Isyarat Keempat:
Lem'alar · hlm. 390
Kilasan teragung Nama al-Fard, di samping nyata bagaikan Matahari, dapat diterima dengan suatu kemasukakalan pada tingkat kewajiban dan dengan kemudahan yang tak terhingga. Dan banyak dalil yang membuktikan bahwa kesyirikan yang merupakan kebalikan dan lawan dari kilasan itu adalah sangat sulit pada puncaknya, sangat jauh dari akal, bahkan pada tingkat mustahil dan tak mungkin, telah dijelaskan dalam bagian-bagian Risale-i Nur. Untuk saat ini, dengan menyerahkan perincian butir-butir dalam dalil-dalil itu kepada risalah-risalah tersebut, kami hanya akan menjelaskan "Tiga Butir"nya di sini.
Pertama:
Di akhir Kelimat Kesepuluh dan Kedua Puluh Sembilan secara ringkas, dan di akhir Surat Kedua Puluh secara terperinci, kami telah membuktikan dengan dalil-dalil yang sangat pasti bahwa: dibandingkan dengan kekuasaan Dzat Yang Maha Tunggal (al-Fard) lagi Maha Esa (al-Ahad), pengadaan sesuatu yang paling besar semudah sesuatu yang paling kecil. Dia menciptakan satu musim semi semudah satu kuntum bunga. Dia mengadakan dengan mudah ribuan contoh kebangkitan di hadapan mata kita pada setiap musim semi. Dia mengelola sebatang pohon yang besar dengan santai semudah sebutir buah yang kecil. Seandainya diserahkan kepada banyak sebab, setiap buah akan sama mahal dan sulitnya dengan sebatang pohon.. dan sekuntum bunga akan sama susah payah dan beratnya dengan satu musim semi. Ya, sebagaimana jika perlengkapan militer sebuah tentara dibuat di sebuah pabrik dengan perintah seorang panglima; maka perlengkapan tentara itu menjadi mudah, hampir-hampir semudah perlengkapan satu prajurit. Seandainya perangkat setiap prajurit dibuat di pabrik yang berbeda-beda dan pengelolaan militernya beralih dari keesaan ke keberbilangan; maka ketika itu setiap prajurit akan menuntut pabrik-pabrik sebanyak satu tentara.
Persis seperti itu, seandainya segala sesuatu diserahkan kepada Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa; maka segenap individu suatu jenis yang tak terhingga menjadi semudah satu individu tunggal. Seandainya diserahkan kepada sebab-sebab; setiap individu menjadi sesulit seluruh jenis itu. Ya, keesaan dan ketunggalan; terjadi melalui pertalian segala sesuatu kepada Dzat Yang Esa itu dan bersandar kepada-Nya. Dan sandaran dan pertalian ini; dapat berkedudukan sebagai suatu kekuatan dan kekuasaan yang tak terhingga bagi sesuatu itu. Ketika itu, suatu benda kecil, dengan kekuatan pertalian dan sandaran itu, dapat mengerjakan hal-hal dan memberikan hasil-hasil yang ribuan derajat melampaui kekuatan pribadinya. Dan suatu benda yang tidak bersandar dan bertalian kepada al-Fard lagi al-Ahad yang sangat kuat, hanya dapat mengerjakan hal-hal kecil sesuai kekuatan pribadinya, dan hasilnya pun mengecil sesuai dengan itu.
Misalnya: Sebagaimana seorang pejuang lepas tanpa kesatuan (başıbozuk) yang amat berani dan kuat — karena terpaksa membawa sendiri amunisi dan perbekalannya di pinggangnya — hanya mampu bertahan sementara menghadapi sepuluh orang musuh. Sebab kekuatan pribadinya hanya dapat menampakkan pengaruh sebatas itu. Akan tetapi, seorang yang dengan surat keprajuritan bertaut dan bersandar kepada seorang panglima agung — karena ia tidak menarik sendiri sumber-sumber kekuatannya dan gudang perbekalannya, serta tidak terpaksa memikulnya — maka pertautan dan sandaran itu menjadi baginya laksana kekuatan yang tak habis-habisnya dan sebuah perbendaharaan; sehingga dengan kekuatan pertautan itu ia dapat menawan seorang marsekal dari pasukan musuh yang terkalahkan, bahkan bersama ribuan orang.
Artinya, dalam kesatuan (vahdet) dan ketunggalan (ferdiyet), sebagaimana seekor semut dapat mengalahkan seorang Fir'aun, seekor lalat mengalahkan seorang Namrud, dan sebutir mikrob mengalahkan seorang penindas yang perkasa berkat kekuatan pertautan itu; demikian pula sebutir benih sekecil biji kacang polong pun dapat memikul di atas pundaknya sebatang pohon cemara yang menjulang gagah bagai gunung. Ya, sebagaimana seorang panglima agung — dari sisi bahwa ia dapat mengirim satu pasukan untuk menolong seorang prajurit, dan dari sisi bahwa ia dapat mengerahkan satu pasukan di belakang prajurit itu — maka prajurit tersebut, dengan suatu kekuatan maknawi seolah-olah satu pasukan secara maknawi berdiri di belakangnya, menjadi manifestasi atas nama panglimanya bagi pekerjaan-pekerjaan yang sangat besar. Demikian pula: Karena Sultan Azali adalah Al-Fard dan Al-Ahad — tiada kebutuhan dari sisi mana pun, namun andaikata ada kebutuhan — Dia mengirim segala sesuatu untuk menolong tiap-tiap sesuatu, mengerahkan pasukan alam semesta di belakang setiap sesuatu, sehingga setiap sesuatu bersandar pada kekuatan sebesar alam semesta; dan dalam menghadapi setiap sesuatu, segala sesuatu — andaikata dibutuhkan — dapat berperan laksana kekuatan Sang Panglima Al-Fard itu. Seandainya Fardiyah tidak ada, niscaya setiap sesuatu kehilangan seluruh kekuatan ini, merosot menjadi laksana ketiadaan; dan hasil-hasilnya pun turun menjadi nihil.
Nah, kemunculan karya-karya yang teramat menakjubkan — yang setiap saat kita saksikan dengan mata kepala sendiri — dari benda-benda yang sangat kecil lagi tak berarti, secara nyata menunjukkan Fardiyah dan Ahadiyah. Jika tidak demikian, niscaya hasil, buah, dan karya setiap sesuatu akan mengecil seperti materi dan kekuatan benda itu, lalu turun menjadi nihil. Dan kemurahan yang luar biasa serta kemelimpahan yang tak terhingga dari benda-benda yang sangat berharga di hadapan mata kita ini pun tak akan ada. Kini, sebuah melon atau delima yang dapat kita beli dengan empat puluh para, tak akan sanggup kita makan meski dengan empat puluh ribu lira. Ya, segala kemudahan, segala kemurahan, dan segala kemelimpahan di dunia ini datang dari kesatuan dan menjadi saksi atas Fardiyah.
Butir Kedua:
Segala yang maujud diciptakan dengan dua cara. Yang pertama adalah penciptaan dari ketiadaan, yang diistilahkan dengan "ibda'" dan "ihtira'" (mengadakan tanpa contoh sebelumnya). Yang lain adalah memberi wujud kepadanya dengan cara menghimpun dari unsur-unsur dan benda-benda yang telah ada, yang diistilahkan dengan "insya'" dan "tarkib" (membangun dan merangkai). Seandainya hal itu berlangsung menurut kilasan Fardiyah (cilve-i Ferdiyet) dan rahasia Ahadiyah, maka akan terjadi kemudahan yang tak terhingga, bahkan kemudahan hingga taraf keharusan (wujûb). Seandainya tidak dinisbahkan kepada Fardiyah, maka akan terjadi kesukaran yang tak terhingga dan tak masuk akal, bahkan kesukaran hingga taraf kemustahilan (imtina'). Padahal, kemunculan segala yang maujud di alam semesta — tanpa beban sedikit pun, dengan mudah dan gampang, dalam bentuk yang sangat sempurna — secara nyata menunjukkan kilasan Fardiyah, dan membuktikan bahwa segala sesuatu secara langsung adalah karya seni Zat Al-Fard Yang Maha Agung (Zât-ı Ferd-i Zülcelâl).
Ya, seandainya segala sesuatu dinisbahkan kepada Al-Fard Al-Wâhid, maka dengan kekuasaan-Nya yang tak terhingga — yang keagungannya dapat dipahami melalui karya-karya-Nya — Dia menciptakan dari ketiadaan bagaikan menyalakan sebatang korek api, dan dengan ilmu-Nya yang meliputi lagi tak terhingga Dia menetapkan bagi setiap sesuatu suatu ukuran (mikdar) yang berkedudukan sebagai cetakan maknawi. Lalu, sesuai dengan rupa dan rancangan setiap sesuatu yang ada dalam cermin ilmu-Nya itu, dengan mudah atom-atom setiap benda menempati cetakan ilmiah (kalıb-ı ilmî) tersebut dan secara teratur menjaga kedudukannya. Seandainya atom-atom itu pun harus dihimpun dari sekeliling, maka berkat kaidah-kaidah ilmu yang meliputi dan hukum-hukum kekuasaan (kudret) yang mencakup, atom-atom itu — karena terikat oleh kaidah ilmu (kanun-u ilmî) dan penggiringan kekuasaan (sevk-i kudret) — datang secara teratur bagaikan prajurit-prajurit sebuah pasukan yang patuh, lalu masuk ke dalam cetakan ilmiah dan ukuran takdir (mikdar-ı kaderî) yang meliputi wujud benda itu, dan dengan mudah membentuk wujudnya. Bahkan, sebagaimana bayangan di dalam cermin mengenakan wujud lahiriah di atas kertas melalui perantaraan kamera foto, atau sebagaimana sebuah surat yang ditulis dengan tinta tak terlihat menjadi tampak dengan mengoleskan zat penampak padanya; demikian pula kekuasaan (kudret) dengan sangat mudah mengenakan wujud lahiriah kepada hakikat segala sesuatu dan bentuk-bentuk maujud yang ada dalam cermin ilmu azali Al-Fard Al-Wâhid, lalu membawanya dari alam makna ke alam kemunculan dan menampakkannya kepada mata. Seandainya tidak dinisbahkan kepada Al-Fard Al-Wâhid, maka untuk menghimpun wujud seekor lalat dari sekeliling permukaan bumi dan dari unsur-unsurnya dengan timbangan yang amat teliti — seolah-olah harus mengayak permukaan bumi dan segala unsur, mendatangkan atom-atom khusus bagi wujud khusus itu dari segala penjuru, dan menempatkannya secara teratur dalam wujudnya yang penuh seni — niscaya diperlukan cetakan-cetakan materiil, bahkan cetakan sebanyak jumlah anggota tubuhnya; dan lembut-lembut maknawi (letaif) yang halus lagi rumit seperti indra-indra dan ruh dalam wujud itu pun harus didatangkan dari alam-alam maknawi dengan timbangan khusus.
Nah, dengan cara demikian, penciptaan seekor lalat menjadi sesulit alam semesta; seratus derajat sulit di dalam sulit, bahkan mustahil di dalam mustahil. Sebab, seluruh ahli agama dan ahli sains sepakat bahwa tiada sesuatu pun selain Al-Khâliq Al-Fard (Sang Pencipta Yang Maha Tunggal) yang mampu mencipta dari ketiadaan dan kenihilan. Kalau begitu, seandainya disandarkan kepada sebab-sebab dan tabiat (alam), maka wujud hanya dapat diberikan kepada setiap sesuatu dengan cara menghimpunnya dari kebanyakan benda yang lain.
Butir Ketiga:
Kami akan menerangkan secara ringkas satu-dua perumpamaan — yang telah dijelaskan dalam risalah-risalah lain — yang menunjukkan bahwa seandainya segala sesuatu dinisbahkan kepada satu Zat Al-Fard Al-Wâhid, maka ia semudah satu benda tunggal; sedangkan seandainya disandarkan kepada sebab-sebab dan tabiat, maka wujud satu benda tunggal saja menjadi sesulit segenap benda.
Misalnya:
Seandainya kepada seorang perwira dibebankan keadaan dan pengurusan seribu prajurit, dan seorang prajurit diserahkan kepada pengurusan sepuluh perwira, maka pengurusan satu prajurit itu menjadi sepuluh kali lipat lebih sulit daripada pengurusan satu batalion. Sebab, mereka yang memerintahnya saling menghalangi satu sama lain. Dengan kekacauan itu, prajurit tersebut tak akan pernah melihat wajah ketenangan. Selain itu, jika keadaan dan hasil yang dituntut dari satu batalion diserahkan kepada seorang perwira saja, maka tanpa beban ia dengan mudah memperoleh hasil itu dan dapat mewujudkan keadaan tersebut. Namun seandainya pencapaian keadaan itu dan perolehan hasil tersebut diserahkan kepada para prajurit dalam batalion itu yang tanpa kepala, tanpa komandan, dan tanpa sersan, maka untuk memperoleh keadaan dan hasil yang dituntut itu, hanya sebuah bentuk yang cacat sajalah yang dapat dicapai dengan susah payah, di tengah kekacauan yang penuh perbantahan.
Perumpamaan Kedua:
Misalnya, seandainya keadaan menahan dan menggantung batu-batu pada kubah sebuah masjid berkubah seperti Aya Sofya diserahkan kepada seorang tukang ahli, maka ia dapat memberikan keadaan itu kepada batu-batu tersebut dengan mudah. Namun seandainya masuk ke dalam keadaan itu diserahkan kepada batu-batunya sendiri, maka setiap batu harus menjadi penguasa mutlak sekaligus yang dikuasai mutlak atas seluruh batu yang lain — agar mereka dapat saling bertumpu kepala dan bergantung di udara. Dalam keadaan itu, untuk mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan si tukang dengan mudah tadi, diperlukan pekerjaan seratus kali lipat lebih banyak daripada pekerjaannya, sebanyak seratus orang tukang; barulah kemudian keadaan-keadaan itu dapat diperoleh.
Perumpamaan Ketiga:
Misalnya, karena Bola Bumi adalah seorang pegawai dan seorang prajurit dari Zat Al-Fard Al-Wâhid, maka lantaran hanya satu prajurit itu mematuhi satu perintah dari satu Zat Yang Tunggal, ia menjadi perantara bagi terwujud dan tampaknya hasil-hasil seperti hadirnya musim-musim, adanya waktu siang dan malam, munculnya gerak-gerik yang luhur lagi agung di langit, serta pergantian lembar-lembar samawi yang laksana layar bioskop. Untuk memperoleh hasil-hasil itu, Bumi — bagaikan satu prajurit tunggal — dengan menerima satu perintah dari satu Zat Yang Tunggal, karena suatu daya tarik yang lahir dari kegembiraan tugasnya, bangkit menari berputar (sema) bagaikan darwis Mevlevi yang tergila-gila, lalu menjadi sarana bagi hadir dan tampaknya seluruh hasil yang megah itu. Seolah-olah satu prajurit tunggal itu memimpin sebuah manuver megah di wajah alam semesta. Seandainya kekuasaan uluhiyah dan kerajaan rububiyah tidak dinisbahkan kepada satu Zat Al-Fard yang kekuasaan-Nya meliputi segenap alam semesta serta hukum dan perintah-Nya berlaku atas segenap yang maujud, maka untuk memperoleh hasil-hasil itu, manuver samawi itu, dan pergantian musim di bumi, jutaan bintang dan bola langit yang seribu kali lebih besar daripada Bola Bumi harus menempuh jarak yang panjangnya jutaan tahun setiap dua puluh empat jam dan setiap tahunnya — barulah hasil-hasil itu dapat ditampakkan. Nah, terwujudnya hasil-hasil yang megah itu melalui dua gerak Bola Bumi — bagaikan seorang pegawai tunggal, laksana darwis Mevlevi yang tergila-gila, di atas poros dan garis edarnya — di satu sisi menjadi contoh betapa tak terhingga mudahnya dalam kesatuan (vahdet); dan di sisi lain, betapa sulit — bahkan mustahil — memperoleh hasil-hasil yang sama melalui gerak yang jutaan kali lebih sukar dan melalui jalan-jalan yang tak terhingga panjangnya, menjadi contoh betapa banyak kemustahilan dan kebatilan yang terdapat di jalan syirik dan kekufuran.
Pandanglah kebodohan para penyembah sebab dan pemuja tabiat (alam) dengan perumpamaan ini. Misalnya, engkau akan memahami betapa jauh dari akal dan betapa besar kebodohannya menyangka bahwa: "Seorang tokoh, setelah menyiapkan — dengan seni yang luar biasa dan dalam bentuk yang sangat teratur — bagian-bagian dan roda-roda sebuah pabrik yang menakjubkan, atau sebuah jam yang mengagumkan, atau sebuah istana yang megah, atau sebuah kitab yang sempurna, tidak merangkai dan menjalankan sendiri bagian-bagian itu dengan mudah, melainkan dengan biaya yang teramat besar menjadikan setiap bagian, setiap roda, bahkan kertas dan penanya, masing-masing berkedudukan sebagai sebuah mesin yang menakjubkan — supaya bagian-bagian itu bekerja dengan sendirinya dan, menggantikan si tukang, membuat pabrik, istana, dan jam itu serta menulis kitab itu; dan ia serahkan kepada bagian-bagian itu keahlian dan seninya, yang menjadi sarana penampakan segala kepandaian dan kesempurnaan yang sangat ingin ia pertunjukkan."
Persis demikian pula, mereka yang menyandarkan penciptaan kepada sebab-sebab dan tabiat terjatuh ke dalam kebodohan yang berlipat ganda. Sebab, di atas tabiat dan sebab-sebab itu pun terdapat sebuah karya seni yang sangat teratur; mereka pun, seperti seluruh makhluk lain, adalah benda-benda buatan (masnu'). Zat yang membuat mereka demikian, membuat pula hasil-hasil mereka, dan memperlihatkannya bersama-sama. Yang membuat benih, Dia pula yang membuat pohon di atasnya; dan yang membuat pohon, Dia pula yang mencipta buah-buah di atasnya. Jika tidak, maka untuk terwujudnya tabiat-tabiat dan sebab-sebab yang berbeda-beda itu, akan diperlukan lagi tabiat-tabiat dan sebab-sebab lain yang teratur. Dan demikianlah, lambat laun terpaksa harus menerima adanya suatu rangkaian khayalan (silsile-i mevhumat) yang tak terhingga, tak bermakna, dan mustahil untuk dianggap ada. Ini adalah kebodohan yang paling antik dari segala kebodohan.