Risale-i NurLem'alar

Persoalan Pertama:

Lem'alar · hlm. 64

Sumber Sunnah yang mulia dari Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم ada tiga: perkataannya, perbuatannya, dan keadaannya. Ketiga bagian ini pun terbagi tiga: yang fardu, yang nafilah (sunnah), dan adat-adat yang baik. Pada bagian fardu dan wajib ada kewajiban ittiba'; pada peninggalannya ada azab dan hukuman. Setiap orang berkewajiban mengikutinya. Pada bagian nafilah, dengan perintah anjuran, ahli iman pun berkewajiban. Namun pada peninggalannya tidak ada azab dan hukuman. Pada pelaksanaan dan ittiba'-nya ada pahala yang agung, dan pengubahan serta penggantiannya adalah bidah, kesesatan, dan kesalahan besar. Adapun adat-adat mulia dan gerak-geriknya yang terpuji, secara hikmah dan maslahat, dari sisi kehidupan pribadi, jenis, dan sosial, meniru dan mengikutinya sangatlah terpuji. Karena pada setiap gerak biasanya terdapat banyak manfaat kehidupan, sekaligus dengan mengikutinya adab dan adat itu berpindah menjadi kedudukan ibadah. Ya, karena — dengan kesepakatan kawan dan lawan — Zat Ahmadiah صلى الله عليه وسلم adalah tempat tertuju derajat tertinggi keindahan akhlak; dan karena — dengan kesepakatan — beliau adalah kepribadian yang paling masyhur lagi istimewa di antara umat manusia; dan karena — dengan petunjuk ribuan mukjizat, dengan kesaksian alam keislaman dan kesempurnaan yang beliau bentuk, serta dengan pembenaran hakikat-hakikat Al-Qur'an Al-Hakim yang beliau sampaikan dan terjemahkan — beliau adalah manusia sempurna (insan kamil) yang paling sempurna dan pembimbing yang paling sempurna; dan karena — sebagai buah ittiba' kepadanya — jutaan ahli kesempurnaan telah menanjak dalam tingkatan kesempurnaan dan sampai kepada kebahagiaan dua negeri — maka sudah pasti sunnah dan gerak-gerik zat itu adalah teladan terindah yang harus diikuti, pembimbing terkukuh yang harus ditempuh, dan kanun termuhkam yang harus dijadikan prinsip. Berbahagialah orang yang bagiannya dalam ittiba' pada Sunnah ini lebih banyak. Orang yang tidak mengikuti Sunnah, jika bermalas-malasan, itu kerugian yang agung; jika menganggapnya tak penting, itu kejahatan yang agung; jika mengkritik dengan menyiratkan pendustaan, itu kesesatan yang agung.