Risale-i NurLem'alar

Persoalan Pertama:

Lem'alar · hlm. 10

Musibah yang sebenarnya, dan musibah yang membahayakan, adalah musibah yang menimpa agama. Terhadap musibah keagamaan, setiap saat kita harus berlindung ke hadirat Ilahi dan menjerit memohon. Adapun musibah yang bukan keagamaan, pada hakikatnya bukanlah musibah. Sebagiannya adalah peringatan Rahmani. Sebagaimana seorang gembala melempari dengan batu domba-dombanya yang melanggar masuk ke ladang orang lain, lalu domba-domba itu memahami dari batu tersebut bahwa itu adalah peringatan untuk menyelamatkan mereka dari perbuatan yang merugikan, sehingga mereka kembali dengan senang hati — demikian pula banyak musibah lahiriah yang merupakan peringatan dan teguran Ilahi, dan sebagiannya adalah penghapus dosa-dosa, dan sebagiannya lagi menghalau kelalaian serta memberikan semacam ketenangan dengan menyadarkan manusia akan ketidakberdayaan dan kelemahannya. Adapun jenis musibah yang berupa penyakit, sebagaimana telah lalu, bagian itu bukanlah musibah, melainkan suatu kasih sayang Rabbani, suatu penyucian. Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Sebagaimana pohon yang matang berguguran buahnya bila diguncang, demikian pula dosa-dosa berguguran oleh getaran demam.”

Nabi Ayyub 'alaihis-salâm dalam munajatnya tidak berdoa demi ketenangan dirinya, melainkan memohon kesembuhan demi ubudiyah tatkala penyakit itu menghalangi zikir lisan dan tafakur kalbu. Kita pun, dengan munajat itu — sebagai maksud pertama kita — hendaklah meniatkan kesembuhan bagi luka-luka ruhani dan maknawi kita yang datang dari dosa. Adapun untuk penyakit lahiriah, kita boleh berlindung tatkala ia menghalangi ubudiyah. Namun bukan dengan cara memprotes dan mengeluh, melainkan hendaklah berlindung dengan penuh kerendahan diri dan permohonan pertolongan. Karena kita telah rida terhadap rububiyah-Nya, maka dari sisi rububiyah itu kita mesti rida terhadap apa yang Dia berikan.

Mengeluh dengan mengucap “Ah! Uh!” dalam nada yang menyiratkan penolakan terhadap kada dan kadar-Nya adalah semacam kritik terhadap takdir, suatu tuduhan terhadap sifat rahîm-Nya. Siapa yang mengkritik takdir, ia memukulkan kepalanya ke landasan besi lalu memecahkannya. Siapa yang menuduh rahmat, ia akan terhalang dari rahmat. Sebagaimana menggunakan tangan yang patah untuk membalas dendam justru menambah parah patahnya, demikian pula orang yang tertimpa musibah, bila menyambutnya dengan keluhan yang memprotes dan dengan kegelisahan, ia justru menggandakan musibah itu.