Risale-i NurLem'alar

Kedudukan Kedua

Lem'alar · hlm. 109

Mengenai enam rahasia dari ribuan rahasia بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ.

Ihtar (Peringatan):

Suatu cahaya cemerlang dari Basmalah, pada sisi rahmatnya, tampak dari kejauhan pada akalku yang redup. Aku ingin mencatatnya dalam bentuk not (nota) untuk diriku sendiri. Dan aku berhasrat untuk menangkap serta mengikat cahaya itu dengan memutar suatu lingkaran di sekelilingnya dengan dua puluh hingga tiga puluh rahasia. Namun sayangnya, untuk saat ini aku tak sepenuhnya berhasil mencapai hasratku itu. Dari dua puluh–tiga puluh, ia turun menjadi lima–enam.

Tatkala aku berkata “Wahai manusia!”, yang kumaksud adalah nafsuku sendiri. Meskipun pelajaran ini khusus bagi nafsuku sendiri, dengan niat semoga ia menjadi sumber manfaat bagi tokoh-tokoh yang secara ruhani memiliki hubungan denganku dan yang nafsunya lebih terjaga daripada nafsuku, aku serahkan ia — sebagai “Kedudukan Kedua dari Lem'a Keempat Belas” — kepada penilaian saudara-saudaraku yang teliti. Pelajaran ini lebih menatap kalbu daripada akal, dan lebih memandang zauq (rasa) daripada dalil.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِقَالَتْ يَٓا اَيُّهَا اْلَمَلَؤُا اِنّ۪ٓى اُلْقِىَ اِلَىَّ كِتَابٌ كَر۪يمٌ ❊ اِنَّهُ مِنْ سُلَيْمٰنَ وَ اِنَّهُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

Pada kedudukan ini akan disebutkan beberapa rahasia.

Rahasia Pertama:

Salah satu tajalli “Bismillahirrahmanirrahîm” kulihat demikian: pada wajah alam semesta, pada wajah bumi, dan pada wajah manusia, terdapat tiga meterai rububiah yang saling menampakkan contoh satu sama lain di dalam satu sama lain. Yang pertama: meterai teragung uluhiah yang tampak dari tolong-menolong, saling menopang, saling merangkul, dan saling menjawab pada keseluruhan susunan alam semesta — dan “Bismillah” menatapnya. Yang kedua: meterai teragung Rahmaniyah yang tampak dari keserupaan, keselarasan, keteraturan, keharmonisan, kelembutan, dan belas kasih dalam pengaturan, pemeliharaan, serta pengelolaan tumbuhan dan hewan di wajah Bola Bumi — dan “Bismillahirrahman” menatapnya. Kemudian meterai tertinggi Rahimiyah yang tampak dari kelembutan-kelembutan kasih (ra'fat), kehalusan-kehalusan kasih sayang (syafqat), dan pancaran-pancaran belas kasih Ilahi pada wajah hakikat manusia yang bersifat menghimpun (jâmi') — dan “Ar-Rahîm” pada “Bismillahirrahmanirrahîm” menatapnya.

Artinya, “Bismillahirrahmanirrahîm” adalah gelar suci dari tiga meterai keesaan (ahadiah) yang membentuk satu baris bercahaya pada lembaran alam, sekaligus benang yang kuat dan garis yang cemerlang. Yakni, “Bismillahirrahmanirrahîm”, dengan turun dari atas, ujungnya menyandar pada manusia yang merupakan buah alam semesta dan salinan mungil dari alam. Ia mengikat farsy (bumi) ke Arasy. Ia menjadi suatu jalan bagi manusia untuk naik ke Arasy.

Rahasia Kedua:

Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, agar tidak menenggelamkan akal-akal di dalam wahidiah yang tampak pada kebanyakan makhluk yang tak terhingga, senantiasa memperlihatkan tajalli ahadiah di dalam wahidiah itu. Yakni, misalnya sebagaimana Matahari dengan cahayanya meliputi hal-hal yang tak terhingga. Karena untuk merenungkan zat Matahari dalam keseluruhan cahayanya diperlukan suatu bayangan yang sangat luas dan suatu pandangan yang meliputi; maka agar zat Matahari tidak terlupakan, Ia memperlihatkan zat Matahari pada setiap benda yang berkilau melalui pantulannya, dan setiap benda yang berkilau — sesuai dengan kemampuannya — memperlihatkan sifat-sifat Matahari seperti cahaya dan panasnya bersama tajalli zatinya; dan sebagaimana setiap benda yang berkilau memperlihatkan Matahari dengan seluruh sifatnya sesuai kemampuannya, demikian pula setiap kualitas Matahari seperti cahaya, panas, dan tujuh warna dalam cahayanya, masing-masing pun meliputi benda-benda yang ada di hadapannya. Demikian pula: وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى — semoga tidak ada kesalahan dalam perumpamaan — sebagaimana ahadiah dan shamadiah Ilahi memiliki suatu tajalli dengan seluruh nama-Nya pada setiap sesuatu, khususnya pada makhluk hidup, khususnya pada cermin hakikat manusia; demikian pula dari sisi wahdah dan wahidiah, setiap nama yang berkaitan dengan segala yang ada meliputi seluruh yang ada. Nah, agar tidak menenggelamkan akal-akal di dalam wahidiah dan agar kalbu tidak melupakan Zat Yang Mahasuci, Ia senantiasa menampilkan meterai ahadiah di dalam wahidiah — dan yang memperlihatkan tiga simpul penting dari meterai itu adalah “Bismillahirrahmanirrahîm”.

Rahasia Ketiga:

Yang meramaikan alam semesta yang tak terhingga ini, secara penyaksian, adalah rahmat. Dan yang menerangi segala yang ada yang gelap ini, secara badihi, juga rahmat. Dan yang memelihara makhluk yang berkelindan dalam kebutuhan yang tak terhingga ini, secara badihi, juga rahmat. Dan sebagaimana sebuah pohon dengan seluruh susunannya menghadap kepada buahnya, yang membuat seluruh alam semesta menghadap kepada manusia, menatapnya dari segala arah, dan bergegas menolongnya, secara badihi adalah rahmat. Dan yang mengisi, menerangi, serta meramaikan angkasa yang tak terhingga serta alam yang kosong lagi hampa ini, secara penyaksian adalah rahmat. Dan yang menjadikan manusia fana ini calon bagi keabadian serta menjadikannya mukhathab (lawan bicara) dan sahabat bagi suatu Zat Yang Azali lagi Abadi, secara badihi adalah rahmat.

Wahai manusia, karena rahmat adalah suatu hakikat yang dicintai, yang demikian kuat, memikat, menyenangkan, lagi menolong; ucapkanlah “Bismillahirrahmanirrahîm”. Berpeganglah pada hakikat itu, loloslah dari kesunyian mutlak dan dari kepedihan kebutuhan yang tak terhingga, mendekatlah ke singgasana Sultan Azali lagi Abadi itu, dan jadilah — dengan kasih sayang, syafaat, serta pancaran rahmat itu — mukhathab, kekasih, dan sahabat bagi Sultan itu!

Ya, mengumpulkan berbagai jenis alam semesta di sekeliling manusia dalam lingkaran hikmah dan menyuruhnya bergegas memenuhi seluruh kebutuhan manusia dengan tatanan dan inayah yang sempurna, secara badihi adalah salah satu dari dua keadaan: Entah setiap jenis alam semesta mengenal manusia dengan sendirinya, menaatinya, dan bergegas menolongnya. Ini, di samping seratus derajat jauh dari akal, juga menghasilkan banyak kemustahilan. Kekuatan seorang Sultan Mutlak yang paling kuat harus ada dalam diri makhluk yang tak berdaya secara mutlak seperti manusia. Atau, pertolongan ini terjadi dengan ilmu Sang Mahakuasa Mutlak (Qadîr Mutlak) di balik tabir alam semesta ini. Artinya, berbagai jenis alam semesta bukanlah mengenal manusia; melainkan mereka adalah dalil-dalil bagi pengenalan dan pengetahuan suatu Zat yang mengetahui, mengenal, serta mengasihi manusia.

Wahai manusia! Sadarlah. Mungkinkah Zat Yang Mahaagung — yang membuat seluruh jenis makhluk mengulurkan tangan pertolongan menghadap kepadamu dan membuat mereka berkata “Labbaik!” terhadap kebutuhanmu — tidak mengetahuimu, tidak mengenalmu, dan tidak melihatmu? Karena Dia mengetahuimu, dengan rahmat-Nya Dia memberitahukan bahwa Dia mengetahui. Maka kenalilah Dia, dan dengan penghormatan beritahukanlah bahwa engkau mengenal-Nya. Dan pahamilah secara pasti bahwa: menundukkan alam semesta yang besar ini dan mengirimnya untuk menolong makhluk kecil yang lemah mutlak, tak berdaya mutlak, fakir mutlak, lagi fana sepertimu — sudah pasti adalah hakikat rahmat yang mengandung hikmah, inayah, ilmu, dan kudrat. Sudah pasti rahmat seperti ini menuntut darimu suatu syukur yang menyeluruh lagi tulus dan suatu penghormatan yang sungguh-sungguh lagi murni. Nah, ucapkanlah “Bismillahirrahmanirrahîm” yang merupakan penerjemah dan gelar dari syukur yang tulus dan penghormatan yang murni itu. Jadikanlah ia wasilah bagi sampainya rahmat itu dan pemberi syafaat di hadapan Ar-Rahman itu.

Ya, keberadaan dan kenyataan rahmat itu sejelas Matahari. Karena sebagaimana suatu sulaman terpusat terbentuk dari tatanan dan posisi benang lungsin serta benang yang datang dari segala arah. Demikian pula: benang-benang bercahaya yang terulur dari tajalli seribu satu nama Ilahi di lingkaran terbesar alam semesta ini, menenun pada wajah alam semesta suatu stempel Rahimiyah dan suatu ukiran kasih sayang di dalam suatu meterai rahmat; dan menenun suatu stempel inayah sedemikian rupa sehingga memperlihatkan dirinya kepada akal lebih cemerlang daripada Matahari.

Ya, Ar-Rahman Yang Maha Indah (Dzul-Jamâl) itu — yang menata Matahari dan Bulan, unsur-unsur dan barang tambang, tumbuhan dan hewan seperti benang-benang pakan suatu ukiran teragung dengan pancaran seribu satu nama itu, menjadikannya pelayan bagi kehidupan, memperlihatkan kasih sayang-Nya melalui kasih sayang seluruh ibu nabati dan hewani yang sangat manis lagi penuh pengorbanan, menundukkan makhluk hidup bagi kehidupan manusia, dan darinya memperlihatkan suatu ukiran teragung rububiah Ilahi yang sangat indah lagi manis serta memperlihatkan pentingnya manusia, dan menampakkan rahmat-Nya yang paling cemerlang — sudah pasti, terhadap kemahakayaan mutlak-Nya, telah menjadikan rahmat-Nya sebagai pemberi syafaat yang diterima bagi makhluk hidup dan manusia yang berada dalam kebutuhan mutlak. Wahai manusia, jika engkau memang manusia, ucapkanlah “Bismillahirrahmanirrahîm”. Temukanlah pemberi syafaat itu!

Ya, Zat yang memelihara serta mengelola empat ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan yang berbeda-beda di muka bumi — tanpa melupakan satu pun, tanpa keliru, tepat pada waktunya, dengan tatanan yang sempurna, dengan hikmah dan inayah — dan yang meletakkan stempel keesaan (ahadiah) pada wajah bumi; secara badihi, bahkan secara penyaksian, adalah rahmat. Dan keberadaan rahmat itu sepasti keberadaan segala yang ada pada wajah bumi ini, sebagaimana pula dalil-dalil kenyataannya sebanyak jumlah yang ada itu. Ya, sebagaimana di muka bumi terdapat suatu stempel rahmat dan meterai keesaan seperti itu, pada wajah hakikat maknawi manusia pun terdapat suatu meterai rahmat yang tak lebih rendah daripada meterai belas kasih di wajah bumi dan meterai rahmat teragung di wajah alam semesta. Ia seakan-akan memiliki suatu himpunan yang berkedudukan sebagai titik fokus tajalli seribu satu nama.

Wahai manusia, mungkinkah Zat yang memberimu wajah ini dan meletakkan meterai rahmat serta stempel keesaan seperti itu pada wajahmu, membiarkanmu terlantar, tidak mempedulikanmu, tidak memperhatikan gerak-gerikmu, menjadikan seluruh alam semesta yang menghadap kepadamu sia-sia, dan menjadikan pohon penciptaan sebagai pohon yang buahnya busuk, rusak, lagi tak berarti? Dan membuat orang mengingkari rahmat-Nya yang zahir laksana matahari dan hikmah-Nya yang tampak laksana cahaya — yang tak menerima keraguan dari sisi mana pun dan tak memiliki kekurangan dari segi apa pun? Sekali-kali tidak!..

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa: untuk sampai ke Arasy rahmat itu ada suatu mikraj. Mikraj itu adalah “Bismillahirrahmanirrahîm”. Dan jika engkau ingin memahami betapa pentingnya mikraj ini, pandanglah permulaan seratus empat belas surah Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, permulaan seluruh kitab mubarak, dan permulaan seluruh pekerjaan mubarak. Dan bukti yang paling pasti bagi keagungan kadar Basmalah adalah ini: para mujtahid besar seperti Imam Syafi'i (r.a.) berkata, “Meskipun Basmalah adalah satu ayat, ia turun seratus empat belas kali dalam Al-Qur'an.”

Rahasia Keempat:

Tajalli wahidiah di dalam kebanyakan yang tak terhingga tidak cukup bagi setiap orang hanya dengan seruan اِيَّاكَ نَعْبُدُ. Pikiran menjadi bercerai-berai. Untuk merenungkan Zat Yang Maha Esa (Ahadiah) di balik kesatuan pada keseluruhan itu lalu berkata اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ, diperlukan suatu kalbu seluas bumi. Dan berdasarkan rahasia ini, sebagaimana Ia memperlihatkan meterai keesaan pada perkara-perkara parsial secara zahir, demikian pula untuk memperlihatkan meterai keesaan pada setiap jenis dan untuk membuat Zat Yang Maha Esa direnungkan, Ia memperlihatkan suatu meterai keesaan di dalam stempel Rahmaniyah; agar tanpa kesulitan setiap orang pada setiap tingkatan dapat berkata اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ dan menghadap dengan menyeru langsung kepada Zat Yang Mahasuci.

Nah, karena untuk menyatakan rahasia agung inilah, Al-Qur'an Al-Hakim tatkala membicarakan lingkaran teragung alam semesta — misalnya penciptaan langit dan bumi — tiba-tiba membicarakan suatu lingkaran terkecil dan suatu bagian parsial yang paling halus; agar Ia memperlihatkan meterai keesaan secara zahir.

Misalnya: di dalam pembicaraan tentang penciptaan langit dan bumi, Ia membuka pembicaraan tentang penciptaan manusia, tentang suara manusia, dan tentang kehalusan-kehalusan nikmat serta hikmah pada wajahnya. Agar pikiran tidak bercerai-berai, kalbu tidak tenggelam, dan ruh menemukan Sembahannya (Ma'bud) secara langsung. Misalnya: ayat وَمِنْ اٰيَاتِه۪ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ memperlihatkan hakikat yang disebutkan itu dengan cara yang penuh mukjizat.

Ya, pada makhluk yang tak terhingga dan pada kebanyakan yang tak berkesudahan, meterai-meterai kesatuan (wahdah) memiliki berbagai jenis dan tingkatan — seperti lingkaran-lingkaran yang saling bertumpuk — dari yang terbesar sampai meterai yang terkecil. Namun betapa pun besarnya kesatuan itu, ia tetaplah suatu kesatuan di dalam kebanyakan. Ia tak dapat sepenuhnya menjamin seruan yang hakiki. Karena itu, di balik kesatuan harus terdapat meterai keesaan (ahadiah). Agar ia tak mengingatkan pada kebanyakan. Agar ia membuka jalan bagi kalbu secara langsung menuju Zat Yang Mahasuci. Selain itu, untuk mengalihkan pandangan kepada meterai keesaan dan untuk menarik kalbu, Ia meletakkan di atas meterai keesaan itu suatu meterai rahmat dan stempel Rahimiyah — yang merupakan suatu ukiran yang sangat memikat, suatu cahaya yang sangat cemerlang, suatu kemanisan yang sangat manis, suatu keindahan yang sangat menawan, dan suatu hakikat yang sangat kuat. Ya, kekuatan rahmat itulah yang menarik pandangan makhluk berkesadaran, menariknya kepada dirinya, dan menyampaikannya kepada meterai keesaan. Dan ia membuat Zat Yang Maha Esa direnungkan, serta darinya menjadikan (manusia) tempat tertuju seruan hakiki dalam اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Nah, karena “Bismillahirrahmanirrahîm” adalah daftar isi surah Al-Fatihah dan ringkasan ringkas Al-Qur'an, ia menjadi gelar dan penerjemah dari rahasia agung yang disebutkan itu. Orang yang mengambil gelar ini di tangannya dapat mengembara di lapisan-lapisan rahmat. Dan orang yang membuat penerjemah ini berbicara akan mempelajari rahasia-rahasia rahmat serta melihat cahaya-cahaya Rahimiyah dan kasih sayang.

Rahasia Kelima:

Dalam sebuah hadis syarif disebutkan: اِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ اْلاِنْسَانَ عَلٰى صُورَةِ الرَّحْمٰنِ — atau sebagaimana yang beliau sabdakan (au kamâ qâl) — Sebagian ahli tarekat menafsirkan hadis syarif ini dengan cara yang menakjubkan yang tidak sesuai dengan akidah keimanan. Bahkan sebagian ahli cinta (asyk) dari mereka memandang wajah maknawi manusia dengan pandangan sebagai suatu “rupa Ar-Rahman” (suret Rahman). Karena pada sebagian besar ahli tarekat terdapat “sakr” (mabuk ruhani) dan pada kebanyakan ahli cinta terdapat “istigrak” (tenggelam) serta kekeliruan, maka mungkin mereka dimaklumi dalam anggapan mereka yang menyelisihi hakikat. Namun orang-orang yang berakal sehat tak dapat menerima secara pikiran makna-makna mereka yang bertentangan dengan asas akidah. Jika ia menerimanya, ia berbuat salah.

Ya, sebagaimana Zat Ilahi Yang Mahasuci — yang mengelola seluruh alam semesta secara teratur laksana sebuah istana atau sebuah rumah, yang memutar dan mengedarkan bintang-bintang dengan penuh hikmah lagi mudah laksana atom, dan yang mempekerjakan atom-atom laksana petugas yang teratur — tidak memiliki sekutu, tandingan, lawan, atau saingan; demikian pula, dengan rahasia لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَهُوَ السَّم۪يعُ الْبَص۪يرُ, Ia tak dapat pula memiliki rupa, keserupaan, gambaran, atau padanan. Namun, dengan rahasia وَلَهُ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ, melalui misal dan perumpamaan, dipandanglah keadaan-keadaan-Nya (syu'ûnat), sifat-sifat, serta nama-nama-Nya. Artinya, misal dan perumpamaan itu ada dari sudut pandang syu'ûnat.

Salah satu dari sekian banyak maksud hadis syarif yang disebutkan itu adalah demikian: manusia berada dalam suatu rupa yang memperlihatkan nama Ar-Rahman secara sempurna. Ya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya: sebagaimana pada wajah alam semesta tampak nama Ar-Rahman yang muncul dari pancaran seribu satu nama, dan sebagaimana pada wajah muka bumi diperlihatkan nama Ar-Rahman yang muncul dengan tajalli tak terhingga dari rububiah mutlak Ilahi, demikian pula pada rupa manusia yang bersifat menghimpun — dalam skala kecil, seperti wajah bumi dan wajah alam semesta — ia memperlihatkan tajalli paling sempurna dari nama Ar-Rahman itu. Selain itu, ini merupakan isyarat bahwa: tempat-tempat kemunculan (mazhar) seperti makhluk hidup dan manusia — yang merupakan dalil dan cermin bagi Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang — penunjukannya kepada Zat Yang Wajib Ada demikian pasti, jelas, lagi zahir, sehingga sebagaimana terhadap kecemerlangan sebuah cermin terang yang menangkap gambaran dan pantulan Matahari, serta sebagai isyarat kepada kejelasan penunjukannya, dikatakan “Cermin itu adalah Matahari”; demikian pula sebagai isyarat kepada kejelasan penunjukan dan kesempurnaan hubungan, dikatakan dan tetap dikatakan, “Pada manusia ada rupa Ar-Rahman.” Dan kalangan moderat dari ahli Wahdatul-Wujud, berdasarkan rahasia ini, mengatakan “Lâ mawjûda illâ Hû” (Tiada yang wujud kecuali Dia) sebagai suatu gelar bagi kejelasan penunjukan ini dan kesempurnaan hubungan ini.

اَللّٰهُمَّ يَا رَحْمٰنُ يَا رَح۪يمُ بِحَقِّ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اِرْحَمْنَا كَمَا يَل۪يقُ بِرَح۪يمِيَّتِكَ وَ فَهِّمْنَٓا اَسْرَارَ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ كَمَا يَل۪يقُ بِرَحْمَانِيَّتِكَ اٰم۪ينَ

Rahasia Keenam:

Wahai manusia malang yang berkelindan dalam ketidakberdayaan yang tak terhingga dan kefakiran yang tak berkesudahan! Pahamilah betapa berharganya rahmat sebagai suatu wasilah dan betapa diterimanya ia sebagai suatu pemberi syafaat, dengan ini: Rahmat itu adalah wasilah kepada suatu Sultan Yang Mahaagung, yang bintang-bintang bersama atom-atom berkhidmat dalam pasukan-Nya dengan tatanan dan ketaatan yang sempurna. Dan Zat Yang Mahaagung serta Sultan Azali lagi Abadi itu memiliki kemahakayaan zati dan berada dalam kemahakayaan mutlak. Ia adalah Yang Mahakaya secara mutlak (Ganî 'alal-ithlâq), yang sama sekali tak membutuhkan alam semesta dan segala yang ada. Dan seluruh alam semesta berada di bawah perintah dan kehendak-Nya, di bawah kewibawaan dan keagungan-Nya, dalam ketaatan penuh, serta dalam kerendahan terhadap keagungan-Nya. Nah, wahai manusia, rahmat itu membawamu ke hadirat Yang Mahatakbutuh secara mutlak (Mustaghnî 'alal-ithlâq) dan Sultan Yang Kekal Abadi itu, menjadikanmu sahabat-Nya, menjadikanmu mukhathab-Nya, dan memberimu kedudukan seorang hamba yang dicintai. Namun sebagaimana engkau tak dapat mencapai Matahari, engkau sangat jauh; tak dapat mendekat dari sisi mana pun. Namun cahaya Matahari memberikan pantulan dan tajalli Matahari ke tanganmu melalui cerminmu. Demikian pula: terhadap Zat Yang Mahasuci itu dan Matahari Azali lagi Abadi itu, kita memang tak terhingga jauh, tak dapat mendekat. Namun cahaya rahmat-Nya mendekatkan-Nya kepada kita.

Nah, wahai manusia! Orang yang menemukan rahmat ini menemukan suatu perbendaharaan cahaya yang kekal lagi tak akan habis. Jalan untuk menemukan perbendaharaan itu adalah sunnah dan ittiba' kepada Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm — yang merupakan misal dan wakil rahmat yang paling cemerlang, lisan dan penyeru rahmat itu yang paling fasih, dan yang dalam Al-Qur'an dinamai dengan gelar “Rahmatan lil-'âlamîn”. Adapun wasilah kepada rahmat yang mewujud (rahmat mujassamah) berupa Rahmatan lil-'âlamîn ini adalah salawat. Ya, makna salawat adalah rahmat. Dan salawat — yang merupakan doa rahmat bagi rahmat hidup yang mewujud itu — adalah wasilah bagi sampainya Rahmatan lil-'âlamîn itu. Kalau begitu, jadikanlah salawat sebagai wasilah bagi dirimu untuk mencapai Rahmatan lil-'âlamîn itu, dan jadikanlah pula zat itu sebagai wasilah kepada rahmat Ar-Rahman. Bahwa seluruh umat membaca salawat dengan makna rahmat — dengan kebanyakan yang tak terhingga — atas beliau 'alaihis-salâtu was-salâm yang merupakan Rahmatan lil-'âlamîn, membuktikan secara cemerlang betapa berharganya rahmat sebagai suatu hadiah Ilahi dan betapa luas lingkarannya.

Kesimpulannya:

Sebagaimana berlian paling berharga dan penjaga pintu perbendaharaan rahmat adalah Zat Ahmadiah 'alaihis-salâtu was-salâm, maka kunci pertamanya pun adalah “Bismillahirrahmanirrahîm”. Dan kunci yang paling mudah adalah salawat.

اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ اَسْرَارِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ كَمَا يَل۪يقُ بِرَحْمَتِكَ وَ بِحُرْمَتِهِ وَ عَلٰٓى اٰلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَع۪ينَ وَ ارْحَمْنَا رَحْمَةً تُغْن۪ينَا بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ مِنْ خَلْقِكَ اٰم۪ينَسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ