Risale-i NurLem'alar

Poin Kedua dari Lem'a Ketiga Puluh

Lem'alar · hlm. 372

وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ عِنْدَنَا خَزَٓائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُٓ اِلاَّ بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

Suatu poin dari ayat tersebut dan suatu kilasan Nama "al-'Adl" — yang merupakan Ismul-A'zam atau salah satu cahaya dari enam cahaya Ismul-A'zam — sebagaimana Poin Pertama, tampak dari kejauhan di Penjara Eskişehir. Untuk mendekatkannya, kembali kami berkata melalui perumpamaan:

Alam semesta ini adalah suatu istana sedemikian rupa sehingga di istana itu terdapat sebuah kota yang senantiasa bergolak dalam kehancuran dan pembangunan.. dan di kota itu terdapat sebuah negeri yang setiap saat bergejolak dalam peperangan dan pengungsian.. dan di negeri itu terdapat suatu alam yang setiap saat berputar dalam kematian dan kehidupan. Padahal di istana itu, di kota itu, di negeri itu, dan di alam itu berlaku suatu keseimbangan, suatu timbangan, dan suatu penyeimbangan yang sedemikian menakjubkan, yang secara nyata membuktikan bahwa: Perubahan, pemasukan, dan pengeluaran yang ada pada segala yang maujud yang tak terhingga ini; diukur dan ditimbang dengan timbangan satu Dzat tunggal yang pada setiap saat melihat seluruh alam semesta dan melewatkannya di bawah pandangan pemeriksaan-Nya. Sekiranya tidak, seandainya sebab-sebab — yang dengan seekor ikan yang menghasilkan seribu telur, sekuntum bunga tumbuhan seperti opium dengan dua puluh ribu benih, serta serbuan unsur-unsur dan perubahan-perubahan yang mengalir bagaikan air bah, berupaya keras merusak keseimbangan dan ingin menguasai — dibiarkan tanpa kendali, atau diserahkan kepada kebetulan buta yang tak bertujuan, kekuatan buta yang tak bertimbangan, dan tabiat gelap yang tak berkesadaran, maka keseimbangan segala sesuatu dan keseimbangan alam semesta akan rusak sedemikian rupa sehingga dalam setahun, bahkan dalam sehari, akan terjadi kekacauan total (herc ü merc).

Yakni: Laut akan penuh dengan benda-benda yang campur aduk lalu membusuk; udara akan teracuni oleh gas-gas berbahaya; sedangkan bumi akan berubah menjadi tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan, dan rawa. Dunia akan tersesak.

Nah, mulai dari sel-sel tubuh hewan, sel-sel darah merah dan putih dalam darah, perubahan-perubahan zarah, dan keserasian perangkat-perangkat tubuh.. hingga pemasukan dan pengeluaran lautan.. hingga aliran masuk dan keluar mata air di bawah tanah.. hingga kelahiran dan kematian hewan dan tumbuhan.. hingga penghancuran dan perbaikan musim gugur dan musim semi.. hingga khidmat dan gerak unsur-unsur serta bintang-bintang.. hingga pergantian, pergolakan, dan benturan kematian dan kehidupan, cahaya dan kegelapan, serta panas dan dingin — semuanya ditata dan ditimbang dengan suatu timbangan yang sedemikian peka dan ukuran yang sedemikian halus, sehingga sebagaimana akal manusia tidak melihat satu pemborosan dan satu kesia-siaan yang hakiki di mana pun; hikmah insani pun melihat dan memperlihatkan keteraturan yang paling sempurna dan keseimbangan yang paling indah pada segala sesuatu. Bahkan, hikmah insani adalah suatu manifestasi dan penerjemah dari keteraturan dan keseimbangan itu.

Nah, marilah, pandanglah keseimbangan Matahari dengan dua belas planet yang berbeda-beda. Bukankah keseimbangan ini, bagaikan Matahari, memperlihatkan Dzat Pemilik Keagungan Yang Maha Adil (al-'Adl) lagi Mahakuasa (al-Qadîr)? Dan khususnya kapal kita yang termasuk planet, yakni bola bumi, dalam setahun mengelilingi dan menempuh suatu lingkaran sepanjang dua puluh empat ribu tahun perjalanan. Dan bersama kecepatannya yang menakjubkan itu, ia tidak mencerai-beraikan, tidak mengguncang, dan tidak melontarkan ke angkasa benda-benda yang tersusun dan tertumpuk di permukaan bumi. Seandainya kecepatannya ditambah atau dikurangi sedikit, ia akan melontarkan penghuninya ke udara dan mencerai-beraikannya di angkasa. Dan seandainya ia merusak keseimbangannya semenit, bahkan sedetik, ia akan merusak dunia kita; bahkan akan berbenturan dengan yang lain dan menimbulkan suatu kiamat. Dan khususnya keseimbangan yang penuh kasih sayang dari empat ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan di permukaan bumi — dalam hal kelahiran dan kematian, serta pemberian makan dan kehidupan — sebagaimana cahaya menunjukkan Matahari, memperlihatkan satu Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Penyayang. Dan khususnya, anggota tubuh, perangkat, dan indra dari satu individu saja di antara individu-individu yang tak terhingga dari bangsa-bangsa yang tak terhingga itu, saling berhubungan dan seimbang satu sama lain dengan suatu timbangan yang sedemikian peka, sehingga keserasian dan keseimbangan itu memperlihatkan Sang Pembuat Yang Maha Adil lagi Mahabijaksana pada tingkat yang nyata. Dan khususnya, sel-sel dalam tubuh setiap individu hewan, saluran-saluran darah, sel-sel dalam darah, dan zarah-zarah dalam sel-sel itu memiliki keseimbangan yang sedemikian halus, peka, dan menakjubkan, yang secara nyata membuktikan bahwa: Segala sesuatu dididik dan dikelola dengan timbangan, undang-undang, dan aturan satu Pencipta Yang Maha Adil lagi Mahabijaksana — yang kendali segala sesuatu berada di tangan-Nya, kunci segala sesuatu ada pada-Nya, satu hal tidak menghalangi hal yang lain.. dan yang mengelola segenap benda dengan mudah bagaikan satu benda. Siapa yang menganggap mustahil dan tidak percaya akan penimbangan amal jin dan manusia dalam timbangan keadilan yang mahaagung di mahkamah terbesar kebangkitan (hasyr), jika ia memperhatikan keseimbangan terbesar yang ia lihat dengan matanya sendiri di dunia ini, tentu anggapan mustahilnya tidak akan tersisa.

Wahai manusia malang yang boros dan tak berhemat.. yang zalim dan tak adil.. yang kotor dan tak rapi! Karena engkau tidak menerapkan penghematan, kerapian, dan keadilan yang merupakan kaidah gerak seluruh alam semesta dan segenap yang maujud, maka dengan penentanganmu terhadap segenap yang maujud, secara maknawi engkau menjadi sasaran kebencian dan kemarahan mereka. Kepada apa engkau bersandar sehingga engkau membuat marah segenap yang maujud dengan kezalimanmu, ketiadaan timbanganmu, pemborosanmu, dan ketidakrapianmu?

Ya, hikmah umum alam semesta yang merupakan kilasan teragung dari Nama al-Hakîm, bergerak di atas penghematan dan ketiadaan pemborosan; ia memerintahkan penghematan. Dan keadilan yang sempurna di alam semesta yang datang dari kilasan teragung Nama al-'Adl, mengelola keseimbangan segenap benda dan memerintahkan keadilan pula kepada manusia. Dalam Surah Ar-Rahman, penyebutan kata "mîzân (timbangan)" sebanyak empat kali dalam ayat وَالسَّمَٓاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْم۪يزَانَ ❊ اَلاَّ تَطْغَوْا فِى الْم۪يزَانِ ❊ وَاَق۪يمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلاَ تُخْسِرُوا الْم۪يزَانَ — yang mengisyaratkan empat tingkatan dan empat macam timbangan — memperlihatkan derajat keagungan timbangan di alam semesta dan kepentingannya yang luar biasa besar. Ya, sebagaimana tiada pemborosan pada sesuatu pun, tiada pula kezaliman dan ketiadaan timbangan yang hakiki pada sesuatu pun. Dan pembersihan serta kerapian yang datang dari kilasan teragung Nama al-Quddûs membersihkan dan memperindah segenap yang maujud di alam semesta. Dengan syarat tangan manusia yang bernoda tidak turut campur, tiada ketidakrapian dan keburukan yang hakiki tampak pada sesuatu pun.

Nah, pahamilah betapa "keadilan, penghematan, dan kerapian" — yang merupakan hakikat-hakikat Qur'ani dan kaidah-kaidah keislaman — merupakan kaidah-kaidah yang sedemikian mendasar dalam kehidupan manusia. Dan ketahuilah betapa hukum-hukum Qur'ani berkaitan dengan alam semesta, telah berakar dan menjalar ke dalam alam semesta, dan bahwa merusak hakikat-hakikat itu adalah tidak mungkin, sebagaimana tidak mungkinnya merusak alam semesta dan mengubah rupanya! Dan sebagaimana tiga cahaya teragung ini; sementara ratusan hakikat yang menyeluruh seperti rahmat, pemeliharaan, dan penjagaan menuntut dan mengharuskan kebangkitan serta akhirat, mungkinkah: hakikat-hakikat yang menyeluruh yang sangat kuat seperti rahmat, pemeliharaan, keadilan, hikmah, penghematan, dan kerapian yang berkuasa di alam semesta dan pada segenap yang maujud — dengan ketiadaan kebangkitan dan tidak datangnya akhirat — berubah menjadi ketiadaan belas kasih, kezaliman, ketiadaan hikmah, pemborosan, ketidakrapian, dan kesia-siaan? Mahasuci Allah, seratus ribu kali mahasuci!

Suatu rahmat dan hikmah yang menjaga hak hidup seekor lalat dengan penuh kasih sayang; apakah gerangan dengan tidak mendatangkan kebangkitan akan menyia-nyiakan hak-hak hidup yang tak terhingga dari segenap makhluk berkesadaran dan hak-hak yang tak berkesudahan dari segala yang maujud yang tak berkesudahan? Dan jika boleh diungkapkan demikian, suatu keagungan rububiyah yang menunjukkan kepekaan dan kesaksamaan yang tak terhingga dalam rahmat, kasih sayang, keadilan, dan hikmah; serta suatu kesultanan uluhiyah yang menghiasi alam semesta ini dengan seni dan nikmat-Nya yang menakjubkan tak terhingga untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya, memperkenalkan diri-Nya, dan membuat diri-Nya dicintai — apakah Dia akan mengizinkan ketiadaan kebangkitan yang meniadakan dan mengingkari seluruh kesempurnaan-Nya sekaligus segenap makhluk-Nya? Mahasuci Allah! Suatu Keindahan Mutlak semacam itu secara nyata tidak akan mengizinkan suatu keburukan mutlak semacam itu.

Ya, orang yang ingin mengingkari akhirat harus terlebih dahulu mengingkari seluruh dunia beserta segenap hakikatnya. Sekiranya tidak, dunia dengan segenap hakikatnya, dengan seratus ribu lisan, akan mendustakannya dan membuktikan kedustaannya dalam kebohongan ini seratus ribu derajat. Kelimat Kesepuluh telah membuktikan dengan dalil-dalil yang pasti bahwa: keberadaan akhirat sama pastinya dan tak diragukannya seperti keberadaan dunia.

Yang mengisyaratkan kepada cahaya ketiga dari enam cahaya Ismul-A'zam