ISYARAT KESEPULUH:
Lem'alar · hlm. 91
Salah satu tipu daya Iblis yang terpenting: membuat dirinya diingkari oleh orang-orang yang mengikutinya. Pada masa ini, khususnya orang-orang yang pikirannya dikeruhkan oleh filsafat kaum materialis, menunjukkan keraguan dalam masalah yang badihi (jelas dengan sendirinya) ini; karena itu kami akan mengucapkan satu-dua kata terhadap tipu daya setan ini. Yakni demikian:
Sebagaimana secara penyaksian terdapat ruh-ruh jahat berjasad yang menjalankan tugas setan di kalangan manusia, demikian pula keberadaan ruh-ruh jahat tak berjasad dari kalangan jin adalah pada kepastian yang sama. Seandainya mereka mengenakan jasad materi, mereka akan menjadi sama seperti manusia-manusia jahat ini. Dan seandainya setan-setan berupa manusia ini dapat menanggalkan jasadnya, mereka akan menjadi iblis-iblis jin. Bahkan berdasarkan hubungan yang kuat inilah suatu mazhab yang batil telah memutuskan bahwa: “Ruh-ruh jahat yang sangat bengis berupa manusia, setelah mati menjadi setan.” Sudah dimaklumi bahwa: jika sesuatu yang tinggi menjadi rusak, ia lebih rusak daripada rusaknya sesuatu yang rendah. Misalnya: sebagaimana susu dan yoghurt jika rusak masih dapat dimakan. Adapun mentega jika rusak, tak dapat dimakan, kadang menjadi seperti racun. Demikian pula: manusia, yang merupakan makhluk paling mulia, bahkan mungkin paling tinggi, jika rusak, ia lebih rusak daripada hewan yang rusak. Seperti serangga yang menikmati bau materi yang membusuk, dan seperti ular yang mengambil kelezatan dari menyengat dengan bisa, ia menikmati dan berbangga dengan keburukan serta akhlak jahat di rawa kesesatan, dan mengambil kelezatan dari kerugian serta kejahatan dalam kegelapan kezaliman; ia seakan-akan masuk ke dalam mahiyat (hakikat) setan. Ya, dalil pasti bagi keberadaan setan jin adalah keberadaan setan manusia.
Kedua: Seluruh dalil yang membuktikan keberadaan ruhani dan malaikat dengan ratusan dalil pasti dalam Kelimat Kedua Puluh Sembilan, semuanya membuktikan pula keberadaan setan. Sisi ini kami serahkan pada Kalimat tersebut.
Ketiga: Sebagaimana keberadaan malaikat — yang berkedudukan sebagai wakil dan pengawas kanun-kanun dalam urusan-urusan kebaikan di alam semesta — telah tetap dengan kesepakatan agama-agama, demikian pula keberadaan ruh-ruh jahat dan setani — yang menjadi wakil dan pelaksana urusan-urusan keburukan serta menjadi sumber kanun-kanun dalam urusan-urusan itu — adalah pasti dari sisi hikmah dan hakikat; bahkan keberadaan suatu tabir berkesadaran dalam urusan-urusan keburukan lebih diperlukan lagi. Karena, sebagaimana dikatakan di awal Kelimat Kedua Puluh Dua: Karena setiap orang tidak dapat melihat keindahan hakiki setiap sesuatu, maka — agar tidak menentang Sang Pencipta Yang Mahaagung dari sisi keburukan dan kekurangan yang zahir, tidak menuduh rahmat-Nya, tidak mengkritik hikmah-Nya, dan tidak mengadu secara tak benar — Dia menjadikan suatu sebab yang zahir sebagai tabir, sehingga penentangan, kritik, dan pengaduan itu pergi ke tabir-tabir itu dan tidak tertuju kepada Sang Pencipta Yang Mahamulia lagi Mahabijaksana Yang Mutlak. Sebagaimana untuk menyelamatkan Hazrat Azrail dari kejengkelan hamba-hamba yang wafat, Dia menjadikan penyakit sebagai tabir bagi ajal. Demikian pula: Dia menjadikan Hazrat Azrail ('alaihis-salâm) sebagai tabir bagi pencabutan ruh, agar pengaduan-pengaduan yang datang dari keadaan-keadaan yang disangka tanpa belas kasih itu tidak tertuju kepada Allah.
Demikian pula: agar penentangan dan kritik yang datang dari keburukan dan kejahatan tidak — dengan kepastian yang lebih besar lagi — tertuju kepada Sang Pencipta Yang Mahaagung, maka hikmah Rabbani menuntut keberadaan setan.
Keempat: Sebagaimana manusia adalah alam kecil, alam pun adalah manusia besar. Manusia kecil ini adalah daftar isi dan ringkasan dari manusia besar itu. Asal-asal besar dari contoh-contoh yang terdapat dalam diri manusia, pasti terdapat dalam manusia terbesar (insan ekber). Misalnya: sebagaimana keberadaan daya ingatan dalam diri manusia adalah dalil pasti bagi keberadaan Lauh Mahfuz di alam. Demikian pula: bahwa di sebuah sudut kalbu manusia terdapat suatu alat waswas yang disebut lummah setani, dan suatu lisan setani yang berbicara melalui bisikan daya khayal (vahime), serta daya khayal yang telah dirusak — yang berpindah ke kedudukan setan kecil dan bergerak berlawanan dengan kehendak serta bertentangan dengan keinginan pemiliknya — dan bahwa setiap orang melihatnya dalam dirinya secara rasa dan firasat, adalah dalil pasti bagi keberadaan setan-setan besar di alam.
Dan karena lummah setani ini dan daya khayal itu merupakan sebuah telinga dan sebuah lidah, maka keduanya memberi rasa akan keberadaan suatu pribadi jahat dari luar yang meniupkan kepadanya dan yang membuatnya berbicara.