POIN KEDUA:
Lem'alar · hlm. 168
Sang Pencipta Yang Mahabijaksana menciptakan tubuh manusia dalam bentuk sebuah istana yang sempurna dan seperti sebuah kota yang teratur. Indra perasa (daya pengecap) di mulut adalah seorang penjaga pintu, dan saraf serta pembuluh darah laksana kabel telepon dan telegraf (indra perasa itu adalah suatu sarana komunikasi dengan lambung di pusat tubuh); ia mengabarkan materi yang datang ke mulut melalui pembuluh-pembuluh itu. Jika tubuh dan lambung tak membutuhkannya, ia berkata “Terlarang!” lalu membuangnya ke luar. Kadang pula, jika ia tak bermanfaat bagi tubuh dan malah berbahaya lagi pahit; ia segera membuangnya ke luar, meludahkannya ke wajahnya.
Nah, karena indra perasa di mulut adalah seorang penjaga pintu; lambung adalah seorang tuan dan penguasa dari sisi pengelolaan tubuh. Jika hadiah yang datang ke istana atau kota itu dan diberikan kepada penguasa istana bernilai seratus derajat, maka bagi penjaga pintu sebagai persenan hanya lima derajat yang layak, tak boleh lebih. Agar; penjaga pintu tak menjadi sombong, tak keluar jalur, tak melupakan tugasnya, dan tak memasukkan para pemberontak yang memberi persenan berlebih ke dalam istana. Nah, berdasarkan rahasia ini, sekarang kita andaikan dua suap. Satu suap, dari materi bergizi seperti keju dan telur seharga empat puluh para; suap lain, dari baklava termahal seharga sepuluh kurus.. kedua suap ini, sebelum masuk ke mulut, dari sisi tubuh tak ada bedanya, keduanya sama; setelah melewati kerongkongan, dalam menyehatkan tubuh pun keduanya sama, bahkan kadang keju seharga empat puluh para lebih baik menggizi. Hanya saja, dari sisi membelai indra perasa di mulut, ada perbedaan setengah menit. Demi setengah menit, naik dari empat puluh para ke sepuluh kurus, betapa tak bermakna dan merugikannya suatu pemborosan — silakan bandingkan. Sekarang, padahal hadiah yang datang kepada penguasa istana adalah empat puluh para, memberi persenan sembilan kali lipat kepada penjaga pintu akan membuat penjaga pintu keluar jalur, berkata “Akulah penguasa.” Siapa yang memberi persenan dan kelezatan lebih, ia akan memasukkannya ke dalam, menimbulkan pemberontakan, menyalakan kebakaran, dan memaksa (tuannya) berkata “Aduh, panggil dokter, redakan demamku, padamkan apiku.”
Nah, iktisad dan kanaah adalah bergerak sesuai hikmah Ilahi. Ia menahan indra perasa pada kedudukan penjaga pintu, dan memberi persenan sesuai itu. Adapun israf; karena bergerak bertentangan dengan hikmah itu, ia cepat menerima tamparan, mengacaukan lambung, menghilangkan selera hakiki. Dengan suatu selera palsu yang buatan — yang datang dari keragaman makanan — ia membuat orang makan, menyebabkan gangguan pencernaan, membuatnya sakit.