Risale-i NurLem'alar

Poin Pertama:

Lem'alar · hlm. 66

Dengan rahasia ayat وَكَاَيِّنْ مِنْ دَٓابَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقَهَا اَللّٰهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ ❊ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَت۪ينُ: rezeki langsung berada di tangan Sang Qadîr Yang Mahaagung dan keluar dari perbendaharaan rahmat-Nya. Karena rezeki setiap makhluk hidup berada dalam jaminan Rabbani, maka mati karena kelaparan semestinya tidak terjadi. Padahal secara lahiriah banyak tampak orang yang mati karena kelaparan dan ketiadaan rezeki. Penyelesaian hakikat dan rahasia ini adalah demikian: jaminan Rabbani itu hakikat. Tidak ada yang mati akibat ketiadaan rezeki. Karena Zat Yang Maha Bijaksana lagi Mahaagung menyimpan sebagian rezeki yang Dia kirim ke tubuh makhluk hidup dalam bentuk lemak dan gajih sebagai cadangan. Bahkan sebagian rezeki yang Dia kirim ke setiap sel tubuh pun Dia simpan di suatu sudut sel itu. Dia menyimpannya sebagai cadangan persediaan untuk dibelanjakan pada saat di masa depan rezeki tak datang dari luar.

Nah, mereka mati sebelum cadangan rezeki simpanan ini habis. Artinya, kematian itu bukan karena ketiadaan rezeki. Melainkan mereka mati karena suatu kebiasaan yang lahir dari salah pilih (sû'-i ihtiyâr), dan karena suatu penyakit yang lahir dari salah pilih itu serta dari meninggalkan kebiasaan tersebut. Ya, rezeki fitri yang disimpan dalam bentuk lemak di tubuh makhluk hidup, sebagai jalan tengah, berlangsung sempurna selama empat puluh hari. Bahkan sebagai akibat suatu penyakit atau suatu keasyikan ruhani, ia melampaui dua kali empat puluh. Bahkan surat kabar tiga belas — sekarang tiga puluh sembilan — tahun yang lalu memberitakan bahwa seorang lelaki, karena kedegilan yang kuat, di penjara London mempertahankan hidupnya selama tujuh puluh hari dengan sehat lagi selamat tanpa memakan apa pun. Karena rezeki fitri berlangsung dari empat puluh hari hingga tujuh puluh delapan puluh hari, dan karena nama Razzâq tampak manifestasinya secara sangat luas di muka bumi, dan karena rezeki mengalir dan bermunculan dengan cara yang sama sekali tak diharapkan — dari susu dan dari kayu — maka seandainya manusia yang penuh keburukan tidak ikut campur dengan salah pilihnya, niscaya sebelum rezeki fitri itu habis, nama itu datang menolong makhluk hidup tersebut, tidak memberi jalan bagi kematian karena kelaparan. Maka: orang-orang yang mati karena kelaparan, jika mati sebelum empat puluh hari, sama sekali bukan karena ketiadaan rezeki. Melainkan — dengan rahasia “Tarkul-'âdât minal-muhlikât” (meninggalkan kebiasaan termasuk yang membinasakan) — ia datang dari suatu kebiasaan yang lahir dari salah pilih dan dari suatu penyakit yang lahir dari meninggalkan kebiasaan. Maka dapat dikatakan: mati karena kelaparan itu tidak ada.

Ya, dengan penyaksian tampak bahwa: rezeki berbanding terbalik dengan daya dan kehendak. Misalnya: sebelum datang ke dunia, seorang bayi, pada saat ia sama sekali kehilangan kehendak dan daya di dalam rahim ibunya, diberi rezeki dengan cara yang tak membutuhkannya bahkan untuk sekadar menggerakkan mulutnya. Kemudian tatkala datang ke dunia, tak ada daya dan kehendak, namun karena ia memiliki suatu derajat potensi dan perasaan yang potensial, dengan kebutuhan pada suatu gerak sekadar menempelkan mulutnya, rezeki diberikan ke mulutnya dari keran payudara dalam bentuk yang paling sempurna, paling bergizi, paling mudah dicerna, paling lembut, dan dalam fitrah yang paling menakjubkan. Kemudian, setiap kali ia mulai memperoleh sedikit keterikatan pada daya dan kehendak, rezeki yang mudah lagi indah itu pun mulai berlaku manja terhadap sang anak pada suatu derajat. Mata air payudara itu terputus, rezeki dikirim dari tempat lain. Namun karena daya dan kehendaknya belum siap untuk mengejar rezeki, maka Razzâq Yang Mahamulia mengirim kasih dan sayang ayah dan ibunya sebagai penolong bagi daya dan kehendaknya. Kapan saja daya dan kehendak menyempurna, saat itu rezeki tidak berlari kepadanya dan tidak dibuat berlari. Rezeki tetap di tempatnya. Ia berkata: “Datanglah, carilah aku, temukan, dan ambil!” Artinya, rezeki berbanding terbalik dengan daya dan kehendak. Bahkan dalam banyak risalah kami telah menjelaskan bahwa: hewan yang paling tak berkehendak dan tak berdaya justru hidup lebih baik, diberi makan lebih baik.