Risale-i NurLem'alar

Persoalan Kedua

Lem'alar · hlm. 11

Musibah materiil, semakin dipandang besar semakin membesar, semakin dipandang kecil semakin mengecil. Misalnya: di malam hari, terlintas suatu khayalan di mata seseorang. Semakin ia memberinya perhatian, semakin ia mengembang; jika tidak dipedulikan, ia lenyap. Sebagaimana lebah-lebah yang menyerang, semakin diusik semakin menunjukkan serangan yang menjadi-jadi, dan semakin dibiarkan semakin bubar — demikian pula musibah materiil, semakin dipandang besar dengan penuh perhatian, semakin membesar. Melalui perantaraan kegelisahan, musibah itu menembus dari jasad lalu berakar pula di kalbu, sehingga membuahkan pula suatu musibah maknawi; ia bersandar padanya lalu berlangsung terus. Kapan saja kegelisahan itu dilenyapkan melalui rida terhadap kada dan tawakal, maka musibah materiil itu — laksana sebuah pohon yang terpotong akarnya — meringan sedikit demi sedikit lalu mengering dan pergi. Untuk mengungkapkan hakikat ini, suatu ketika aku pernah berkata demikian:

Tinggalkanlah, wahai orang yang tak berdaya, jeritan itu; bertawakallah dalam menghadapi bala. Karena ketahuilah, jeritan itu justru bala di dalam bala, kesalahan di dalam bala. Jika engkau telah menemukan Sang Pemberi bala, ketahuilah ia adalah bala yang penuh kejernihan, penuh anugerah. Jika engkau tak menemukan-Nya, ketahuilah seluruh dunia adalah bala yang penuh derita, penuh kefanaan. Tatkala di kepalamu ada bala sepenuh dunia, mengapa engkau berteriak karena satu bala kecil? Marilah, bertawakallah! Dengan tawakal, tersenyumlah di hadapan bala, agar ia pun tersenyum. Semakin ia tersenyum semakin ia mengecil, lalu berubah.

Sebagaimana dalam sebuah perkelahian, dengan tersenyum kepada seorang lawan yang menakutkan, permusuhan berubah menjadi perdamaian, kebencian menjadi senda gurau, permusuhan mengecil lalu lenyap — demikian pula halnya menghadapi musibah dengan tawakal.