Masalah Keempat:
Lem'alar · hlm. 160
Nikmat-nikmat yang datang melalui tangan sebab-sebab lahiriah, tak boleh diperhitungkan atas perhitungan sebab-sebab itu. Jika sebab itu bukan pemilik pilihan (ikhtiar) — misalnya seperti hewan dan pohon — ia langsung memberikannya atas perhitungan Allah. Karena ia berkata Bismillah dengan lisan keadaan, lalu memberikannya kepadamu. Maka engkau pun, atas perhitungan Allah, ucapkanlah Bismillah, dan ambillah. Jika sebab itu pemilik pilihan; ia harus mengucapkan Bismillah, lalu ambillah darinya, kalau tidak, jangan ambil. Karena selain makna sarih ayat وَلاَ تَاْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ, ada suatu makna isyarinya, yaitu: “Janganlah kalian memakan nikmat yang tak mengingatkan pada Sang Pemberi Nikmat Hakiki dan yang tak diberikan atas nama-Nya!” Dalam keadaan itu, baik yang memberi harus mengucapkan Bismillah, maupun yang menerima harus mengucapkan Bismillah. Jika ia tak mengucapkan Bismillah, tetapi engkau butuh untuk menerimanya; engkau ucapkanlah Bismillah, lihatlah tangan rahmat Ilahi di atas kepalanya, ciumlah dengan syukur, lalu ambillah darinya. Yakni, dari nikmat pandanglah pemberian nikmat (in'am), dari pemberian nikmat pikirkanlah Sang Pemberi Nikmat Hakiki. Pemikiran ini adalah suatu syukur. Kemudian, jika engkau mau, doakanlah perantara lahiriah itu. Karena nikmat itu dikirimkan kepada kalian melalui tangannya.
Yang menipu orang-orang yang menyembah sebab-sebab lahiriah adalah: datang atau adanya dua hal secara bersamaan — yang disebut “iqtiran” (kebersamaan) — lalu mereka menyangka keduanya saling menjadi illat. Selain itu, karena ketiadaan sesuatu menjadi illat bagi tiadanya suatu nikmat, mereka menyangka bahwa: keberadaan sesuatu itu pun adalah illat bagi keberadaan nikmat itu.
Ia memberikan syukur dan rasa terima kasihnya kepada sesuatu itu, lalu jatuh ke dalam kesalahan. Karena keberadaan suatu nikmat tersusun atas seluruh pendahuluan dan syarat nikmat itu. Padahal ketiadaan nikmat itu terjadi dengan ketiadaan satu syarat saja. Misalnya: orang yang tak membuka lubang parit yang mengairi sebuah kebun, menjadi sebab dan illat bagi keringnya kebun itu dan tiadanya nikmat-nikmat itu. Namun keberadaan nikmat-nikmat kebun itu, selain khidmat orang itu, di samping bergantung pada keberadaan ratusan syarat, terwujud dengan kudrat dan iradah Rabbani yang merupakan illat hakiki. Nah, pahamilah betapa zahir kesalahan sofisme ini, dan ketahuilah betapa besar pula kesalahan para penyembah sebab-sebab!
Ya, iqtiran (kebersamaan) itu satu hal, dan illat itu hal lain. Suatu nikmat datang kepadamu; namun niat kebaikan seseorang kepadamu bersamaan (muqarin) dengan nikmat itu; tetapi ia bukan illat. Illatnya adalah rahmat Ilahi. Ya, seandainya orang itu tak berniat berbuat baik, nikmat itu tak akan datang kepadamu. Ia akan menjadi illat bagi tiadanya nikmat. Namun berdasarkan kaidah yang disebutkan; kecenderungan berbuat baik itu tak dapat menjadi illat bagi nikmat itu. Ia hanya dapat menjadi salah satu dari ratusan syarat.
Misalnya: di antara murid-murid Risale-i Nur, sebagian tokoh yang menjadi tempat tertuju nikmat Allah (seperti Hüsrev dan Re'fet) mencampuradukkan iqtiran dengan illat; mereka memperlihatkan rasa terima kasih yang berlebihan kepada Guru mereka. Padahal Allah telah menjadikan nikmat mengambil manfaat yang Dia berikan kepada mereka dalam pelajaran Qur'ani bersamaan dengan nikmat menyampaikan (ifadah) yang Dia anugerahkan kepada Guru mereka, dan memberinya kebersamaan (muqaranah). Mereka berkata: “Seandainya Guru kami tak datang ke sini, kami tak akan dapat mengambil pelajaran ini. Kalau begitu, penyampaiannya adalah illat bagi kami mengambil manfaat.” Aku pun berkata: “Wahai saudara-saudaraku! Nikmat yang Allah berikan kepadaku dan kepada kalian datang bersamaan, illat kedua nikmat itu pun adalah rahmat Ilahi. Aku pun, seperti kalian, dengan mencampuradukkan iqtiran dengan illat, pada suatu waktu merasakan banyak rasa terima kasih kepada ratusan murid Risale-i Nur yang berpena intan seperti kalian. Dan aku berkata: Seandainya mereka tak ada, bagaimana orang malang yang setengah ummi sepertiku dapat berkhidmat? Kemudian aku memahami bahwa, setelah nikmat suci yang datang kepada kalian melalui pena, Dia menganugerahkan pula kepadaku taufik untuk khidmat ini. Keduanya saling bersamaan (iqtiran), tak dapat menjadi illat satu sama lain. Aku tak berterima kasih kepada kalian, melainkan aku mengucapkan selamat kepada kalian. Kalian pun, sebagai ganti rasa terima kasih kepadaku, doakanlah dan ucapkanlah selamat kepadaku.”
Pada masalah keempat ini, dipahami betapa banyak tingkatan kelalaian.