Bagian kedua
Lem'alar · hlm. 153
laksana udara; ia terasa, tetapi tak tampak dan tak dapat dipegang. Terhadapnya, menghadaplah dengan wajah, mulut, dan ruhmu ke arah angin rahmat itu, hadapkanlah dirimu, jangan ulurkan tangan kritik, engkau tak akan dapat memegangnya. Bernapaslah dengan ruhmu. Jika engkau memandang dengan tangan keraguan dan menyentuh dengan kritik, ia berlalu pergi; ia tak menjadikan tanganmu sebagai tempat tinggal, tak rida terhadapnya.
Adapun bagian ketiga: laksana cahaya; ia tampak, tetapi tak terasa dan tak dapat dipegang. Kalau begitu, hadapkanlah dirimu kepadanya dengan mata kalbumu dan pandangan ruhmu, arahkanlah matamu kepadanya, dan tunggulah; barangkali ia datang dengan sendirinya. Karena cahaya tak dipegang dengan tangan, tak diburu dengan jari; melainkan cahaya itu hanya diburu dengan cahaya mata hati (basirah). Jika engkau mengulurkan tanganmu yang tamak lagi materi dan menimbangnya dengan timbangan materi, ia — meskipun tak padam — akan tersembunyi. Karena cahaya seperti itu, sebagaimana tak rida terkurung dalam materi, tak dapat pula masuk ke dalam ikatan, dan tak menerima yang kasar (kesif) sebagai pemilik dan tuannya.
NOTA KESEBELAS:
Ketahuilah bahwa: dalam ungkapan Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya ada banyak kasih sayang dan belas kasih. Karena kebanyakan mukhathab adalah orang awam. Pikiran mereka sederhana. Karena pandangan mereka pun tak melihat hal-hal yang halus, maka untuk membelai kesederhanaan pikiran mereka, ia mengulang-ulang ayat-ayat yang tertulis di wajah langit dan bumi. Ia membuat huruf-huruf besar itu terbaca dengan mudah. Misalnya: ia mengajarkan ayat-ayat yang secara badihi terbaca dan tampak, seperti penciptaan langit dan bumi, penurunan hujan dari langit, dan penghidupan bumi. Ia jarang mengalihkan pandangan ke ayat-ayat halus yang ditulis dengan huruf-huruf kecil di dalam huruf-huruf besar itu, agar mereka tak menderita kepayahan. Dan dalam uslub Qur'ani terdapat suatu kefasihan, kelancaran, dan kefitrian sedemikian rupa sehingga: seakan-akan Al-Qur'an adalah seorang penghafal; ia membaca ayat-ayat yang ditulis dengan pena kudrat pada lembaran-lembaran alam semesta. Seakan-akan Al-Qur'an adalah pembacaan (kiraat) kitab alam semesta, pelantunan (tilawah) tatanannya, membaca keadaan-keadaan (syu'ûnat) Sang Pengukir Azali, dan menuliskan perbuatan-perbuatan-Nya. Jika engkau ingin melihat kefasihan penjelasan ini, dengarkanlah — dengan kalbu yang terjaga lagi cermat — firman-firman seperti Surah 'Amma dan ayat-ayat قُلِ اللّٰهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ!..
NOTA KEDUA BELAS:
Wahai sahabat-sahabatku yang mendengarkan Nota-nota ini! Ketahuilah bahwa; sebab aku kadang menuliskan tadarru', permohonan, dan munajat kalbuku kepada Rabb-ku — yang seharusnya disembunyikan, berbeda dengan kebiasaan — adalah untuk memohon dari rahmat Ilahi agar diterimanya ucapan kitabku sebagai ganti lidahku pada saat-saat kematian membungkam lidahku. Ya, dalam umur yang pendek, tobat dan penyesalan lidahku yang sementara tak cukup menjadi kafarat bagi dosa-dosaku yang tak terhingga. Lisan kitab yang tetap lagi sampai suatu derajat kekal lebih berguna untuk urusan itu. Nah, tiga belas tahun{(Catatan): Tiga belas tahun sebelum penulisan risalah ini.} yang lalu, sebagai akibat suatu badai ruhani yang penuh gejolak, pada saat tawa Said Lama akan berubah menjadi tangisan Said Baru; pada suatu saat tatkala aku terbangun dari tidur kelalaian masa muda dengan pagi masa tua, munajat dan permohonan ini ditulis dalam bahasa Arab. Makna sebagian darinya dalam bahasa Turki adalah demikian:
Wahai Rabb-ku Yang Maha Penyayang dan wahai Pencipta-ku Yang Mahamulia!
Dengan salah pilihanku (su'ul-ikhtiyar), umur dan masa mudaku sia-sia dan berlalu. Dan dari buah-buah umur dan masa muda itu, yang tersisa di tanganku adalah dosa-dosa yang menyakitkan, kepedihan yang menghinakan, dan waswas yang menyesatkan. Dan dengan beban yang berat, kalbu yang sakit, serta wajah yang penuh malu ini, aku mendekati kubur.
Aku menyaksikan dengan mataku sendiri bahwa dengan sangat cepat, tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri, dengan cara yang tak dapat kupilih, aku mendekati pintu kubur — seperti para kekasih, kawan sebaya, dan kerabatku yang telah wafat. Kubur itu adalah persinggahan pertama dan pintu pertama yang didirikan lagi terbuka di jalan keabadian yang kekal abadi, dengan perpisahan abadi dari negeri fana ini. Dan negeri dunia yang kepadanya aku terikat dan terpikat ini, telah kupahami dengan keyakinan yang pasti bahwa; ia binasa dan pergi, ia fana dan mati. Dan aku menyaksikan bahwa segala yang ada di dalamnya pun, satu demi satu, kafilah demi kafilah, berpindah dan pergi, lalu lenyap. Khususnya bagi orang yang memikul nafsu amarah sepertiku, dunia ini sangat kejam lagi penuh tipu daya. Jika ia memberi satu kelezatan, ia mengalungkan seribu kepedihan dan membuat kita merasakannya. Jika ia menyuapkan satu anggur, ia menampar seratus kali.
Wahai Rabb-ku Yang Maha Penyayang dan wahai Pencipta-ku Yang Mahamulia! Dengan rahasia كُلُّ اٰتٍ قَر۪يبٌ, aku sekarang telah melihat bahwa: dalam waktu dekat aku telah mengenakan kafanku, naik ke kerandaku, dan berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Tatkala aku menghadap dan pergi ke kuburku, di hadirat rahmat-Mu, dengan lisan keadaan jenazahku dan lisan ucapan ruhku, aku berteriak seraya berkata: Al-Amân, al-Amân! Wahai Yang Maha Pengasih (Yâ Hannân)! Wahai Yang Maha Pemberi Karunia (Yâ Mannân)! Selamatkanlah aku dari rasa malu atas dosa-dosaku! Nah, aku telah sampai ke tepi kuburku, mengalungkan kafan ke leherku, dan berdiri di atas jasadku yang terbaring di tepi kuburku. Kuangkat kepalaku ke hadirat rahmat-Mu dan dengan seluruh kekuatanku aku menjerit dan menyeru: Al-Amân, al-Amân! Wahai Yâ Hannân! Wahai Yâ Mannân! Bebaskanlah aku dari beban-beban berat dosa-dosaku! Nah, aku telah masuk ke kuburku, terbungkus kafanku. Para pengantar telah meninggalkanku dan pergi. Aku menantikan ampunan dan rahmat-Mu. Dan aku menyaksikan bahwa: tak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri selain Engkau. Dari wajah dosa yang buruk, dari rupa maksiat yang liar, dan dari sempitnya tempat itu, dengan seluruh kekuatanku aku menyeru seraya berkata: Al-Amân, al-Amân! Wahai Ar-Rahman! Wahai Yâ Hannân! Wahai Yâ Mannân! Wahai Yang Maha Membalas (Yâ Dayyân)! Selamatkanlah aku dari pertemanan dosa-dosaku yang buruk, luaskanlah tempatku. Ilahi! Rahmat-Mu adalah tempat berlindungku, dan Kekasih-Mu yang merupakan Rahmatan lil-'âlamîn adalah wasilahku untuk mencapai rahmat-Mu. Aku tak mengadu tentang-Mu, melainkan aku mengadukan nafsu dan keadaanku kepada-Mu. Wahai Pencipta-ku Yang Mahamulia dan wahai Rabb-ku Yang Maha Penyayang! Padahal makhluk, ciptaan, dan hamba-Mu yang bernama Said ini — yang durhaka, tak berdaya, lalai, bodoh, sakit, hina, berbuat buruk, lanjut usia, celaka, sekaligus seorang budak yang lari dari tuannya — empat puluh tahun kemudian ia menyesal dan ingin kembali ke hadirat-Mu. Ia berlindung kepada rahmat-Mu. Ia mengakui dosa dan kesalahannya yang tak terhingga. Ia tertimpa waswas dan bermacam-macam penyakit. Ia bertadarru' dan bermunajat kepada-Mu. Jika dengan kesempurnaan rahmat-Mu Engkau menerimanya, mengampuni, dan merahmatinya; itu memang sifat-Mu. Karena Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang (Arhamar-Râhimîn). Jika Engkau tak menerima, ke pintu manakah aku pergi selain pintu-Mu? Pintu mana yang ada? Tak ada Rabb selain Engkau yang hadirat-Nya dapat didatangi. Tak ada Sembahan yang hak selain Engkau yang dapat dijadikan tempat berlindung!..”
لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَر۪يكَ لَكَ اٰخِرُ الْكَلاَمِ فِى الدُّنْيَا وَ اَوَّلُ الْكَلاَمِ فِى اْلاٰخِرَةِ وَ فِى الْقَبْرِ اَشْهَدُ اَنْ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ تَعَالٰى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
NOTA KETIGA BELAS:
Terdiri dari lima masalah yang menjadi sumber kekeliruan.
Yang pertama:
Orang-orang yang bekerja dan berjuang di jalan yang hak, padahal seharusnya hanya memikirkan tugasnya sendiri, justru memikirkan tugas yang menjadi milik Allah, membangun geraknya di atas itu, lalu jatuh ke dalam kesalahan. Dalam Risalah Adabud-Dîn wad-Dunyâ disebutkan bahwa: pada suatu waktu setan membantah Hazrat Isa 'alaihis-salâm seraya berkata: “Karena ajal dan segala sesuatu terjadi dengan takdir Ilahi; jatuhkanlah dirimu dari tempat yang tinggi ini, lihatlah bagaimana engkau akan mati.” Hazrat Isa 'alaihis-salâm berkata: اِنَّ لِلّٰهِ اَنْ يَخْتَبِرَ عَبْدَهُ وَ لَيْسَ لِلْعَبْدِ اَنْ يَخْتَبِرَ رَبَّهُ Yakni: “Allah menguji hamba-Nya dan berkata: Jika engkau berbuat begini, Aku akan berbuat begini kepadamu, coba Kulihat apakah engkau dapat melakukannya? — demikian Dia menguji. Namun hamba tak berhak dan tak pantas untuk menguji Allah dan berkata: Jika aku beramal begini, apakah Engkau berbuat begini? — cara pengujian terhadap rububiah Allah seperti itu adalah suatu keburukan adab, bertentangan dengan ubudiah.”
Karena hakikatnya demikian, manusia harus menjalankan tugasnya sendiri dan tidak mencampuri tugas Allah.
Masyhur bahwa: pada suatu waktu tatkala Jalaluddin Khwarazmsyah — salah seorang pahlawan Islam yang berkali-kali mengalahkan pasukan Jengis — hendak pergi berperang, para menteri dan pengikutnya berkata kepadanya: “Engkau akan menang, Allah akan memenangkanmu.” Ia berkata: “Aku ditugaskan untuk bergerak di jalan jihad dengan perintah Allah; aku tak mencampuri tugas Allah; memenangkan atau mengalahkan adalah tugas-Nya.” Nah, tokoh itu, dengan memahami rahasia kepasrahan ini, secara luar biasa sering kali menjadi pemenang.
Ya, dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia dengan kehendak parsial (juz'i ikhtiyari) yang ada di tangannya, ia harus tidak memikirkan hasil-hasil yang menjadi milik Allah. Misalnya: bergabungnya orang-orang dengan Risale-i Nur menambah semangat sebagian saudara kita dan membangkitkan kegiatan mereka. Tatkala orang-orang tak mendengarkan, kekuatan maknawi orang-orang lemah patah, semangat mereka padam sampai suatu derajat. Padahal Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm — yang merupakan Guru Mutlak, Teladan Semua, lagi Pembimbing Tersempurna — dengan menjadikan firman Ilahi وَمَا عَلَى الرَّسُولِ اِلاَّ الْبَلاَغُ sebagai pembimbing mutlaknya, justru menyampaikan (tablig) dengan usaha, kegiatan, dan kesungguhan yang lebih besar tatkala manusia menarik diri dan tak mendengarkan. Karena dengan rahasia اِنَّكَ لاَ تَهْد۪ى مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْد۪ى مَنْ يَشَٓاءُ beliau memahami bahwa: membuat manusia mendengarkan dan memberi hidayah adalah tugas Allah. Beliau tak mencampuri tugas Allah.
Kalau begitu; nah, wahai saudara-saudaraku! Kalian pun, janganlah mencampuri tugas yang bukan milik kalian dengan membangun gerak kalian di atasnya, dan janganlah mengambil sikap menguji terhadap Pencipta kalian!