LEM'A KEEMPAT BELAS
Lem'alar · hlm. 102
(Terdiri dari Dua Kedudukan. Kedudukan Pertama adalah jawaban atas dua pertanyaan.)
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Saudaraku yang aziz lagi setia, Re'fet Bey! Pertanyaan yang engkau ajukan tentang Sevr dan Hut memiliki jawaban dalam sebagian risalah. Terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, jawabannya telah dijelaskan dalam Cabang Ketiga Kelimat Kedua Puluh Empat dengan nama “Dua Belas Asas”, berupa dua belas kaidah penting. Kaidah-kaidah itu masing-masing merupakan batu uji bagi berbagai takwil mengenai hadis-hadis Nabi, dan merupakan asas-asas penting yang akan menolak prasangka yang datang kepada hadis. Sayangnya, untuk saat ini ada beberapa keadaan yang menghalangiku dari menyibukkan diri dengan masalah-masalah ilmiah selain apa yang terbetik di hati (sunuhat). Karena itu aku tak dapat memberi jawaban sesuai dengan pertanyaanmu. Jika ia berupa lintasan hati (sunuhat kalbiah), aku terpaksa menyibukkan diri dengannya. Kadang jawaban atas pertanyaan diberikan karena lintasan hati kebetulan bersesuaian dengannya; janganlah tersinggung. Karena itu aku tak dapat memberi jawaban yang layak atas setiap pertanyaanmu. Baiklah, kali ini aku akan memberi jawaban singkat atas pertanyaanmu.
Dalam pertanyaanmu kali ini engkau berkata: “Para guru agama berkata: Bumi berdiri di atas seekor sapi dan seekor ikan. Padahal Geografi melihat bahwa Bumi mengembara seperti sebuah bintang yang tergantung di angkasa. Tak ada sapi dan tak ada pula ikan?”
Jawaban:
Ada sebuah riwayat sahih yang disandarkan kepada tokoh-tokoh seperti Ibnu Abbas (r.a.): mereka bertanya kepada Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm, “Di atas apakah dunia berdiri?” Beliau bersabda: عَلَى الثَّوْرِ وَالْحُوتِ Dalam satu riwayat beliau sekali berkata عَلَى الثَّوْرِ, dan pada lain kali berkata عَلَى الْحُوتِ. Sebagian ahli hadis menerapkan hadis ini pada kisah-kisah bercorak khurafat yang diambil dari Israiliyat dan dinukilkan sejak dahulu. Khususnya sebagian dari ulama Bani Israil yang masuk Islam, menerapkan kisah-kisah yang mereka lihat dalam kitab-kitab terdahulu tentang “Sevr dan Hut” pada hadis itu, lalu mengubah makna hadis ke suatu bentuk yang menakjubkan. Untuk saat ini, mengenai pertanyaanmu ini akan disebutkan tiga asas dan tiga sisi secara sangat ringkas.
Asas Pertama:
Setelah sebagian ulama Bani Israil masuk Islam, pengetahuan lama mereka pun ikut “masuk Islam” bersama mereka dan menjadi milik Islam. Padahal dalam pengetahuan lama itu terdapat kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu tentu milik mereka, bukan milik Islam.
Asas Kedua:
Perumpamaan dan tamsil, tatkala berpindah dari kalangan khusus ke kalangan awam — yakni tatkala jatuh dari tangan ilmu ke tangan kebodohan — seiring berjalannya waktu dianggap sebagai hakikat. Misalnya: pada masa kecilku terjadi gerhana bulan. Aku berkata kepada ibuku, “Mengapa bulan menjadi begini?” Ia menjawab, “Ular menelannya.” Aku berkata, “Tetapi ia masih tampak?” Ia menjawab, “Di atas sana ular menjadi seperti kaca dan menampakkan apa yang ada di dalamnya.” Kenangan masa kecil ini lama kuingat. Dan aku berpikir, “Bagaimana suatu khurafat yang demikian tak berhakikat dapat beredar di lisan tokoh-tokoh yang serius seperti ibuku?” Hingga tatkala aku menelaah ilmu falak (astronomi), aku melihat bahwa: orang-orang yang berkata demikian seperti ibuku, telah menganggap suatu perumpamaan sebagai hakikat. Karena lingkaran agung yang mereka sebut “mintaqatul-buruj” (lingkaran zodiak) — yang menjadi orbit derajat-derajat Matahari — dan lingkaran kemiringan Bulan yang menjadi orbit manzilah-manzilah Bulan, saling melintasi satu sama lain, sehingga kedua lingkaran itu masing-masing membentuk dua busur; kepada kedua busur itu para ahli falak, dengan suatu perumpamaan yang halus, memberi nama “tinnineyn”, yaitu nama dua ular besar.
Nah, titik perpotongan kedua lingkaran itu mereka sebut “ra's” yang berarti kepala, dan yang lainnya “zaneb” yang berarti ekor. Tatkala Bulan datang ke ra's dan Matahari ke zaneb, menurut istilah ahli falak terjadilah “haylulat-ul-Ard” (peristiwa Bumi berada di tengah). Yakni Bola Bumi tepat jatuh di antara keduanya; saat itu Bulan pun mengalami gerhana. Dengan perumpamaan tadi dikatakan, “Bulan masuk ke mulut tinnin.”
Nah, perumpamaan yang luhur lagi ilmiah ini, tatkala masuk ke lisan orang awam, seiring berjalannya waktu mengambil bentuk seekor ular raksasa yang akan menelan Bulan.
Nah, demikian pula dua malaikat besar bernama Sevr dan Hut: dengan suatu perumpamaan suci yang halus dan suatu isyarat yang penuh makna, keduanya dinamai Sevr dan Hut. Tatkala perumpamaan itu berpindah dari lisan kenabian yang suci lagi luhur ke lisan orang banyak, ia berubah menjadi hakikat, sehingga seakan-akan mengambil rupa seekor sapi yang sangat besar dan seekor ikan yang dahsyat.
Asas Ketiga:
Sebagaimana Al-Qur'an memiliki ayat-ayat mutasyabih; ia mengajarkan masalah-masalah yang sangat dalam kepada kalangan awam dengan tamsil dan perumpamaan. Demikian pula: hadis memiliki bagian-bagian yang mutasyabih; ia menyatakan hakikat-hakikat yang sangat dalam dengan perumpamaan yang akrab. Misalnya: sebagaimana kami jelaskan dalam satu-dua risalah: pada suatu waktu, di hadapan Nabi terdengar suatu gemuruh yang sangat dalam. Beliau bersabda, “Itu adalah gemuruh sebuah batu yang telah menggelinding selama tujuh puluh tahun dan pada saat ini jatuh ke dasar Neraka.” Beberapa menit kemudian seseorang datang dan berkata, “Seorang munafik masyhur yang berusia tujuh puluh tahun telah mati.” Maka terungkaplah hakikat perumpamaan Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm yang sangat fasih itu.
Untuk saat ini, terhadap jawaban atas pertanyaanmu akan disebutkan “tiga sisi”.
Yang pertama:
Sebagaimana Allah menetapkan empat malaikat — salah satu dari malaikat yang disebut para pemikul Arasy dan langit bernama “Nesir” dan yang lainnya bernama “Sevr” — untuk mengawasi kerajaan rububiah-Nya atas Arasy dan langit, demikian pula Dia menetapkan dua malaikat sebagai pengawas dan pemikul bagi Bola Bumi, yang merupakan adik kecil langit dan sahabat planet-planet. Salah satu dari malaikat itu bernama “Sevr” dan yang lainnya bernama “Hut”. Adapun rahasia pemberian nama itu adalah demikian: Bumi terdiri dari dua bagian: yang satu air, yang satu tanah. Yang meramaikan bagian air adalah ikan. Yang meramaikan bagian tanah adalah pertanian — yang menjadi sumber kehidupan manusia — dan pertanian itu dilakukan dengan sapi dan di atas pundak sapi. Karena dua malaikat yang ditugaskan atas Bola Bumi merupakan panglima sekaligus pengawas, maka sudah pasti keduanya harus memiliki suatu sisi hubungan dengan golongan ikan dan jenis sapi. Bahkan — وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ — kedua malaikat itu memiliki penampakan (tamatstsul) dalam rupa sapi dan ikan di alam malakut dan alam mitsal.
{(Catatan): Ya, karena Bola Bumi adalah sebuah bahtera Rabbani di samudra udara yang meliputi, dan — dengan nas hadis — merupakan ladang bagi akhirat, yakni ladang persemaian, maka sudah zahir betapa cocoknya nama “Hut” bagi malaikat yang — dengan perintah Ilahi, dengan tatanan, dan dengan hikmah — melayarkan dan menakhodai kapal besar yang beku lagi tak berkesadaran itu di samudra tersebut; dan nama “Sevr” bagi malaikat yang mengawasi ladang itu dengan izin Ilahi.}
Nah, sebagai isyarat kepada hubungan dan pengawasan ini, dan sebagai isyarat halus kepada dua jenis makhluk penting Bola Bumi itu, lisan kenabian yang mukjizat penjelasannya bersabda َاْلاَرْضُ عَلَى الثَّوْرِ وَالْحُوتِ; dengan satu kalimat yang sangat indah lagi ringkas, beliau menyatakan suatu hakikat yang memuat masalah-masalah seluas satu halaman yang sangat dalam lagi lebar.
Sisi Kedua:
Misalnya, sebagaimana jika dikatakan: “Di atas apakah negara dan kerajaan ini berdiri?” Dalam jawabannya dikatakan: عَلَى السَّيْفِ وَ الْقَلَمِ Yakni, “Ia bersandar pada keberanian dan kekuatan pedang tentara serta pada kecakapan dan keadilan pena pegawai.” Demikian pula: karena Bola Bumi adalah tempat tinggal makhluk hidup, dan panglima makhluk hidup adalah manusia, dan sumber penghidupan sebagian besar penduduk pesisir adalah ikan, sedangkan sumber penghidupan penduduk yang bukan pesisir bertumpu pada pertanian di atas pundak sapi — dan salah satu sumber perniagaan penting pun adalah ikan — maka sudah pasti, sebagaimana negara berdiri di atas pedang dan pena, Bola Bumi pun dikatakan berdiri di atas sapi dan ikan. Sebab, kapan saja sapi tidak bekerja dan ikan tidak bertelur jutaan telur sekaligus, saat itu manusia tak dapat hidup, kehidupan pun runtuh, dan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana pun akan meruntuhkan Bumi.
Nah, Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm, dengan suatu jawaban yang sangat penuh mukjizat, sangat luhur, lagi sangat penuh hikmah, bersabda: َاْلاَرْضُ عَلَى الثَّوْرِ وَالْحُوتِ Dengan dua kata beliau mengajarkan suatu hakikat yang luas tentang betapa kehidupan jenis manusia berkaitan dengan kehidupan jenis hewan.
Sisi Ketiga:
Dalam pandangan Kosmografi lama, Matahari mengembara. Setiap tiga puluh derajat Matahari mereka sebut satu buruj (rasi). Jika di antara bintang-bintang dalam buruj-buruj itu ditarik garis-garis khayal yang menghubungkan satu sama lain, maka tatkala terbentuk suatu susunan tertentu, sebagian menampakkan rupa asad (yaitu singa), sebagian menampakkan rupa mizan yang berarti timbangan, sebagian menampakkan rupa sevr yang berarti sapi, dan sebagian menampakkan rupa hut yang berarti ikan. Berdasarkan hubungan itu, buruj-buruj itu diberi nama-nama tersebut. Adapun dalam pandangan Kosmografi abad ini, Matahari tidak mengembara. Buruj-buruj itu tinggal kosong, menganggur, lagi tak berfungsi. Sebagai ganti Matahari, Bola Bumi yang mengembara. Kalau begitu, sebagai ganti buruj-buruj yang kosong lagi menganggur itu dan lingkaran-lingkaran yang tak berfungsi di atas sana, di bumi haruslah terbentuk lingkaran-lingkaran itu dalam skala kecil pada orbit tahunan Bumi. Dalam keadaan demikian, buruj-buruj samawi akan menampakkan diri (tamatstsul) pada orbit tahunan Bumi. Dan dalam keadaan itu, Bola Bumi setiap bulan berada dalam bayangan dan gambaran salah satu buruj samawi. Seakan-akan orbit tahunan Bumi berkedudukan sebagai sebuah cermin, dan buruj-buruj samawi menampakkan diri padanya.
Nah, dengan sisi inilah Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm, sebagaimana kami sebutkan tadi, sekali berkata عَلَى الثَّوْرِ, dan sekali berkata عَلَى الْحُوتِ. Ya, dengan cara yang layak bagi lisan kenabian yang mukjizat penjelasannya, sebagai isyarat kepada suatu hakikat yang sangat dalam lagi baru akan dipahami banyak abad kemudian, beliau sekali berkata عَلَى الثَّوْرِ. Karena Bola Bumi, pada waktu pertanyaan itu diajukan, berada dalam gambaran Buruj Sevr (Taurus). Sebulan kemudian beliau ditanya lagi, dan berkata عَلَى الْحُوتِ. Karena pada waktu itu Bola Bumi berada dalam bayangan Buruj Hut (Pisces).
Nah, sebagai isyarat kepada hakikat luhur yang akan dipahami di masa depan ini, sebagai isyarat halus kepada gerakan dan perjalanan Bola Bumi dalam tugasnya, dan sebagai rumus bahwa buruj-buruj samawi — dari sisi Matahari — menganggur dan tanpa tamu, sedangkan buruj-buruj yang benar-benar berfungsi berada pada orbit tahunan Bumi, dan bahwa yang menjalankan tugas serta mengembara di buruj-buruj itu adalah Bola Bumi — beliau bersabda عَلَى الثَّوْرِ وَالْحُوتِ. وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Adapun kisah-kisah menakjubkan lagi di luar akal tentang sevr dan hut dalam sebagian kitab keislaman, itu adalah Israiliyat, atau tamsil, atau takwil sebagian ahli hadis, yang oleh sebagian orang yang tak cermat disangka sebagai hadis lalu disandarkan kepada Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَاسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
PERTANYAAN KEDUA:
Mengenai Ahlul-Aba (Keluarga Kain Selimut).
Saudaraku; dari sekian banyak hikmah pertanyaanmu yang belum terjawab tentang Ahlul-Aba, hanya satu hikmah saja yang akan disebutkan. Yakni demikian: Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm menyelimutkan aba (jubah) mubarak yang beliau kenakan ke atas Hazrat Ali (r.a.), Hazrat Fatimah (r.a.), Hazrat Hasan, dan Husain (r.a.), dan dengan cara itu mendoakan mereka dengan ayat لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْه۪يرًا — hal itu memiliki rahasia dan hikmah. Kami tak akan membicarakan rahasia-rahasianya. Hanya satu hikmah yang berkaitan dengan tugas kerasulan, yaitu demikian:
Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm, dengan pandangan kenabian yang mengenal gaib dan melihat masa depan, telah melihat bahwa sekitar tiga puluh atau empat puluh tahun kemudian akan terjadi fitnah-fitnah besar di antara para sahabat dan tabiin, serta akan tertumpah darah. Beliau menyaksikan bahwa pribadi-pribadi yang paling istimewa di dalamnya adalah tiga pribadi yang berada di bawah aba-nya itu. Untuk menyucikan dan membebaskan Hazrat Ali (r.a.) dari tuduhan dalam pandangan umat, untuk menghibur dan meneguhkan Hazrat Husain (r.a.), untuk memberi selamat kepada Hazrat Hasan (r.a.) serta mengumumkan kemuliaannya dan manfaat besarnya bagi umat dengan mengangkat suatu fitnah penting melalui perdamaian, dan untuk mengumumkan bahwa keturunan Hazrat Fatimah akan suci lagi mulia serta layak menyandang gelar tinggi Ahlulbait — maka beliau menyelimutkan aba yang menganugerahkan gelar “Khamsah Ahlul-Aba” (Lima Pemilik Kain Selimut) kepada empat pribadi itu bersama beliau.
Ya, memang Hazrat Ali (r.a.) adalah khalifah yang sah secara hak.
Namun karena darah yang tertumpah sangat penting, dan karena penyucian serta pembebasan (Hazrat Ali) dalam pandangan umat merupakan hal penting dari sisi tugas kerasulan, maka Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm menyucikannya dengan cara itu. Beliau mengajak diam kaum Khawarij serta para pendukung Bani Umayyah yang melampaui batas — yang mengkritik, menyalahkan, dan menyesatkan Hazrat Ali. Ya, sikap tafrit (meremehkan) dan penyesatan kaum Khawarij serta para pendukung ekstrem Bani Umayyah terhadap Hazrat Ali (r.a.), serta sikap ifrat (berlebih-lebihan), bidah, dan sikap berlepas diri kaum Syiah dari Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) — yang lahir dari peristiwa Hazrat Husain (r.a.) yang sangat tragis lagi memilukan hati — telah menjadi hal yang sangat merugikan bagi umat Islam.
Nah, dengan aba dan doa ini, Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm — sebagaimana beliau menyelamatkan Hazrat Ali (r.a.) dan Hazrat Husain (r.a.) dari tanggung jawab dan tuduhan, serta menyelamatkan umatnya dari prasangka buruk terhadap keduanya — memberi selamat kepada Hazrat Hasan (r.a.) dari sisi tugas kerasulan atas kebaikan yang beliau lakukan bagi umat melalui perdamaian yang beliau adakan; dan mengumumkan bahwa keturunan mubarak dari zuriah Hazrat Fatimah (r.a.) akan menyandang gelar Ahlulbait di alam Islam dan meraih suatu kemuliaan yang tinggi, serta bahwa Hazrat Fatimah (r.a.) — seperti ibunda Hazrat Maryam yang berkata اِنّ۪ٓى اُع۪يذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّج۪يمِ — akan sangat dimuliakan dari sisi keturunan.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰٓى اٰلِهِ الطَّيِّب۪ينَ الطَّاهِر۪ينَ اْلاَبْرَارِ وَعَلٰٓى اَصْحَابِهِ الْمُجَاهِد۪ينَ الْمُكْرَم۪ينَ اْلاَخْيَارِ اٰم۪ينَ