Isyarat Kelima:
Lem'alar · hlm. 398
Di banyak tempat telah kami buktikan dengan dalil-dalil yang pasti bahwa: Sifat yang paling mendasar dari kekuasaan (hâkimiyet) adalah kemandirian (istiklal) dan ketunggalan (infirad). Bahkan bayangan kekuasaan yang lemah sekalipun — pada manusia yang lemah pun — demi menjaga kemandiriannya, dengan keras menolak campur tangan pihak lain dan tidak mengizinkan orang lain mencampuri tugasnya. Banyak raja, demi kehormatan menolak campur tangan ini, telah membunuh tanpa belas kasihan anak-anak mereka yang tak berdosa dan saudara-saudara yang mereka cintai. Artinya, sifat yang paling mendasar dari kekuasaan yang hakiki, keharusannya yang tak dapat dipisahkan, dan tuntutannya yang abadi, adalah kemandirian, ketunggalan, dan penolakan terhadap campur tangan pihak lain.
Nah, justru karena sifat yang sangat mendasar inilah, kekuasaan Ilahi pada taraf rububiyah mutlak dengan sangat keras menolak syirik, persekutuan, dan campur tangan pihak lain; maka Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya (Mu'ciz-ül Beyan) pun, dengan sangat bergelora dan keras serta dengan pengulangan yang teramat banyak, menampakkan tauhid, dan menolak syirik serta persekutuan dengan ancaman-ancaman yang dahsyat.
Nah, sebagaimana kekuasaan Ilahi dalam rububiyah menuntut tauhid dan kesatuan secara pasti, serta menunjukkan suatu penyeru (dâî) yang sangat kuat dan suatu penuntut (muktezi) yang sangat keras; demikian pula keteraturan yang paling sempurna (intizam-ı ekmel) dan keserasian yang paling indah (insicam-ı ecmel) — yang tampak di wajah alam semesta, dari keseluruhan alam semesta dan bintang-bintang, hingga tumbuhan, hewan, dan barang tambang, sampai kepada bagian-bagian, individu-individu, dan atom-atom — merupakan seorang saksi yang adil (şahid-i âdil) dan bukti yang terang-benderang (bürhan-ı bahir) yang sama sekali tidak membawa keraguan terhadap Fardiyah dan kesatuan itu.
Sebab, seandainya ada campur tangan pihak lain, niscaya susunan dan keteraturan yang teramat halus ini serta keseimbangan alam semesta pasti akan rusak, dan tanda-tanda ketidakteraturan pasti akan tampak. Sesuai rahasia ayat لَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلاَّ اللّٰهُ لَفَسَدَتَا, susunan alam semesta yang menakjubkan lagi sempurna ini akan kacau dan jatuh ke dalam kerusakan. Padahal, sesuai ayat فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُورٍ, karena dari atom-atom hingga planet-planet, dari hamparan bumi (ferş) hingga 'Arasy, sama sekali tidak terlihat tanda cacat, kekurangan, ataupun kekacauan; maka dengan cara yang sangat cemerlang, susunan alam semesta ini, keteraturan makhluk ini, dan keseimbangan segala yang maujud ini menampakkan kilasan teragung Ismul-Fard dan menjadi saksi atas kesatuan. Selain itu, dengan rahasia kilasan Ahadiyah, makhluk hidup terkecil pun — karena ia laksana miniatur alam semesta dan sebuah daftar isi kecilnya — maka Zat yang memiliki dan memelihara satu makhluk hidup itu haruslah Zat yang menggenggam seluruh alam semesta dalam genggaman pengaturan-Nya (kabza-i tasarruf). Dan karena sebutir benih tidaklah lebih rendah daripada sebatang pohon dalam hal penciptaannya, dan sebatang pohon laksana sebuah alam semesta kecil, serta setiap makhluk hidup pun laksana sebuah alam semesta kecil dan sebuah dunia kecil; maka kilasan rahasia Ahadiyah ini membawa syirik dan persekutuan ke taraf kemustahilan.
Dengan rahasia itu, alam semesta ini bukan sekadar satu keseluruhan (küll) yang tak menerima pembagian; bahkan, karena secara hakikat ia telah menjadi satu yang universal (kullî) yang mustahil terbagi, tersekutukan, dan terpecah, serta tak menerima banyak tangan pengatur; maka setiap bagian di dalamnya berkedudukan bagaikan satu yang parsial dan satu individu, dan keseluruhan itu pun berkedudukan bagaikan satu yang universal — sehingga sama sekali tidak ada kemungkinan bagi persekutuan. Kilasan teragung Ismul-Fard ini, dengan rahasia Ahadiyah ini, membuktikan hakikat tauhid hingga taraf badihi.
Ya, sebagaimana saling jalin-menjalinnya jenis-jenis makhluk di alam semesta, kait-mengaitnya, dan menghadapnya tugas masing-masing kepada keseluruhan — menjadikan alam semesta, dari sudut rububiyah dan penciptaan, laksana satu keseluruhan yang tak menerima pembagian; demikian pula perbuatan-perbuatan umum yang meliputi (ef'al-i umumiye-i muhita) yang aktif di alam semesta pun saling menyusup satu sama lain (tedahül) — yakni, misalnya, di dalam perbuatan memberi kehidupan, pada saat yang sama terlihat perbuatan memberi makan dan memberi rezeki. Dan di dalam perbuatan memberi makan dan menghidupkan itu, pada saat yang sama disaksikan perbuatan menata dan melengkapi tubuh makhluk hidup itu. Dan di dalam perbuatan memberi makan, menghidupkan, menata, dan melengkapi itu, pada saat yang sama tampak menonjol perbuatan membentuk rupa, mendidik (tarbiah), dan mengatur (tadbir). Dan demikian seterusnya. Dari sisi bahwa perbuatan-perbuatan yang meliputi lagi umum itu saling menyusup dan jalin-menjalin sedemikian rupa — bahkan berbaur, bahkan menyatu, laksana tujuh warna dalam cahaya — dan dari sisi bahwa masing-masing perbuatan itu, secara hakikat, dalam suatu kesatuan dan ketunggalan, meliputi dan mencakup kebanyakan yang maujud; dan karena masing-masing adalah perbuatan yang bersifat tunggal (vahdanî), maka pelakunya (fâil) pastilah satu Zat yang tunggal; dan masing-masing menguasai segenap alam semesta; dan dari sisi bahwa ia berpadu secara saling menolong dengan perbuatan-perbuatan lain — semua ini menjadikan alam semesta laksana satu keseluruhan yang tak menerima pembagian. Demikian pula, karena setiap makhluk hidup berkedudukan sebagai sebuah benih, sebuah daftar isi, dan sebuah contoh alam semesta, maka hal itu menjadikan alam semesta, dari sudut rububiyah, laksana satu yang universal yang di luar kemungkinan untuk terbagi dan terpecah. Artinya, alam semesta adalah suatu keseluruhan sedemikian rupa sehingga menjadi Rabb bagi satu bagian saja hanya dapat terjadi dengan menjadi Rabb bagi seluruh keseluruhan itu. Dan ia adalah suatu yang universal sedemikian rupa sehingga — karena setiap bagian berkedudukan bagaikan satu individu — memberlakukan rububiyah-Nya kepada satu individu saja hanya dapat terjadi dengan menundukkan seluruh yang universal itu.