ISYARAT KEEMPAT:
Lem'alar · hlm. 79
Para ahli tahkik dan ahli kasyaf sepakat bahwa ketiadaan adalah keburukan murni dan wujud adalah kebaikan murni. Ya, dengan mayoritas mutlak, kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan bersandar pada wujud dan kembali kepadanya. Meskipun secara rupa bersifat negatif dan meniadakan, asasnya bersifat positif lagi berwujud. Adapun asas dan ragi seluruh keburukan seperti kesesatan, keburukan, musibah, kemaksiatan, dan bala, adalah ketiadaan dan negasi. Keburukan dan kejelekan pada semuanya datang dari ketiadaan. Meskipun secara rupa lahiriah tampak positif lagi berwujud, asasnya adalah ketiadaan lagi negasi. Dan terbukti dengan penyaksian bahwa: wujud sesuatu seperti bangunan tetap dengan keberadaan seluruh bagiannya. Padahal kehancuran, ketiadaan, dan keruntuhannya terjadi dengan ketiadaan satu rukun saja. Dan wujud senantiasa menuntut suatu sebab yang wujud, bersandar pada suatu sebab yang pasti. Adapun ketiadaan dapat bersandar pada hal-hal yang tiada. Sesuatu yang tiada menjadi sebab bagi sesuatu yang tiada.
Nah, berdasarkan kedua kaidah inilah: setan jin dan manusia, meskipun melakukan jejak-jejak penghancuran yang dahsyat di alam serta beragam kekufuran, kesesatan, keburukan, dan kebinasaan, sama sekali tak memiliki campur tangan sezarah pun dalam penciptaan, sebagaimana mereka tak memiliki bagian kesertaan dalam kerajaan Ilahi. Dan mereka tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan suatu daya dan kudrat, melainkan pada banyak pekerjaan mereka itu bukan daya dan perbuatan, melainkan meninggalkan dan berdiam diri. Dengan tidak melakukan kebaikan, mereka melakukan keburukan. Yakni, keburukan terjadi. Karena kebinasaan dan keburukan termasuk jenis penghancuran, maka sebabnya tidak perlu berupa suatu daya yang wujud dan suatu penciptaan yang aktif. Melainkan dengan suatu perkara yang bersifat meniadakan dan dengan rusaknya suatu syarat, terjadilah kehancuran yang besar.
Nah, karena rahasia ini tak tersingkap pada kaum Majusi, maka mereka meyakini adanya seorang pencipta kebaikan bernama “Yazdan” dan seorang pencipta keburukan bernama “Ahriman” di alam. Padahal tuhan keburukan khayalan yang mereka sebut Ahriman itu adalah setan yang dimaklumi, yang dengan kehendak parsialnya dan dengan usaha (kasb) tanpa penciptaan menyebabkan keburukan.
Nah, wahai ahli iman! Senjata terpenting kalian dan perkakas perbaikan kalian menghadapi kehancuran dahsyat setan ini adalah istigfar dan berlindung kepada Allah dengan mengucapkan “A'ûdzu billâh”. Dan benteng kalian adalah Sunnah yang mulia.