ISYARAT KETIGA: Pertanyaan:
Lem'alar · hlm. 78
Keluhan-keluhan besar, pengerahan yang berlimpah, dan ancaman yang teramat keras terhadap ahli kesesatan dalam Al-Qur'an Al-Hakim, menurut zahir akal, tidak sesuai dengan balagahnya yang adil lagi selaras serta dengan keseimbangan dan istikamah gaya bahasanya. Seakan-akan Ia mengerahkan pasukan melawan seorang yang tak berdaya. Dan mengancam untuk satu gerak kecilnya seakan ia telah melakukan ribuan kejahatan. Dan padahal ia bangkrut serta sama sekali tak memiliki bagian dalam kerajaan, Ia memberinya kedudukan laksana sekutu yang melampaui batas lalu mengeluhkannya. Apa rahasia dan hikmahnya?
JAWABAN:
Rahasia dan hikmahnya demikian: setan dan mereka yang mengikuti setan, karena menempuh kesesatan, dapat melakukan banyak kehancuran dengan satu gerak kecil. Dan dengan sedikit perbuatan mereka menimbulkan banyak kerugian pada hak banyak makhluk. Sebagaimana pada sebuah kapal dagang besar milik seorang sultan, seorang lelaki dengan sedikit gerak — bahkan dengan meninggalkan sebuah tugas kecil — menyebabkan musnah dan batalnya buah jerih payah dan hasil amal seluruh petugas yang berkaitan dengan kapal itu; maka pemilik kapal yang mulia itu, atas nama seluruh rakyatnya yang berkaitan dengan kapal itu, mengajukan keluhan besar terhadap si pemberontak dan mengancam dengan dahsyat, dengan memandang bukan gerak kecilnya, melainkan akibat dahsyat dari gerak itu; dan bukan atas nama zat pemilik yang mulia itu, melainkan atas nama hak rakyatnya, ia menjatuhkan hukuman yang dahsyat.
Demikian pula: Sang Sultan Azali dan Abadi pun, karena golongan setan yang merupakan ahli kesesatan yang berada bersama ahli petunjuk di kapal bola bumi — dengan kesalahan dan pemberontakan mereka yang secara lahiriah kecil — melampaui hak banyak makhluk dan menyebabkan batalnya hasil tugas-tugas luhur makhluk, maka mengajukan keluhan besar dan melakukan pengerahan penting terhadap ancaman dan kehancuran dahsyat mereka, adalah hikmah murni di dalam balagah itu sendiri, dan sangat sesuai lagi selaras. Dan ia sesuai dengan tuntutan keadaan — yang merupakan definisi dan asas balagah — serta bersih dari mubalagah yang merupakan pemborosan kata. Sudah maklum bahwa: siapa yang tak berlindung ke sebuah benteng yang teramat kokoh menghadapi musuh dahsyat yang dengan sedikit gerak menimbulkan banyak kehancuran, ia akan sangat porak-poranda. Nah, wahai ahli iman! Benteng baja lagi samawi itu: adalah Al-Qur'an. Masuklah ke dalamnya, selamatlah.