Risale-i NurLem'alar

Penutup

Lem'alar · hlm. 12

Untuk memperlihatkan kudrat-Nya yang tak terhingga dan rahmat-Nya yang tak berujung, Allah menanamkan pada manusia ketidakberdayaan yang tak terhingga dan kefakiran yang tak berujung. Dan untuk memperlihatkan ukiran-ukiran nama-Nya (asma) yang tak terhingga, Dia menciptakan manusia dalam suatu rupa sedemikian rupa sehingga — sebagaimana ia menerima derita dari tak terhingga arah — ia pun dapat menerima kelezatan dari tak terhingga arah, laksana sebuah mesin. Dan pada mesin insaniah itu terdapat ratusan alat. Derita masing-masingnya berbeda, kelezatannya berbeda, tugasnya berbeda, dan ganjarannya berbeda. Seakan-akan seluruh nama Ilahi yang tampak di alam besar (insan akbar) memiliki manifestasinya pula secara menyeluruh pada manusia yang merupakan alam kecil (alam asgar). Pada mesin ini, perkara-perkara yang bermanfaat seperti kesehatan, keselamatan, dan kelezatan-kelezatan — sebagaimana membuatnya mengucap syukur — menggerakkan mesin itu ke tugas-tugasnya dengan banyak cara. Maka manusia pun menjadi laksana sebuah pabrik syukur. Demikian pula, dengan musibah, penyakit, derita, serta berbagai kejadian yang menggelisahkan dan menggerakkan, ia menggerakkan roda-roda lain mesin itu dan menggugahnya. Ia mengoperasikan tambang ketidakberdayaan, kelemahan, dan kefakiran yang terpendam dalam hakikat insaniah. Ia memberikan suatu keadaan berlindung dan memohon pertolongan bukan dengan satu lisan, melainkan dengan lisan setiap anggota tubuhnya. Seakan-akan manusia, melalui kejadian-kejadian itu, menjadi sebuah pena bergerak yang mengandung ribuan pena yang berlain-lainan. Pada lembaran kehidupannya, atau pada Lauh Mitsali, ia menuliskan takdir kehidupannya, membuat sebuah maklumat bagi nama-nama Ilahi, lalu berpindah menjadi kedudukan sebuah kasidah bersyair yang memuji Allah (Subhâni), dan menunaikan tugas penciptaannya.