Risale-i NurLem'alar

LEM'A KEDUA

Lem'alar · hlm. 4

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اِذْ نَادٰى رَبَّهُٓ اَنّ۪ى مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِم۪ينَ

Munajat Nabi Ayyub 'alaihis-salâm, sang pahlawan kesabaran, adalah munajat yang telah teruji sekaligus manjur. Namun, dalam munajat kita, hendaklah kita mengucapkannya dalam bentuk kutipan dari ayat: رَبِّ اِنّ۪ى مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِم۪ينَ. Ringkasan kisah masyhur Nabi Ayyub 'alaihis-salâm adalah demikian:

Meskipun sekian lama berada dalam keadaan penuh luka dan lebam, beliau tetap bertahan dengan kesabaran yang sempurna seraya merenungkan pahala agung dari penyakit itu. Kemudian, tatkala ulat-ulat yang lahir dari luka-lukanya menggerogoti hati dan lidahnya — karena hati dan lidah adalah tempat berzikir dan mengenal Allah (makrifatullah) — maka karena khawatir tugas ubudiyah itu terganggu, beliau berdoa bukan demi ketenangan dirinya, melainkan demi ubudiyah kepada Allah. Katanya: “Wahai Rabb! Kemudaratan telah menimpaku; ia mengganggu zikirku secara lisan dan ubudiyahku secara kalbu.” Maka Allah menerima munajat yang ikhlas, jernih, tanpa pamrih, dan murni karena Allah itu dengan cara yang sungguh menakjubkan. Dia menganugerahkan kesembuhan yang sempurna kepadanya dan menjadikannya tempat tertuju bagi beragam rahmat-Nya. Nah, dalam Lem'a ini terdapat “Lima Nuktah” (poin halus).

NUKTAH PERTAMA:

Sebagai tandingan dari penyakit luka lahiriah Nabi Ayyub 'alaihis-salâm, kita memiliki penyakit batin, ruhani, dan kalbu. Andaikan bagian dalam kita dibalik ke luar dan bagian luar ke dalam, niscaya kita akan tampak lebih penuh luka dan lebih berpenyakit daripada Nabi Ayyub. Karena setiap dosa yang kita perbuat, setiap keraguan yang masuk ke kepala kita, membuka luka pada kalbu dan ruh kita. Luka-luka Nabi Ayyub 'alaihis-salâm mengancam kehidupan dunianya yang singkat; sedangkan luka-luka maknawi kita mengancam kehidupan abadi kita yang teramat panjang. Kita seribu kali lebih membutuhkan munajat Ayyubiah itu daripada beliau. Terlebih lagi, sebagaimana ulat-ulat yang lahir dari luka beliau menggerogoti kalbu dan lidahnya, demikian pula luka-luka yang datang dari dosa serta was-was dan keraguan yang lahir dari luka-luka itu (naûdzu billâh) menggerogoti bagian dalam kalbu — tempat bersemayamnya iman — sehingga melukai iman; dan mengusik kenikmatan ruhani lidah — sang penerjemah iman — sehingga menjauhkannya dari zikir dengan penuh kebencian, lalu membungkamnya.

Ya, dosa merembes ke dalam kalbu, menghitamkannya sedikit demi sedikit, sampai mengeraskannya hingga cahaya iman terusir keluar. Di dalam setiap dosa terdapat jalan menuju kekufuran. Jika dosa itu tidak segera dihapus dengan istigfar, ia bukan lagi seekor ulat, melainkan menjelma seekor ular maknawi kecil yang menggigit kalbu.

Misalnya: seseorang yang mengerjakan suatu dosa memalukan secara sembunyi-sembunyi, tatkala ia sangat malu bila orang lain mengetahuinya, maka keberadaan malaikat dan makhluk ruhani terasa sangat berat baginya. Dengan tanda yang paling kecil pun ia ingin mengingkari mereka.

Dan misalnya: seseorang yang mengerjakan dosa besar yang membuahkan azab Jahanam, setiap kali mendengar ancaman-ancaman Jahanam, jika ia tidak berlindung dengan istigfar, maka dengan segenap jiwanya ia mengharapkan ketiadaan Jahanam, sehingga tanda dan keraguan yang paling kecil pun memberinya keberanian untuk mengingkari Jahanam.

Dan misalnya: seseorang yang tidak mengerjakan salat fardu dan tidak menunaikan tugas ubudiyah, yang begitu tersinggung oleh satu teguran kecil dari seorang atasan kecil karena satu kelalaian kecil — maka satu kemalasan yang ia lakukan dalam kewajiban terhadap perintah-perintah berulang Sang Sultan Azali dan Abadi justru memberinya kesempitan yang besar. Dari kesempitan itu ia berangan-angan, dan secara maknawi berkata: “Alangkah baiknya seandainya tugas ubudiyah itu tidak ada.” Lalu dari angan-angan ini terbangunlah suatu keinginan untuk mengingkari, yang menyiratkan permusuhan maknawi terhadap Allah. Jika satu keraguan tentang wujud Ilahi terlintas di kalbu, ia cenderung berpegang padanya seolah-olah itu dalil yang pasti. Maka terbukalah baginya sebuah pintu kebinasaan yang besar. Orang malang itu tidak tahu bahwa, dengan pengingkaran itu, sebagai ganti dari kesempitan yang teramat kecil yang datang dari tugas ubudiyah, ia justru menjadikan dirinya sasaran bagi jutaan kesempitan maknawi yang jauh lebih dahsyat daripada kesempitan itu. Ia lari dari gigitan lalat, lalu menerima gigitan ular. Dan seterusnya... hendaklah ketiga contoh ini dijadikan ukuran, agar rahasia بَلْ رَانَ عَلٰى قُلُوبِهِمْ dapat dipahami.

NUKTAH KEDUA:

Sebagaimana telah dijelaskan mengenai rahasia takdir dalam Kelimat Kedua Puluh Enam, manusia tidak berhak mengeluh dalam musibah dan penyakit karena tiga segi.

Segi Pertama:

Allah menjadikan busana tubuh yang Dia kenakan pada manusia sebagai tempat penampakan seni-Nya. Dia menjadikan manusia sebagai sebuah model; di atas model itu Dia memotong, menggunting, mengubah, dan menyulih busana tubuh tersebut, lalu memperlihatkan manifestasi beragam nama-Nya (asma). Sebagaimana nama Syâfî (Yang Menyembuhkan) menghendaki adanya penyakit, demikian pula nama Razzâq (Yang Memberi Rezeki) menuntut adanya rasa lapar. Dan seterusnya... مَالِكُ الْمُلْكِ يَتَصَرَّفُ ف۪ى مُلْكِه۪ كَيْفَ يَشَٓاءُ

Segi Kedua:

Kehidupan menjadi jernih melalui musibah dan penyakit; ia meraih kesempurnaan, memperoleh kekuatan, menanjak maju, membuahkan hasil, menyempurna, dan menunaikan tugas kehidupannya. Kehidupan di atas kasur istirahat yang monoton lebih dekat kepada ketiadaan — yang merupakan keburukan murni — daripada kepada wujud yang merupakan kebaikan murni, bahkan ia menuju ke sana.

Segi Ketiga:

Negeri dunia ini adalah medan ujian dan negeri pengabdian; ia bukan tempat kelezatan, upah, dan ganjaran. Karena ia adalah negeri pengabdian dan tempat ubudiyah, maka penyakit dan musibah — dengan syarat tidak menyentuh agama dan disikapi dengan sabar — sangat bersesuaian dengan pengabdian dan ubudiyah itu, bahkan menguatkannya. Dan karena ia menjadikan setiap jamnya berkedudukan sebagai ibadah sehari, maka yang patut adalah bersyukur, bukan mengeluh. Ya, ibadah terbagi dua: satu bagian positif, yang lain negatif. Bagian yang positif sudah dimaklumi. Adapun bagian yang negatif: dengan penyakit dan musibah, orang yang tertimpa musibah merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, lalu menghadap Rabb-nya Yang Maha Penyayang dengan penuh perlindungan, memikirkan-Nya, memohon kepada-Nya, dan menunaikan ubudiyah yang murni. Ubudiyah ini tidak dapat dimasuki riya; ia murni. Jika ia bersabar, memikirkan pahala musibah, dan bersyukur, maka setiap jamnya berpindah menjadi kedudukan ibadah sehari. Umurnya yang singkat menjadi umur yang panjang. Bahkan ada sebagian yang satu menitnya berpindah menjadi kedudukan ibadah sehari. Bahkan aku pernah sangat mencemaskan penyakit dahsyat seorang saudara akhiratku bernama Muhajir Hafiz Ahmad. Lalu diilhamkan ke kalbuku: “Ucapkanlah selamat kepadanya. Setiap menitnya berpindah menjadi kedudukan ibadah sehari.” Memang, orang itu bersyukur dalam kesabaran.

NUKTAH KETIGA:

Sebagaimana telah kami jelaskan dalam satu-dua Kalimat: setiap insan, bila memikirkan kehidupannya yang telah lalu, ke kalbu dan lidahnya akan datang entah “ah” entah “oh”. Yakni, ia entah menyesal, entah mengucap “Alhamdulillah”. Yang membuatnya menyesal adalah derita-derita maknawi yang lahir dari lenyap dan berpisahnya kelezatan-kelezatan masa lampau. Karena lenyapnya kelezatan adalah derita. Terkadang satu kelezatan sementara memberi derita yang kekal. Dan memikirkannya akan mengorek derita itu serta mengalirkan penyesalan. Adapun kelezatan maknawi dan kekal yang lahir dari lenyapnya derita-derita sementara yang pernah ia lalui pada kehidupan lampaunya, itulah yang membuatnya mengucap “Alhamdulillah”. Bersamaan dengan keadaan fitri ini, jika ia memikirkan pahala dan ganjaran ukhrawi yang menjadi buah dari musibah, serta berpindahnya umur yang singkat menjadi kedudukan umur yang panjang melalui perantaraan musibah, niscaya ia lebih bersyukur daripada sekadar bersabar. Sudah semestinya ia mengucapkan “Alhamdulillâhi 'alâ kulli hâl siwal-kufri wad-dalâl” (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan, kecuali kekufuran dan kesesatan). Ada sebuah perkataan masyhur: “Masa musibah itu panjang.” Ya, masa musibah memang panjang. Namun bukan panjang karena penuh kesempitan sebagaimana disangka dalam anggapan umum, melainkan panjang karena ia membuahkan hasil-hasil kehidupan laksana umur yang panjang.

NUKTAH KEEMPAT:

Sebagaimana telah dijelaskan pada kedudukan pertama Kelimat Kedua Puluh Satu: jika manusia tidak mencerai-beraikan kekuatan sabar yang Allah berikan kepadanya ke jalan waham, maka ia akan cukup untuk menghadapi setiap musibah. Namun, dengan tirani waham, dengan kelalaian manusia, dan dengan menyangka kehidupan yang fana ini kekal, ia mencerai-beraikan kekuatan sabarnya ke masa lampau dan masa depan, sehingga sabarnya tidak cukup untuk menghadapi musibah masa kini, lalu ia mulai mengeluh. Seolah-olah ia (hâsyâ) mengadukan Allah kepada manusia. Ia bahkan mengeluh secara sangat tidak adil dan seperti orang gila, serta menunjukkan ketidaksabaran. Karena setiap hari yang telah lalu, jika ia musibah, kesukarannya telah pergi dan kelegaannya tinggal; deritanya telah pergi dan kelezatan pada lenyapnya tinggal; kesempitannya telah berlalu dan pahalanya tinggal. Maka atas hal ini yang semestinya bukanlah mengeluh, melainkan bersyukur dengan penuh kenikmatan. Bukan berkecil hati kepadanya, melainkan sebaliknya, mencintainya. Umurnya yang fana dan telah lampau itu, melalui perantaraan musibah, berpindah menjadi semacam umur yang kekal dan berbahagia. Memikirkan derita-derita pada hari-hari itu dengan waham lalu mencerai-beraikan sebagian sabarnya untuk menghadapinya adalah kegilaan. Adapun hari-hari mendatang, karena belum lagi datang, maka memikirkan sejak sekarang penyakit atau musibah yang akan dialami di dalamnya lalu menunjukkan ketidaksabaran dan mengeluh adalah kedunguan. Berkata “Besok atau lusa aku akan lapar, akan haus” lalu hari ini terus-menerus minum air dan makan roti — betapa itu suatu kegilaan yang dungu. Demikian pula, memikirkan musibah dan penyakit hari-hari mendatang yang kini masih tiada, lalu tersiksa olehnya sejak sekarang dan menunjukkan ketidaksabaran, tanpa satu keterpaksaan pun menzalimi diri sendiri — adalah suatu kebodohan yang mencabut kelayakannya untuk memperoleh kasih dan rahmat.

Kesimpulannya: sebagaimana syukur menambah nikmat, demikian pula keluhan menambah musibah, sekaligus mencabut kelayakan untuk memperoleh rahmat.

Pada tahun pertama Perang Dunia Pertama, di Erzurum, seorang yang mubarak tertimpa penyakit yang dahsyat. Aku pergi menjenguknya, ia berkata kepadaku: “Sudah seratus malam aku tidak dapat tidur meletakkan kepala di atas bantal,” demikian ia mengeluh dengan pahit. Aku sangat iba. Tiba-tiba terlintas di benakku dan aku berkata: “Saudaraku, seratus hari penuh kesempitan yang telah lalu itu kini berkedudukan seperti seratus hari penuh kegembiraan. Janganlah memikirkannya lalu mengeluh; pandanglah kepadanya lalu bersyukur. Adapun hari-hari mendatang, karena belum lagi datang, bersandarlah kepada rahmat Rabb-mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; jangan menangis sebelum dipukul, jangan takut kepada ketiadaan, jangan memberi warna wujud kepada yang tiada. Pikirkanlah saat ini; kekuatan sabar padamu cukup untuk saat ini. Janganlah berbuat seperti seorang panglima gila yang — tatkala sayap kiri pasukan musuh telah bergabung ke sayap kanannya sendiri sehingga menjadi kekuatan baru baginya, sedangkan sayap kanan musuh di kirinya belum lagi datang — ia justru mencerai-beraikan kekuatan pusatnya ke kanan dan ke kiri, membiarkan pusatnya lemah, sehingga musuh dengan kekuatan yang paling kecil pun menghancurkan pusat itu.” Aku berkata: “Saudaraku, janganlah engkau berbuat seperti itu; himpunlah segenap kekuatanmu untuk menghadapi saat ini. Pikirkanlah rahmat Ilahi, ganjaran ukhrawi, serta bahwa umurmu yang fana dan singkat telah diubah menjadi rupa yang panjang dan kekal. Sebagai ganti keluhan yang pahit ini, bersyukurlah dengan penuh kelapangan.” Ia pun memperoleh kelapangan sepenuhnya, dan berkata: “Alhamdulillah, penyakitku turun dari sepuluh menjadi satu.”

NUKTAH KELIMA:

Terdiri dari tiga persoalan.