Risale-i NurLem'alar

ISYARAT KETUJUH: Pertanyaan:

Lem'alar · hlm. 83

Para imam Muktazilah, karena menganggap penciptaan keburukan sebagai keburukan, tidak menisbatkan penciptaan kekufuran dan kesesatan kepada Allah. Seolah-olah dengan itu mereka menyucikan Allah. Mereka pergi ke kesesatan dengan berkata “Manusia adalah pencipta perbuatannya sendiri”. Dan mereka berkata: “Iman seorang mukmin yang melakukan dosa besar hilang. Karena meyakini Allah dan membenarkan Jahanam tak dapat diselaraskan dengan melakukan dosa semacam itu. Karena seorang yang di dunia menjaga diri dari segala sesuatu yang melanggar hukum karena takut hukuman penjara yang teramat kecil, jika ia melakukan dosa-dosa besar hingga ke derajat tidak mementingkan azab Jahanam yang abadi dan murka Khâliq, sudah pasti itu menunjukkan ketiadaan iman.”

Jawaban:

Jawaban bagian pertama demikian: sebagaimana dijelaskan dalam Risalah Takdir: penciptaan keburukan bukanlah keburukan; melainkan pengusahaan (kasb) keburukanlah yang buruk. Karena penciptaan memandang seluruh akibat. Karena keberadaan suatu keburukan menjadi pendahuluan bagi banyak akibat yang baik, maka penciptaan keburukan itu, ditinjau dari akibat-akibatnya, menjadi kebaikan, berkedudukan sebagai kebaikan. Misalnya: api memiliki seratus akibat yang baik. Namun sebagian manusia dengan salah pilihnya menjadikan api sebagai keburukan bagi dirinya; mereka tak dapat berkata “Penciptaan api adalah keburukan”. Demikian pula: penciptaan setan, meskipun memiliki banyak akibat yang penuh hikmah seperti kemajuan manusia, dengan salah pilih dan pengusahaan yang keliru lalu kalah oleh setan, tak dapat dikatakan “Penciptaan setan adalah keburukan”. Melainkan ia, dengan usahanya sendiri, membuat keburukan bagi dirinya. Ya, karena usaha (kasb) adalah keterlibatan parsial, ia menjadi tempat tertuju suatu akibat buruk yang khusus; pengusahaan keburukan itu menjadi keburukan. Namun penciptaan, karena memandang seluruh akibat, maka penciptaan keburukan bukanlah keburukan, melainkan kebaikan.

Nah, karena Muktazilah tak memahami rahasia ini, dengan berkata “Penciptaan keburukan adalah keburukan dan penciptaan yang buruk adalah buruk”, demi menyucikan Allah mereka tidak menisbatkan penciptaan keburukan kepada-Nya, lalu jatuh ke kesesatan. Mereka menakwilkan sebuah rukun iman, yaitu وَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.

Adapun jawaban bagian kedua, atas pertanyaan mereka “Bagaimana orang yang melakukan dosa besar dapat tetap mukmin?”: pertama, pada isyarat-isyarat terdahulu kesalahan mereka telah dipahami secara pasti, sehingga tak perlu diulang. Kedua: sebagaimana nafsu insaniah lebih mengutamakan kelezatan sebesar satu dirham yang disegerakan lagi hadir daripada kelezatan sebesar satu batman yang ditangguhkan lagi gaib, demikian pula ia lebih menjauhi ketakutan pada satu tamparan yang hadir daripada azab setahun di masa depan. Dan jika perasaan menguasai manusia, ia tidak mendengarkan pertimbangan akal. Hawa dan waham berkuasa, lalu ia lebih mengutamakan kelezatan hadir yang paling kecil lagi tak penting daripada ganjaran yang teramat besar di masa depan. Dan ia lebih menjauhi sedikit kesempitan hadir daripada azab besar yang ditangguhkan di masa depan. Karena waham, hawa, dan perasaan tidak melihat masa depan, bahkan mengingkarinya. Jika nafsu pun menolong, maka kalbu dan akal yang merupakan tempat iman terdiam, mereka kalah.

Dalam keadaan itu, melakukan dosa besar tidak datang dari ketiadaan iman, melainkan datang dari kalahnya akal dan kalbu oleh dominasi perasaan, hawa, dan waham.

Dan sebagaimana dipahami pada isyarat-isyarat terdahulu; jalan keburukan dan hawa nafsu, karena berupa penghancuran, teramat mudah. Setan jin dan manusia cepat mendorong manusia ke jalan itu. Suatu keadaan yang teramat mengherankan: padahal — dengan nas hadis — satu cahaya alam kekekalan sebesar sayap lalat, karena abadi, setara dengan seluruh kelezatan dan nikmat yang diperoleh seorang manusia dari dunia sepanjang umurnya; namun sebagian manusia malang lebih mengutamakan kelezatan dunia fana ini sebesar sayap lalat daripada kelezatan alam kekal itu — yang setara dengan seluruh dunia fana ini — lalu berjalan di belakang setan.

Nah, karena rahasia-rahasia inilah Al-Qur'an Al-Hakim, dengan pengulangan dan penegasan yang teramat banyak, dengan ancaman dan dorongan, mencegah dari dosa dan mendorong kepada kebaikan.

Suatu masa, bimbingan keras Al-Qur'an Al-Hakim dengan pengulangan ini memberiku pikiran bahwa: peringatan dan penyadaran yang demikian terus-menerus ini seakan memperlihatkan manusia mukmin sebagai tak teguh lagi tak berhakikat. Ia memberikan suatu keadaan yang tak layak bagi kehormatan manusia. Karena bagi seorang pegawai, satu perintah yang diterima dari atasannya sudah cukup untuk ketaatannya; jika perintah yang sama diucapkan sepuluh kali, pegawai itu akan sungguh tersinggung. “Engkau menuduhku, aku bukan pengkhianat,” katanya. Padahal Al-Qur'an Al-Hakim dengan mendesak memerintahkan berulang kali bahkan kepada mukmin yang paling ikhlas. Pada suatu masa tatkala pikiran ini mengusik benakku, aku memiliki dua-tiga sahabat yang tulus. Aku memperingatkan dan menyadarkan mereka berkali-kali agar tidak terpikat tipu daya setan manusia. Mereka tak tersinggung dengan berkata “Engkau menuduh kami”. Namun aku dalam kalbu berkata: “Dengan peringatanku yang terus-menerus ini aku menyinggung mereka, aku menuduh mereka tak setia dan tak teguh.” Kemudian tiba-tiba hakikat yang telah dijelaskan dan dibuktikan pada isyarat-isyarat terdahulu tersingkap. Saat itu, dengan hakikat itu, aku mengetahui bahwa Al-Qur'an Al-Hakim melakukan penegasan dan pengulangan dengan cara yang sepenuhnya sesuai tuntutan keadaan, pada tempatnya, tanpa pemborosan, penuh hikmah, dan tanpa tuduhan; dan bahwa ia adalah hikmah itu sendiri dan balagah yang murni. Dan aku memahami rahasia mengapa sahabat-sahabatku yang tulus itu tak tersinggung.

Ringkasan hakikat itu demikian: karena setan mendorong ke arah penghancuran, mereka melakukan banyak keburukan dengan sedikit amal. Karena itu mereka yang berjalan di jalan kebenaran dan petunjuk sangat membutuhkan banyak kehati-hatian, penjagaan yang keras, peringatan berulang, dan pertolongan yang berlimpah; maka Allah, dari sisi pengulangan itu, mempersembahkan pertolongan-Nya kepada ahli iman dengan seribu satu nama-Nya, dan mengulurkan ribuan tangan rahmat-Nya untuk menolongnya. Ia tidak mematahkan kehormatannya, melainkan menjaganya. Ia tidak merendahkan nilai manusia, melainkan memperbesar keburukan setan.

Nah, wahai ahli kebenaran dan ahli petunjuk! Cara terselamatkan dari tipu daya setan jin dan manusia yang disebutkan: jadikanlah mazhab ahli kebenaran, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sebagai markas; masuklah ke benteng muhkamat Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya; jadikanlah Sunnah yang mulia sebagai pembimbing; temukanlah keselamatan!..