Risale-i NurLem'alar

Poin Pertama

Lem'alar · hlm. 368

Ini mengenai suatu poin dari Nama al-Quddûs.

[Poin al-Quddûs ini tepat untuk menjadi Lampiran dari Lampiran Kelimat Ketiga Puluh.]

Suatu poin dari ayat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِوَاْلاَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ dan suatu kilasan Nama "al-Quddûs" — yang merupakan Ismul-A'zam atau salah satu cahaya dari enam cahaya Ismul-A'zam — tampak kepadaku pada akhir bulan Sya'ban yang mulia, di Penjara Eskişehir. Ia memperlihatkan keberadaan Ilahi dengan kejelasan yang sempurna, sekaligus keesaan Rabbani dengan kegamblangan yang sempurna. Yakni, aku melihat:

Alam semesta dan bola bumi ini adalah sebuah pabrik besar yang senantiasa bekerja, dan sebuah penginapan serta tempat singgah yang setiap saat terisi dan terkosongkan. Padahal pabrik-pabrik, penginapan-penginapan, dan tempat-tempat singgah yang sibuk semacam itu sangat kotor oleh sampah, puing, dan kotoran; menjadi bernoda, dan zat-zat berbau busuk menumpuk di setiap sisinya. Jika tidak dipandang dengan sangat saksama, tidak dibersihkan, dan tidak disapu serta dibersihkan, maka tidak dapat ditinggali di dalamnya; manusia akan tersesak di dalamnya. Padahal pabrik alam semesta dan tempat singgah bumi ini sedemikian suci, bersih, dan rapi, serta sedemikian tanpa kotoran, tanpa noda, dan tanpa bau busuk, sehingga tidak ditemukan satu benda yang tak perlu, satu zat yang tak bermanfaat, dan satu kotoran yang kebetulan. Sekalipun secara lahiriah ada, ia segera dilemparkan ke sebuah mesin transformasi (istihalah), lalu dibersihkan. Artinya, Dzat yang mengurus pabrik ini mengurusnya dengan sangat baik. Dan pabrik ini memiliki seorang pemilik yang sedemikian membersihkan, sehingga Dia menyapu, membersihkan, menata, dan merapikan pabrik yang mahabesar dan istana yang besar itu bagaikan sebuah kamar kecil. Dan pada pabrik yang sangat besar itu tidak ditemukan sampah dan zat-zat kotor sisa puing serta kotoran sebesar ukuran kebesarannya. Bahkan sekadar kebesarannya, kebersihan dan kerapiannya diperhatikan. Seorang manusia, jika tidak mandi selama sebulan dan tidak menyapu kamar kecilnya, akan menjadi sangat kotor dan menjijikkan. Artinya, kesucian, kejernihan, kebercahayaan, dan kebersihan di istana alam ini; berpangkal dari suatu pembersihan yang penuh hikmah dan penyucian yang saksama yang terus-menerus.

Dan seandainya penyucian, penyapuan, dan pengurusan yang saksama yang terus-menerus itu tidak ada, maka dalam setahun ratusan ribu bangsa segenap hewan akan tersesak di permukaan bumi. Dan di angkasa langit, puing-puing bola-bola dan satelit-satelit — bahkan bintang-bintang — yang mengalami kehancuran dan kematian, akan menghantam kepala kita dan kepala hewan-hewan lain, bahkan kepala bola bumi, bahkan kepala dunia kita. Mereka akan menghujankan batu-batu sebesar gunung ke atas kepala kita dan mengusir kita dari tanah air duniawi kita ini. Padahal sejak dahulu, dari kehancuran dan perbaikan di alam-alam atas itu, sebagai bahan pelajaran hanya beberapa batu samawi yang jatuh, namun tak seorang pun yang kepalanya terhantam.

Dan di permukaan bumi, setiap tahun — akibat pergantian dan pergolakan kematian dan kehidupan — jenazah ratusan ribu bangsa hewan dan puing dua ratus ribu golongan tumbuhan akan mengotori wajah daratan dan lautan sedemikian luar biasa sehingga makhluk berkesadaran, alih-alih mencintai dan menggandrungi wajah-wajah itu, justru akan membenci keburukan semacam itu lalu lari kepada kematian dan ketiadaan. Sebagaimana seekor burung dengan mudah membersihkan sayapnya dan seorang juru tulis dengan santai membersihkan lembaran-lembarannya, demikian pula sayap-sayap pesawat Bumi ini dan burung-burung samawi ini, serta lembaran-lembaran kitab alam semesta ini, dibersihkan dan diperindah sedemikian rupa sehingga manusia yang tidak melihat keindahan akhirat yang tak terhingga dan tidak berpikir dengan iman, jatuh cinta pada kebersihan dan keindahan dunia ini lalu menyembahnya.

Artinya, istana alam dan pabrik alam semesta ini memperoleh suatu kilasan teragung dari Nama al-Quddûs, sehingga perintah-perintah yang datang dari penyucian suci itu didengarkan bukan hanya oleh para pembersih pemakan daging di lautan dan para elang di daratan, melainkan juga oleh para petugas kesehatan pengumpul jenazah seperti serigala dan semut. Bahkan perintah-perintah penyucian yang suci itu didengarkan pula oleh sel-sel darah merah dan putih dalam darah yang mengalir di tubuh, sehingga mereka melakukan pembersihan di sel-sel tubuh; demikian pula napas menyaring dan membersihkan darah itu. Dan perintah itu — sebagaimana kelopak mata mendengarkannya untuk membersihkan mata dan lalat untuk menyapu sayapnya — didengarkan pula oleh udara dan awan yang mahabesar. Udara meniup sampah seperti debu dan tanah yang hinggap di permukaan dan wajah bumi, lalu membersihkannya. Spons awan memercikkan air ke kebun bumi, lalu meredakan debu dan tanah. Kemudian, agar tidak lama mengotori langit, ia segera mengumpulkan sampah-sampahnya lalu mundur dan bersembunyi dengan keteraturan yang sempurna. Ia memperlihatkan wajah dan mata langit yang indah dalam keadaan terlap dan tersapu, berkilau-kilauan. Dan sebagaimana bintang-bintang, unsur-unsur, barang-barang tambang, dan tumbuh-tumbuhan mendengarkan perintah-perintah penyucian itu, seluruh zarah pun mendengarkannya, sehingga di tengah badai perubahan yang menakjubkan, zarah-zarah itu memperhatikan kerapian. Mereka tidak berkumpul secara tak perlu di suatu tempat, tidak berdesakan. Jika mereka ternoda, mereka segera dibersihkan. Mereka digerakkan oleh suatu tangan hikmah agar mengambil keadaan yang paling bersih, paling rapi, paling berkilau, dan paling suci; serta rupa yang paling indah, paling jernih, dan paling halus.

Nah, perbuatan tunggal ini, yakni penyucian yang merupakan satu hakikat tunggal; adalah suatu kilasan teragung yang tampak di lingkup teragung alam semesta, dari suatu Ismul-A'zam seperti Nama al-Quddûs; yang secara langsung memperlihatkan keberadaan Rabbani dan keesaan Ilahi beserta nama-nama-Nya yang terindah kepada mata-mata yang luas bagaikan Matahari dan bagaikan teropong.

Ya, dalam banyak bagian Risale-i Nur telah dibuktikan dengan dalil-dalil yang pasti bahwa: perbuatan penataan dan keteraturan yang merupakan kilasan Nama al-Hakam dan al-Hakîm, perbuatan penyeimbangan dan penimbangan yang merupakan kilasan Nama al-'Adl dan al-'Âdil, perbuatan penghiasan dan pemberian karunia yang merupakan kilasan Nama al-Jamîl dan al-Karîm, serta perbuatan pendidikan dan penganugerahan nikmat yang merupakan kilasan Nama ar-Rabb dan ar-Rahîm; karena masing-masing di lingkup teragung alam ini merupakan satu hakikat tunggal dan satu perbuatan tunggal, mereka memperlihatkan kewajiban keberadaan dan keesaan satu Dzat tunggal. Persis seperti itu: perbuatan pembersihan dan penyucian yang merupakan tempat manifestasi dan kilasan Nama al-Quddûs pun memperlihatkan keberadaan Dzat Yang Wajibul-Wujud itu yang bagaikan Matahari, sekaligus keesaan-Nya yang bagaikan siang. Dan sebagaimana perbuatan-perbuatan yang penuh hikmah seperti penataan, penyeimbangan, penghiasan, dan pembersihan yang telah disebutkan itu memperlihatkan satu Sang Pembuat Yang Esa dari sisi keesaan jenisnya di lingkup teragung; demikian pula, kebanyakan nama-nama yang terindah, bahkan masing-masing dari seribu satu nama, memiliki suatu kilasan teragung semacam ini di lingkup teragung ini. Dan perbuatan yang datang dari kilasan itu memperlihatkan Yang Maha Esa lagi Tunggal (Wâhid-i Ahad) dengan kegamblangan dan kepastian sekadar kebesarannya.

Ya, hakikat-hakikat yang jelas dan perbuatan-perbuatan yang menunjukkan keesaan — yang membuat wajah alam semesta tersenyum dan bercahaya — seperti hikmah umum yang membuat segala sesuatu menaati undang-undang dan aturannya, pemeliharaan yang menyeluruh yang menghiasi segala sesuatu dan membuat wajahnya tersenyum, rahmat yang luas yang menggembirakan dan menyenangkan segala sesuatu, rezeki umum pemberi makan yang memberi makan dan kelezatan kepada segala yang hidup, serta kehidupan dan penghidupan yang menjadikan segala sesuatu berhubungan, mengambil manfaat, dan sampai taraf tertentu memiliki segala sesuatu — semua itu, sebagaimana cahaya menunjukkan Matahari, secara nyata memperlihatkan satu Dzat Yang Mahabijaksana, Mahamulia, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rezeki, Mahahidup, dan Maha Menghidupkan.

Jika satu saja dari ratusan perbuatan luas — yang masing-masing merupakan dalil ketauhidan yang gamblang — itu tidak diserahkan kepada Yang Maha Esa lagi Tunggal, maka timbullah kemustahilan dari ratusan sisi. Misalnya: seandainya dari perbuatan-perbuatan itu — bukan hakikat-hakikat yang jelas dan dalil-dalil ketauhidan seperti hikmah, pemeliharaan, rahmat, pemberian makan, dan penghidupan — melainkan hanya perbuatan pembersihan saja yang tidak diserahkan kepada Pencipta alam semesta, maka pada jalan kekafiran ahli kesesatan itu niscaya harus: Entah setiap dari segenap makhluk yang berkaitan dengan pembersihan — mulai dari zarah dan lalat hingga unsur-unsur dan bintang-bintang — akan memiliki kemampuan untuk mengetahui, memikirkan, dan bertindak sesuai dengan penghiasan, penyeimbangan, penataan, dan pembersihan alam semesta yang mahabesar.. atau sifat-sifat suci Sang Pencipta Alam akan terdapat pada dirinya.. atau untuk menata keseimbangan penghiasan dan pembersihan alam semesta ini serta pemasukan dan pengeluarannya, akan diadakan suatu majelis musyawarah sebesar alam semesta, dan zarah-zarah, lalat-lalat, serta bintang-bintang yang tak terhingga akan menjadi anggota majelis itu, dan seterusnya.. akan terdapat ratusan kemustahilan yang penuh khurafat dan omong kosong seperti ini. Agar penghiasan, penyucian, dan pembersihan yang luhur, umum, dan menyeluruh yang tampak dan disaksikan di setiap penjuru itu dapat terwujud. Padahal hal ini bukanlah satu kemustahilan, melainkan seratus ribu kemustahilan yang muncul di hadapan.

Ya, seandainya cahaya siang dan matahari-matahari khayali yang terwujud pada segenap benda berkilau di bumi tidak diserahkan kepada Matahari, dan tidak dikatakan bahwa ia adalah kilasan pantulan dari satu Matahari, maka pada saat itu harus terdapat satu Matahari yang hakiki pada setiap pecahan kaca, tetes air, dan butir salju yang berkilau di permukaan bumi, bahkan pada zarah-zarah udara. Agar cahaya yang umum itu dapat terwujud.

Nah, hikmah pun adalah suatu cahaya.. rahmat yang meliputi adalah suatu cahaya.. penghiasan, penyeimbangan, penataan, dan pembersihan yang meliputi masing-masing adalah suatu cahaya, yang merupakan berkas-berkas dari Matahari Azali itu. Nah, marilah, pandanglah; bagaimana kesesatan dan kekafiran memasuki rawa yang tak dapat keluar sama sekali. Dan lihatlah betapa bodohnya kejahilan dalam kesesatan, lalu ucapkanlah "Alhamdulillâhi 'alâ dînil-Islâm wa kamâlil-îmân (segala puji bagi Allah atas agama Islam dan kesempurnaan iman)."

Ya, pembersihan yang luhur dan umum yang menjaga istana alam semesta tetap bersih ini; tentu adalah kilasan dan tuntutan Nama al-Quddûs. Ya, sebagaimana tasbih segenap makhluk menghadap ke Nama al-Quddûs; demikian pula seluruh kerapian mereka pun dituntut oleh Nama al-Quddûs.

{(Catatan): Janganlah kita lupa bahwa perangai-perangai buruk, keyakinan-keyakinan batil, dosa-dosa, dan bidah-bidah termasuk kotoran-kotoran maknawi.}

Termasuk dari pertalian suci kerapian inilah bahwa; hadis اَلنَّظَافَةُ مِنَ اْلا۪يمَانِ menghitung kerapian sebagai bagian dari cahaya iman. Dan ayat اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّاب۪ينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّر۪ينَ pun memperlihatkan kesucian sebagai suatu sumber kecintaan Ilahi.