Risale-i NurLem'alar

Masalah Ketiga:

Lem'alar · hlm. 159

طُوبٰى لِمَنْ عَرَفَ حَدَّهُ وَلَمْ يَتَجَاوَزْ طَوْرَهُ Yakni: “Alangkah bahagia orang yang mengenal dirinya dan tidak melampaui batasnya.” Sebagaimana Matahari memiliki tajalli — mulai dari sebuah atom, setetes air, sebuah kolam, laut, dan bulan, sampai planet-planet. Masing-masing menangkap pantulan dan bayangan Matahari sesuai kemampuannya dan mengetahui batasnya. Setetes air, sesuai kemampuannya, berkata, “Ada satu pantulan Matahari padaku.” Namun ia tak dapat berkata, “Aku pun sebuah cermin seperti laut.” Demikian pula: sesuai keragaman tajalli nama-nama Ilahi, pada kedudukan para wali terdapat tingkatan-tingkatan demikian. Setiap nama Ilahi memiliki tajalli laksana Matahari, dari kalbu sampai Arasy. Kalbu pun adalah suatu Arasy, namun ia tak dapat berkata, “Aku pun seperti Arasy.” Nah, orang-orang yang — sebagai ganti mengenal ketidakberdayaan, kefakiran, kekurangan, dan cacat diri yang merupakan asas ubudiah, serta bersujud ke hadirat uluhiah dengan permohonan — justru berjalan dalam bentuk manja dan bangga diri; mereka menyamakan kalbunya yang sekecil atom dengan Arasy. Mereka mencampuradukkan kedudukannya yang laksana tetesan dengan kedudukan para wali yang laksana laut. Untuk mencocokkan dirinya dengan kedudukan-kedudukan besar itu dan untuk mempertahankan dirinya pada kedudukan itu, ia jatuh ke dalam kepura-puraan, pemaksaan diri, kebanggaan diri yang tak bermakna, dan banyak kesulitan.

Kesimpulannya: Dalam hadis disebutkan: هَلَكَ النَّاسُ اِلاَّ الْعَالِمُونَ وَهَلَكَ الْعَالِمُونَ اِلاَّ الْعَامِلُونَ وَهَلَكَ الْعَامِلُونَ اِلاَّ الْمُخْلِصُونَ وَالْمُخْلِصُونَ عَلٰى خَطَرٍ عَظ۪يمٍ Yakni: Sumber keselamatan dan pelepasan hanyalah keikhlasan. Meraih keikhlasan sangatlah penting. Setitik amal yang ikhlas lebih unggul daripada berpikul-pikul amal yang tak tulus. Orang harus memikirkan bahwa sebab dalam geraknya yang meraih keikhlasan adalah semata-mata suatu perintah Ilahi dan hasilnya adalah keridaan Ilahi, serta tak mencampuri tugas Ilahi. Pada segala sesuatu ada keikhlasan. Bahkan setitik cinta dengan keikhlasan pun lebih unggul daripada berpikul-pikul cinta yang formal lagi berupah. Nah, seorang tokoh telah mengungkapkan cinta yang ikhlas ini demikian:

وَ مَا اَنَا بِالْبَاغ۪ى عَلَى الْحُبِّ رِشْوَةً ضَع۪يفٌ هَوًى يُبْغٰى عَلَيْهِ ثَوَابٌ Yakni: “Aku tak meminta suatu suap, upah, imbalan, atau pahala atas cinta. Karena cinta yang di baliknya diminta suatu imbalan dan pahala adalah cinta yang lemah lagi tak langgeng.” Bahkan cinta yang tulus telah disisipkan dalam fitrah insani dan pada seluruh ibu. Nah, kasih sayang para ibu adalah tempat tertuju cinta yang tulus ini dengan makna yang sepenuhnya. Dalil bahwa para ibu, dengan rahasia kasih sayang itu, tak meminta dan tak menuntut suatu imbalan atau suap atas cinta mereka kepada anak-anaknya adalah: mereka mengorbankan ruhnya, bahkan kebahagiaan ukhrawinya pula, demi anak-anaknya. Padahal seluruh modal ayam adalah hidupnya sendiri, untuk menyelamatkan anaknya dari mulut anjing — dengan penyaksian Hüsrev — ia merelakan kepalanya direnggut anjing.