Isyarat Ketujuh:
Lem'alar · hlm. 402
Nah, kerasulan Muhammad 'alaihis-salâtu was-salâm — yang mengajarkan, membuktikan, dan mengumumkan tauhid hakiki ini dengan seluruh tingkatannya dalam bentuk yang paling sempurna — pastilah harus tetap teguh pada taraf kepastian tauhid itu sendiri. Sebab, selama Zat itu mengajarkan tauhid — yang merupakan hakikat terbesar dari lingkup wujud — dengan segenap kebenarannya; maka dapat dikatakan bahwa seluruh bukti yang membuktikan tauhid, dengan sendirinya, juga membuktikan secara pasti kerasulannya, kebenaran tugasnya, dan ketepatan dakwahnya. Ya, suatu kerasulan yang menghimpun ribuan hakikat yang tinggi seperti ini, yang menyingkap dan mengajarkan Fardiyah dan Wahdaniyah dengan sebenar-benarnya — secara sangat pasti — adalah tuntutan dan keharusan dari tauhid dan Fardiyah itu. Keduanya pasti menghendakinya.
Nah, dari sekian banyak dalil dan sebab yang menjadi saksi atas derajat penting dan keluhuran kepribadian maknawi (şahsiyet-i maneviye) Zat Ahmadiyah 'alaihis-salâtu was-salâm — yang menunaikan tugas itu dengan sepenuh-penuhnya — serta atas kenyataan bahwa beliau adalah sebuah matahari bagi alam semesta ini, kami akan menerangkan tiga di antaranya sebagai contoh.
Yang pertama:
Sebagaimana satu misal (imbangan pahala) dari seluruh kebaikan yang dikerjakan oleh segenap umat di segenap masa berpindah ke lembaran kebaikan Zat Ahmadiyah 'alaihis-salâtu was-salâm — sesuai rahasia "As-sababu kal-fâ'il" (sebab itu laksana pelaku) — demikian pula, dengan memikirkan kedudukan dan tingkatan yang dituntut oleh doa-doa yang tak terhingga itu — yakni doa salawat yang dipanjatkan segenap umat setiap hari, dengan keterkabulannya yang pasti — akan dipahami betapa kepribadian maknawi Muhammadiyah 'alaihis-salâtu was-salâm laksana sebuah matahari di dalam alam semesta ini.
Yang kedua:
Pikirkanlah kemajuan-kemajuan rohani (terakkiyat-ı ruhiye) yang lahir dari kenyataan bahwa hakikat Muhammadiyah 'alaihis-salâtu was-salâm — yang merupakan asal, benih, kehidupan, dan poros dari pohon terbesar alam Islam — dengan bakat dan perangkat luar biasanya, adalah yang pertama-tama merasakan dengan segenap maknanya lalu mengamalkan kalimat-kalimat suci, tasbih, dan ibadah yang membentuk sisi maknawi alam keislaman; lalu pahamilah betapa tingginya kewalian penghambaan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم — yang naik hingga taraf kekasih (habibiyet) — dibandingkan kewalian-kewalian lainnya!
Suatu ketika, tersingkapnya satu tasbih saja kepadaku dalam satu salat — dalam bentuk yang mendekati cara penghayatan para Sahabat — terasa penting sebanding dengan ibadah sebulan lamanya. Dengan itu aku memahami nilai tinggi para Sahabat. Artinya, limpahan karunia (faidh) dan cahaya yang diberikan oleh kalimat-kalimat suci pada awal keislaman memiliki suatu keistimewaan tersendiri. Karena kesegarannya, ia memiliki suatu kehalusan, kesegaran, dan kelezatan tersendiri, yang lambat laun tersembunyi, berkurang, dan tertutup di bawah tabir kelalaian seiring berlalunya waktu. Adapun Zat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, beliau mengambil, mengisap, dan menyerap kalimat-kalimat itu dari sumber hakikinya (dari Zat Yang Maha Suci) dalam keadaan segar bagaikan buah pertama musim, dengan bakat luar biasanya. Berdasarkan rahasia ini, Zat itu dapat mengambil dari satu tasbih saja limpahan karunia sebanyak ibadah setahun orang lain.
Nah, dari sudut pandang ini, kiaskanlah sampai derajat mana Zat Muhammadiyah 'alaihis-salâtu was-salâm telah maju dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan yang tiada batas dan tiada penghujungnya.
Yang ketiga:
Karena Pencipta alam semesta ini menjadikan jenis manusia sebagai poros terpenting dari segenap maksud-Nya di alam semesta ini, dan karena jenis manusia adalah lawan bicara yang paling memahami dari segenap firman Ilahi (hitabat-ı Sübhaniye); maka Zat Al-Fard Yang Maha Agung — yang menjadikan Zat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, individu yang paling masyhur, paling termasyhur, dan paling sempurna lagi paling megah dengan karya dan amalannya di antara jenis manusia itu, sebagai lawan bicara-Nya atas nama jenis itu, bahkan atas nama segenap alam semesta — pastilah telah menjadikan beliau penerima limpahan karunia-Nya yang tak terhingga dalam kesempurnaan yang tak terhingga.
Nah, ada banyak poin lain seperti tiga poin ini. Semuanya membuktikan secara pasti bahwa kepribadian maknawi Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, sebagaimana ia adalah sebuah matahari maknawi alam semesta, demikian pula ia adalah ayat terbesar (âyet-i kübra) dari Al-Qur'an Agung (Kur'an-ı Kebir) yang bernama alam semesta ini, Ismul-A'zam dari Al-Furqan Yang Maha Agung itu, dan sebuah cermin bagi kilasan teragung Ismul-Fard. Sebanyak bilangan hasil perkalian dari seluruh persepuluhan-detik (âşire) pada segenap menit dari segenap waktu bagi seluruh atom alam semesta, kami memohon kepada Zat Al-Fard Al-Ahad As-Samad turunnya salawat dan salam bagi Zat Ahmadiyah itu dari perbendaharaan rahmat-Nya yang tak terhingga!.. سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ