Risale-i NurLem'alar

Poin Kelima dari Lem'a Ketiga Puluh

Lem'alar · hlm. 404

Dengan sebuah poin dari ayat yang agung بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِفَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ dan sebuah poin dari ayat yang agung اَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ لاَ تَاْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ, suatu kilasan dari Ismul-Hayy — yang merupakan Ismul-A'zam, atau salah satu dari dua cahaya Ismul-A'zam, atau salah satu dari enam nur-nya — tampak samar-samar dari kejauhan dalam benakku, pada bulan Syawal yang mulia, di Penjara Eskişehir. Ia tidak sempat dicatat pada waktunya, dan kami tak dapat segera menangkap burung suci itu. Setelah ia menjauh, sekurang-kurangnya dengan beberapa simbol (remiz) kami akan memperlihatkan secara ringkas sebagian pancaran dari hakikat terbesar dan nur teragung itu.

Simbol Pertama:

Jawaban yang bersifat ikhtisar terhadap pertanyaan "Apakah kehidupan itu? Serta apa hakikat dan tugasnya?" — yang merupakan salah satu kilasan teragung dari Ismul-Hayy dan Ismul-Muhyî — adalah sebagai berikut:

Kehidupan adalah tujuan terpenting alam semesta ini.. sekaligus hasil terbesarnya.. sekaligus nur tercemerlangnya.. sekaligus ragi terhalusnya.. sekaligus intisari yang teramat tersaring.. sekaligus buah tersempurnanya.. sekaligus kesempurnaan tertingginya.. sekaligus keindahan tereloknya.. sekaligus perhiasan terindahnya.. sekaligus rahasia kesatuannya.. sekaligus ikatan persatuannya.. sekaligus sumber kesempurnaan-kesempurnaannya.. sekaligus makhluk bernyawa yang paling menakjubkan dalam hal seni dan hakikat.. sekaligus suatu hakikat penuh mukjizat yang menjadikan makhluk terkecil laksana sebuah alam semesta.. sekaligus mukjizat kekuasaan yang paling menakjubkan yang — seolah-olah menjadi sarana bagi tertampungnya alam semesta di dalam satu makhluk hidup kecil — di samping memperlihatkan semacam daftar isi alam semesta yang besar itu pada makhluk hidup tersebut, juga menjadikan makhluk hidup itu berhubungan dengan kebanyakan yang maujud dan laksana sebuah alam semesta kecil. Selain itu, ia adalah seni Ilahi yang luar biasa menakjubkan, yang — dengan kehidupan — membesarkan satu bagian kecil hingga sebesar satu keseluruhan terbesar, dan menjadikan satu individu pun laksana sebuah alam yang universal, serta dari sisi rububiyah memperlihatkan alam semesta laksana satu keseluruhan dan satu yang universal yang tak menerima pembagian, persekutuan, dan pemecahan. Selain itu, ia — di dalam hakikat-hakikat alam semesta — adalah bukti yang paling cemerlang, paling pasti, dan paling sempurna di antara bukti-bukti yang menjadi saksi atas keharusan wujud (vücub-u vücud) Zat Al-Hayy Al-Qayyûm, atas kesatuan-Nya, dan atas keesaan-Nya..

sekaligus ukiran seni Rabbani yang paling tersembunyi sekaligus paling nyata, paling berharga sekaligus paling murah, paling suci, paling cemerlang, dan paling penuh makna di antara segala buatan Ilahi. Sekaligus ia adalah kilasan rahmat Rahmani yang lembut, manja, dan halus, yang menjadikan segala yang maujud lainnya sebagai pelayan bagi dirinya. Sekaligus ia adalah cermin yang teramat mencakup bagi keadaan-keadaan Ilahi (şuunat-ı İlahiye). Sekaligus ia adalah keajaiban penciptaan Rabbani yang menghimpun kilasan banyak Asmaul Husna seperti Ar-Rahman, Ar-Razzâq, Ar-Rahîm, Al-Karîm, dan Al-Hakîm; yang menundukkan pada dirinya banyak hakikat seperti rezeki, hikmah, inayah, dan rahmat; serta yang menjadi sumber dan tambang bagi segenap indra seperti melihat, mendengar, dan merasa. Sekaligus, kehidupan adalah suatu mesin transformasi (istihale) sedemikian rupa di bengkel teragung alam semesta ini, yang tiada henti melakukan penyaringan di setiap penjuru, membersihkan, memberikan kemajuan, dan menyinari.. Dan bagi kafilah-kafilah atom, tubuh yang seolah-olah menjadi sarang kehidupan itu merupakan sebuah rumah tamu, sebuah sekolah, dan sebuah asrama bagi atom-atom itu untuk menjalankan tugas, memperoleh cahaya, dan menempuh pelatihan. Seolah-olah Zat Al-Hayy dan Al-Muhyî, melalui mesin kehidupan ini, memperhalus alam dunia yang gelap, fana, dan rendah ini, meneranginya, memberinya semacam kekekalan, dan mempersiapkannya untuk pergi menuju sebuah alam yang kekal. Sekaligus, kedua wajah kehidupan — yakni sisi mulk (lahiriah) dan malakut (batiniah) — cemerlang, bersih dari kotoran, tanpa kekurangan, dan luhur. Karena itu, untuk memperlihatkan secara terang-benderang bahwa kehidupan keluar langsung dari tangan kekuasaan Rabbani tanpa tabir dan tanpa perantara, ia adalah makhluk istimewa yang padanya sebab-sebab lahiriah tidak dijadikan tabir bagi pengaturan kekuasaan dalam kehidupan, tidak seperti benda-benda lainnya. Sekaligus, hakikat kehidupan memandang kepada enam rukun iman, lalu membuktikannya secara maknawi dan simbolik (remzen). Yakni: Ia adalah suatu hakikat bercahaya yang memandang dengan sangat kuat dan menuntut adanya keharusan wujud Wâjibul-Wujûd dan kehidupan-Nya yang azali-abadi (hayat-ı sermediye), negeri akhirat dan kehidupan kekalnya, keberadaan malaikat, serta rukun-rukun iman lainnya. Sekaligus, sebagaimana kehidupan adalah intisari termurni yang tersaring dari seluruh alam semesta, ia pula adalah suatu rahasia teragung yang menghasilkan syukur, ibadah, pujian (hamd), dan cinta — yang merupakan maksud Ilahi terpenting di alam semesta dan hasil terpenting dari penciptaan alam.

Nah, perhatikanlah dua puluh sembilan sifat penting lagi berharga dari kehidupan yang telah disebutkan ini, beserta tugas-tugasnya yang luhur lagi umum. Kemudian pandanglah. Lihatlah keagungan Ismul-Hayy di balik nama Al-Muhyî. Dan dari sudut sifat-sifat serta buah-buah kehidupan yang agung ini, ketahuilah betapa Ismul-Hayy merupakan sebuah Ismul-A'zam. Pahamilah pula bahwa: selama kehidupan ini adalah hasil terbesar alam semesta, tujuannya yang paling agung, dan buahnya yang paling berharga; niscaya kehidupan ini pun pasti memiliki suatu tujuan sebesar alam semesta dan suatu hasil yang agung. Sebab, sebagaimana hasil pohon adalah buah, maka hasil buah pun — melalui bijinya — adalah sebatang pohon yang akan datang. Ya, sebagaimana tujuan dan hasil kehidupan ini adalah kehidupan abadi, maka salah satu buahnya pun adalah syukur, ibadah, pujian, dan cinta kepada Zat Al-Hayy dan Al-Muhyî yang menganugerahkan kehidupan; dan syukur, cinta, pujian, serta ibadah ini — sebagaimana ia adalah buah kehidupan — juga merupakan tujuan alam semesta. Dan dari sini pahamilah bahwa mereka yang mengatakan tujuan kehidupan ini adalah "hidup senang, bernikmat dalam kelalaian, dan berfoya-foya menuruti hawa nafsu" — dengan kebodohan yang teramat buruk, secara mengingkari bahkan mungkin secara kafir — telah meremehkan dan menghina nikmat kehidupan yang teramat berharga ini, hadiah kesadaran, dan anugerah akal; sehingga mereka melakukan suatu pengingkaran nikmat (küfran-ı nimet) yang dahsyat.

Simbol Kedua:

Karena menjelaskan seluruh tingkatan, sifat, dan tugas kehidupan ini — yang merupakan salah satu kilasan teragung Ismul-Hayy dan penampakan terlembut Ismul-Muhyî, yang daftar isinya disebutkan dalam Simbol Pertama — memerlukan penulisan risalah-risalah sebanyak sifat-sifat itu; dan karena sebagian dari sifat, tingkatan, dan tugas itu telah dijelaskan dalam bagian-bagian Risalah Nur, maka kami serahkan sebagian perinciannya kepada Risalah Nur, dan di sini kami akan mengisyaratkan beberapa di antaranya secara ringkas.

Nah, pada sifat kedua puluh tiga dari dua puluh sembilan sifat kehidupan telah dikatakan demikian: Karena kedua wajah kehidupan sama-sama jernih dan bersih dari kotoran, maka sebab-sebab lahiriah tidak dijadikan tabir bagi pengaturan kekuasaan Rabbani padanya. Ya, rahasia sifat ini adalah sebagai berikut: Sungguh, pada segala sesuatu di alam semesta terdapat suatu keindahan, kebaikan, dan kebajikan; sedangkan keburukan dan kejelekan sangatlah parsial dan hanya merupakan satuan pembanding (vâhid-i kıyasî) — yang, dari sisi memperlihatkan tingkatan-tingkatan keindahan dan kebaikan serta perbanyakan dan keberagaman hakikat-hakikatnya, maka keburukan itu justru menjadi kebajikan dan kejelekan itu pun menjadi keindahan. Akan tetapi, agar kekesalan dan keluhan yang lahir dari keburukan, kejelekan, bencana, dan musibah lahiriah — yang tampak dalam pandangan lahiriah makhluk berkesadaran — tidak terarah kepada Zat Al-Hayy Al-Qayyûm; dan agar sentuhan langsung tanpa tabir dari kekuasaan yang suci lagi mahasuci terhadap hal-hal yang tampak hina dan kotor dalam pandangan lahiriah akal tidak berbenturan dengan keperkasaan (izzet) kekuasaan itu; maka sebab-sebab lahiriah dijadikan tabir bagi pengaturan kekuasaan tersebut. Adapun sebab-sebab itu tidaklah mampu mencipta; melainkan mereka ada untuk menjadi sasaran keluhan dan keberatan yang tidak benar, serta untuk menjaga keperkasaan, kesucian, dan kemahasucian kekuasaan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Mukadimah Kedudukan Kedua dari Kelimat Kedua Puluh Dua; Hazrat Azrail 'alaihis-salâm bermunajat kepada Allah Ta'ala perihal tugas pencabutan ruh. Beliau berkata: "Hamba-hamba-Mu akan kesal kepadaku." Sebagai jawaban, dikatakan kepadanya: "Aku akan meletakkan tabir penyakit dan musibah antara dirimu dan orang-orang yang wafat; maka orang-orang yang wafat tidak akan melemparkan anak-anak panah keberatan dan keluhan kepadamu, melainkan kepada tabir-tabir itu." Menurut rahasia munajat ini; sebagaimana tugas Hazrat Azrail 'alaihis-salâm adalah suatu tabir agar kekesalan dan keberatan orang-orang yang tidak melihat wajah indah hakiki dari kematian dan kewafatan bagi orang beriman, serta tidak mengetahui kilasan rahmat di dalamnya, tidak sampai kepada Zat Al-Hayy Al-Qayyûm; demikian pula sebab-sebab lainnya adalah tabir-tabir lahiriah. Ya, keperkasaan keagungan menghendaki agar sebab-sebab menjadi penjaga tabir bagi tangan kekuasaan dalam pandangan akal.. tetapi kesatuan dan kemuliaan (celal) menghendaki agar sebab-sebab menarik tangan mereka dari pengaruh yang hakiki...

Akan tetapi, karena wajah kehidupan — baik lahiriah maupun batiniah, baik mulk maupun malakut — bersih dari kotoran, tanpa kekurangan, dan tanpa cacat; maka sebagaimana tidak terdapat padanya hal-hal yang mengundang keluhan dan keberatan, demikian pula karena tidak ada kekotoran dan keburukan yang berbenturan dengan keperkasaan dan kesucian kekuasaan, maka ia diserahkan langsung tanpa tabir ke tangan nama Zat Al-Hayy Al-Qayyûm "Yang Menghidupkan, Yang Memberi Kehidupan, Yang Membangkitkan". Cahaya pun demikian, wujud dan penciptaan pun demikian. Karena itulah, penciptaan dan penjadian memandang langsung tanpa tabir kepada kekuasaan Zat Yang Maha Agung. Bahkan, karena hujan adalah semacam kehidupan dan rahmat, maka waktu turunnya tidak dijadikan tunduk pada suatu hukum yang tetap; supaya pada setiap waktu keperluan, tangan-tangan terangkat ke hadirat Ilahi untuk memohon rahmat. Seandainya hujan tunduk pada suatu hukum seperti terbitnya matahari, niscaya nikmat kehidupan itu tidak akan dimohon setiap saat dengan pengharapan.

Simbol Ketiga:

Pada sifat kedua puluh sembilan telah dikatakan bahwa: sebagaimana hasil alam semesta adalah kehidupan, maka syukur dan ibadah yang merupakan hasil kehidupan pun adalah sebab penciptaan alam semesta, tujuan akhirnya (ille-i gaiye), dan hasil yang dimaksudkan. Ya, sebagai balasan atas Sang Pembuat alam semesta ini — Al-Hayy Al-Qayyûm — yang memperkenalkan dan mencintakan diri-Nya kepada makhluk-makhluk hidup dengan sekian tak terhingga jenis nikmat-Nya, niscaya Dia menghendaki dari makhluk-makhluk hidup itu ucapan terima kasih atas nikmat-nikmat tersebut, kecintaan mereka sebagai balasan atas Dia yang mencintakan diri-Nya, pujian dan sanjungan atas seni-seni-Nya yang berharga, serta sambutan berupa ketaatan dan penghambaan terhadap perintah-perintah Rabbani-Nya.

Nah, karena menurut rahasia rububiyah ini, syukur dan penghambaan adalah tujuan terpenting dari segala jenis kehidupan dan — dengan demikian — dari seluruh alam semesta; maka Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya mendorong kepada syukur dan ibadah dengan sangat bergelora, keras, dan manis. Dan ia menyatakan dengan pengulangan yang banyak bahwa ibadah itu khusus bagi Allah Ta'ala, syukur itu layak bagi-Nya, dan pujian itu hanya milik-Nya. Artinya, untuk mengungkapkan bahwa syukur dan ibadah ini harus tertuju langsung kepada Pemilik Hakikinya, ayat-ayat seperti وَهُوَ الَّذ۪ى يُحْي۪ى وَ يُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلاَفُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ ❊ هُوَ الَّذ۪ى يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ فَاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ❊ فَيُحْي۪ى بِهِ اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا — yang menunjukkan bahwa Dia menggenggam kehidupan dengan segenap keadaannya dalam genggaman pengaturan-Nya tanpa tabir — dengan sangat jelas menafikan segala perantara, dan menyerahkan kehidupan secara langsung lagi khusus kepada tangan kekuasaan Al-Hayy Al-Qayyûm. Ya, hal-hal yang menjadi sarana syukur setelah kehidupan — seperti rezeki, kesembuhan, dan hujan — yang mengundang rasa terima kasih dan syukur serta menggerakkan perasaan cinta dan sanjungan, juga milik langsung Zat Ar-Razzâq Asy-Syâfî; dan sebab-sebab serta perantara hanyalah sebuah tabir. Ayat-ayat seperti هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَت۪ينُ ❊ وَ اِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْف۪ينِ ❊ وَهُوَ الَّذ۪ى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا menyatakan bahwa "Rezeki, kesembuhan, dan hujan hanya khusus bagi kekuasaan Zat Al-Hayy Al-Qayyûm." Dan untuk mengungkapkan bahwa semua itu datang dari-Nya tanpa tabir, هُوَ الَّذ۪ى ❊ هُوَ الرَّزَّاقُ — yang menurut kaidah nahwu merupakan tanda pembatasan dan pengkhususan (hasr dan tahsis) — telah menyatakannya. Yang memberikan khasiat kepada obat-obatan dan menciptakan pengaruhnya hanyalah Sang Penyembuh Hakiki (Şâfî-i Hakikî) itu.

Simbol Keempat:

Pada sifat kedua puluh delapan dari kehidupan telah dijelaskan bahwa: kehidupan memandang kepada enam rukun iman lalu membuktikannya; ia memberikan isyarat-isyarat atas terwujudnya rukun-rukun itu. Ya, selama hasil terpenting, ragi, dan hikmah penciptaan alam semesta ini adalah kehidupan; niscaya hakikat yang tinggi itu tidaklah terbatas pada kehidupan duniawi yang fana, teramat pendek, penuh kekurangan, dan penuh derita ini. Melainkan, tujuan dan hasil dari pohon kehidupan — yang keagungan hakikatnya dipahami melalui dua puluh sembilan sifat kehidupan — serta buahnya yang layak bagi keagungan pohon itu, adalah kehidupan abadi dan kehidupan ukhrawi; yaitu kehidupan di negeri kebahagiaan yang batu, pohon, dan tanahnya pun hidup. Jika tidak, niscaya pohon kehidupan yang diperlengkapi dengan sekian tak terhingga perangkat penting ini akan menjadi tanpa buah, tanpa faedah, dan tanpa hakikat bagi makhluk berkesadaran, khususnya bagi manusia.. dan manusia — yang dalam hal modal dan perangkat, misalnya, dua puluh derajat lebih unggul daripada burung pipit, dan yang merupakan makhluk terpenting, tertinggi, lagi paling berarti di alam semesta ini dan di antara makhluk hidup — justru akan jatuh dua puluh derajat lebih rendah daripada burung pipit dalam hal kebahagiaan hidup, sehingga menjadi makhluk yang paling malang dan paling hina. Selain itu, akal — yang merupakan nikmat paling berharga — pun akan menjadi bencana yang paling menyusahkan, karena dengan memikirkan kesedihan masa lalu dan ketakutan masa depan, ia terus-menerus melukai hati manusia dan mencampuri satu kelezatan dengan sembilan penderitaan. Padahal ini adalah seratus derajat batil. Artinya, kehidupan duniawi ini membuktikan secara pasti rukun iman kepada akhirat, dan pada setiap musim semi memperlihatkan kepada mata kita lebih dari tiga ratus ribu contoh kebangkitan.

Sungguh, seorang Mutasharrif Yang Maha Kuasa (Mutasarrıf-ı Kadîr) — yang dengan hikmah, inayah, dan rahmat menyiapkan segala kebutuhan dan perangkat yang diperlukan lagi sesuai bagi kehidupanmu di tubuhmu, di kebunmu, dan di tanah airmu, lalu menumbuhkannya pada waktunya; bahkan yang mengetahui dan mendengar doa rezeki yang khusus lagi parsial, yang dipanjatkan lambungmu dengan hasrat untuk kekal dan hidup, serta memperlihatkan terkabulnya doa itu dengan makanan-makanan lezat yang tak terhingga dan membuat lambung itu senang — mungkinkah Dia tidak mengenalmu, tidak melihatmu, dan tidak menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi kehidupan abadi yang merupakan tujuan terbesar jenis manusia; dan tidak mengabulkan doa kekekalan yang paling besar, paling penting, paling layak, lagi bersifat umum dari jenis manusia dengan membangun kehidupan ukhrawi dan menciptakan Surga; dan tidak mendengar doa yang bersifat umum lagi sangat kuat dari jenis manusia — yang merupakan makhluk terpenting alam semesta, bahkan sultan dan hasil bumi — yang menggemakan 'Arasy dan hamparan bumi, lalu memberinya perhatian tak lebih dari sekadar sebuah lambung kecil, tidak membuatnya senang, dan seolah membuat-Nya mengingkari kesempurnaan hikmah-Nya dan puncak rahmat-Nya? Sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak!..

Selain itu, mungkinkah Dia mendengar suara yang teramat tersembunyi dari kehidupan yang paling parsial, menyimak deritanya, memberinya obat, memenuhi manjanya, memeliharanya dengan penuh perhatian dan kesungguhan, menjadikan makhluk-makhluk besar-Nya melayaninya dengan saksama; lalu kemudian tidak mendengar suara tinggi bagaikan gemuruh langit dari sebuah kehidupan yang paling besar, berharga, kekal, lagi manja, dan tidak mengindahkan doa kekekalannya yang teramat penting, manjanya, dan permohonannya? Seolah-olah Dia mengurus perlengkapan dan pengaturan seorang prajurit dengan penuh perhatian, tetapi sama sekali tidak memperhatikan pasukan yang patuh lagi megah.. melihat atom tetapi tidak melihat matahari.. mendengar suara nyamuk tetapi tidak mendengar guruh langit? Sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak!..

Selain itu, mungkinkah akal menerima dengan cara apa pun bahwa suatu Zat Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana — yang tak terhingga rahmat dan cinta-Nya, teramat penyayang, sangat mencintai seni-Nya sendiri, sangat mencintakan diri-Nya, dan lebih mencintai mereka yang mencintai-Nya — akan menghukum mati dengan kematian abadi kehidupan yang paling mencintai diri-Nya, yang tercinta lagi dicintai, dan yang secara fitrah menyembah Pembuatnya, beserta ruh yang merupakan zat dan jauhar kehidupan itu; lalu membuat kekasih dan habib-Nya yang tercinta itu kesal, tersinggung, dan terluka dahsyat terhadap-Nya untuk selama-lamanya, sehingga mengingkari rahasia rahmat-Nya dan cahaya cinta-Nya serta membuat orang lain mengingkarinya? Seratus ribu kali sekali-kali tidak dan tidak sama sekali!.. Suatu Keindahan Mutlak yang menghiasi alam semesta ini dengan kilasan-Nya, dan suatu Rahmat Mutlak yang menggembirakan seluruh makhluk, sungguh mahasuci lagi tersucikan hingga taraf yang tak terhingga dari keburukan yang tak terhingga, kejelekan mutlak, kezaliman mutlak, dan ketiadaan belas kasih semacam itu.

KESIMPULAN:

Selama di dunia ada kehidupan, niscaya di antara manusia, mereka yang memahami rahasia kehidupan dan tidak menyalahgunakan hidupnya akan memperoleh kehidupan kekal di negeri kekekalan dan di Surga yang kekal. Âmannâ (kami beriman).

Dan sebagaimana berkilaunya benda-benda mengkilap di permukaan bumi karena pantulan matahari, dan berkilau-padamnya gelembung-gelembung di permukaan lautan karena kilasan-kilasan cahaya, lalu gelembung-gelembung yang datang sesudahnya kembali menjadi cermin bagi matahari-matahari khayali — semua ini secara nyata memperlihatkan bahwa kilasan-kilasan itu adalah pantulan kilasan dari satu Matahari tunggal yang tinggi, menyebut-nyebut keberadaan Matahari itu dengan aneka bahasa, dan mengisyaratkan kepadanya dengan jari-jari cahaya. Persis demikian pula: berkilaunya makhluk-makhluk hidup di permukaan daratan dan di dalam lautan dengan kekuasaan Ilahi melalui kilasan teragung dari nama Al-Muhyî milik Zat Al-Hayy Al-Qayyûm, lalu — untuk memberi tempat bagi yang datang sesudah mereka — mereka berkata "Yâ Hayy!" dan bersembunyi di balik tabir gaib; sebagaimana hal itu menjadi kesaksian dan isyarat atas kehidupan dan keharusan wujud Zat Al-Hayy Al-Qayyûm yang memiliki kehidupan azali-abadi.. demikian pula seluruh dalil yang menjadi saksi atas ilmu Ilahi yang jejaknya tampak dalam penataan segenap yang maujud, seluruh bukti yang membuktikan kekuasaan yang mengatur alam semesta, seluruh hujah yang membuktikan iradah dan kehendak (meşiet) yang berkuasa dalam penataan dan pengelolaan alam semesta, seluruh tanda dan mukjizat yang membuktikan risalah-risalah yang menjadi poros firman Rabbani dan wahyu Ilahi, dan demikian seterusnya — seluruh dalil yang menjadi saksi atas tujuh sifat Ilahi, secara sepakat menunjukkan, menyaksikan, dan mengisyaratkan kehidupan Zat Al-Hayy Al-Qayyûm. Sebab, sebagaimana pada sesuatu, jika ada penglihatan maka ada pula kehidupan; jika ada pendengaran, itu adalah tanda kehidupan; jika ada perkataan, itu mengisyaratkan adanya kehidupan; jika ada pilihan dan kehendak, itu menunjukkan kehidupan.. persis demikian pula; sifat-sifat seperti kekuasaan mutlak, iradah yang menyeluruh, dan ilmu yang meliputi — yang keberadaannya pasti lagi nyata melalui jejak-jejaknya di alam semesta ini — dengan segenap dalilnya menjadi saksi atas kehidupan dan keharusan wujud Zat Al-Hayy Al-Qayyûm, serta menjadi saksi atas kehidupan azali-abadi-Nya yang menyinari seluruh alam semesta dengan satu bayangannya dan menghidupkan seluruh negeri akhirat beserta atom-atomnya dengan satu kilasannya.

Selain itu, kehidupan memandang pula kepada rukun "iman kepada malaikat", dan membuktikannya secara simbolik. Sebab, selama hasil terpenting di alam semesta adalah kehidupan, dan yang paling banyak tersebar serta yang salinannya diperbanyak karena keberharganya, dan yang meramaikan rumah tamu bumi dengan kafilah-kafilah yang datang dan pergi, adalah makhluk-makhluk hidup.. dan selama Bola Bumi telah dipenuhi dengan sekian banyak jenis makhluk hidup, dan — dengan hikmah memperbarui serta memperbanyak jenis-jenis makhluk hidup — setiap saat terisi dan terkosongkan, dan bahkan pada materi-materinya yang paling hina dan busuk pun banyak diciptakan makhluk hidup sehingga menjadi suatu mahsyar hewan-hewan renik (mahşer-i huveynat).. dan selama kesadaran dan akal — yang merupakan intisari termurni yang tersaring dari kehidupan — serta ruh — yang merupakan jauhar terlembut lagi tetap — diciptakan secara sangat berlimpah di Bola Bumi ini; seolah-olah Bola Bumi dihidupkan dan diramaikan sedemikian rupa dengan kehidupan, akal, kesadaran, dan ruh-ruh... niscaya benda-benda samawi yang lebih halus, lebih bercahaya, lebih besar, dan lebih penting daripada Bola Bumi, mustahil tetap mati, beku, tanpa kehidupan, dan tanpa kesadaran. Artinya, penghuni-penghuni berkesadaran lagi hidup yang sesuai dengan langit — yang akan meramaikan langit, matahari, dan bintang-bintang, memberinya keadaan yang hidup, memperlihatkan hasil penciptaan langit, dan menjadi penerima firman Ilahi — pasti ada berkat rahasia kehidupan; dan mereka itu adalah para malaikat.

Selain itu, rahasia hakikat kehidupan memandang kepada rukun "iman kepada para nabi" dan membuktikannya secara simbolik. Ya, selama alam semesta diciptakan untuk kehidupan, dan kehidupan pun adalah salah satu kilasan teragung dari Al-Hayy Al-Qayyûm Yang Azali, sebuah ukiran tersempurna, dan sebuah seni terelok. Selama kehidupan azali-abadi memperlihatkan diri-Nya melalui pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab. Ya, seandainya tidak ada kitab-kitab dan para nabi, niscaya kehidupan azali itu tidak akan dikenali. Sebagaimana dengan berkatanya seseorang dapat dipahami bahwa ia hidup, demikian pula yang akan memperlihatkan kata-kata dan firman suatu Zat yang berbicara, bertutur, memerintah, melarang, dan menyeru di balik alam gaib yang berada di bawah tabir alam semesta ini, adalah para nabi dan kitab-kitab yang diturunkan di tangan mereka. Niscaya, sebagaimana kehidupan di alam semesta secara pasti menjadi saksi atas keharusan wujud Al-Hayy Yang Azali; demikian pula ia memandang kepada rukun-rukun "pengutusan para rasul" (irsal-i rusul) dan "penurunan kitab-kitab" (inzal-i kutub) — yang merupakan pancaran, penampakan, dan pertalian dari kehidupan azali itu — lalu membuktikannya secara simbolik. Dan secara khusus, karena kerasulan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم dan wahyu Al-Qur'an berkedudukan sebagai ruh dan akal kehidupan, maka dapat dikatakan bahwa kebenaran keduanya bersifat pasti, sebagaimana pastinya keberadaan kehidupan ini.

Ya, sebagaimana kehidupan adalah intisari yang tersaring dari alam semesta ini.. dan kesadaran serta perasaan pun adalah intisari kehidupan yang tersaring darinya.. akal pun adalah intisari kesadaran yang tersaring dari kesadaran dan perasaan.. dan ruh pun adalah jauhar kehidupan yang murni lagi jernih serta zatnya yang tetap lagi mandiri; demikian pula kehidupan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, baik materiil maupun maknawi, adalah intisari dari segala intisari (hülâsat-ül hülâsa) yang tersaring dari kehidupan dan ruh alam semesta.. dan kerasulan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم pun adalah intisari termurni yang tersaring dari perasaan, kesadaran, dan akal alam semesta; bahkan kehidupan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, baik materiil maupun maknawi, dengan kesaksian jejak-jejaknya, adalah kehidupan bagi kehidupan alam semesta.. dan kerasulan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم adalah kesadaran bagi kesadaran alam semesta dan cahayanya.. dan wahyu Al-Qur'an pun, dengan kesaksian hakikat-hakikatnya yang hidup, adalah ruh bagi kehidupan alam semesta dan akal bagi kesadaran alam semesta. Ya, ya, ya... Seandainya cahaya kerasulan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم keluar dan pergi dari alam semesta, niscaya alam semesta akan wafat.. seandainya Al-Qur'an pergi, niscaya alam semesta akan menjadi gila, dan Bola Bumi akan kehilangan kepala dan akalnya, bahkan mungkin akan membenturkan kepalanya yang telah kehilangan kesadaran itu ke sebuah planet, sehingga meletuskan suatu kiamat.

Selain itu, kehidupan memandang kepada rukun "iman kepada takdir", dan membuktikannya secara simbolik. Sebab, selama kehidupan adalah cahaya alam nyata (âlem-i şehadet) dan menguasainya, serta merupakan hasil dan tujuan wujud, cermin yang paling mencakup bagi Pencipta Alam Semesta, contoh tersempurna dan daftar isi bagi aktivitas Rabbani — semoga tidak keliru dalam perumpamaan — ia berkedudukan bagaikan semacam program. Niscaya rahasia kehidupan menuntut bahwa alam gaib — yakni masa lalu dan masa depan, yaitu makhluk-makhluk yang telah lampau dan yang akan datang — berada dalam suatu keadaan yang teratur, tertata, diketahui, tersaksikan, tertentu, dan siap sedia untuk mematuhi perintah-perintah penciptaan (evamir-i tekviniye), yang semuanya berkedudukan sebagai kehidupan maknawi mereka. Sebagaimana benih asal sebatang pohon, akarnya, serta biji-biji pada ujung dan buah-buahnya pun memperoleh semacam kehidupan persis seperti pohon itu sendiri. Bahkan mereka mengemban hukum-hukum kehidupan yang lebih halus daripada hukum-hukum kehidupan pohon itu. Dan sebagaimana benih-benih dan akar-akar yang ditinggalkan oleh musim gugur yang lampau sebelum musim semi yang sekarang ini, serta biji-biji dan akar-akar yang akan ditinggalkan musim semi ini bagi musim-musim semi yang akan datang setelah ia berlalu, semuanya mengemban kilasan kehidupan seperti musim semi ini dan tunduk pada hukum-hukum kehidupan.

Persis demikian pula; pohon alam semesta, dengan segenap cabang dan rantingnya, masing-masingnya memiliki masa lalu dan masa depan. Ia memiliki suatu rangkaian yang tersusun dari keadaan dan kondisi masa lampau dan masa depannya. Setiap jenis dan setiap bagiannya, dengan aneka keadaan dalam ilmu Ilahi, memiliki wujud-wujud yang beragam yang membentuk suatu rangkaian wujud ilmiah (silsile-i vücud-u ilmî). Dan sebagaimana wujud lahiriah, wujud ilmiah itu pun memperoleh suatu kilasan maknawi dari kehidupan umum; sehingga takdir-takdir kehidupan (mukadderat-ı hayatiye) diambil dari lembaran-lembaran takdir (elvah-ı kaderiye) yang penuh makna lagi hidup itu. Ya, terisinya alam ruh — yang merupakan salah satu jenis alam gaib — dengan ruh-ruh yang merupakan hakikat kehidupan, materi kehidupan, serta jauhar dan zat kehidupan, niscaya menghendaki dan meniscayakan bahwa jenis lain dan bagian kedua dari alam gaib — yang disebut masa lalu dan masa depan — pun memperoleh kilasan kehidupan. Selain itu, keteraturan yang tersempurna dalam wujud ilmiah setiap sesuatu, keadaan-keadaannya yang penuh makna, buah-buahnya yang hidup, dan tahap-tahapnya, memperlihatkan bahwa ia memperoleh semacam kehidupan maknawi. Ya, kilasan kehidupan ini — yang merupakan cahaya dari matahari kehidupan azali — niscaya tidak mungkin terbatas hanya pada alam nyata ini, pada masa kini ini, dan pada wujud lahiriah ini; melainkan setiap alam, sesuai kadar kemampuannya, memperoleh kilasan cahaya itu; dan alam semesta dengan segenap alamnya hidup dan bercahaya dengan kilasan itu. Jika tidak, sebagaimana yang dilihat oleh pandangan kesesatan, niscaya setiap alam — di bawah suatu kehidupan yang sementara dan lahiriah — akan menjadi sebuah jenazah yang besar lagi mengerikan dan sebuah alam reruntuhan yang gelap.

Nah, rukun "iman kepada qadar dan qada" pun, dalam suatu wajah yang luas, dipahami dan diteguhkan melalui rahasia kehidupan. Yakni, sebagaimana alam nyata dan benda-benda yang ada sekarang tampak hidup melalui keteraturan dan hasil-hasilnya, demikian pula makhluk-makhluk masa lalu dan masa depan yang terhitung sebagai alam gaib pun memiliki suatu wujud maknawi yang hidup secara maknawi dan suatu ketetapan ilmiah yang berruh; sehingga melalui Lauh Qada dan Qadar, jejak kehidupan maknawi itu tampak dan mewujud dengan nama takdir-takdir (mukadderat).

Simbol Kelima:

Selain itu, pada sifat keenam belas dari kehidupan telah dikatakan bahwa: Ketika kehidupan masuk ke dalam sesuatu, ia menjadikan tubuh itu laksana sebuah alam; ia memberikan kepada bagian suatu kemencakupan (câmiiyet) seperti keseluruhan, dan kepada yang parsial pula suatu kemencakupan seperti yang universal. Ya, kehidupan memiliki suatu kemencakupan sedemikian rupa; seolah-olah ia adalah cermin ahadiyah yang mencakup, yang memperlihatkan pada dirinya kebanyakan Asmaul Husna yang bertajalli pada segenap alam semesta. Ketika kehidupan masuk ke dalam suatu jasad, ia menjadikannya laksana sebuah alam kecil; seolah-olah ia menjadi semacam benih yang mengemban semacam daftar isi pohon alam semesta. Sebagaimana sebutir benih hanya bisa menjadi karya suatu kekuasaan yang mampu membuat pohonnya, demikian pula yang menciptakan makhluk hidup terkecil pastilah Pencipta segenap alam semesta.

Nah, kehidupan ini, dengan kemencakupannya ini, memperlihatkan pada dirinya suatu rahasia ahadiyah yang paling tersembunyi. Yakni, sebagaimana matahari yang agung — dengan cahayanya, tujuh warnanya, dan pantulannya — hadir pada setiap tetes air dan pada setiap serpih kaca yang berhadapan dengan matahari.. demikian pula; pada setiap makhluk hidup, kilasan-kilasan Asma dan sifat-sifat Ilahi yang meliputi alam semesta bertajalli bersama-sama padanya. Dari sudut pandang ini, kehidupan menjadikan alam semesta — dari sisi rububiyah dan penciptaan — laksana satu keseluruhan yang tak menerima pemecahan dan pembagian, bahkan laksana satu yang universal yang persekutuan dan pembagiannya di luar kemungkinan. Ya, meterai pada wajahmu secara nyata memperlihatkan bahwa yang menciptakanmu adalah Zat yang menciptakan seluruh jenis manusia. Sebab, hakikat kemanusiaan itu satu; pembagiannya tidak mungkin. Selain itu, melalui kehidupan, bagian-bagian alam semesta menjadi laksana individu-individunya dan alam semesta pun menjadi laksana jenisnya; sebagaimana ia memperlihatkan meterai ahadiyah pada keseluruhannya, demikian pula pada setiap bagian ia memperlihatkan meterai ahadiyah dan stempel samadiyah itu, sehingga menolak syirik dan persekutuan dari segala sisi.

Selain itu, pada kehidupan terdapat mukjizat seni Rabbani yang begitu luar biasa menakjubkan, sehingga suatu zat atau suatu kekuasaan yang tidak mampu menciptakan seluruh alam semesta, tidak akan mampu menciptakan makhluk hidup yang terkecil sekalipun. Ya, pena yang menuliskan daftar isi dan takdir pohon cemara yang besar pada sebutir benih cemara yang teramat kecil — bagaikan menuliskan seluruh Al-Qur'an pada sebutir kacang polong — pastilah pena yang menuliskan langit dengan bintang-bintang. Ya, Zat yang menyisipkan ke dalam kepala kecil seekor lebah suatu bakat, kemampuan, dan perangkat sedemikian rupa — sehingga ia dapat mengenali bunga-bunga di taman alam semesta, berhubungan dengan kebanyakan jenisnya, membawa sebuah hadiah rahmat seperti madu, dan mengetahui syarat-syarat kehidupan pada hari ia datang ke dunia — pastilah Pencipta segenap alam semesta.

Kesimpulannya:

Sebagaimana kehidupan adalah meterai tauhid yang cemerlang di wajah alam semesta, dan setiap makhluk bernyawa pun — dari sisi kehidupan — adalah meterai ahadiyah, dan ukiran seni yang terdapat pada setiap individu kehidupan adalah cap samadiyah, dan sebanyak makhluk-makhluk hidup mereka menandatangani surat alam semesta ini dengan kehidupan mereka atas nama Zat Al-Hayy Al-Qayyûm dan Al-Wâhid Al-Ahad, dan pada surat itu mereka adalah cap-cap tauhid, stempel-stempel ahadiyah, dan meterai-meterai samadiyah.. demikian pula; sebagaimana kehidupan, setiap makhluk hidup pun adalah sebuah cap wahdaniyah di dalam kitab alam semesta ini, dan pada wajah serta paras masing-masingnya telah dibubuhkan sebuah stempel ahadiyah. Selain itu, sebagaimana kehidupan — sebanyak bagian-bagian parsialnya dan sejumlah individu makhluk hidup — adalah tanda tangan dan cap yang menjadi saksi atas kesatuan Zat Al-Hayy Al-Qayyûm.. demikian pula; perbuatan menghidupkan dan membangkitkan pun membubuhkan tanda tangan atas tauhid sebanyak individu-individunya. Misalnya: penghidupan bumi (ihya-yı Arz), yang merupakan salah satu individu dari penghidupan, adalah saksi tauhid yang cemerlang bagaikan matahari. Sebab, dalam hidup dan bangkitnya bumi pada musim semi, tiga ratus ribu jenis dan individu-individu tak terhingga dari setiap jenis dihidupkan dan dibangkitkan bersama-sama, satu di dalam yang lain, tanpa kekurangan, tanpa cacat, sempurna, dan teratur. Ya, yang dengan satu perbuatan tunggal semacam ini mengerjakan tak terhingga perbuatan yang teratur, pastilah Pencipta segenap makhluk, Al-Hayy Al-Qayyûm yang menghidupkan seluruh makhluk hidup, dan Al-Wâhid Al-Ahad yang mustahil ada sekutu dalam rububiyah-Nya.

Untuk saat ini, hanya sekian sedikit dan ringkas yang ditulis dari sifat-sifat kehidupan. Penjelasan dan perincian sifat-sifat lainnya kami serahkan kepada Risalah Nur dan kepada waktu yang lain.