Risale-i NurLem'alar

Poin Ketiga

Lem'alar · hlm. 376

Suatu poin dari ayat اُدْعُ اِلٰى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ dan suatu kilasan "Nama al-Hakam" — yang merupakan Ismul-A'zam atau salah satu cahaya dari enam cahaya Ismul-A'zam — terlihat pada bulan Ramadan yang mulia. Sebagai isyarat kepadanya saja, Poin Ketiga yang terdiri atas "Lima Butir" ditulis dengan tergesa-gesa; dan tetap dalam bentuk draf.

Butir Pertama dari Poin Ketiga:

Sebagaimana diisyaratkan dalam Kelimat Kesepuluh: Manifestasi teragung Nama al-Hakam telah menjadikan alam semesta ini bagaikan suatu kitab sedemikian rupa sehingga pada setiap halamannya tertulis ratusan kitab.. pada setiap barisnya tercantum ratusan halaman.. pada setiap katanya terdapat ratusan baris.. pada setiap hurufnya ada ratusan kata.. dan pada setiap titiknya terdapat sebuah daftar isi ringkas dari kitab itu — dalam suatu corak yang demikian. Halaman-halaman, baris-baris, hingga titik-titik kitab itu memperlihatkan Sang Pelukis dan Sang Penulisnya dari ratusan sisi dengan kegamblangan sedemikian rupa sehingga; penyaksian kitab alam semesta itu membuktikan keberadaan dan keesaan Sang Penulisnya seratus derajat lebih besar daripada keberadaan dirinya sendiri. Sebab suatu huruf, sementara mengungkapkan keberadaan dirinya sendiri sebesar satu huruf; ia mengungkapkan Sang Penulisnya sebesar satu baris.

Ya, salah satu halaman kitab besar ini adalah permukaan bumi. Tampak dengan mata bahwa pada halaman itu, sebanyak jumlah golongan tumbuhan dan hewan, tertulis kitab-kitab — saling berlapis, bersama, dalam satu waktu, tanpa kesalahan, dengan cara yang sangat sempurna — pada musim semi. Salah satu baris halaman ini adalah sebuah kebun. Kami melihat dengan mata kami bahwa di kebun itu tertulis kasidah-kasidah bersajak — sebanyak jumlah bunga, pohon, dan tumbuhan yang ada di dalamnya — bersama, saling berlapis, tanpa kesalahan. Salah satu kata baris itu adalah sebuah pohon yang telah berbunga dan telah mengeluarkan daunnya untuk membuahkan buah. Nah, kata ini adalah paragraf-paragraf yang bermakna mengenai pujian dan sanjungan kepada al-Hakam Pemilik Keagungan, sebanyak jumlah daun, bunga, dan buahnya yang teratur, seimbang, dan berhias. Seakan-akan seperti setiap pohon yang berbunga, pohon itu pun adalah suatu kasidah bersajak yang menyenandungkan pujian-pujian kepada Sang Pelukisnya.

Dan seakan-akan al-Hakam Pemilik Keagungan ingin memandang dengan ribuan mata kepada karya-karya antik dan menakjubkan yang Dia pamerkan di pameran bumi.

Dan seakan-akan hadiah-hadiah bertatah permata, tanda-tanda kehormatan, dan seragam-seragam yang diberikan Sultan Azali itu kepada pohon tersebut, telah mengambil suatu bentuk yang begitu berhias, seimbang, teratur, dan bermakna — dan diberi suatu bentuk yang begitu penuh hikmah — untuk dipersembahkan ke hadapan pandangan sang raja pada musim semi yang merupakan hari raya khusus dan hari peresmiannya; sehingga pada setiap bunganya dan setiap buahnya, dengan banyak sisi dan lisan yang saling berlapis, mereka bersaksi atas keberadaan dan nama-nama Sang Pelukisnya. Misalnya: pada setiap bunga dan setiap buah terdapat suatu timbangan. Dan timbangan itu berada di dalam suatu keteraturan.. dan keteraturan itu di dalam suatu penataan dan penyeimbangan yang senantiasa diperbarui.. dan penyeimbangan serta penataan itu di dalam suatu perhiasan dan seni.. dan perhiasan serta seni itu berada di dalam aroma-aroma yang bermakna dan rasa-rasa yang penuh hikmah; sehingga setiap bunga memberikan isyarat kepada al-Hakam Pemilik Keagungan, sebanyak jumlah bunga pohon itu.

Dan pada pohon ini yang merupakan sebuah kata, sebutir titik benih yang terdapat pada sebuah buah yang berkedudukan sebagai sebuah huruf, adalah sebuah kotak kecil yang membawa daftar isi dan program seluruh pohon.

Dan seterusnya... Dengan mengiaskan pada hal ini, seluruh baris dan halaman kitab alam semesta — dengan kilasan Nama al-Hakam dan al-Hakîm demikian — telah dijadikan sedemikian rupa sehingga bukan hanya setiap halamannya, melainkan setiap baris, setiap kata, setiap huruf, dan setiap titiknya menjadi suatu mukjizat; sehingga seandainya seluruh sebab berkumpul, mereka tidak dapat mendatangkan tandingan satu titiknya, dan tidak dapat menyainginya.

Ya, karena setiap ayat penciptaan (ayat takwini) dari Al-Qur'an Agung Alam Semesta ini memperlihatkan mukjizat sebanyak jumlah titik dan huruf ayat itu; maka tentu kebetulan yang serampangan, kekuatan buta, serta tabiat yang tak bertujuan, tak bertimbangan, dan tak berkesadaran, tidak dapat turut campur dengan cara apa pun dalam timbangan khusus yang penuh hikmah dan penuh penglihatan serta keteraturan yang sangat halus itu. Seandainya mereka turut campur, tentu akan tampak karya yang kacau. Padahal tiada ketidakteraturan yang disaksikan dari sisi mana pun.

Butir Kedua dari Poin Ketiga:

Yaitu "Dua Persoalan."