POIN KELIMA:
Lem'alar · hlm. 173
Allah, dari kesempurnaan kemuliaan-Nya, membuat orang yang paling fakir merasakan kelezatan nikmat-Nya seperti orang yang paling kaya, dan membuat pengemis (yakni orang fakir) merasakannya seperti raja. Ya, kelezatan yang diambil seorang fakir dari sepotong roti hitam yang kering — melalui perantaraan lapar dan iktisad — lebih lezat daripada kelezatan yang diambil seorang raja atau orang kaya dari baklava termahal yang ia makan dengan kebosanan dan tak berselera yang datang dari israf. Sungguh mengherankan bahwa, sebagian orang yang boros lagi penghambur menuduh orang-orang hemat seperti itu dengan “kekikiran”. Sekali-kali tidak... Iktisad adalah kemuliaan dan kedermawanan. Kekikiran dan kehinaan adalah wajah batin dari keadaan ahli israf dan tabzir yang secara lahiriah tampak jantan. Suatu peristiwa yang menegaskan hakikat ini, yang terjadi di kamarku di Isparta pada tahun penulisan risalah ini. Yakni demikian:
Dengan cara yang bertentangan dengan kaidah dan dustur hidupku, seorang muridku mendesak agar aku menerima hadiah madu hampir dua setengah okka. Betapa pun aku mengajukan kaidahku, ia tak terbujuk. Dengan terpaksa, dengan niat agar tiga saudaraku di sisiku memakannya, dan agar pada Sya'ban Syarif serta Ramadan tiga orang memakan madu itu dengan iktisad selama tiga puluh sampai empat puluh hari, dan agar yang membawanya pun memperoleh pahala, serta agar mereka sendiri tak tanpa yang manis, aku berkata, “Ambillah.” Aku pun punya satu okka madu. Ketiga temanku itu, memang termasuk orang yang lurus dan menghargai iktisad.
Namun bagaimanapun juga, mereka melupakan iktisad dengan suatu perangai yang luhur dari satu sisi — yaitu saling memuliakan satu sama lain, masing-masing membelai nafsu yang lain dan mengutamakannya di atas nafsunya sendiri. Dalam tiga malam mereka menghabiskan dua setengah okka madu. Aku berkata sambil tersenyum: “Aku hendak membuat kalian menikmati madu itu selama tiga puluh sampai empat puluh hari. Kalian menurunkan tiga puluh hari menjadi tiga. Semoga menyehatkan.” Namun, aku sendiri membelanjakan satu okka maduku dengan iktisad. Sepanjang Sya'ban dan Ramadan, aku memakannya, dan — segala puji bagi Allah — pada waktu berbuka aku memberikan kepada masing-masing saudaraku itu satu sendok{(Catatan): Yakni dengan sendok teh yang agak besar.}, sehingga menjadi sumber pahala yang penting.
Orang-orang yang melihat keadaanku, mungkin menganggap keadaanku itu sebagai kekikiran. Mereka dapat menganggap keadaan tiga malam saudara-saudaraku yang lain sebagai suatu kedermawanan. Namun dari sisi hakikat, kami melihat bahwa di balik kekikiran lahiriah itu tersembunyi suatu kemuliaan yang luhur, suatu keberkahan yang besar, dan suatu pahala yang tinggi. Dan di balik kedermawanan serta israf itu, seandainya tak ditinggalkan, ia akan berakibat suatu keadaan yang jauh lebih rendah daripada kekikiran, seperti pengemisan dan memandang ke tangan orang lain dengan tamak lagi penuh harap.