POIN KETIGA:
Lem'alar · hlm. 170
Pada poin kedua yang lalu, kami katakan indra perasa adalah penjaga pintu. Ya, bagi orang-orang yang lalai, yang tak maju secara ruhani, dan yang tak maju di jalan syukur, ia berkedudukan sebagai penjaga pintu. Demi kenikmatannya, tak boleh berbuat israf dan naik dari satu derajat ke sepuluh derajat harga. Namun, indra perasa ahli syukur hakiki, ahli hakikat, dan ahli kalbu — sebagaimana dijelaskan dalam perbandingan di Kelimat Keenam, indra perasanya — berkedudukan sebagai seorang pengawas dan inspektur bagi dapur-dapur rahmat Ilahi. Dan pada indra perasa itu, dengan timbangan-timbangan kecil sebanyak jumlah makanan, menimbang dan mengenali berbagai jenis nikmat Ilahi; adalah mengabarkan kepada tubuh dan lambung dalam bentuk suatu syukur maknawi. Nah, dengan cara ini, indra perasa tak hanya memandang tubuh materi. Melainkan dari sisi ia memandang kalbu, ruh, dan akal pula, ia memiliki hukum dan kedudukan di atas lambung.
Dengan syarat tidak berbuat israf, semata-mata untuk menunaikan tugas syukur, dengan syarat merasakan serta mengenali berbagai jenis nikmat Ilahi, dengan syarat halal, dan dengan syarat tak menjadi wasilah bagi kehinaan dan pengemisan, ia boleh mengikuti kelezatannya. Dan ia boleh memilih makanan lezat untuk menggunakan lidah yang membawa indra perasa itu dalam bersyukur. Suatu peristiwa dan suatu karamah Gausiyah yang mengisyaratkan pada hakikat ini:
Pada suatu waktu, dalam tarbiah Hazrat Gaus A'zham Syaikh Gailani (q.s.), ada seorang wanita tua yang manja, yang hanya memiliki satu anak. Wanita tua yang terhormat itu pergi ke kamar putranya; ia melihat bahwa putranya memakan sepotong roti yang kering lagi hitam. Karena kelemahan putranya akibat riyadah itu, ia menarik kasih sayang ibunya. Ibu itu iba kepadanya. Kemudian ia pergi kepada Hazrat Gaus untuk mengadu. Ia melihat bahwa Hazrat Gaus memakan seekor ayam panggang. Karena kemanjaannya ia berkata: “Wahai Guru! Putraku sekarat karena lapar. Engkau memakan ayam!” Hazrat Gaus berkata kepada ayam itu: “Qum bi-idznillâh!” (Bangkitlah dengan izin Allah!) Bahwa tulang-tulang ayam yang telah matang itu terkumpul dan terlempar ke luar wadah makanan sebagai ayam (hidup), telah dinukilkan dengan tawatur maknawi dari banyak tokoh yang terpercaya lagi terjamin, sebagai suatu karamah dari seorang tokoh yang masyhur di dunia atas kedudukannya sebagai tempat tertuju karamah luar biasa seperti Hazrat Gaus. Hazrat Gaus berkata: “Kapan saja putramu pun sampai ke derajat ini, saat itu ia pun boleh memakan ayam.”
Nah, makna perintah Hazrat Gaus ini adalah demikian: Kapan saja putramu pun ruhnya menguasai jasadnya, kalbunya menguasai nafsunya, dan akalnya menguasai lambungnya, serta ia menginginkan kelezatan untuk bersyukur, saat itu ia boleh memakan hal-hal yang lezat...