Risale-i NurLem'alar

ISYARAT KEENAM:

Lem'alar · hlm. 81

Salah satu tipu daya setan yang paling berbahaya adalah: ia mengaburkan khayalan kekufuran dengan pembenaran kekufuran pada sebagian manusia yang peka lagi jernih hatinya. Ia memperlihatkan bayangan kesesatan dalam rupa pembenaran kesesatan. Dan ia memperlihatkan lintasan-lintasan yang teramat buruk pada khayalan tentang zat-zat yang suci dan hal-hal yang tersucikan. Dan dengan memperlihatkan kemungkinan zati (imkân zâti) dalam bentuk kemungkinan akli (imkân aklî), ia memberikan suatu bentuk keraguan yang bertentangan dengan keyakinan dalam iman. Dan saat itu orang peka yang malang itu menyangka dirinya telah jatuh ke dalam kesesatan dan kekufuran, mengira keyakinannya dalam iman telah lenyap, lalu jatuh ke dalam keputusasaan; dengan keputusasaan itu ia menjadi bahan tertawaan setan. Setan sangat memanfaatkan keputusasaannya, titik lemahnya, dan kekaburannya itu, sehingga ia menjadi gila atau berkata “apa pun yang terjadi, terjadilah” lalu pergi ke kesesatan.

Betapa tak berdasarnya hakikat tipu daya setan ini — sebagaimana telah kami jelaskan dalam sebagian risalah — akan kami bahas di sini secara ringkas. Yakni demikian: sebagaimana gambar ular di cermin tidak menggigit, bayangan api tidak membakar, dan pantulan yang kotor tidak menajiskan — demikian pula pantulan kekufuran dan kesyirikan, bayangan kesesatan, dan khayalan kata-kata buruk yang menghina di cermin khayal atau pikiran, tidak merusak keyakinan, tidak mengubah iman, dan tidak mematahkan adab yang terhormat. Karena kaidah masyhur bahwa: sebagaimana mengkhayalkan cacian bukanlah cacian, demikian pula mengkhayalkan kekufuran bukanlah kekufuran, dan membayangkan kesesatan bukanlah kesesatan. Adapun persoalan keraguan dalam iman: kemungkinan-kemungkinan yang datang dari kemungkinan zati tidak bertentangan dengan keyakinan itu dan tidak merusaknya. Dalam Ilmu Ushuluddin termasuk kaidah yang tetap bahwa: اِنَّ اْلاِمْكَانَ الذَّاتِىَّ لاَ يُنَافِى الْيَق۪ينَ اْلعِلْمِىَّ

Misalnya: kita memiliki keyakinan bahwa Laut Barla berada di tempatnya sebagai air. Padahal secara zati mungkin bahwa laut itu telah surut pada saat ini, dan surutnya termasuk hal yang mungkin. Karena kemungkinan zati ini tidak lahir dari suatu tanda, ia tidak dapat menjadi kemungkinan mental yang menimbulkan keraguan. Karena, sekali lagi dalam Ilmu Ushuluddin, termasuk kaidah yang tetap bahwa: لاَ عِبْرَةَ لِـْلاِحْتِمَالِ الْغَيْرِ النَّاشِىءِ عَنْ دَل۪يلٍ Yakni: “Suatu kemungkinan zati yang tidak datang dari suatu tanda, bukanlah kemungkinan mental yang menimbulkan keraguan sehingga memiliki arti penting.” Nah, orang malang yang terpapar tipu daya setan ini menyangka bahwa ia kehilangan keyakinannya pada hakikat-hakikat iman dengan kemungkinan-kemungkinan zati semacam ini. Misalnya: mengenai Nabi صلى الله عليه وسلم, dari sisi kemanusiaan, terlintas di benaknya banyak kemungkinan zati yang tidak merugikan kepastian dan keyakinan iman. Namun ia menyangka itu merugikan, lalu jatuh ke dalam kerugian.

Dan terkadang setan, dari sisi bisikannya di atas kalbu (lummah), mengucapkan kata-kata buruk tentang Allah. Orang itu menyangka bahwa kalbunya telah rusak sehingga berkata demikian. Ia gemetar. Padahal gemetarnya, ketakutannya, dan ketidakridaannya adalah bukti bahwa: kata-kata itu tidak datang dari kalbunya, melainkan datang dari bisikan setan, atau diingatkan dan dikhayalkan oleh setan.

Dan di antara perasaan halus (latâif) manusia ada satu-dua latifah yang tak dapat kutentukan, yang tidak mendengarkan pilihan dan kehendak; bahkan barangkali tidak masuk pula ke bawah tanggung jawab. Terkadang latifah-latifah itu berkuasa, tidak mendengarkan kebenaran, masuk ke hal-hal yang keliru. Saat itu setan membisikkan kepada orang itu: “Potensimu tidak sesuai dengan kebenaran dan iman, sehingga engkau masuk ke hal-hal batil tanpa kehendak. Artinya takdirmu telah menghukummu pada kesengsaraan.” Orang malang itu jatuh ke keputusasaan, lalu pergi ke kebinasaan.

Nah, tempat berlindung mukmin menghadapi tipu daya setan yang pertama: adalah hakikat-hakikat iman dan muhkamat Al-Qur'an yang batas-batasnya ditentukan dengan prinsip para muhakik yang tersucikan. Dan menghadapi tipu daya yang terakhir: adalah berlindung (isti'âzah) dan tidak mementingkannya. Karena semakin dipentingkan, ia menarik perhatian lalu membesar dan mengembang. Adapun penawar dan salep bagi luka-luka maknawi mukmin semacam ini adalah Sunnah yang mulia.