OBAT KEDELAPAN:
Lem'alar · hlm. 259
Wahai orang sakit yang memikirkan akhiratnya! Penyakit, seperti sabun, mencuci dan membersihkan kotoran dosa. Bahwa penyakit adalah kafarat (penghapus) dosa-dosa, telah tetap dengan hadis sahih. Dan dalam hadis disebutkan bahwa: “Sebagaimana buah-buah berjatuhan dengan mengguncang pohon yang matang; getaran seorang sakit yang beriman pun demikian merontokkan dosa-dosanya.” Dosa-dosa adalah penyakit-penyakit abadi di kehidupan abadi. Di kehidupan dunia ini pun ia adalah penyakit-penyakit maknawi bagi kalbu, hati nurani, dan ruh. Jika engkau bersabar dan tidak mengeluh, dengan penyakit yang sementara ini engkau lolos dari banyak sekali penyakit abadi.
Jika engkau tak memikirkan dosa-dosa, atau tak mengetahui akhirat, atau tak mengenal Allah, maka pada dirimu ada suatu penyakit yang demikian dahsyat sehingga; ia sejuta kali lebih besar daripada penyakit kecil pada dirimu ini. Menjeritlah dari penyakit itu. Karena kalbu, ruh, dan nafsumu berkaitan dengan seluruh yang ada di dunia. Dengan perpisahan dan kelenyapan yang terus-menerus, keterkaitan-keterkaitan itu terputus, dan pada dirimu terbuka luka-luka yang tak terhingga. Terlebih lagi, karena engkau tak mengetahui akhirat, karena engkau membayangkan kematian sebagai eksekusi abadi — hampir seakan-akan engkau memiliki suatu tubuh yang penuh penyakit sebesar dunia, penuh luka lagi memar.
Nah, yang pertama perlu adalah mencari obat iman yang merupakan penawar yang memberi obat pasti lagi kesembuhan pasti bagi penyakit-penyakit tak terhingga dari tubuh maknawi besar ini yang penuh luka lagi penyakit tak terhingga, dan memperbaiki keyakinanmu; adapun jalan terpendek untuk menemukan obat itu adalah mengenal kudrat dan rahmat suatu Sang Mahakuasa Yang Mahaagung melalui jendela ketidakberdayaan dan kelemahan yang diperlihatkan penyakit materi ini kepadamu di bawah tabir kelalaian yang ia koyak. Ya, orang yang tak mengenal Allah memiliki bala sepenuh dunia di kepalanya. Dunia orang yang mengenal Allah penuh dengan nur dan sukacita maknawi. Ia merasakannya dengan kekuatan iman sesuai derajatnya. Di bawah sukacita maknawi, obat, dan kelezatan yang datang dari iman ini, kepedihan penyakit-penyakit materi yang parsial meleleh, terhancurkan.