Risale-i NurLem'alar

Poin Kedua:

Lem'alar · hlm. 68

Kemungkinan (imkân) memiliki beragam jenis. Ada bagian-bagian seperti kemungkinan akli, kemungkinan 'urfi (menurut kelaziman), dan kemungkinan biasa. Suatu peristiwa, jika tidak berada dalam lingkaran kemungkinan akli, ia ditolak; jika tidak berada dalam lingkaran kemungkinan 'urfi, ia menjadi mukjizat, namun tak dapat dengan mudah menjadi karâmah. Jika secara kelaziman dan kaidah tak ada bandingannya, ia hanya diterima dengan sebuah bukti pasti pada derajat penyaksian.

Nah, berdasarkan rahasia ini, keadaan luar biasa Sayyid Ahmad al-Badawi yang tidak makan roti selama empat puluh hari berada dalam lingkaran kemungkinan 'urfi. Ia dapat menjadi karâmah, dan dapat pula menjadi suatu kebiasaan luar biasa. Ya, keadaan Sayyid Ahmad al-Badawi (semoga Allah menyucikan rahasianya) yang menakjubkan lagi penuh keasyikan diriwayatkan pada derajat mutawatir. Ia pernah makan sekali dalam empat puluh hari. Namun tidak setiap waktu demikian. Terkadang terjadi dari jenis karâmah. Ada satu kemungkinan bahwa: keadaan keasyikannya, karena tak melihat kebutuhan untuk makan, telah berkedudukan sebagai kebiasaan baginya. Dari banyak wali sejenis Sayyid Ahmad al-Badawi (q.s.), keajaiban semacam ini diriwayatkan secara terpercaya. Karena — sebagaimana kami buktikan pada Poin Pertama — rezeki yang disimpan berlangsung lebih dari empat puluh hari, dan tidak makan sebanyak itu secara kebiasaan mungkin, serta keadaan itu diriwayatkan secara terpercaya dari orang-orang luar biasa, maka sudah pasti ia takkan diingkari.

PERTANYAAN KEDUA

— sehubungan dengannya akan dijelaskan dua persoalan penting. Karena ilmu Geografi dan Kosmografi, dengan kanun-kanunnya yang pendek, prinsip-prinsipnya yang sempit, dan timbangan-timbangannya yang kecil, tak mampu naik ke langit-langit Al-Qur'an dan tak mampu menyingkap tujuh lapis makna pada bintang-bintang ayat, maka mereka berupaya secara gila-gilaan mengkritik, bahkan mengingkari, ayat.