Risale-i NurLem'alar

Persoalan Penting Kedua:

Lem'alar · hlm. 71

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَاْلاَرْضُ وَمَنْ ف۪يهِنَّ dan seterusnya... ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَٓاءِ فَسَوّٰيهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَل۪يمٌ Banyak ayat seperti ayat mulia ini menjelaskan langit sebagai tujuh langit.

Layaklah menuliskan hanya sebuah ringkasan dari persoalan yang telah kami jelaskan secara teramat singkat di garis depan perang pada tahun pertama Perang Dunia lama — karena keterpaksaan meringkas — dalam tafsir Isyârâtul-I'jâz. Yakni demikian:

Filsafat lama membayangkan langit sebanyak sembilan, dan dalam bahasa syar'i menerima Arasy dan Kursi bersama tujuh langit, lalu menggambarkan langit dengan cara yang menakjubkan. Ungkapan-ungkapan mewah para filsuf jenius filsafat lama itu telah menahan umat manusia di bawah dominasi mereka selama berabad-abad. Bahkan banyak ahli tafsir terpaksa menyesuaikan zahir ayat menurut mazhab mereka. Dengan cara itu, kemukjizatan Al-Qur'an Al-Hakim pada suatu derajat tertutupi tabir. Adapun filsafat baru yang diberi nama “hikmah modern”, sebagai imbangan terhadap sikap berlebihan filsafat lama tentang langit — yang mereka anggap tak dapat ditembus, dilalui, dirobek, atau ditambal — justru menyepelekan, hingga hampir mengingkari keberadaan langit. Yang terdahulu berlebih-lebihan, yang kemudian menyepelekan, sehingga keduanya tak dapat memperlihatkan hakikat sepenuhnya. Adapun hikmah suci Al-Qur'an Al-Hakim meninggalkan sikap berlebihan dan menyepelekan itu, memilih jalan tengah, dan berkata: Sang Pencipta Yang Mahaagung telah menciptakan tujuh lapis langit. Adapun bintang-bintang yang bergerak, mereka mengembara di dalam langit laksana ikan dan bertasbih. Dalam hadis dikatakan اَلسَّمَٓاءُ مَوْجٌ مَكْفُوفٌ. Yakni: “Langit adalah sebuah laut yang gelombangnya telah ditetapkan (tenang).”

Nah, kami akan membuktikan hakikat Al-Qur'an ini secara teramat ringkas dengan tujuh kaidah dan tujuh sisi makna.

Kaidah Pertama:

Secara ilmiah lagi hikmah terbukti bahwa: ruang angkasa yang tak berbatas ini bukanlah kekosongan yang tak terhingga, melainkan penuh dengan materi yang mereka sebut “eter”.

Yang kedua:

Secara ilmiah lagi akli, bahkan secara penyaksian, terbukti bahwa: ada suatu materi yang memenuhi ruang angkasa itu, yang menjadi pengikat kanun-kanun benda langit seperti gaya tarik dan gaya tolak, serta penyebar dan penghantar kekuatan pada benda seperti cahaya, panas, dan listrik.

Yang ketiga:

Secara eksperimen terbukti bahwa materi eter, meskipun tetap eter, berada dalam beragam susunan dan rupa yang berbeda-beda seperti materi lain. Ya, sebagaimana tiga jenis benda — gas, cair, padat seperti uap, air, dan es — berasal dari materi yang sama, demikian pula tak ada penghalang akli bagi adanya tujuh macam lapisan dari materi eter, dan tak ada yang dapat menjadi sandaran keberatan.

Yang keempat:

Jika diperhatikan benda-benda langit, tampak bahwa: pada lapisan alam-alam tinggi itu ada perbedaan. Misalnya: lapisan tempat lingkaran agung berbentuk awan yang dikenal dengan nama Nahrus-Samâ dan Kehkeşan — yang dalam bahasa Turki diistilahkan “Samanyolu” (Bimasakti) — tentu tidak menyerupai lapisan bintang-bintang tetap. Seakan-akan lapisan bintang-bintang tetap telah matang lagi masak laksana buah-buah musim panas. Sedangkan bintang-bintang tak terhingga yang tampak berbentuk awan di Bimasakti itu baru mulai bermunculan dan matang dari waktu ke waktu. Lapisan bintang tetap pun, dengan firasat yang benar, tampak berbeda dengan lapisan Tata Surya. Dan demikianlah, dengan perasaan dan firasat dapat dipahami bahwa tujuh tata dan tujuh lapisan berbeda satu sama lain.

Yang kelima:

Dengan firasat, perasaan, induksi, dan eksperimen telah terbukti bahwa: jika pada suatu materi terjadi penataan dan pembentukan, lalu dari materi itu dibuat ciptaan lain, maka tentu ia berada dalam lapisan dan bentuk yang berbeda-beda. Misalnya: tatkala pembentukan dimulai pada tambang intan, dari materi itu lahir jenis abu, arang, dan intan. Dan misalnya: tatkala api mulai terbentuk, ia terpisah menjadi lapisan nyala, asap, dan bara. Dan misalnya: tatkala hidrogen dicampur dengan oksigen, dari campuran itu terbentuk lapisan seperti air, es, dan uap. Artinya dipahami bahwa jika pada satu materi terjadi pembentukan, ia terpisah menjadi lapisan-lapisan. Maka: karena Kudrat Sang Pencipta memulai pembentukan pada materi eter, sudah pasti — sebagai lapisan yang berbeda-beda, dengan rahasia فَسَوّٰيهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ — Dia menciptakan tujuh macam langit darinya.

Yang keenam:

Tanda-tanda yang disebutkan itu, mau tak mau, menunjukkan baik keberadaan langit maupun banyaknya. Karena secara pasti langit itu banyak, dan Sang Pemberita yang Jujur, dengan lisan Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, berkata bahwa ia tujuh, maka sudah pasti ia tujuh.

Yang ketujuh:

Karena ungkapan seperti tujuh, tujuh puluh, tujuh ratus dalam gaya bahasa Arab mengungkapkan kebanyakan (kesret), maka tujuh lapis menyeluruh itu dapat mencakup banyak sekali lapisan.

KESIMPULANNYA:

Sang Qadîr Yang Mahaagung menciptakan tujuh lapis langit dari materi eter, meratakannya, menatanya dengan suatu susunan yang teramat halus lagi menakjubkan, dan menanam bintang-bintang di dalamnya. Karena Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya adalah sebuah khotbah azali yang berbicara kepada seluruh tingkatan jin dan manusia, maka sudah pasti setiap tingkatan umat manusia akan mengambil bagiannya dari setiap ayat Al-Qur'an, dan ayat-ayat Al-Qur'an akan mengandung beragam makna secara tersirat lagi isyarat sedemikian rupa sehingga memuaskan pemahaman setiap tingkatan. Ya, keluasan seruan Al-Qur'an, kelapangan makna dan isyaratnya, serta pengindahan dan penyesuaiannya terhadap derajat pemahaman dari orang awam yang paling awam hingga orang khusus yang paling khusus, menunjukkan bahwa: setiap ayat memiliki satu sisi bagi setiap tingkatan, dan menatapnya.

Nah, berdasarkan rahasia ini, dalam makna menyeluruh “tujuh langit”, tujuh tingkatan manusia telah memahami tujuh lapis makna yang berbeda. Yakni demikian: pada ayat فَسَوّٰيهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ, suatu tingkatan manusia yang berpandangan pendek lagi berpikiran sempit memahami lapisan-lapisan udara. Dan tingkatan manusia lain yang pusing oleh Kosmografi memahami bintang-bintang yang masyhur di lidah orang banyak dengan tujuh planet beserta orbitnya. Sebagian manusia lagi memahami tujuh bola langit lain yang menjadi kediaman makhluk hidup yang menyerupai bumi kita. Golongan manusia lain memahami terpisahnya Tata Surya menjadi tujuh lapisan, sekaligus tujuh tata surya bersama Tata Surya kita. Golongan manusia lain lagi memahami terpisahnya susunan materi eter menjadi tujuh lapisan. Tingkatan manusia yang lebih luas pikirannya, dengan menghitung seluruh langit yang tampak berkilauan dengan bintang sebagai satu langit lalu berkata bahwa itu adalah langit dunia ini, memahami bahwa selain ini ada enam lapis langit lagi. Dan tingkatan ketujuh umat manusia, golongan yang paling tinggi, tidak memandang tujuh langit terbatas pada alam syahadah. Melainkan ia memahami bahwa ada tujuh langit yang masing-masing merupakan sampul yang meliputi dan atap yang mencakup bagi alam ukhrawi, gaib, duniawi, dan mitsal.

Dan demikianlah, sebagaimana tujuh lapis makna dari tujuh lapisan yang disebutkan itu, dalam keseluruhan ayat ini masih ada banyak makna parsial lagi. Setiap orang mengambil bagiannya sesuai pemahamannya, dan setiap orang menemukan rezekinya dari hidangan langit itu.

Karena ayat itu memiliki begitu banyak perwujudan yang benar, maka serangan para filsuf tak berakal masa kini dan Kosmografi mereka yang ngawur terhadap ayat semacam ini dengan dalih mengingkari langit, menyerupai anak-anak nakal lagi bodoh yang melempari batu ke bintang-bintang di langit dengan niat menjatuhkan sebuah bintang. Karena jika satu saja perwujudan dari makna menyeluruh ayat itu benar, maka makna menyeluruh itu benar lagi hak. Bahkan suatu individu yang tak ada dalam kenyataan namun beredar di lidah orang banyak dapat masuk ke dalam makna menyeluruh itu, demi mengindahkan pikiran orang banyak. Padahal, kita telah melihat banyak individunya yang hak lagi hakiki. Dan sekarang, lihatlah Geografi yang tak adil lagi tak benar ini, serta Kosmografi yang tolol, mabuk, lagi sempoyongan ini! Betapa kedua ilmu ini keliru, memejamkan mata dari makna menyeluruh yang hak, hakiki, lagi benar, tidak melihat perwujudan-perwujudan yang banyak lagi benar; lalu, dengan menyangka suatu individu khayalan yang menakjubkan sebagai makna ayat, mereka melempari batu ke ayat; mereka memecahkan kepala mereka sendiri, menerbangkan iman mereka!...

Kesimpulannya: Terhadap tujuh lapis langit Al-Qur'an — yang diturunkan atas tujuh qiraat, tujuh sisi, tujuh mukjizat, tujuh hakikat, dan tujuh rukun — pikiran-pikiran materialis tak beriman yang berkedudukan sebagai jin dan setan tak mampu naik, sehingga tak mengetahui apa yang ada dan tak ada pada bintang-bintang ayat, lalu memberi kabar yang dusta lagi keliru. Dan ke atas kepala mereka, dari bintang-bintang ayat itu, turun meteor-meteor seperti penyelidikan yang disebutkan tadi, lalu membakar mereka. Ya, dengan filsafat para filsuf berpikiran jin itu, langit Al-Qur'an itu tak dapat didaki. Melainkan ke bintang-bintang ayat, dapat didaki dengan mikraj hikmah yang hakiki serta dengan sayap iman dan keislaman.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى شَمْسِ سَمَٓاءِ الرِّسَالَةِ وَ قَمَرِ فَلَكِ النُّبُوَّةِ وَ عَلٰٓى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ نُجُومِ الْهُدٰى لِمَنِ اهْتَدٰى ❊ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ ❊ اَللّٰهُمَّ يَا رَبَّ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ زَيِّنْ قُلُوبَ كَاتِبِ هٰذِهِ الرِّسَالَةِ وَ رُفَقَٓائِهِ بِنُجُومِ حَقَٓائِقِ الْقُرْاٰنِ وَ اْلا۪يمَانِ اٰم۪ينَ