Risale-i NurLem'alar

POIN KEENAM:

Lem'alar · hlm. 175

Iktisad dan kekikiran sangat berbeda. Sebagaimana kerendahan hati (tawadu) adalah suatu perangai terpuji yang secara maknawi berbeda dari kehinaan diri (yang termasuk akhlak buruk) namun secara lahiriah menyerupainya. Dan sebagaimana kewibawaan (waqar) adalah suatu perangai terpuji yang secara maknawi berbeda dari kesombongan (yang termasuk perangai buruk) namun secara lahiriah menyerupainya. Demikian pula:

Iktisad — yang termasuk akhlak tinggi kenabian, bahkan mungkin termasuk sumber tatanan hikmah Ilahi di alam semesta — sama sekali tak memiliki kaitan dengan kekikiran, yang merupakan campuran dari kehinaan, kebakhilan, ketamakan, dan hirs (ketamakan berlebih). Hanya ada keserupaan secara lahiriah. Suatu peristiwa yang menegaskan hakikat ini:

Hazrat Abdullah bin Umar — salah seorang dari tujuh Abdullah yang masyhur (Abâdilah Sab'ah) di kalangan sahabat, putra terpenting lagi terbesar dari Al-Faruq Al-A'zham Hazrat Umar (r.a.) yang merupakan khalifah Rasulullah, dan salah seorang yang paling istimewa di antara para ulama sahabat — tokoh mubarak itu, di dalam pasar, dalam jual beli, berdebat dengan keras mengenai suatu masalah seharga empat puluh para, demi iktisad dan demi menjaga amanah serta keistikamahan yang merupakan sumber perniagaan. Seorang sahabat memperhatikannya. Dengan menyangka perdebatan putra Hazrat Umar — khalifah yang mulia di muka bumi — mengenai empat puluh para sebagai suatu kekikiran yang menakjubkan, ia mengikuti imam itu dan ingin memahami keadaannya. Ia melihat bahwa Hazrat Abdullah masuk ke rumahnya yang mubarak. Di pintu ia melihat seorang fakir. Ia berhenti sejenak; lalu berpisah dan pergi. Kemudian ia keluar dari pintu kedua rumahnya, dan melihat seorang fakir lain di sana pula. Di sisinya pun ia berhenti sejenak; lalu berpisah dan pergi. Sahabat yang memandang dari kejauhan itu penasaran. Ia pergi kepada para fakir itu dan bertanya: “Imam berhenti di sisi kalian, apa yang ia lakukan?” Masing-masing berkata: “Ia memberiku satu keping emas.” Sahabat itu berkata: “Mahasuci Allah! Di dalam pasar ia berdebat demikian karena empat puluh para, lalu di rumahnya ia memberi dua ratus kurus kepada seseorang tanpa diketahui siapa pun, dengan keridaan nafsu yang sempurna!” Ia berpikir demikian, lalu pergi menemui Hazrat Abdullah bin Umar. Ia berkata: “Wahai Imam! Selesaikanlah kebingunganku ini. Engkau berbuat demikian di pasar, tetapi di rumahmu engkau berbuat seperti itu.” Sebagai jawaban ia berkata: “Keadaan di pasar adalah suatu keadaan yang datang dari iktisad, dari kesempurnaan akal, dan dari menjaga amanah serta kejujuran yang merupakan asas dan ruh jual beli; ia bukan kekikiran. Keadaan di rumahku adalah suatu keadaan yang datang dari kasih sayang kalbu dan kesempurnaan ruh. Yang itu bukan kekikiran, dan yang ini bukan israf.”

Imam A'zham, sebagai isyarat pada rahasia ini, berkata لاَ اِسْرَافَ فِى الْخَيْرِ كَمَا لاَ خَيْرَ فِى اْلاِسْرَافِ. Yakni: “Sebagaimana tak ada israf dalam kebaikan dan ihsan (tetapi kepada yang berhak), demikian pula tak ada kebaikan sedikit pun dalam israf.”