Persoalan Penting Pertama:
Lem'alar · hlm. 69
Membahas bahwa bumi pun, seperti langit, terdiri dari tujuh lapis. Persoalan ini tampak tak berhakikat bagi para filsuf zaman modern. Ilmu-ilmu mereka tentang bumi dan langit tidak menerimanya. Dengan menjadikan ini sebagai perantara, mereka membantah sebagian hakikat Al-Qur'an. Mengenai hal ini kami akan menuliskan beberapa isyarat secara ringkas.
Yang pertama:
Pertama: Makna ayat itu satu hal, dan individu serta perwujudan (mâsadaq) makna-makna itu hal lain. Nah, jika salah satu individu dari beragam individu makna menyeluruh itu tak ditemukan, makna itu tidak terbantahkan. Dari banyak individu makna menyeluruh tentang tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, tujuh perwujudan tampak secara lahiriah. Kedua: Dalam kejelasan ayat tidak dikatakan “tujuh lapis bumi”. اَللّٰهُ الَّذ۪ى خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ وَمِنَ اْلاَرْضِ مِثْلَهُنَّ dan seterusnya. Zahir ayat berkata: “Dan Dia menciptakan bumi pun seperti tujuh langit itu, dan menjadikannya tempat tinggal bagi makhluk-Nya.” Ia tidak berkata: Aku menciptakannya sebagai tujuh lapis. Adapun keserupaan (misliyat) adalah suatu penyerupaan dari sisi kemakhlukan dan kelayakannya sebagai tempat tinggal bagi makhluk.
Yang kedua:
Bola bumi, meskipun teramat kecil dibandingkan langit, karena berkedudukan sebagai galeri, tempat penampakan, tempat penghimpunan, dan pusat bagi ciptaan Ilahi yang tak terhingga; sebagaimana kalbu menghadap tubuh, demikian pula bola bumi menghadap langit yang teramat luas lagi tak terhingga sebagai sebuah kalbu dan pusat maknawi. Karena itu, dari ayat-ayat Al-Qur'an dipahami bahwa bumi pun tujuh lapis, dengan isyarat kepada: tujuh iklim bumi dalam ukuran kecil yang telah dikenal sejak dahulu {Kata “tujuh” bersama “sab'ah” bertawafuk tujuh kali dengan sangat indah.}; tujuh benuanya yang dikenal dengan nama Eropa, Afrika, Oseania, dua Asia, dan dua Amerika; tujuh benuanya yang dikenal — bersama lautan — dengan timur, barat, utara, selatan, di wajah ini dan di wajah Dunia Baru; tujuh lapisnya yang bersambung lagi beragam yang tetap secara hikmah dan ilmu, dari pusatnya hingga kulit luar; tujuh macam unsur menyeluruh yang masyhur — yang diistilahkan “tujuh lapis” — yang mencakup tujuh puluh unsur sederhana lagi parsial yang menjadi sandaran kehidupan bagi makhluk hidup; tujuh lapis dan tujuh alam dari “mawâlid tsalâtsah” (tiga anak: mineral, tumbuhan, dan hewan) bersama empat unsur yang disebut air, udara, api, dan tanah; alam-alam tujuh lapis bumi yang tetap dengan kesaksian teramat banyak ahli kasyaf dan pemilik penyaksian sebagai alam dan tempat tinggal jin, ifrit, serta beragam makhluk hidup berkesadaran lainnya; dan sebagai isyarat kepada adanya tujuh bola bumi lain yang menyerupai bumi kita, yang menjadi kediaman dan tempat tinggal makhluk hidup — yakni tujuh lapis, yaitu tujuh bola bumi.
Nah, terbukti bahwa tujuh lapis bumi ada dengan tujuh macam dalam tujuh cara. Makna kedelapan yang terakhir penting dari sudut pandang lain; ia tidak termasuk dalam yang tujuh itu.
Yang ketiga:
Karena Sang Maha Bijaksana Mutlak tidak memboroskan dan tidak menciptakan hal-hal yang sia-sia; dan karena wujud makhluk adalah demi makhluk berkesadaran, menemukan kesempurnaannya dengan makhluk berkesadaran, meriah dengan makhluk berkesadaran, dan terselamatkan dari kesia-siaan dengan makhluk berkesadaran; dan karena dengan penyaksian Sang Maha Bijaksana Mutlak, Sang Qadîr Yang Mahaagung itu meriahkan unsur udara, alam air, dan lapisan tanah dengan makhluk hidup yang tak terhingga; dan karena udara dan air tidak menghalangi pergerakan hewan, sebagaimana tanah dan benda padat seperti batu tidak menghalangi perjalanan benda seperti listrik dan sinar rontgen — maka sudah pasti Sang Maha Bijaksana Mahasempurna, Sang Pencipta Yang Kekal, tidak membiarkan kosong lagi hampa tujuh lapis menyeluruh yang bersambung satu sama lain — dari pusat bola bumi kita hingga kulit luar yang menjadi kediaman dan pusat kita ini — beserta lapangan-lapangan luas, alam-alam, dan gua-guanya. Sudah pasti Dia meriahkannya. Dia menciptakan makhluk berkesadaran yang sesuai lagi selaras dengan keriuhan alam-alam itu, lalu menempatkan mereka di sana. Karena makhluk berkesadaran itu semestinya berasal dari jenis malaikat dan ragam makhluk ruhani, maka sudah pasti lapisan yang paling padat dan paling keras pun, bagi mereka, adalah laksana laut bagi ikan dan udara bagi burung. Bahkan api dahsyat di pusat bumi pun, bagi makhluk berkesadaran itu, semestinya laksana panas Matahari bagi kita. Karena makhluk ruhani berkesadaran itu terbuat dari cahaya, maka api bagi mereka menjadi seperti cahaya.
Yang keempat:
Dalam Surat Kedelapan Belas telah disebutkan sebuah perumpamaan mengenai gambaran yang dijelaskan para ahli kasyaf — di luar jangkauan akal — tentang keajaiban lapisan-lapisan bumi. Ringkasannya demikian: bola bumi, di alam syahadah (kasatmata), adalah sebuah benih; sedangkan di alam mitsal dan barzakh, ia sebesar sebatang pohon besar yang akan beradu bahu dengan langit. Penglihatan para ahli kasyaf terhadap lapisan bumi yang khusus bagi ifrit sebagai jarak sepanjang seribu tahun, bukanlah pada benih bola bumi yang termasuk alam syahadah, melainkan penampakan cabang-cabang dan lapisan-lapisannya di alam mitsal. Karena satu lapisan bumi yang secara lahiriah tak penting memiliki penampakan yang demikian agung di alam lain, maka sudah pasti dapat dikatakan “tujuh lapis” sebagai imbangan tujuh lapis langit; dan untuk mengingatkan poin-poin yang disebutkan, dengan keringkasan lagi cara yang mukjizat, ayat-ayat Al-Qur'an mengisyaratkan dengan memperlihatkan bumi yang mungil ini sebagai imbangan tujuh lapis langit.