Risale-i NurLem'alar

ISYARAT KELIMA:

Lem'alar · hlm. 80

Allah, dalam kitab-kitab samawi, meskipun memperlihatkan kepada manusia ganjaran agung seperti surga dan hukuman dahsyat seperti Jahanam, serta banyak membimbing, menyadarkan, memperingatkan, mengancam, dan mendorong — kekalahan ahli iman menghadapi tipu daya golongan setan yang buruk, lemah, lagi tak berganjaran, padahal ada begitu banyak sebab petunjuk dan istikamah — suatu masa membuatku banyak berpikir. Bagaimana mungkin, padahal ada iman, tidak mementingkan ancaman Allah yang demikian keras? Bagaimana iman tidak hilang? Dengan rahasia اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَع۪يفًا ia terpikat oleh tipu daya setan yang teramat lemah lalu memberontak kepada Allah. Bahkan sebagian sahabatku, padahal telah mendengar seratus pelajaran hakikat dariku dan membenarkannya dengan kalbunya, serta memiliki husnuzan dan keterikatan yang besar kepadaku, terpikat oleh sanjungan tak penting lagi riya dari seorang lelaki yang tak berkalbu lagi rusak, lalu mengambil sikap memihaknya dan menentangku. “Fasubhânallâh,” kataku, apakah pada manusia dapat terjadi kemerosotan sebesar ini? Betapa tak berhakikatnya manusia itu — demikian aku menggunjing orang malang itu, aku pun berbuat dosa.

Kemudian hakikat pada isyarat-isyarat terdahulu tersingkap, menerangi banyak titik yang gelap. Dengan cahaya itu — segala puji bagi Allah — aku memahami: bahwa dorongan dan anjuran besar Al-Qur'an Al-Hakim benar-benar pada tempatnya; bahwa terpikatnya ahli iman oleh tipu daya setan bukanlah karena ketiadaan iman atau kelemahan iman; bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak masuk ke dalam kekufuran; bahwa mazhab Muktazilah dan sebagian mazhab Khawarij keliru dalam hukum mereka yang berkata “Orang yang melakukan dosa besar menjadi kafir atau berada di antara iman dan kufur”; dan bahwa sahabatku yang malang yang mengorbankan seratus pelajaran hakikat demi sanjungan seorang lelaki bukanlah kemerosotan dan kehinaan dahsyat sebagaimana kukira. Aku bersyukur kepada Allah, aku terselamatkan dari jurang itu. Karena — sebagaimana telah kami katakan sebelumnya — setan dengan suatu perkara kecil yang bersifat meniadakan melemparkan manusia ke bahaya besar. Dan nafsu dalam diri manusia senantiasa mendengarkan setan. Adapun daya syahwat dan amarah berkedudukan sebagai dua perangkat yang sekaligus penerima dan penghantar bagi tipu daya setan.

Nah, karena itulah dua nama Allah, “Ghafûr” dan “Rahîm”, menghadap ahli iman dengan manifestasi teragung. Dan dalam Al-Qur'an Al-Hakim, Ia memperlihatkan bahwa anugerah terpenting kepada para nabi adalah ampunan, dan mengajak mereka untuk beristigfar.

Dengan memerintahkan pengulangan kalimat suci بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ di awal setiap surah dan menyebutnya dalam setiap pekerjaan yang mubarak, Ia memperlihatkan rahmat-Nya yang luas yang meliputi alam sebagai tempat berlindung dan berteduh; dan dengan perintah فَاسْتَعِذْ Ia menjadikan kalimat “A'ûdzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm” sebagai perisai.