Risale-i NurLem'alar

ISYARAT KESEMBILAN: Pertanyaan:

Lem'alar · hlm. 89

Ahli hidayah yang merupakan Hizbullah (golongan Allah), yang di barisan depannya adalah para nabi dan di puncak mereka adalah Kebanggaan Alam (Fakhrul-'Âlam) 'alaihis-salâtu was-salâm — padahal mereka menjadi tempat tertuju inayah, rahmat Ilahi, dan pertolongan Subhani yang demikian besar — mengapa sering kali dikalahkan oleh ahli kesesatan yang merupakan hizbusy-syaithan (golongan setan)? Dan apa sebab serta hikmah bahwa kaum munafik Madinah — yang berada dalam ketetanggaan dan kedekatan dengan kenabian dan kerasulan Penutup Para Nabi yang cemerlang laksana matahari, dengan irsyad (bimbingan) melalui kemukjizatan Al-Qur'an yang berpengaruh laksana iksir teragung, dan melalui hakikat-hakikat Al-Qur'an yang lebih memikat daripada daya tarik menyeluruh alam semesta — tetap bersikeras dalam kesesatan dan tidak masuk ke dalam hidayah?

Jawaban:

Untuk menyelesaikan dua cabang pertanyaan yang dahsyat ini, perlu menjelaskan suatu asas yang mendalam. Yakni demikian:

Karena Sang Pencipta Yang Mahaagung (Khâliq Dzul-Jalâl) alam semesta ini memiliki dua macam nama — yang jamâlî (keindahan) dan yang jalâlî (keagungan) — dan karena nama-nama jamâlî dan jalâlî itu menuntut untuk memperlihatkan hukum-hukumnya dengan manifestasi (tajalli) yang berbeda-beda, maka Sang Pencipta Yang Mahaagung mencampurkan hal-hal yang berlawanan di alam semesta antara satu dengan yang lain, menghadapkannya satu sama lain, memberinya posisi saling menyerang dan saling mempertahankan diri, membawanya ke suatu bentuk pergulatan yang penuh hikmah lagi bermanfaat; lalu dari situ Dia memindahkan hal-hal yang berlawanan itu ke perbatasan satu sama lain, dan dengan menimbulkan perselisihan serta perubahan, Dia menjadikan alam semesta tunduk pada kanun perubahan dan transformasi serta prinsip kemajuan dan penyempurnaan. Karena itu, pada jenis manusia — yang merupakan buah menyeluruh dari pohon penciptaan itu — Dia membawa kanun pergulatan itu ke bentuk yang lebih menakjubkan, membuka suatu pintu perjuangan yang menjadi sumber bagi seluruh kemajuan insani, dan memberikan sejumlah perangkat kepada hizbusy-syaithan agar dapat tampil menghadapi Hizbullah.

Nah, karena rahasia yang halus inilah para nabi sering kali dikalahkan oleh ahli kesesatan. Dan ahli kesesatan yang berada dalam kelemahan dan ketidakberdayaan yang sangat, secara sementara mengalahkan ahli kebenaran yang secara maknawi sangat kuat, serta mampu bertahan. Rahasia hikmah dari daya tahan yang menakjubkan ini adalah demikian: Dalam kesesatan dan kekufuran terdapat ketiadaan dan peninggalan (tidak berbuat), yang sangat mudah lagi tak menuntut gerakan. Terdapat pula perusakan, yang sangat gampang lagi ringan; sedikit gerakan saja sudah cukup. Terdapat pula pelampauan batas, yang dengan sedikit amal dapat merugikan banyak pihak, dan dari sisi menakut-nakuti serta dari sisi firaunisme memberi mereka suatu kedudukan. Terdapat pula pemuasan, penikmatan, dan kebebasan bagi daya nabati dan hewani dalam diri manusia yang tidak melihat akibat dan yang kecanduan kelezatan yang hadir — yang membuat lataif insaniah seperti akal dan kalbu berpaling dari tugas-tugasnya yang bersifat kemanusiaan dan yang memikirkan akibat. Adapun mazhab suci ahli hidayah, dan di barisan depannya ahli kenabian, dan di puncaknya Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm yang merupakan Kekasih Tuhan Semesta Alam (Habîbu Rabbil-'Âlamîn) — karena di dalamnya terdapat asas-asas penting seperti bersifat wujûdî (positif-adanya), tsubûtî (menetapkan), memperbaiki, bergerak, istikamah dalam batas-batas, memikirkan akibat, ubudiah, serta mematahkan firaunisme dan kebebasan nafsu amarah — maka karena itulah kaum munafik pada masa itu yang berada di Madinah Al-Munawwarah, terhadap matahari yang cemerlang itu memejamkan mata seperti kelelawar, lalu terseret oleh suatu daya penolak setani terhadap daya tarik yang agung itu, dan tetap berada dalam kesesatan.

Jika dikatakan:

Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm, padahal beliau adalah Kekasih Tuhan Semesta Alam. Dan di tangannya ada kebenaran dan di lisannya ada hakikat. Dan sebagian tentara dalam pasukannya adalah para malaikat. Dan dengan seciduk air beliau memberi minum satu pasukan. Dan dengan empat genggam gandum serta daging seekor anak kambing beliau memberi jamuan yang mengenyangkan seribu orang. Dan dengan melemparkan seciduk tanah ke mata pasukan kaum kafir — sehingga dari seciduk tanah itu masuk seciduk tanah ke mata setiap orang kafir — beliau membuat mereka lari. Dan seorang Panglima Rabbani yang memiliki seribu mukjizat lain seperti ini, bagaimana bisa terjadi beliau dikalahkan di penghujung Perang Uhud dan di permulaan Perang Hunain?

Jawaban:

Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm diutus sebagai teladan, imam, dan pembimbing bagi jenis manusia. Agar jenis manusia itu mempelajari darinya prinsip-prinsip dalam kehidupan sosial dan pribadi, terbiasa taat pada kanun-kanun kehendak (masyî'ah) Sang Mahabijaksana Yang Mahasempurna (Hakîm Dzul-Kemâl), dan menyesuaikan geraknya dengan dustur-dustur hikmah-Nya. Seandainya Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm dalam kehidupan sosial dan pribadinya senantiasa bersandar pada hal-hal luar biasa dan mukjizat, niscaya beliau tidak akan dapat menjadi imam mutlak dan pembimbing teragung.

Nah, karena rahasia inilah, hanya sesekali di saat perlu — untuk membenarkan dakwahnya dan untuk mematahkan pengingkaran para pengingkar — beliau memperlihatkan mukjizat. Pada waktu-waktu lain, sebagaimana beliau lebih taat daripada siapa pun kepada perintah-perintah Ilahi, demikian pula: beliau lebih menjaga dan menaati daripada siapa pun kanun-kanun sunnatullah yang ditetapkan dengan hikmah Rabbani dan kehendak Subhani. Terhadap musuh beliau mengenakan baju besi, dan memerintahkan, “Masuklah ke parit perlindungan!” Beliau terluka, dan merasakan kepayahan. Agar beliau memperlihatkan penjagaan dan ketaatan yang sempurna terhadap kanun hikmah Ilahi dan terhadap syariat fitri terbesar di alam semesta.