Poin Kedua:
Lem'alar · hlm. 100
Salah satu tipu daya penting setan: tidak membuat manusia mengakui kesalahannya. Agar ia menutup jalan istigfar dan istiazah (memohon perlindungan). Selain itu, ia membangkitkan keakuan (ananiah) nafsu insani, agar nafsu membela dirinya seperti seorang pengacara; seakan-akan menyucikan dirinya dari kelalaian. Ya, nafsu yang mendengarkan setan tidak ingin melihat kesalahannya; kalaupun melihatnya, ia menakwilkannya dengan seratus takwil. Dengan rahasia وَ عَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَل۪يلَةٌ: karena ia memandang nafsunya dengan pandangan rida, ia tak melihat aibnya. Karena tak melihat aibnya, ia tak mengakuinya, tak beristigfar, tak beristiazah; ia menjadi bahan tertawaan setan. Padahal seorang nabi yang mulia seperti Hazrat Yusuf 'alaihis-salâm berkata وَمَٓا اُبَرِّئُ نَفْس۪ى اِنَّ النَّفْسَ َلاَمَّارَةٌ بِالسُّٓوءِ اِلاَّ مَا رَحِمَ رَبّ۪ى, bagaimana mungkin nafsu dapat dipercaya? Orang yang menuduh nafsunya, melihat kesalahannya. Orang yang mengakui kesalahannya, beristigfar. Orang yang beristigfar, beristiazah. Orang yang beristiazah, lolos dari keburukan setan. Tidak melihat kesalahan diri adalah kesalahan yang lebih besar daripada kesalahan itu sendiri. Dan tidak mengakui kesalahan diri adalah suatu kekurangan yang besar. Dan jika ia melihat kesalahannya, kesalahan itu keluar dari sifat kesalahan; jika ia mengakuinya, ia layak mendapat ampunan.