Poin Ketiga:
Lem'alar · hlm. 100
Suatu tipu daya setani yang merusak kehidupan sosial manusia adalah demikian: dengan satu keburukan seorang mukmin, ia menutupi seluruh kebaikannya. Orang-orang tak berkeadilan yang mendengarkan tipu daya setan ini memusuhi si mukmin. Padahal tatkala Allah menimbang amal para mukalaf di timbangan terbesar-Nya dengan keadilan mutlak pada hari kebangkitan, Dia memutuskan berdasarkan sisi menang atau kalahnya kebaikan atas keburukan. Selain itu, karena sebab-sebab keburukan banyak dan keberadaannya mudah, kadang dengan satu kebaikan Dia menutupi banyak keburukannya. Artinya, di dunia ini perlu bermuamalah dari sisi keadilan Ilahi itu. Jika kebaikan seseorang lebih banyak daripada keburukannya, secara kuantitas atau kualitas, maka orang itu layak dicintai dan dihormati. Bahkan karena satu kebaikan yang berharga, seyogianya banyak keburukannya dipandang dengan pandangan maaf. Padahal manusia, dengan urat kezaliman dalam fitrahnya dan dengan bisikan setan, melupakan seratus kebaikan seseorang karena satu keburukan, memusuhi saudara mukminnya, dan terjerumus ke dalam dosa-dosa. Sebagaimana jika sayap seekor lalat diletakkan di atas mata, ia menutupi sebuah gunung dan tak menampakkannya. Demikian pula manusia, dengan urat kedengkian, dengan satu keburukan sebesar sayap lalat menutupi dan melupakan kebaikan sebesar gunung; ia memusuhi saudara mukminnya dan menjadi alat kerusakan dalam kehidupan sosial manusia.
Dengan tipu daya lain yang menyerupai tipu daya setan ini, ia merusak keselamatan pikiran manusia, merusak kesehatan pertimbangan terhadap hakikat-hakikat keimanan, dan mencederai keistikamahan pikiran. Yakni demikian:
Ia ingin mematahkan hukum ratusan dalil pembuktian tentang suatu hakikat keimanan dengan satu tanda yang menunjuk pada peniadaannya. Padahal merupakan kaidah yang telah tetap bahwa: “Satu yang menetapkan lebih unggul daripada banyak yang meniadakan.” Hukum satu saksi yang menetapkan suatu dakwaan lebih kuat daripada seratus saksi yang meniadakan. Pandanglah hakikat ini dengan perumpamaan berikut. Yakni demikian:
Sebuah istana memiliki ratusan pintu yang tertutup. Dengan terbukanya satu pintu saja, istana itu dapat dimasuki, dan pintu-pintu lain pun terbuka. Seandainya semua pintu terbuka, lalu satu-dua di antaranya tertutup, tak dapat dikatakan bahwa istana itu tak dapat dimasuki.
Nah, hakikat-hakikat keimanan adalah istana itu. Setiap dalil adalah sebuah kunci; ia membuktikan dan membuka pintu. Dengan tetap tertutupnya satu pintu, hakikat-hakikat keimanan itu tak dapat ditinggalkan dan tak dapat diingkari. Adapun setan, berdasarkan sejumlah sebab, memperlihatkan suatu pintu yang tetap tertutup melalui kelalaian atau kebodohan; lalu ia menggugurkan seluruh dalil yang menetapkan dari pandangan. Ia menipu seraya berkata, “Nah, istana ini tak dapat dimasuki; bahkan ini bukan istana, tak ada sesuatu pun di dalamnya.”
Nah, wahai manusia malang yang tertimpa tipu daya setan! Jika engkau mendambakan keselamatan kehidupan agama, kehidupan pribadi, dan kehidupan sosial, serta menginginkan kesehatan pikiran, keistikamahan pandangan, dan keselamatan kalbu; maka timbanglah amal dan lintasan pikiranmu dengan neraca ayat-ayat muhkam Al-Qur'an dan dengan timbangan Sunnah Seniyah, jadikanlah Al-Qur'an dan Sunnah Seniyah senantiasa sebagai pembimbing, ucapkanlah “ اَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّج۪يمِ ”, dan berlindunglah kepada Allah.
Nah, tiga belas isyarat ini adalah tiga belas kunci. Surah terakhir Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya — yang merupakan penjabaran dan tambang dari “ اَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّج۪يمِ ” — yaitu surah اَسْتَع۪يذُ بِاللّٰهِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ❊ مَلِكِ النَّاسِ ❊ اِلٰهِ النَّاسِ ❊ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ❊ الَّذ۪ى يُوَسْوِسُ ف۪ى صُدُورِ النَّاسِ ❊ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ ❊. Bukalah pintu benteng kukuh dan kubu kokohnya dengan tiga belas kunci itu, masuklah, dan temukanlah keselamatan! سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ وَ قُلْ رَبِّ اَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاط۪ينِ ❊ وَاَعُوذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَحْضُرُونِ