Risale-i NurLem'alar

ISYARAT KEDUA: Pertanyaan:

Lem'alar · hlm. 76

Penciptaan setan yang merupakan keburukan murni, penguasaan mereka atas ahli iman, dan masuknya banyak manusia ke dalam kekufuran lalu ke Jahanam karena mereka, tampak teramat dahsyat lagi buruk. Bagaimana rahmat dan keindahan Yang Maha Indah secara mutlak, Yang Maha Penyayang Mutlak, dan Yang Maha Pengasih dengan sebenar-benarnya, membolehkan dan mengizinkan terjadinya keburukan yang tak terhingga dan musibah yang dahsyat ini? Persoalan ini telah ditanyakan banyak orang dan terlintas di benak banyak orang.

Jawaban:

Pada keberadaan setan, bersama keburukan-keburukan parsial, terdapat banyak tujuan kebaikan yang menyeluruh dan kesempurnaan insani. Ya, dari sebuah benih hingga sebatang pohon besar, betapa banyak tingkatan; dalam potensi hakikat insaniah pun ada tingkatan yang lebih banyak lagi. Bahkan ada derajat dari zarah hingga matahari. Perkembangan potensi ini tentu menuntut suatu gerak, mengharuskan suatu proses. Dan gerak pegas kemajuan dalam proses itu terjadi dengan mujahadah. Adapun mujahadah itu terjadi dengan adanya setan dan hal-hal yang membahayakan. Kalau tidak, maqam manusia pun akan tetap seperti malaikat. Dalam keadaan itu, pada jenis manusia takkan ada kelas-kelas yang berkedudukan sebagai ribuan jenis. Meninggalkan seribu kebaikan demi tidak datangnya satu keburukan parsial, bertentangan dengan hikmah dan keadilan. Memang, karena setan, kebanyakan manusia pergi ke kesesatan. Namun bobot dan nilai kebanyakan memandang kualitas, sedikit memandang atau tidak memandang kuantitas. Sebagaimana seseorang yang memiliki seribu sepuluh benih, jika ia menjadikan benih-benih itu tempat tertuju suatu proses kimiawi di bawah tanah; lalu sepuluh di antaranya menjadi pohon, seribu rusak — maka manfaat yang diberikan sepuluh benih yang menjadi pohon itu kepada orang itu, sungguh menihilkan kerugian yang diberikan seribu benih yang rusak. Demikian pula: manfaat, kehormatan, dan nilai yang datang kepada jenis manusia karena sepuluh manusia sempurna yang — dengan mujahadah melawan nafsu dan setan — memuliakan dan menerangi jenis manusia laksana bintang, sungguh menihilkan kerugian yang akan diberikan kepada jenis manusia oleh masuknya ahli kesesatan yang rendah — yang layak dihitung dari jenis serangga — ke dalam kekufuran, dan tidak memperlihatkannya di mata; karena itu rahmat, hikmah, dan keadilan Ilahi mengizinkan keberadaan setan dan memberi jalan bagi penguasaannya.

Wahai ahli iman! Zirah kalian menghadapi musuh-musuh dahsyat ini: adalah takwa yang dibuat di bengkel Al-Qur'an. Dan perisai kalian: adalah Sunnah yang mulia Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم. Dan senjata kalian: adalah berlindung (isti'âzah), istigfar, dan berlindung kepada penjagaan Ilahi.