Risale-i NurLem'alar

OBAT KETUJUH:

Lem'alar · hlm. 258

Wahai orang sakit yang kehilangan kelezatan kesehatan! Penyakitmu tidak menghilangkan kelezatan nikmat Ilahi dalam kesehatan, sebaliknya membuatmu mengecapnya, menambahnya. Karena jika sesuatu berlanjut, ia kehilangan pengaruhnya. Bahkan ahli hakikat sepakat berkata: اِنَّمَا اْلاَشْيَاءُ تُعْرَفُ بِاَضْدَادِهَا yakni: “Segala sesuatu diketahui dengan lawannya.” Misalnya, jika tak ada kegelapan, cahaya tak dikenali, tak berlezat. Jika tak ada dingin, panas tak dipahami, tak berzauq. Jika tak ada lapar, makan tak memberi kelezatan. Jika tak ada panas lambung, minum air tak memberi zauq. Jika tak ada penyakit, keselamatan tak berzauq. Jika tak ada sakit, kesehatan tak berlezat. Karena Sang Pencipta Yang Mahabijaksana ingin membuat manusia merasakan setiap macam ihsan-Nya, mengecapkan setiap jenis nikmat-Nya, dan senantiasa menggiring manusia ke syukur — hal ini diperlihatkan oleh dilengkapinya manusia dengan sangat banyak perangkat sampai derajat dapat mengecap serta mengenali berbagai jenis nikmat yang tak terhingga di alam semesta ini — maka sudah pasti sebagaimana Dia memberi kesehatan dan keselamatan; Dia akan memberi pula penyakit, sakit, dan derita. Aku bertanya kepadamu: “Seandainya penyakit ini tak ada di kepalamu, tanganmu, atau lambungmu; apakah engkau akan merasakan dan mensyukuri nikmat Ilahi yang lezat lagi menyenangkan dalam kesehatan kepala, tangan, dan lambungmu? Sudah pasti bukan bersyukur, melainkan engkau tak akan memikirkannya; engkau akan membelanjakan kesehatan itu tanpa kesadaran untuk kelalaian bahkan kebejatan.”