secara cemerlang. Dan keadaan penuh kanaah ikan-ikan yang gemuk, yang menjadi sumber rezekinya yang sempurna; serta tetap kurus dan lemahnya hewan-hewan cerdas seperti rubah dan monyet karena — meskipun berkeliling di belakang rezeki dengan hirs — mereka tak menemukannya secukupnya, juga memperlihatkan betapa hirs menjadi sebab kepayahan dan kanaah menjadi sumber kenyamanan. Dan bahwa bangsa Yahudi menemukan rezekinya dengan hirs, riba, dan roda tipu daya, secara hina, sengsara, tak halal, dan hanya secukupnya untuk hidup; serta keadaan penuh kanaah para penghuni padang pasir (yakni kaum badui) yang hidup dengan kemuliaan dan menemukan rezeki yang cukup; juga membuktikan secara pasti dakwaan yang disebutkan. Dan jatuhnya banyak ulama
{(Catatan-1): Dari Buzurjmihr (Bozorgmehr), ulama yang masyhur kecerdasannya, wazir Nusyirwan yang Adil — salah seorang raja Iran yang adil — ditanya: “Mengapa ulama tampak di pintu umara, tetapi umara tak tampak di pintu ulama. Padahal ilmu lebih tinggi daripada kekuasaan?” Sebagai jawaban ia berkata: “Karena ilmu ulama, dan karena kebodohan umara.” Yakni; umara, karena kebodohannya, tak mengetahui nilai ilmu sehingga tak pergi ke pintu ulama untuk mencari ilmu. Adapun ulama; karena makrifatnya, mengetahui nilai harta pula, sehingga mencarinya di pintu umara. Nah, Buzurjmihr menakwilkan secara halus ketamakan para ulama — yang merupakan akibat dari kecerdasan yang menjadi sebab kefakiran dan kehinaan mereka — dan memberikan jawaban yang santun. Hüsrev}
dan para sastrawan{(Catatan-2): Suatu peristiwa yang menegaskan ini: Di Prancis, kepada para sastrawan diberikan surat izin mengemis, karena mereka pandai mengemis. Süleyman Rüşdü} ke dalam kefakiran karena suatu hirs yang diberikan oleh kecerdasan mereka, serta menjadi kayanya banyak orang bodoh lagi tak berdaya dengan keadaan penuh kanaah yang fitri, membuktikan secara pasti bahwa: rezeki halal datang sesuai ketidakberdayaan dan kefakiran; bukan dengan kemampuan dan pilihan. Bahkan rezeki halal itu berbanding terbalik dengan kemampuan dan pilihan. Karena semakin datang kemampuan dan pilihan anak-anak, rezekinya berkurang, menjauh, dan menjadi berat. Dengan rahasia hadis اَلْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لاَ يَفْنٰى; kanaah adalah suatu perbendaharaan penghidupan yang baik dan kenyamanan hidup. Adapun hirs adalah suatu tambang kerugian dan kesengsaraan.
Akibat Ketiga:
Hirs mematahkan keikhlasan, mencederai amal ukhrawi. Karena jika seorang ahli takwa memiliki hirs, ia menginginkan tawajuh (perhatian) manusia. Orang yang menjaga tawajuh manusia tak dapat menemukan keikhlasan yang sempurna. Akibat ini sangat penting, sangat patut diperhatikan.
Kesimpulannya: Israf menghasilkan ketidakcukupan. Adapun ketidakcukupan mematahkan semangat bekerja, melemparkan ke kemalasan; membuka pintu keluhan terhadap kehidupan, membuat orang mengeluh terus-menerus.{(Catatan): Ya, dengan pemboros mana pun engkau berbincang, engkau akan mendengar keluhan. Betapa pun kayanya ia, lidahnya tetap akan mengeluh. Jika engkau berbincang dengan orang yang paling fakir, tetapi penuh kanaah; engkau akan mendengar syukur.} Dan ia mematahkan keikhlasan, membuka pintu riya. Dan ia mematahkan kemuliaan, memperlihatkan jalan pengemisan. Adapun iktisad menghasilkan kanaah. Dengan rahasia hadis عَزَّ مَنْ قَنَعَ ذَلَّ مَنْ طَمَعَ; kanaah menghasilkan kemuliaan. Dan ia mendorong pada usaha dan kerja. Ia menambah semangatnya, membuatnya bekerja. Karena misalnya ia bekerja satu hari. Dengan rahasia kanaah terhadap upah kecil yang ia terima pada sore hari, pada hari kedua ia bekerja lagi. Adapun pemboros; karena tak berkanaah, pada hari kedua ia tak bekerja lagi. Kalaupun bekerja, ia bekerja tanpa semangat. Dan kanaah yang datang dari iktisad; membuka pintu syukur, menutup pintu keluhan. Dalam hidupnya ia senantiasa bersyukur. Dan melalui kanaah, dari sisi merasa cukup dari manusia, ia tak mencari perhatian mereka. Pintu keikhlasan terbuka, pintu riya tertutup.
Aku menyaksikan kerugian dahsyat dari ketiadaan iktisad dan israf dalam suatu lingkaran yang luas. Yakni demikian: Sembilan tahun yang lalu aku datang ke sebuah kota yang mubarak. Karena musim dingin, aku tak dapat melihat sumber-sumber kekayaan kota itu. — Semoga Allah merahmatinya — mufti kota itu beberapa kali berkata kepadaku: “Penduduk kami fakir.” Kata-kata ini menyentuh kelembutan hatiku. Sampai lima enam tahun kemudian aku senantiasa mengasihani penduduk kota itu. Delapan tahun kemudian, pada musim panas, aku datang lagi ke kota itu. Aku memandang kebun-kebunnya. Kata-kata mufti yang telah wafat itu terlintas di benakku. Aku berkata Mahasuci Allah, hasil kebun-kebun ini jauh di atas kebutuhan kota. Penduduk kota ini seharusnya sangat kaya. Aku heran. Dengan suatu kenangan hakikat yang tak menipuku dan yang menjadi pembimbingku dalam memahami hakikat, aku memahami: karena ketiadaan iktisad dan israf, keberkahan telah terangkat, sehingga — meskipun dengan sekian banyak sumber kekayaan — mufti yang telah wafat itu berkata “Penduduk kami fakir.” Ya, sebagaimana memberikan zakat dan berhemat secara eksperimen menjadi sebab keberkahan dalam harta; demikian pula berbuat israf dan tak memberikan zakat menjadi sebab terangkatnya keberkahan — terdapat peristiwa yang tak terhingga.
Ibnu Sina (Abu Ali) yang merupakan Plato para filsuf Islam, syaikh para tabib, guru para filosof, sang jenius yang masyhur, hanya dari sisi kedokteran menafsirkan ayat كُلُوا وَ اشْرَبُوا وَ لاَ تُسْرِفُوا demikian. Ia berkata: جَمَعْتُ الطِّبَّ فِى الْبَيْتَيْنِ جَمْعًا وَ حُسْنُ الْقَوْلِ ف۪ى قَصْرِ الْكَلاَمِ فَقَلِّلْ اِنْ اَكَلْتَ وَ بَعْدَ اَكْلٍ تَجَنَّبْ وَ الشِّفَٓاءُ فِى اْلاِنْهِضَامِوَ لَيْسَ عَلَى النُّفُوسِ اَشَدُّ حَالاً مِنْ اِدْخَالِ الطَّعَامِ عَلَى الطَّعَامِ
Yakni: “Aku merangkum ilmu kedokteran dalam dua baris. Keindahan perkataan ada dalam keringkasannya. Tatkala engkau makan, makanlah sedikit. Setelah makan, jangan makan lagi selama empat lima jam. Kesembuhan ada dalam pencernaan. Yakni, makanlah kadar yang dapat engkau cerna dengan mudah. Keadaan yang paling berat dan melelahkan bagi nafsu dan lambung adalah makan makanan di atas makanan.”
{(Catatan): Yakni yang paling berbahaya bagi tubuh adalah makan tanpa jeda empat lima jam, atau demi kelezatan mengisi lambung dengan berbagai makanan bertumpuk-tumpuk.}
Suatu tawafuq yang mengherankan lagi menjadi sumber ibrah: Risalah Iktisad ini, ditulis oleh lima enam penyalin yang berbeda-beda — tiga di antaranya masih belum berpengalaman — di tempat yang berbeda-beda, dari naskah yang berbeda-beda, saling berjauhan, tulisan mereka saling berbeda, tanpa memikirkan huruf alif sama sekali; huruf alif setiap naskah itu bertawafuq lima puluh satu tanpa doa, dan lima puluh tiga bersama doa; sekaligus tawafuqnya dengan tahun penulisan dan penyalinan Risalah Iktisad, yaitu tahun Rumi lima puluh satu dan tahun Arab (Hijri) lima puluh tiga, tentu tak mungkin suatu kebetulan semata. Ia adalah suatu isyarat bahwa keberkahan dalam iktisad naik ke derajat karamah. Dan tahun ini layak dinamai “Tahun Iktisad”.
Ya, dua tahun kemudian zaman membuktikan karamah iktisadiah ini — dengan kelaparan, kehancuran, dan pemborosan di setiap penjuru dalam Perang Dunia Kedua, serta dengan terpaksanya jenis manusia dan setiap orang berhemat. سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ