Risale-i NurLem'alar

LEM'A KETIGA

Lem'alar · hlm. 13

(Pada Lem'a ini telah bercampur suatu kadar perasaan dan cita rasa. Karena luapan perasaan dan cita rasa tidak begitu mengindahkan kaidah akal dan tidak memperhatikan timbangan pikiran, maka Lem'a Ketiga ini janganlah ditimbang dengan timbangan logika.)

Dua kalimat, يَا بَاق۪ٓى اَنْتَ الْبَاق۪ى ❊ يَا بَاق۪ٓى اَنْتَ الْبَاق۪ى, yang mengungkapkan makna ayat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِكُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, mengandung dua hakikat yang penting. Karena itulah sebagian pemuka tarekat Naqsyi menjadikan kedua kalimat ini sebagai khatam khusus bagi diri mereka dan memandangnya berkedudukan sebagai sebuah khatam Naqsyi yang ringkas. Karena makna ayat yang agung itu diungkapkan oleh kedua kalimat ini, maka kami akan menjelaskan beberapa poin dari dua hakikat penting yang diungkapkan oleh kedua kalimat tersebut.

NUKTAH PERTAMA:

Untuk pertama kalinya, يَا بَاق۪ٓى اَنْتَ الْبَاق۪ى — laksana sebuah operasi bedah — mengisolasi kalbu dari segala selain Allah (masiwa) lalu memutuskannya. Yakni demikian: manusia, ditinjau dari hakikatnya yang mencakup segala sesuatu, berkaitan dengan hampir sebagian besar makhluk. Dan pada hakikat manusia yang mencakup itu telah ditanamkan potensi cinta yang tak terhingga. Karena itu manusia pun memupuk cinta terhadap seluruh makhluk. Ia mencintai dunia yang luas ini laksana rumahnya sendiri. Ia mencintai surga abadi laksana kebunnya. Padahal makhluk yang ia cintai itu tidak tinggal diam, mereka pergi. Ia senantiasa tersiksa oleh perpisahan. Cinta yang tak terhingga itu menjadi sebab bagi siksa maknawi yang tak terhingga. Kesalahan dan kekhilafan dalam menanggung siksa itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Karena potensi cinta yang tak terhingga di dalam kalbunya diberikan untuk ditujukan kepada suatu Zat yang memiliki keindahan kekal yang tak terhingga. Manusia itu, dengan menyalahgunakannya lalu mencurahkan cinta itu kepada makhluk yang fana, telah berbuat khilaf, dan menanggung hukuman kekhilafannya dengan siksa perpisahan.

Nah, berlepas diri dari kekhilafan ini dan memutus keterikatan dari kekasih-kekasih yang fana itu — dengan cara ia meninggalkan mereka sebelum mereka meninggalkannya — mengungkapkan pemusatan cinta kepada Sang Kekasih yang Kekal, itulah yang diungkapkan oleh Kelimat pertama, يَا بَاق۪ٓى اَنْتَ الْبَاق۪ى, yang bermakna: “Yang Kekal Hakiki hanyalah Engkau. Segala selain-Mu adalah fana. Yang fana tentu tidak layak menjadi sandaran bagi cinta yang kekal, bagi kasih yang azali dan abadi, dan bagi keterikatan sebuah kalbu yang diciptakan untuk keabadian.” Maknanya: “Karena kekasih-kekasih yang tak terhingga itu fana, mereka meninggalkanku lalu pergi; maka sebelum mereka meninggalkanku, aku meninggalkan mereka dengan mengucapkan يَا بَاق۪ٓى اَنْتَ الْبَاق۪ى. Hanya Engkau yang kekal, dan aku mengetahui serta meyakini bahwa makhluk dapat memperoleh kekekalan hanya dengan pengekalan-Mu. Maka dengan cinta kepada-Mu-lah mereka dicintai; jika tidak, mereka tidak layak bagi keterikatan kalbu.” Nah, dalam keadaan inilah kalbu melepaskan kekasih-kekasihnya yang tak terhingga. Ia melihat cap kefanaan di atas keindahan dan kecantikan mereka, lalu memutus keterikatan kalbu. Jika ia tidak memutuskannya, akan terjadi luka-luka maknawi sebanyak bilangan kekasihnya.