Isyarat Keenam:
Lem'alar · hlm. 401
Fardiyah Rabbaniyah dan kesatuan Ilahi adalah poros dan asas segala kesempurnaan {(Catatan): Bahkan, bukti yang paling nyata dan dalil yang paling kuat bagi terwujudnya kesempurnaan dan keindahan Ilahi yang tak terhingga adalah kesatuan (vahdet). Sebab, jika Pembuat (Sâni') alam semesta dikenali sebagai Al-Wâhid Al-Ahad, maka akan diketahui bahwa segala kesempurnaan dan keindahan di seluruh alam semesta adalah bayang-bayang, kilasan, isyarat, dan rembesan (tereşşuhat) dari kesempurnaan serta keindahan suci yang ada pada Sang Pembuat Yang Maha Esa itu. Jika tidak demikian, niscaya kesempurnaan dan keindahan alam semesta akan tetap menjadi milik makhluk dan sebagian sebab yang tak berkesadaran. Ketika itu, dalam pandangan akal manusia, perbendaharaan abadi kesempurnaan Ilahi akan tetap terkunci tanpa kunci dan tak dikenali.}, dan merupakan sumber serta tambang bagi hikmah-hikmah dan maksud-maksud dalam penciptaan alam semesta; sebagaimana ia pula adalah sumber dan satu-satunya jalan bagi terpenuhinya tuntutan dan hasrat makhluk berkesadaran dan berakal, khususnya manusia. Seandainya Fardiyah tidak ada, niscaya seluruh tuntutan dan hasrat manusia akan padam. Selain itu, hasil-hasil penciptaan alam semesta akan turun menjadi nihil, dan akan menjadi sebab lenyapnya kebanyakan kesempurnaan yang maujud lagi nyata. Misalnya: Pada manusia terdapat suatu hasrat akan kekekalan yang paling kuat, tak tergoyahkan, dan mencapai taraf cinta yang membara. Dan untuk memenuhi tuntutan itu, hanyalah Zat yang menggenggam segenap alam semesta dalam genggaman-Nya dengan rahasia Fardiyah — dan yang dengan mudah dapat menutup dunia dan membuka akhirat, semudah menutup satu ruang dan membuka ruang yang lain — yang dapat memenuhi hasrat akan kekekalan itu. Dan seperti hasrat ini, ribuan hasrat manusia yang terulur hingga keabadian dan menyebar ke sekeliling alam semesta, semuanya terikat pada rahasia Fardiyah dan hakikat tauhid. Seandainya Fardiyah itu tidak ada, niscaya semua itu pun tak akan ada dan tinggal mandul tak berhasil. Dan seandainya tidak ada satu Zat Al-Fard yang dengan kesatuan mengatur segenap alam semesta sekaligus, niscaya tuntutan-tuntutan itu tak akan terpenuhi. Andaikata pun terpenuhi, niscaya akan sangat cacat.
Nah, justru karena rahasia yang agung inilah, Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya mengajarkan tauhid dan Fardiyah dengan pengulangan yang teramat banyak, dengan semangat yang kuat, dan dengan kemanisan yang tinggi; sebagaimana pula seluruh nabi, ashfiya (orang-orang suci pilihan), dan wali menemukan kenikmatan dan kebahagiaan terbesar mereka dalam kalimat tauhid, yaitu "Lâ ilâhe illâ Hû".