Risale-i NurLem'alar

Masalah Kelima:

Lem'alar · hlm. 162

Sebagaimana jika harta suatu jamaah diberikan kepada satu orang, itu menjadi kezaliman. Atau jika seseorang menguasai wakaf milik suatu jamaah, ia berbuat zalim. Demikian pula: memberikan suatu hasil yang lahir dari usaha suatu jamaah, atau suatu kehormatan dan keutamaan yang tersusun dari kebaikan-kebaikan suatu jamaah, kepada pemimpin atau guru jamaah itu; adalah kezaliman terhadap jamaah maupun terhadap guru atau pemimpin itu. Karena ia membelai keakuan, menggiring ke kesombongan. Ia membuat seseorang yang sebenarnya penjaga pintu menyangka dirinya raja. Dan ia berbuat zalim pula terhadap nafsunya sendiri. Bahkan ia membuka jalan bagi suatu bentuk syirik tersembunyi (khafi). Ya, seorang komandan batalion tak dapat mengambil rampasan, kemenangan, dan kehormatan suatu batalion yang menaklukkan sebuah benteng. Ya, guru dan mursyid tak boleh dianggap sebagai sumber (mashdar) dan mata air. Melainkan harus diketahui bahwa mereka adalah tempat kemunculan (mazhar) dan pantulan (ma'kas).

Misalnya: panas dan cahaya datang kepadamu melalui perantaraan sebuah cermin. Sebagai ganti berterima kasih kepada Matahari, menganggap cermin sebagai sumber, melupakan Matahari, lalu berterima kasih kepadanya, adalah kegilaan. Ya, cermin harus dijaga, karena ia adalah tempat kemunculan. Nah, ruh dan kalbu mursyid adalah sebuah cermin. Ia menjadi pantulan bagi limpahan (faidh) yang datang dari Allah, dan menjadi wasilah bagi terpantulnya limpahan itu kepada muridnya. Dari sisi limpahan, tak boleh diberikan kedudukan lebih dari kewasilahan. Bahkan kadang terjadi bahwa: seorang guru yang dianggap sebagai sumber, sebenarnya bukan tempat kemunculan, bukan pula sumber. Melainkan dengan kejernihan keikhlasan murid, kekuatan ikatannya, dan pemusatan pandangannya kepadanya, murid itu melihat limpahan yang ia terima di jalan lain seakan-akan datang dari cermin ruh gurunya. Sebagaimana sebagian orang, melalui perantaraan magnetisme, dengan menatap terus-menerus sebuah kaca, terbukalah suatu jendela dalam khayalnya ke arah alam mitsal. Ia menyaksikan banyak keajaiban di cermin itu. Padahal bukan di cermin, melainkan melalui perantaraan pemusatan pandangan ke cermin itu, ia melihat sebuah jendela terbuka dalam khayalnya di luar cermin. Karena itulah, kadang murid tulus dari seorang syaikh yang kurang (nâqis) dapat menjadi lebih sempurna daripada syaikhnya, lalu berbalik membimbing syaikhnya dan menjadi syaikh bagi syaikhnya.

NOTA KEEMPAT BELAS:

Terdiri dari empat rumus kecil tentang tauhid.

Rumus Pertama:

Wahai manusia penyembah sebab-sebab! Seandainya engkau melihat suatu istana menakjubkan yang dibuat dari permata-permata yang langka, sedang dibangun. Sebagian permata yang dipakai dalam bangunannya hanya terdapat di Cina. Bagian lain di Andalusia, sebagian di Yaman, sebagian tak terdapat di tempat lain selain Siberia. Jika engkau melihat pada masa pembangunannya, pada hari yang sama, batu-batu bertatah permata itu dengan mudah didatangkan dari timur, utara, barat, dan selatan lalu dibangun; masihkah tersisa keraguan padamu bahwa; sang tukang yang membangun istana itu adalah seorang penguasa pembuat mukjizat yang berkuasa atas seluruh Bola Bumi?

Nah, setiap hewan adalah suatu istana Ilahi seperti itu. Khususnya manusia, ia adalah yang terindah dari istana-istana itu dan yang paling menakjubkan dari istana-istana itu. Dan permata-permata istana yang disebut manusia ini; sebagian datang dari alam arwah, sebagian dari alam mitsal dan Lauh Mahfuz, dan sebagian lagi datang dari alam udara, alam nur, dan alam unsur; sebagaimana pula ia adalah suatu istana yang menakjubkan lagi ganjil, yang kebutuhannya terulur sampai keabadian, angan-angannya tersebar di penjuru langit dan bumi, serta ikatan dan hubungannya terserak di masa-masa dunia dan akhirat.

Nah, wahai manusia yang menyangka dirinya manusia!

Karena hakikatmu demikian; yang membuatmu hanyalah Zat yang: menjadikan dunia dan akhirat masing-masing sebuah persinggahan, bumi dan langit masing-masing sebuah lembaran, azali dan abadi berkedudukan seperti kemarin dan besok, lalu mentasarrufkannya. Kalau begitu, sembahan, tempat berlindung, dan penyelamat manusia hanyalah Dia yang: berkuasa atas bumi dan langit, memiliki kendali dunia dan akhirat.

Rumus Kedua:

Ada sebagian orang dungu yang, karena tak mengenal matahari, jika melihat matahari di sebuah cermin, mulai mencintai cermin itu. Dengan perasaan yang dahsyat ia berupaya menjaganya. Agar matahari di dalamnya tak hilang. Kapan saja orang dungu itu menyadari bahwa matahari tak mati dengan matinya cermin dan tak binasa dengan pecahnya cermin, ia memalingkan seluruh cintanya ke matahari di langit. Saat itu ia memahami bahwa matahari yang terlihat di cermin; tak tunduk pada cermin, kelangsungannya tak bergantung padanya.. melainkan matahari-lah yang memegang cermin itu dengan cara demikian dan memberi bantuan pada kilau serta cahayanya. Kelangsungan matahari bukan dengannya; melainkan kelangsungan kilau hidup cermin itu tunduk pada tajalli matahari.

Wahai manusia! Kalbumu, hakikat dirimu, dan mahiyatmu adalah sebuah cermin. Cinta yang dahsyat terhadap keabadian yang ada dalam fitrah dan kalbumu, bukanlah untuk cermin itu dan bukan untuk kalbu serta mahiyatmu.. melainkan ia adalah cintamu terhadap tajalli Yang Kekal Yang Mahaagung (Bâqî Dzul-Jalâl) yang tajallinya ada di cermin itu sesuai bakat; namun karena kedunguan, wajah cinta itu berpaling ke tempat lain. Karena demikian. Ucapkanlah “Yâ Bâqî Antal-Bâqî”. Yakni: karena Engkau ada dan kekal; fana dan ketiadaan berbuat apa pun yang mereka mau terhadap kami, tak ada artinya!..

Rumus Ketiga:

Wahai manusia! Salah satu keadaan paling ganjil yang diletakkan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dalam mahiyatmu adalah demikian: Kadang engkau tak dapat menetap di dunia. Padahal engkau berkata “aduh, aduh” seperti orang yang tercekik lehernya di penjara dan menginginkan tempat yang lebih luas daripada dunia, engkau justru masuk dan menetap di dalam suatu pekerjaan sekecil atom, suatu kenangan, suatu menit. Kalbu dan pikiranmu yang tak dapat menetap di dunia yang besar, menetap di atom kecil itu. Dengan perasaanmu yang paling dahsyat engkau berkeliling di menit kecil, di kenangan kecil itu.

Dan Dia telah memberikan pada mahiyatmu perangkat maknawi dan lataif sedemikian rupa sehingga; sebagian, seandainya menelan dunia pun tak kenyang. Sebagian tak dapat menempatkan satu atom pun dalam dirinya. Sebagaimana kepala mengangkat batu seberat satu batman, sedangkan mata tak dapat mengangkat sehelai rambut; demikian pula latifah itu tak dapat menahan beban seberat sehelai rambut, yakni suatu keadaan kecil yang datang dari kelalaian dan kesesatan. Bahkan kadang ia padam dan mati. Karena demikian; berhati-hatilah, melangkahlah dengan cermat, takutlah tenggelam. Jangan tenggelam dalam sesuap, sepatah kata, sebutir, sekilat, sebuah isyarat, sebuah ciuman! Jangan tenggelamkan lataif besarmu yang dapat menelan dunia di dalamnya. Karena ada hal-hal yang sangat kecil, yang dari suatu sisi menelan hal-hal yang sangat besar. Sebagaimana pada sekerat kaca kecil; langit beserta bintang-bintangnya masuk ke dalamnya dan tenggelam. Sebagaimana pada daya ingatanmu yang sekecil biji sawi, sebagian besar lembaran amalmu dan kebanyakan lembaran umurmu masuk ke dalamnya; demikian pula ada hal-hal parsial yang sangat kecil, yang dari suatu sisi menelan dan memuat benda-benda yang sangat besar.

Rumus Keempat:

Wahai manusia penyembah dunia! Duniamu yang engkau bayangkan sangat luas, berkedudukan seperti kubur yang sempit. Namun, karena dinding-dinding persinggahan yang sempit laksana kubur itu terbuat dari kaca, ia saling memantul satu sama lain dan melebar sampai sejauh mata memandang. Padahal sempit laksana kubur, ia tampak seluas sebuah kota. Karena dinding kanan dunia itu — yaitu masa lalu — dan dinding kirinya — yaitu masa depan — padahal keduanya tiada dan tak ada, saling memantul satu sama lain lalu membentangkan sayap masa kini yang sangat pendek lagi sempit. Hakikat bercampur dengan khayal, engkau menyangka suatu dunia yang tiada sebagai ada. Sebagaimana sebuah garis, dengan kecepatan gerak, tampak lebar seperti sebuah bidang, padahal hakikat wujudnya adalah sebuah garis tipis; demikian pula duniamu pada hakikatnya sempit, tetapi dengan kelalaian, prasangka, dan khayalmu, dindingnya melebar banyak. Di dunia yang sempit itu, jika engkau bergerak oleh dorongan suatu musibah, engkau akan membenturkan kepalamu ke dinding yang engkau sangka sangat jauh. Ia menerbangkan khayal di kepalamu, menghilangkan tidurmu. Saat itu engkau melihat bahwa: dunia luasmu itu; lebih sempit daripada kubur, lebih tak leluasa daripada jembatan. Zaman dan umurmu berlalu lebih cepat daripada kilat; hidupmu mengalir lebih deras daripada sungai.

Karena kehidupan dunia, penghidupan jasmani, dan kehidupan hewani demikian; keluarlah dari kehewanan, tinggalkanlah kejasmanian, masuklah ke derajat kehidupan kalbu dan ruh. Engkau akan menemukan suatu lingkaran kehidupan yang lebih luas daripada dunia luas yang engkau prasangkakan, suatu alam nur. Nah, kunci alam itu adalah membuat kalbu mengucapkan dan ruh menjalankan kalimat suci “Lâ ilâha illallâh” yang menyatakan rahasia makrifat Allah dan wahdaniah.

NOTA KELIMA BELAS:

Terdiri dari tiga masalah.