Mukadimah
Lem'alar · hlm. 131
Dua belas tahun yang lalu{(Catatan): Tanggal yang disebut “dua belas tahun yang lalu” adalah tahun 1340 Hijriah, 1921 Masehi.}, dengan inayah Rabbani, aku telah mencatat beberapa kilatan tauhid (lemaat tauhidiah) — yang muncul dalam suatu gerak pikiran dalam makrifat Ilahi, suatu perjalanan kalbu, dan suatu penyingkapan ruhani — dalam bentuk Nota, dalam bahasa Arab, di dalam risalah-risalah seperti Zühre, Şu'le, Habbe, Şemme, Zerre, dan Katre. Karena ia ditulis dengan cara memperlihatkan hanya satu ujung dari suatu hakikat yang panjang dan menampakkan hanya satu pancaran dari suatu cahaya yang cemerlang, dan karena ia hanya berupa catatan dan peringatan bagi diriku sendiri, maka manfaat bagi orang lain tetap terbatas. Khususnya, sebagian besar dari saudara-saudaraku yang paling istimewa lagi paling khusus tidak membaca bahasa Arab. Atas desakan dan permintaan mereka yang sangat, aku terpaksa menuliskan makna dari Nota-nota dan Lem'a-lem'a itu dalam bahasa Turki — sebagian dengan penjelasan dan sebagian secara ringkas. Nota-nota dan risalah-risalah Arab ini, karena merupakan hal yang mula-mula dilihat Said Baru dari ilmu hakikat sampai suatu derajat dalam bentuk penyaksian (syuhud), maka maknanya dituliskan tanpa diubah. Karena itu, beberapa kalimat yang disebutkan pula dalam Sözler lain, disebutkan juga di sini; dan sebagian, meskipun sangat ringkas, tidak dijelaskan agar tak kehilangan kehalusan aslinya.
NOTA PERTAMA:
Aku pernah berkata, ditujukan kepada nafsuku sendiri: Wahai Said yang lalai! Ketahuilah bahwa: tidaklah layak bagimu mengikatkan kalbumu pada sesuatu yang tak menyertaimu setelah fananya alam ini dan yang berpisah darimu dengan hancurnya dunia. Khususnya, mengikatkan kalbumu pada hal-hal fana yang meninggalkanmu dan berpaling darimu dengan berlalunya masamu, yang terlebih lagi tak menemanimu dalam perjalanan barzakh, yang terlebih lagi tak mengantarmu sampai ke pintu kubur, yang terlebih lagi dalam waktu satu-dua tahun berpisah darimu dengan perpisahan abadi lalu mengalungkan dosanya ke lehermu, yang terlebih lagi meninggalkanmu pada saat terwujudnya justru bertentangan dengan keinginanmu — bukanlah pekerjaan akal. Jika engkau berakal, tinggalkanlah urusan-urusan yang tergilas dan rusak di bawah pergolakan-pergolakan ukhrawi, keadaan-keadaan barzakhi, dan benturan-benturan pergolakan duniawi, serta yang tak mampu menemanimu dalam perjalanan abadi; jangan pedulikan ia, jangan bersedih atas kelenyapannya. Pandanglah hakikat dirimu: di antara lataif (perangkat halus)-mu ada suatu latifah yang tak dapat rida kecuali dengan keabadian dan Zat Yang Abadi. Ia tak dapat menghadap kepada selain-Nya, tak sudi merendah kepada selain-Nya. Seandainya seluruh dunia engkau berikan kepadanya, ia tak dapat memuaskan kebutuhan fitri itu. Adapun latifah itu adalah sultan bagi perasaan dan lataif-mu. Taatilah sultanmu itu, yang tunduk pada perintah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana, dan loloslah!..
NOTA KEDUA:
Dalam suatu mimpi yang berhakikat, aku melihat diriku berkata kepada manusia: “Wahai manusia! Termasuk dustur Al-Qur'an bahwa: janganlah engkau menyangka sesuatu pun dari selain Allah (masiwa) lebih besar daripada dirimu sampai derajat engkau menyembahnya. Dan janganlah engkau menganggap dirimu besar sampai derajat menyombongkan diri terhadap sesuatu pun. Karena sebagaimana makhluk itu setara dari sisi jauhnya dari sifat ketuhanan, mereka pun satu (setara) dalam kadar kemakhlukan.”
NOTA KETIGA:
Wahai Said yang lalai! Ketahuilah bahwa: karena suatu bentuk ilusi indra (galat hiss), engkau melihat dunia yang sangat sementara ini sebagai sesuatu yang tak mati lagi kekal. Tatkala engkau memandang sekelilingmu dan dunia, karena engkau melihatnya sampai suatu derajat tetap lagi terus-menerus, maka engkau pun menganggap nafsumu yang fana sebagai sesuatu yang tetap dengan pandangan itu; sehingga engkau hanya merasa ngeri terhadap terjadinya kiamat. Seakan-akan engkau akan hidup sampai terjadinya kiamat, engkau hanya takut akan hal itu. Sadarlah. Engkau dan dunia pribadimu terpapar pada pukulan kelenyapan dan kefanaan yang terus-menerus. Ilusi indra dan sofismemu ini menyerupai perumpamaan berikut:
Jika seseorang memegang cermin yang ada di tangannya menghadap ke sebuah rumah, sebuah kota, atau sebuah taman; maka sebuah rumah, kota, dan taman bayangan (mitsali) tampak di cermin itu. Jika suatu gerakan kecil dan perubahan kecil menimpa cermin itu, maka pada rumah, kota, dan taman bayangan itu terjadi kekacauan dan porak-poranda. Kelangsungan dan kekekalan rumah, kota, dan taman hakiki di luar tak memberimu manfaat. Karena rumah di cermin yang ada di tanganmu, serta kota dan taman yang menjadi milikmu, hanya ada dengan takaran dan timbangan yang diberikan cermin itu kepadamu. Hidupmu dan umurmu adalah cermin. Tiang, cermin, dan pusat duniamu adalah umur dan hidupmu. Karena setiap saat rumah, kota, dan taman itu mungkin mati dan mungkin hancur, maka setiap saat ia berada dalam keadaan yang akan runtuh menimpamu dan kiamatmu akan terjadi. Karena demikian; janganlah engkau membebani hidup dan duniamu ini dengan beban-beban yang tak dapat mereka pikul dan tanggung!..
NOTA KEEMPAT:
Ketahuilah bahwa: pada umumnya, sudah menjadi kebiasaan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana untuk mengembalikan hal-hal yang penting lagi berharga dengan zatnya sendiri. Yakni, pembaruan kebanyakan hal dengan yang serupa — dalam pergantian musim dan perubahan abad — mengembalikan hal-hal berharga lagi penting itu dengan zatnya sendiri. Pada seluruh kebangkitan harian, tahunan, dan abadi, kaidah sunnatullah ini pada umumnya tampak tetap. Nah, berdasarkan kaidah yang tetap ini kami katakan: Karena dengan kesepakatan sains dan kesaksian ilmu, buah paling sempurna dari pohon penciptaan adalah manusia. Dan yang paling penting di antara makhluk adalah manusia. Dan yang paling berharga di antara yang ada adalah manusia. Dan satu individu manusia berkedudukan seperti satu jenis dari hewan-hewan lain. Sudah pasti diputuskan dengan suatu firasat pasti bahwa, pada kebangkitan dan penyebaran terbesar, setiap individu manusia akan dikembalikan dengan zatnya, jasadnya, namanya, dan rupanya.
NOTA KELIMA:
Pada nota ini, karena sains dan peradaban Eropa telah bersemayam sampai suatu derajat dalam pikiran Said Lama, maka tatkala Said Baru mengembara dalam gerak-gerak pikiran, sains dan peradaban Eropa itu dalam perjalanan kalbu tersebut berubah menjadi penyakit-penyakit kalbu dan menjadi sumber kesulitan yang besar; karena itu, dengan terpaksa, tatkala Said Baru ingin mengguncang pikirannya dan membuang filsafat yang kotor serta peradaban yang bejat, untuk membungkam perasaan-perasaan nafsani yang bersaksi di dalam ruhnya demi keuntungan Eropa, ia terpaksa melakukan percakapan berikut dengan pribadi maknawi Eropa — yang dari satu sisi sangat singkat, dari sisi lain panjang.
Jangan disalahpahami: Eropa itu ada dua. Yang satu: aku tidak berbicara kepada Eropa pertama ini, yaitu yang — dengan limpahan (faidh) yang diambilnya dari agama Nasrani (Isawi) yang hakiki — mengikuti seni-seni yang bermanfaat bagi kehidupan sosial manusia serta sains-sains yang berkhidmat pada keadilan dan kebenaran. Melainkan aku berbicara kepada Eropa kedua yang rusak, yaitu yang — dengan kegelapan filsafat naturalis, dengan menyangka keburukan peradaban sebagai kebaikan — menggiring manusia ke kebejatan dan kesesatan. Yakni demikian:
Saat itu, dalam perjalanan ruhani itu, aku berkata kepada pribadi maknawi Eropa yang memegang filsafat sia-sia lagi berbahaya serta peradaban yang berbahaya lagi bejat — selain dari kebaikan-kebaikan peradaban dan sains-sains yang bermanfaat:
Ketahuilah, wahai Eropa kedua! Engkau dengan tangan kananmu memegang suatu filsafat yang sakit lagi sesat, dan dengan tangan kirimu memegang suatu peradaban yang bejat lagi berbahaya, lalu mengklaim bahwa kebahagiaan manusia ada pada keduanya. Semoga kedua tanganmu ini patah, dan semoga kedua hadiah kotormu ini memakan kepalamu — dan ia akan memakannya.
Wahai ruh celaka yang mencerai-beraikan dan menyebarkan kekufuran serta kekufuran nikmat! Mungkinkah kebahagiaan itu mungkin bagi seseorang yang — pada ruhnya, hati nuraninya, akalnya, dan kalbunya — tertimpa musibah yang dahsyat lagi jatuh ke dalam azab, hanya karena jasadnya berada di dalam suatu hiasan dan kekayaan yang menipu secara lahiriah? Dapatkah ia disebut bahagia? Tidakkah engkau melihat bahwa tatkala seseorang berputus asa dari suatu perkara kecil, terputus harapannya dari suatu angan-angan semu, dan tertimpa kekecewaan dari suatu urusan tak berarti, maka khayalan-khayalan manis menjadi pahit baginya, keadaan-keadaan indah menyiksanya, dunia terasa sempit baginya dan menjadi penjara? Padahal dengan kesialanmu, kebahagiaan apa yang engkau berikan kepada manusia malang yang — di sudut kalbunya yang paling dalam dan di dasar ruhnya — menerima pukulan kesesatan, yang seluruh angan-angannya terputus akibat kesesatan itu, dan yang seluruh kepedihannya lahir darinya? Dapatkah seseorang yang jasadnya berada di dalam surga dusta yang fana, sedangkan kalbu dan ruhnya menderita azab di neraka, disebut bahagia? Nah, engkau telah menyesatkan manusia malang demikian, membuatnya menderita azab neraka di dalam surga dusta.
Wahai nafsu amarah manusia! Pandanglah perumpamaan ini, ketahuilah ke mana engkau menggiring manusia. Misalnya, di hadapan kita ada dua jalan. Kita berjalan di salah satunya. Kita melihat bahwa di setiap langkah terdapat seorang malang yang tak berdaya. Para penindas menyerang, merampas harta dan barangnya, menghancurkan gubuknya, kadang pula melukainya. Dengan cara yang demikian sehingga langit menangisi keadaannya yang mengibakan. Ke mana pun dipandang, keadaan berjalan di atas pola ini. Karena suara-suara yang terdengar di jalan itu adalah gemuruh para penindas dan tangisan para terzalimi, maka suatu duka umum menyelimuti jalan itu. Karena manusia, dari sisi kemanusiaannya, tersakiti oleh kepedihan orang lain, ia terjerat dalam kepedihan yang tak terhingga. Padahal karena hati nurani tak dapat menanggung penderitaan sampai derajat ini; orang yang berjalan di jalan itu terpaksa memilih salah satu dari dua hal. Entah menanggalkan kemanusiaan dan memeluk kebiadaban yang tak berkesudahan, sehingga ia memikul kalbu yang sedemikian rupa hingga kebinasaan orang banyak — bersama keselamatan dirinya sendiri — tak menyakitinya; atau ia membatalkan tuntutan kalbu dan akal.
Wahai Eropa yang rusak oleh kebejatan dan kesesatan serta menjauh dari agama Nasrani! Dengan kecerdasan buta yang bermata satu laksana Dajjal, engkau telah menghadiahkan keadaan neraka ini kepada ruh manusia! Kemudian engkau memahami bahwa: ini adalah suatu penyakit tanpa obat, yang melemparkan manusia dari puncak 'illiyyîn ke dasar safilin. Ia menurunkan manusia ke derajat hewan yang paling celaka. Obat yang engkau temukan terhadap penyakit ini adalah mainan-mainan yang memikat serta hawa nafsu dan fantasi yang membuai — yang secara sementara menjalankan tugas membius indra. Semoga obatmu ini memakan kepalamu — dan ia akan memakannya! Nah, jalan yang engkau buka bagi manusia dan kebahagiaan yang engkau berikan menyerupai perumpamaan ini.
Adapun jalan kedua yang dihadiahkan Al-Qur'an Al-Hakim kepada manusia dengan hidayahnya, adalah demikian: Kita melihat bahwa di setiap persinggahan, setiap tempat, dan setiap kota jalan itu, tentara-tentara yang lurus dari suatu Sultan Yang Mahaadil berada di segala penjuru, berkeliling. Sesekali, dengan perintah Sultan itu, sebagian tentara itu didemobilisasi. Senjata, kuda, dan perlengkapan negara mereka diambil, dan kepada mereka diberikan surat izin. Para prajurit yang didemobilisasi itu, meskipun secara lahiriah bersedih karena senjata dan kuda yang telah mereka akrabi diambil, namun dari sisi hakikat mereka bergembira dengan demobilisasi itu dan sangat senang karena akan kembali menghadap Sultan, kembali ke ibu kota raja, dan menziarahi raja. Kadang para petugas demobilisasi bertemu dengan seorang prajurit baru yang belum berpengalaman. Prajurit itu tak mengenal mereka. Mereka berkata, “Serahkan senjatamu!” Prajurit itu berkata, “Aku adalah tentara raja, aku dalam khidmatnya; nanti aku akan pergi ke hadapannya. Siapakah kalian? Jika kalian datang dengan izin dan keridaannya, selamat datang dengan hormat, perlihatkanlah perintahnya; jika tidak, menyingkirlah, menjauhlah dariku. Meskipun aku seorang diri dan kalian ribuan, aku tetap akan melawan kalian. Bukan demi nafsuku, karena nafsuku bukan milikku, melainkan milik Sultanku. Bahkan nafsu dan senjata yang ada padaku adalah amanah dari Pemilikku. Untuk menjaga amanah, melindungi kehormatan Sultanku, dan memelihara kemuliaan-Nya, aku tak akan menundukkan kepala kepada kalian!”
Nah, di antara ribuan keadaan yang menjadi sumber sukacita dan kebahagiaan di jalan kedua itu, keadaan ini hanyalah satu contoh. Bandingkanlah keadaan-keadaan lain dengannya. Sepanjang perjalanan jalan kedua itu, terdapat suatu pengerahan dan pemberangkatan militer dengan kegembiraan dan sukacita yang bernama “kelahiran” (tevellüdat); dan tampak suatu demobilisasi militer dengan sukacita dan musik yang bernama “kematian” (vefiyat). Nah, Al-Qur'an Al-Hakim telah menghadiahkan jalan ini kepada manusia. Siapa yang menerima hadiah ini dengan sempurna, ia berjalan di jalan kedua yang menuju kebahagiaan dua dunia ini. Ia tak bersedih atas hal yang telah lalu dan tak takut akan hal yang akan datang.
Wahai Eropa kedua yang rusak! Sebagian dari asas-asasmu yang lapuk lagi tak berdasar adalah demikian: “Setiap makhluk hidup, dari malaikat terbesar sampai ikan terkecil, memiliki dirinya sendiri, bekerja untuk zatnya sendiri, dan berjuang untuk kelezatannya sendiri. Ia memiliki suatu hak hidup. Tujuan kesungguhannya dan sasaran maksudnya adalah hidup dan menjamin kelangsungannya,” katamu. Dan tajalli yang penuh rahmat lagi kemuliaan dari kanun umum itu — yang tampak dari dustur tolong-menolong yang termasuk dustur kemuliaan Sang Pencipta Yang Mahamulia dan yang dipatuhi dengan ketaatan sempurna oleh rukun-rukun alam semesta, yaitu bergegasnya tumbuhan menolong hewan dan hewan menolong manusia — engkau sangka sebagai pertikaian, lalu engkau memutuskan secara dungu, “Kehidupan adalah suatu pertikaian.” Apakah bergegasnya atom-atom makanan dengan penuh semangat untuk memberi gizi kepada sel-sel tubuh — yang merupakan tajalli dari dustur tolong-menolong itu — merupakan suatu pertikaian? Bagaimana ia suatu pertempuran? Melainkan pertolongan dan bergegas itu adalah suatu tolong-menolong dengan perintah suatu Rabb Yang Mahamulia.
Dan sebagai asas yang lapuk, engkau berkata, “Segala sesuatu memiliki dirinya sendiri.” Dalil pasti bahwa tak ada satu pun yang memiliki dirinya sendiri adalah demikian: Di antara sebab-sebab, yang paling mulia dan yang paling luas kehendaknya dari sisi pilihan (ikhtiar) adalah manusia. Padahal dari seratus bagian perbuatan ikhtiari manusia yang paling zahir seperti berpikir, berbicara, dan makan, yang diserahkan ke tangan pilihannya dan masuk ke dalam lingkaran kemampuannya hanyalah satu bagian yang meragukan. Orang yang tak memiliki bahkan satu bagian dari seratus bagian perbuatan yang paling zahir seperti itu, bagaimana dikatakan ia memiliki dirinya sendiri? Jika makhluk yang paling mulia lagi paling luas pilihannya seperti itu pun tangannya terikat dari tasarruf dan kepemilikan hakiki sampai derajat ini; maka orang yang berkata “Hewan-hewan dan benda-benda mati lainnya memiliki dirinya sendiri” membuktikan bahwa ia lebih hewan daripada hewan dan lebih mati serta lebih tak berkesadaran daripada benda mati.
Yang melemparkanmu ke kesalahan ini dan menjatuhkanmu ke jurang ini adalah kecerdasan bermata satu. Yakni kejeniusan yang ajaib lagi sial. Dengan kecerdasan buta itu, engkau melupakan Rabb-mu yang merupakan Pencipta segala sesuatu, menyandarkannya pada suatu alam (tabiat) yang khayali, memberikan karya-karya-Nya kepada sebab-sebab, dan membagi milik Sang Pencipta itu kepada tagut-tagut yang merupakan sembahan batil. Pada titik ini, dalam pandangan kecerdasan itu, setiap makhluk hidup, setiap manusia, harus bertahan seorang diri menghadapi musuh yang tak terhingga dan berjuang memenuhi kebutuhan yang tak berkesudahan. Dan dengan kemampuan sebesar atom, kehendak setipis benang, kesadaran laksana kilatan yang lenyap, kehidupan laksana nyala yang cepat padam, dan umur laksana menit yang cepat berlalu, ia terpaksa bertahan menghadapi musuh dan kebutuhan yang tak terhingga itu. Padahal modal makhluk hidup yang malang itu tak cukup bahkan untuk salah satu dari ribuan keinginannya. Tatkala tertimpa musibah, ia tak mengharap obat bagi deritanya selain dari sebab-sebab yang tuli lagi buta, dan ia menjadi tempat tertuju rahasia وَمَا دُعَٓاءُ الْكَافِر۪ينَ اِلاَّ ف۪ى ضَلاَلٍ.
Kecerdasanmu yang gelap telah mengubah siang jenis manusia menjadi malam. Untuk menghangatkan mereka pada malam yang penuh kesulitan, kezaliman, lagi kegelapan itu; engkau meneranginya dengan lampu-lampu dusta lagi sementara. Lampu-lampu itu tak tersenyum dengan sukacita ke wajah manusia. Melainkan cahaya-cahaya itu tertawa mengejek dan bersenang-senang atas tawa dungu manusia dalam keadaan-keadaannya yang menyedihkan lagi pahit. Setiap makhluk hidup, dalam pandangan murid-muridmu, adalah orang-orang malang yang tertimpa musibah, terpapar serangan para penindas. Dunia adalah suatu rumah duka umum. Suara-suara di dunia adalah jeritan yang datang dari kematian dan kepedihan. Murid yang benar-benar mengambil pelajaran darimu menjadi seorang firaun. Namun ia adalah firaun yang hina, yang menyembah hal yang paling remeh dan menganggap segala sesuatu yang memberinya manfaat sebagai tuhannya. Dan muridmu adalah pembangkang. Namun ia adalah pembangkang malang yang demi suatu kelezatan menerima kehinaan yang tak berkesudahan. Demi manfaat yang remeh, ia memperlihatkan kerendahan sampai derajat mencium kaki setan. Dan ia adalah penindas. Namun karena tak menemukan suatu titik sandaran di kalbunya, pada zatnya ia adalah penindas yang membanggakan diri lagi sangat tak berdaya. Tujuan kesungguhan murid itu adalah memuaskan hawa nafsu, dan ia adalah seorang penipu ulung yang di balik tabir semangat dan pengorbanan mencari kepentingan nafsunya sendiri serta berupaya menenangkan ketamakan dan kesombongannya. Ia tak mencintai apa pun secara sungguh-sungguh selain nafsunya. Ia mengorbankan segala sesuatu untuk nafsunya.
Adapun murid Al-Qur'an yang tulus lagi sempurna, ia adalah seorang hamba. Namun ia adalah hamba yang mulia (abdun aziz), yang tak sudi merendahkan diri untuk beribadah bahkan kepada makhluk terbesar sekalipun, dan yang tak menjadikan suatu manfaat terbesar seperti Surga sebagai tujuan ibadah. Dan ia lembut lagi santun. Namun ia adalah orang lembut yang bercita-cita tinggi, yang tak sudi merendahkan diri kepada selain Sang Pencipta Yang Mahaagung tanpa izin dan perintah-Nya. Dan ia fakir. Namun ia adalah fakir yang berkecukupan (mustaghni), dengan pahala yang disimpan Pemiliknya Yang Mahamulia untuknya di masa depan. Dan ia lemah. Namun ia adalah orang lemah yang kuat, yang bersandar pada kekuatan Tuannya yang kudrat-Nya tak terhingga; karena Al-Qur'an, padahal ia tak menjadikan bahkan surga abadi sebagai tujuan maksud bagi murid hakikinya, apakah ia akan menjadikan dunia fana yang lenyap ini sebagai tujuan maksudnya? Nah, pahamilah betapa jauh berbedanya kesungguhan kedua murid itu satu sama lain!
Dan kalian dapat menimbang semangat dan pengorbanan murid-murid filsafat yang sakit dengan murid-murid Al-Qur'an Al-Hakim melalui ini. Yakni demikian:
Murid filsafat lari dari saudaranya demi nafsunya sendiri, dan mengajukan gugatan terhadapnya. Adapun murid Al-Qur'an menganggap seluruh hamba yang saleh di langit dan bumi sebagai saudaranya, mendoakan mereka dengan sangat tulus, berbahagia dengan kebahagiaan mereka, dan merasakan suatu hubungan yang kuat terhadap mereka di dalam ruhnya. Dan ia menganggap sesuatu yang terbesar seperti Arasy dan Matahari sebagai petugas yang tunduk dan sebagai hamba serta makhluk seperti dirinya.
Dan bandingkanlah keluhuran serta kelapangan ruh kedua murid itu dari ini: Al-Qur'an memberi ruh murid-muridnya suatu kelapangan dan keluhuran sedemikian rupa sehingga — sebagai ganti tasbih yang berbiji sembilan puluh sembilan — ia memberikan ke tangan murid-muridnya atom-atom dari sembilan puluh sembilan alam yang memperlihatkan tajalli sembilan puluh sembilan Nama Ilahi, sebagai biji-biji tasbih. Ia berkata, “Bacalah wirid kalian dengan ini.” Nah, dengarkanlah dan pandanglah murid-murid Al-Qur'an seperti Syah Gailani, Rufa'i, dan Syadzili (r.a.) tatkala mereka membaca wirid mereka! Mereka memegang rangkaian atom di tangan mereka — sebanyak jumlah tetesan air, sebanyak jumlah napas makhluk — lalu membaca wirid mereka dengannya. Mereka berzikir dan bertasbih kepada Allah. Nah, pandanglah tarbiah Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya yang penuh mukjizat: Betapa manusia kecil ini — yang kepalanya pusing lagi limbung oleh suatu kesedihan yang remeh dan suatu duka yang kecil, dan yang dikalahkan oleh suatu mikroba kecil — dengan tarbiah Al-Qur'an meninggi sedemikian rupa. Dan lataifnya melapang sedemikian rupa sehingga: ia memandang seluruh isi dunia yang besar terlalu kecil untuk menjadi tasbih dalam wiridnya. Dan padahal ia memandang Surga terlalu kecil untuk menjadi tujuan zikir dan wiridnya, ia tak menganggap nafsunya lebih besar daripada makhluk Allah yang paling remeh. Ia menghimpun kerendahan hati yang tak berkesudahan di dalam kemuliaan yang tak berkesudahan. Engkau dapat membandingkan betapa rendah dan hinanya murid-murid filsafat dibandingkan dengan ini.
Nah, hakikat-hakikat yang dilihat keliru oleh kejeniusan bermata satu dari filsafat Eropa yang sakit; petunjuk Qur'ani (huda Qur'ani) — yang memandang dua dunia, yang menatap dua alam dengan dua matanya yang cemerlang lagi mengenal gaib, dan yang menunjuk dua kebahagiaan bagi manusia dengan dua tangannya — berkata: “Wahai manusia! Nafsu dan harta yang ada di tanganmu bukanlah milikmu, melainkan amanah bagimu. Pemilik amanah itu adalah Yang Maha Pengasih lagi Mahamulia (Rahîm Karîm), yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Dia ingin membeli milik-Nya yang ada padamu itu darimu. Agar Dia menjaganya untukmu, agar ia tak hilang. Di masa depan Dia akan memberimu harga yang besar. Engkau adalah seorang tentara yang diberi tugas lagi ditugaskan. Bekerjalah atas nama-Nya dan beramallah atas perhitungan-Nya. Dialah yang mengirim kepadamu sebagai rezeki hal-hal yang engkau butuhkan dan menjagamu dari hal-hal yang tak sanggup engkau tanggung. Tujuan dan hasil hidupmu ini adalah menjadi tempat kemunculan (mazhar) bagi nama-nama dan keadaan-keadaan (syu'ûnat) Pemilik itu. Tatkala suatu musibah datang kepadamu, katakanlah: اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّٓا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ Yakni: Aku dalam khidmat Pemilikku. Wahai musibah! Jika engkau datang dengan izin dan keridaan-Nya, selamat datang, dengan senang hati! Karena sudah pasti suatu waktu kita akan kembali kepada-Nya dan pergi ke hadirat-Nya, dan kita rindu kepada-Nya. Karena bagaimanapun juga suatu waktu Dia akan membebaskan kita dari beban-beban kehidupan. Baiklah, wahai musibah! Demobilisasi dan pembebasan itu, biarlah dengan tanganmu, aku rida. Namun jika Dia memerintahkan dan menghendakimu dalam bentuk ujian atas penjagaanku terhadap amanah dan atas ketekunanku menjalankan tugas, tetapi tanpa izin dan keridaan-Nya bagiku untuk menyerah kepadamu; maka selama kekuatanku masih ada, aku tak akan menyerahkan amanah Pemilikku kepada yang tak dapat dipercaya!” demikian ia berkata.
Nah, sebagai satu contoh dari seribu, pandanglah tingkatan pelajaran yang diberikan kejeniusan filsafat dan petunjuk Qur'ani. Ya, hakikat keadaan kedua pihak berjalan dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun tingkatan manusia dalam hidayah dan kesesatan berbeda-beda. Tingkatan kelalaian bermacam-macam. Tak setiap orang pada setiap tingkatan dapat merasakan hakikat ini sepenuhnya. Karena kelalaian membatalkan rasa. Dan pada masa ini ia telah membatalkan rasa sampai derajat sedemikian rupa sehingga ahli peradaban tak merasakan pahitnya kepedihan yang menyakitkan ini. Namun dengan bertambahnya kepekaan ilmiah dan dengan peringatan kematian yang memperlihatkan tiga puluh ribu jenazah setiap hari, tabir kelalaian itu terkoyak. Ribuan kutukan dan penyesalan bagi mereka yang pergi ke kesesatan dengan tagut-tagut bangsa asing dan sains-sains naturalis mereka, serta bagi mereka yang meniru dan mengikuti mereka secara membabi buta!
Wahai para pemuda tanah air ini! Janganlah kalian berupaya meniru orang Barat (Frank)! Setelah kezaliman dan permusuhan tak terhingga yang dilakukan Eropa terhadap kalian, dengan akal manakah kalian mengikuti pikiran-pikiran mereka yang bejat lagi batil lalu memercayai mereka? Tidak! Tidak! Orang-orang yang meniru secara bejat, itu bukanlah mengikuti; melainkan tanpa sadar bergabung ke barisan mereka, lalu mengeksekusi diri kalian sendiri dan saudara-saudara kalian. Sadarlah bahwa, selama kalian mengikuti secara tak berakhlak, kalian berdusta dalam dakwaan semangat (hamiyah)!.. Karena dalam bentuk demikian, ikutan kalian adalah suatu penghinaan terhadap kebangsaan kalian dan suatu ejekan terhadap bangsa!.. هَدٰينَا اللّٰهُ وَ اِيَّاكُمْ اِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَق۪يمِ
NOTA KEENAM:
Wahai manusia malang yang panik dan rusak keyakinannya oleh banyaknya orang kafir dan oleh kesepakatan mereka dalam mengingkari sebagian hakikat keimanan! Ketahuilah bahwa: nilai dan kepentingan tidak terletak pada kuantitas dan banyaknya jumlah. Karena manusia, jika ia bukan manusia (sejati), setan akan berubah menjadi seekor hewan. Manusia, sebagaimana sebagian orang Barat dan orang yang bertabiat kebaratan, semakin maju dalam nafsu-nafsu kehewanan, semakin mengambil derajat kehewanan yang lebih dahsyat. Engkau melihat bahwa: padahal hewan memiliki jumlah yang tak terhingga dari sisi kuantitas dan bilangan, sedangkan manusia sangat sedikit dibandingkannya, namun manusia menjadi sultan, khalifah, dan penguasa atas seluruh jenis hewan. Nah, orang-orang kafir yang berbahaya dan orang-orang bejat yang berjalan di jalan orang kafir adalah suatu jenis makhluk keji dari hewan-hewan Allah, yang Sang Pencipta Yang Mahabijaksana ciptakan untuk kemakmuran dunia. Untuk memberitahukan kepada hamba-hamba mukmin-Nya tingkatan nikmat yang Dia berikan, Dia menjadikan mereka suatu satuan pembanding (wahid qiyasi), lalu pada akhirnya menyerahkan mereka ke Neraka yang mereka layak menerimanya.
Nah, dalam pengingkaran dan peniadaan orang-orang kafir serta ahli kesesatan terhadap suatu hakikat keimanan tak ada kekuatan. Karena kesepakatan mereka, dengan rahasia peniadaan, tak berkekuatan. Seribu yang meniadakan berkedudukan seperti satu. Misalnya: seandainya seluruh penduduk Istanbul, pada awal Ramadan, karena tak melihat Bulan lalu meniadakannya, maka dengan pembuktian dua saksi, peniadaan dan kesepakatan orang banyak itu pun runtuh. Karena mahiyat kekufuran dan kesesatan adalah peniadaan, pengingkaran, kebodohan, dan ketiadaan; maka kesepakatan orang-orang kafir dengan kebanyakan jumlah tak berarti. Adapun hukum dua orang mukmin — yang bersandar pada penyaksian dalam masalah-masalah keimanan yang benar, tetap, lagi terbukti keberadaannya — lebih unggul dan mengalahkan kesepakatan ahli kesesatan yang tak terhingga itu.
Rahasia hakikat ini adalah demikian: Dakwaan orang-orang yang meniadakan, meskipun secara lahiriah satu, sebenarnya berbilang; ia tak dapat bersatu satu sama lain sehingga menjadi kuat. Adapun dakwaan orang-orang yang menetapkan bersatu, saling mengambil kekuatan satu sama lain. Karena orang yang tak melihat hilal Ramadan di langit berkata, “Menurut pandanganku, Bulan tak ada; ia tak tampak di sisiku.” Yang lain pun berkata, “Menurut pandanganku ia tak ada.” Yang lain lagi berkata demikian pula. Masing-masing berkata “tak ada” menurut pandangannya sendiri. Karena pandangan masing-masing berbeda-beda dan sebab-sebab yang menjadi tabir bagi pandangan pun dapat berbeda-beda, maka dakwaan mereka pun berbeda-beda; ia tak dapat saling memberi kekuatan. Namun orang-orang yang menetapkan tak berkata, “Menurut pandangan dan mataku ada hilal.” Melainkan mereka berkata, “Dalam kenyataan (nafsul-amr), di wajah langit ada hilal, ia tampak.” Semua orang yang melihatnya menyatakan dakwaan yang sama dan berkata, “Dalam kenyataan ia ada.” Artinya, semua dakwaan itu satu. Karena pandangan orang-orang yang meniadakan berbeda-beda, dakwaan mereka pun berbeda-beda. Mereka tak dapat memutuskan atas kenyataan (nafsul-amr). Karena dalam kenyataan, peniadaan tak dapat dibuktikan. Karena diperlukan peliputan (ihatah). وَ الْعَدَمُ الْمُطْلَقُ لاَ يُثْبِتُ اِلاَّ بِمُشْكِلاَتٍ عَظ۪يمَةٍ adalah suatu kaidah usul. Ya, jika engkau berkata sesuatu ada di dunia, cukuplah memperlihatkan sesuatu itu saja. Namun jika engkau berkata tak ada dan meniadakannya, maka harus mengayak dan memperlihatkan seluruh dunia, agar peniadaan itu terbukti.
Nah, berdasarkan rahasia inilah; peniadaan ahli kekufuran terhadap suatu hakikat menyerupai menyelesaikan suatu masalah, atau melewati suatu lubang sempit, atau melompati suatu parit; yang seribu pun, yang satu pun, sama saja. Karena mereka tak dapat saling menolong. Namun orang-orang yang menetapkan, karena mereka memandang hakikat keadaan dalam kenyataan, dakwaan mereka bersatu. Kekuatan mereka saling menolong. Ia menyerupai mengangkat sebuah batu besar, yang semakin banyak tangan yang memegangnya, semakin mudah mengangkatnya, dan mereka saling mengambil kekuatan.
NOTA KETUJUH:
Wahai penjaja semangat (hamiyah) yang celaka, yang dengan keras mendorong kaum muslimin ke dunia dan dengan paksa menggiring mereka ke seni serta kemajuan bangsa asing! Berhati-hatilah, jangan sampai ikatan yang menghubungkan sebagian bangsa ini dengan agama terputus! Jika dengan gada-gada yang dungu lagi membabi buta seperti itu ikatan agama sebagian orang terputus, maka saat itu orang-orang tak beragama itu akan memberi kerugian dalam kehidupan sosial berkedudukan sebagai racun pembunuh. Karena hati nurani orang murtad rusak total, ia menjadi racun bagi kehidupan sosial. Karena itulah dalam ilmu usul terdapat suatu dustur usul syariat: “Orang murtad tak memiliki hak hidup. Adapun orang kafir, jika ia zimmi atau mengadakan perdamaian, ia memiliki hak hidup.” Dan dalam mazhab Hanafi, kesaksian seorang kafir dari kalangan ahli zimmah dapat diterima. Namun orang fasik ditolak kesaksiannya, karena ia pengkhianat.
Wahai orang fasik yang celaka! Janganlah tertipu dengan melihat banyaknya orang fasik dan janganlah berkata, “Pikiran mayoritas bersamaku!” Karena orang fasik tak masuk ke dalam kefasikan dengan menginginkan dan menuntutnya secara langsung; melainkan ia terjerumus ke dalamnya dan tak dapat keluar. Tak ada satu pun orang fasik yang tak mendambakan dirinya menjadi saleh dan tak ingin melihat pemimpin serta atasannya sebagai orang yang beragama. Kecuali — kita berlindung kepada Allah — jika dengan kemurtadan hati nuraninya membusuk, sehingga ia mengambil kelezatan dari meracuni laksana ular.
Wahai kepala yang gila dan kalbu yang rusak!
Apakah engkau menyangka bahwa “Kaum muslimin tak mencintai dunia atau tak memikirkannya, sehingga mereka jatuh miskin dan butuh diperingatkan; agar mereka tak melupakan bagiannya dari dunia”? Sangkaanmu keliru, dugaanmu salah. Melainkan ketamakan telah menjadi-jadi, karena itulah mereka jatuh miskin. Karena pada seorang mukmin, ketamakan adalah sebab kerugian dan kesengsaraan. اَلْحَر۪يصُ خَائِبٌ خَاسِرٌ telah menjadi peribahasa.
Ya, sebab-sebab yang memanggil dan menggiring manusia ke dunia banyak. Ada banyak penyeru, seperti — di barisan depan — nafsu dan hawanya, kebutuhan, indra, perasaan, setan, manisnya dunia yang lahiriah, dan teman-teman buruk sepertimu. Padahal yang menyeru ke akhirat yang kekal dan kehidupan abadi yang panjang itu sedikit. Jika padamu ada semangat (hamiyah) sebesar atom terhadap bangsa malang ini, dan jika keluhuran cita-cita yang engkau bualkan itu bukan dusta, maka seharusnya engkau menolong yang sedikit — yang membantu kehidupan kekal. Kalau tidak, jika engkau membungkam para penyeru yang sedikit itu lalu menolong yang banyak, engkau menjadi teman setan.
Apakah engkau menyangka bahwa kemiskinan bangsa ini lahir dari suatu zuhud yang datang dari agama dan suatu kemalasan yang datang dari meninggalkan dunia? Engkau salah dalam sangkaan ini. Tidakkah engkau melihat bahwa bangsa-bangsa yang masuk ke bawah cengkeraman Eropa — seperti Majusi dan Brahmana di Cina dan India serta orang-orang kulit hitam di Afrika — lebih miskin daripada kita? Dan tidakkah engkau melihat bahwa tak dibiarkan di tangan kaum muslimin lebih dari makanan pokok yang darurat? Entah para penindas kafir Eropa, entah kaum munafik Asia, dengan tipu daya mereka mencuri atau merampasnya.
Maksud kalian dalam menggiring ahli iman secara paksa ke peradaban tanpa mim (yaitu ‘kehinaan’) seperti ini — jika ia adalah ketertiban, keamanan, dan kemudahan pengelolaan di negeri — ketahuilah secara pasti bahwa; kalian salah, kalian menggiring ke jalan yang keliru. Karena mengelola seratus orang fasik yang akidahnya goyah lagi akhlaknya rusak dan menjamin ketertiban di antara mereka, lebih sulit daripada mengelola ribuan ahli kesalehan.
Nah, berdasarkan asas-asas inilah, ahli Islam tak membutuhkan penggiringan dan dorongan ke dunia serta ketamakan. Kemajuan dan ketertiban tak terjamin dengan itu. Melainkan mereka membutuhkan penataan usaha mereka, penegakan keamanan di antara mereka, dan pemudahan dustur tolong-menolong. Kebutuhan ini pun terpenuhi dengan perintah-perintah suci agama, dengan takwa, dan dengan keteguhan agama.
NOTA KEDELAPAN:
Wahai manusia pemalas yang tak mengetahui kelezatan dan kebahagiaan dalam usaha dan amal! Ketahuilah bahwa:
Allah, dari kesempurnaan kemuliaan-Nya, telah menyisipkan pahala khidmat di dalam khidmat itu sendiri. Dia meletakkan upah amal di dalam amal itu sendiri. Nah, karena rahasia inilah, segala yang ada — bahkan dari suatu sudut pandang benda-benda mati pun — dalam tugas-tugas khusus yang disebut perintah-perintah takwini, mematuhi perintah-perintah Rabbani dengan penuh semangat dan suatu macam kelezatan. Mulai dari lebah, lalat, dan ayam, sampai Matahari dan Bulan, segala sesuatu bekerja dalam tugasnya dengan kelezatan yang sempurna. Artinya, dalam khidmat mereka ada suatu kelezatan, sehingga — karena mereka tak berakal — tanpa memikirkan akibat dan hasil, mereka menunaikan tugasnya dengan sempurna.
Jika engkau berkata:
Kelezatan mungkin pada makhluk hidup, bagaimana mungkin ada semangat dan kelezatan pada benda mati?
Jawaban:
Benda-benda mati menginginkan dan mencari suatu kehormatan, suatu kedudukan, suatu kesempurnaan, suatu keindahan, dan suatu ketertiban — bukan atas perhitungan diri mereka sendiri, melainkan atas perhitungan nama-nama Ilahi yang bertajalli pada mereka. Dalam mematuhi tugas fitri itu, karena mereka berpindah menjadi cermin dan pantulan bagi nama-nama Nur segala cahaya (Nûrul-Anwâr), mereka bercahaya dan meninggi. Misalnya: sebagaimana setetes air atau sekerat kaca kecil, pada zatnya tanpa cahaya lagi tak berarti; namun jika ia memalingkan wajahnya kepada Matahari dengan kalbu yang bening, maka saat itu tetesan dan kerat kaca yang tak berarti lagi tanpa cahaya itu menjadi suatu bentuk singgasana Matahari dan tersenyum pula ke wajahmu. Nah, seperti perumpamaan ini, atom-atom dan segala yang ada — dengan menjadi cermin bagi nama-nama Zat Yang Mahaagung Pemilik keindahan mutlak dan kesempurnaan mutlak, dari sisi ketekunan menjalankan tugas — naik dari suatu derajat yang sangat rendah ke suatu derajat kemunculan dan pencahayaan yang sangat tinggi, seperti tetesan dan kerat kaca kecil itu. Karena dari sisi tugas mereka mengambil suatu kedudukan yang sangat bercahaya lagi tinggi; jika kelezatan mungkin dan boleh — yakni jika mereka mengambil bagian dari kehidupan umum — dapat dikatakan bahwa mereka menjalankan tugas-tugas itu dengan kelezatan yang sangat besar.
Dalil yang paling zahir bahwa dalam tugas terdapat kelezatan: pandanglah khidmat anggota tubuh dan indramu sendiri. Masing-masing memiliki kelezatan yang berbeda-beda dalam khidmat yang mereka lakukan demi kelangsungan diri dan kelangsungan jenis. Khidmat itu sendiri berpindah menjadi suatu kenikmatan bagi mereka. Bahkan meninggalkan khidmat adalah suatu bentuk azab bagi anggota tubuh itu.
Dan suatu dalil yang paling zahir pula adalah sikap penuh pengorbanan lagi jantan yang diperlihatkan hewan seperti ayam jantan atau induk ayam yang beranak dalam tugasnya; ayam jantan, padahal ia lapar, mengutamakan ayam-ayam betina di atas dirinya dan memanggil mereka ke rezeki yang ia temukan; ia tak makan, ia memberi mereka makan. Dan tampak bahwa ia menjalankan tugas itu dengan suatu semangat, kebanggaan, dan kelezatan. Artinya, dalam khidmat itu ia mengambil kelezatan yang lebih besar daripada makan.
Dan induk ayam yang menggembalakan anak-anaknya yang kecil pun mengorbankan ruhnya demi anak-anaknya, melemparkan diri ke anjing. Ia membiarkan dirinya lapar dan mengenyangkan mereka. Artinya, dalam khidmat itu ia mengambil kelezatan sedemikian rupa sehingga; ia lebih mengutamakannya di atas perihnya lapar dan pedihnya kematian, ia melampauinya. Para induk hewan berupaya melindungi anak-anaknya dengan kelezatan tatkala anak-anaknya masih kecil karena ada tugas; setelah besar, tugas itu terangkat, kelezatan pun pergi. Ia memukul anaknya dan mengambil biji dari tangannya. Hanya saja, tugas para induk dari jenis manusia berlangsung sampai suatu derajat. Karena pada manusia, dari sisi kelemahan dan ketidakberdayaan, selalu ada suatu bentuk kekanak-kanakan, dan setiap waktu ia butuh kasih sayang. Nah, pandanglah para pejantan yang menggembala seperti ayam jantan dan para induk seperti ayam betina dari seluruh hewan, lalu pahamilah bahwa; mereka tidak menjalankan tugas itu atas perhitungan diri mereka, atas nama diri mereka, demi kesempurnaan diri mereka. Karena mereka mengorbankan hidup mereka dalam tugas jika perlu. Melainkan mereka menjalankan tugas mereka atas perhitungan Sang Pemberi Nikmat Yang Mahamulia (Mun'im Karîm) — yang menugaskan mereka dengan tugas itu dan menyisipkan suatu kelezatan dengan rahmat-Nya di dalam tugas itu — dan atas nama Sang Pencipta Yang Mahaagung.
Dan suatu dalil bahwa dalam khidmat itu sendiri terdapat upah adalah demikian: Tumbuhan dan pepohonan mematuhi perintah-perintah Sang Pencipta Yang Mahaagung dengan suatu sikap yang memperlihatkan semangat dan kelezatan. Karena aroma-aroma indah yang mereka sebarkan, hiasan-hiasan yang menghias mereka untuk menarik pandangan para “pembeli”, serta pengorbanan diri mereka sampai membusuk demi bulir dan buah mereka, memperlihatkan kepada ahli kecermatan bahwa: mereka memiliki suatu kelezatan dari mematuhi perintah Ilahi sedemikian rupa sehingga; ia melenyapkan dan membusukkan dirinya.
Lihatlah, pohon-pohon berbuah seperti kelapa dan tin yang membawa banyak “kaleng susu” di puncaknya, dengan lisan keadaan meminta dan mengambil suatu makanan terindah seperti susu dari perbendaharaan rahmat, lalu memberikannya kepada buah-buahnya; sedangkan ia sendiri memakan lumpur. Pohon delima mengambil suatu minuman yang jernih dari perbendaharaan rahmat lalu memberikannya kepada buahnya; sedangkan ia sendiri puas dengan air yang berlumpur lagi keruh.
Bahkan pada biji-bijian pun tampak suatu kerinduan yang zahir dalam tugas menumbuhkan bulir. Sebagaimana seorang yang dikurung di tempat sempit dengan rindu menginginkan keluar ke suatu kebun, ke tempat yang luas. Demikian pula: pada biji-bijian, dalam tugas menumbuhkan bulir tampak suatu keadaan yang penuh sukacita, suatu kerinduan. Nah, termasuk dustur panjang lagi penuh rahasia yang berlaku di alam semesta — yang disebut “sunnatullah” — inilah: orang-orang yang menganggur, malas, hidup dengan berleha, dan berbaring di kasur nyaman, pada umumnya menderita kepayahan dan kesempitan lebih banyak daripada orang-orang yang berusaha dan bekerja. Karena orang-orang yang menganggur selalu mengeluhkan umurnya; ia ingin agar umur cepat berlalu dengan hiburan. Adapun orang yang berusaha dan bekerja; ia bersyukur, memuji, tak ingin umurnya berlalu. اَلْمُسْتَر۪يحُ الْعَاطِلُ شَاكٍ مِنْ عُمْرِهِ وَ السَّاعِىُ الْعَامِلُ شَاكِرٌ adalah suatu dustur universal. Dan dengan rahasia itulah kalimat “Kenyamanan ada dalam kepayahan; kepayahan ada dalam kenyamanan” menjadi peribahasa.
Ya, jika benda-benda mati dipandang dengan cermat: pada penyingkapan (inbisat) yang membuat benda-benda yang secara potensi (bilquwwah) hanya tinggal kurang dari sisi bakat dan kemampuan serta tak berkembang, lalu — dengan suatu ijtihad dan usaha yang besar — melapang dan berpindah dari bentuk potensi menjadi bentuk aktual (bilfi'l), tampak suatu sikap dengan dustur sunnah Ilahi yang disebutkan itu. Dan sikap itu mengisyaratkan bahwa: dalam tugas fitri itu ada suatu semangat, dan dalam masalah itu ada suatu kelezatan. Jika benda mati itu memiliki bagian dari kehidupan umum, semangat itu menjadi miliknya sendiri; jika tidak, ia menjadi milik sesuatu yang mewakili dan mengawasi benda mati itu. Bahkan berdasarkan rahasia ini dapat dikatakan: air yang halus lagi lembut, tatkala menerima perintah membeku, mematuhi perintah itu dengan semangat yang demikian dahsyat sehingga ia membelah besi dan memecahkannya.
Artinya, dengan lisan kedinginan dan hawa dingin di bawah nol, dalam menyampaikan perintah Rabbani “Melebarlah!” kepada air di dalam wadah besi yang tertutup mulutnya, air itu memecahkan wadahnya dengan semangat yang dahsyat, merusak besi, dan dirinya menjadi es. Dan demikianlah.. bandingkanlah segala sesuatu dengan ini: mulai dari perputaran dan perjalanan matahari-matahari, sampai perputaran atom-atom laksana penari Mevlevi (darwis berputar), berputar, dan bergetarnya; seluruh usaha dan gerak di alam semesta berjalan di atas kanun takdir Ilahi. Dan ia muncul dengan perintah takwini yang keluar dari tangan kudrat Ilahi serta mengandung iradah, perintah, dan ilmu.
Bahkan setiap atom, setiap yang ada, setiap makhluk hidup, menyerupai seorang prajurit dalam tentara; sebagaimana prajurit itu memiliki hubungan dan tugas yang berbeda-beda dalam berbagai kesatuan di dalam pasukan; demikian pula setiap atom dan setiap makhluk hidup. Misalnya: sebuah atom dalam matamu memiliki suatu hubungan — dan sesuai hubungan itu suatu tugas, dan sesuai tugas itu suatu faedah — dalam sel matamu, dalam mata, dalam saraf-saraf wajah, dan dalam pembuluh tubuh yang disebut arteri. Dan demikianlah, bandingkanlah segala sesuatu dengannya. Berdasarkan ini, setiap sesuatu bersaksi atas wajibnya keberadaan Yang Mahakuasa Azali (Qadîr Azali) dari dua sisi:
Yang satu:
Ia bersaksi atas keberadaan Yang Mahakuasa itu dengan lisan ketidakberdayaan mutlak dalam menjalankan tugas-tugas yang ribuan derajat di atas kekuatannya.
Yang kedua:
Setiap sesuatu bersaksi atas Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa itu dengan menyesuaikan geraknya pada dustur-dustur yang membentuk tatanan alam dan pada kanun-kanun yang melanggengkan keseimbangan segala yang ada.
Karena suatu benda mati seperti atom, atau seekor hewan kecil seperti lebah, tak mengetahui tatanan dan timbangan yang merupakan masalah-masalah penting lagi halus dari Kitab Mubin. Di mana atom yang beku dan hewan kecil seperti lebah? Di mana pula membaca masalah-masalah penting lagi halus dari Kitab Mubin yang ada di tangan Zat Yang Mahaagung — yang membuka, menutup, dan melipat lapisan-lapisan langit laksana sehelai lembaran buku? Jika engkau berbuat gila dan menyangka bahwa pada atom ada suatu mata yang dapat membaca huruf-huruf halus kitab itu; maka saat itu engkau dapat berupaya menolak kesaksian atom itu.
Ya, Sang Pencipta Yang Mahabijaksana meringkas dan menyisipkan dustur-dustur Kitab Mubin dengan cara yang sangat indah, dalam bentuk yang ringkas, dalam suatu kelezatan yang khusus, dan dalam suatu kebutuhan yang khusus. Jika segala sesuatu beramal dengan suatu kelezatan khusus dan kebutuhan khusus seperti itu, ia mematuhi dustur-dustur Kitab Mubin itu tanpa mengetahuinya. Misalnya: nyamuk berbelalai, pada saat ia lahir ke dunia, keluar dari rumahnya; tanpa henti menyerbu wajah manusia, memukul dengan tongkat panjangnya, menyemburkan air kehidupan, dan meminumnya. Dalam melarikan diri dari serbuan, ia memperlihatkan kecakapan laksana perwira staf. Siapa gerangan yang mengajarkan seni ini, ilmu perang ini, dan seni mengeluarkan air ini kepada makhluk kecil, tak berpengalaman, lagi baru lahir ke dunia ini, dan di mana ia mempelajarinya? Aku, yakni Said yang malang ini, mengakui bahwa: seandainya aku berada di tempat nyamuk berbelalai itu; seni ini, perang serang-mundur (kerr u farr) ini, dan khidmat mengeluarkan air ini hanya dapat kupelajari dengan pelajaran yang sangat panjang dan percobaan yang sangat banyak.
Nah, bandingkanlah dengan nyamuk ini hewan-hewan yang menjadi tempat tertuju ilham seperti lebah, laba-laba, dan bulbul yang membuat sarangnya laksana kaus kaki. Bahkan tumbuhan pun dapat engkau bandingkan persis dengan hewan. Ya, Sang Maha Pemurah Mutlak (Jawwâd Mutlak — Maha Agung keagungan-Nya) telah memberikan ke tangan setiap individu makhluk hidup suatu memo yang ditulis dengan tinta kelezatan dan dawat kebutuhan. Dengannya Dia menitipkan program perintah-perintah takwini dan daftar isi tugas-tugasnya. Lihatlah Sang Mahabijaksana Yang Mahaagung itu; bagaimana Dia menuliskan kadar yang berkaitan dengan tugas lebah dari dustur-dustur Kitab Mubin pada sebuah memo, lalu meletakkannya di kotak kecil di kepala lebah. Kunci kotak kecil itu pun adalah suatu kelezatan khusus bagi lebah yang tekun bertugas. Dengannya ia membuka kotak kecil itu, membaca programnya, memahami perintah, dan bergerak. Ia menampakkan rahasia ayat وَ اَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ.
Nah, jika engkau telah mendengar Nota Kedelapan ini seluruhnya dan memahaminya dengan sempurna, maka dengan suatu firasat keimanan engkau akan memahami suatu rahasia وَسِعَتْ رَحْمَتُهُ كُلَّ شَيْءٍ, suatu hakikat وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪, suatu dustur اِنَّمَٓا اَمْرُهُٓ اِذَٓا اَرَادَ شَيْئًا اَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ, dan suatu poin فَسُبْحَانَ الَّذ۪ى بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.
NOTA KESEMBILAN:
Ketahuilah bahwa: kenabian pada jenis manusia adalah intisari dan asas kebaikan serta kesempurnaan pada manusia. Agama Yang Hak adalah daftar isi kebahagiaan. Iman adalah suatu keindahan yang suci lagi murni. Karena di alam ini tampak suatu keindahan yang cemerlang, suatu limpahan yang luas lagi tinggi, suatu kebenaran yang zahir, dan suatu kesempurnaan yang unggul. Secara badihi, kebenaran dan hakikat ada di dalam kenabian dan di tangan para nabi. Kesesatan, keburukan, dan kerugian ada pada lawannya.
Dari ribuan keindahan ubudiah, pandanglah hanya yang ini: Nabi 'alaihis-salâm, dari sisi ubudiah, mempersatukan kalbu kaum muwahhid dalam salat Id, Jumat, dan berjamaah, serta menyatukan lidah mereka dalam satu kalimat. Dengan cara sedemikian rupa sehingga: manusia ini membalas keagungan seruan Sembahan Azali (Ma'bud Azali) dengan suara, doa, dan zikir yang keluar dari kalbu dan lidah yang tak terhingga. Suara, doa, dan zikir itu — dengan saling menopang, saling menolong, dan bersepakat — memperlihatkan suatu ubudiah terhadap uluhiah Sembahan Azali dalam bentuk yang demikian luas sehingga; seakan-akan Bola Bumi sendiri mengucapkan zikir itu, memanjatkan doa itu, mendirikan salat dengan seluruh penjurunya, dan Bola Bumi mematuhi perintah اَق۪يمُوا الصَّلٰوةَ yang turun dengan kemuliaan dan keagungan di atas langit dengan seluruh sisinya. Dengan rahasia persatuan ini, manusia — yang merupakan makhluk kecil lagi lemah laksana atom di dalam alam semesta — dari sisi keagungan ubudiah, menjadi hamba yang dicintai Sang Pencipta Bumi dan Langit, khalifah Bumi, sultannya, pemimpin hewan, serta hasil dan tujuan penciptaan alam semesta.
Ya, jika suara ratusan juta manusia yang mengucapkan Allahu Akbar dalam satu saat di belakang salat — khususnya dalam salat hari raya — sebagaimana mereka bersatu di alam gaib, di alam syahadah pun bersatu satu sama lain dan berkumpul; karena Bola Bumi seluruhnya menjadi seorang manusia besar dan setara dengan Allahu Akbar yang diucapkannya dengan suatu suara besar yang sepadan dengan keagungannya, maka ucapan Allahu Akbar dalam satu saat oleh kaum muwahhid itu dengan persatuan mereka berpindah menjadi suatu Allahu Akbar besar dari Bola Bumi. Seakan-akan dalam salat hari raya, dengan zikir dan tasbih alam Islam, bumi menjadi tempat tertuju gempa terbesar, lalu dengan seluruh penjuru dan sekelilingnya mengucapkan Allahu Akbar, berniat dengan kalbu tulus Ka'bah Mukarramah yang menjadi kiblatnya, dan dengan mulut Makkah serta lidah Jabal Arafah mengucapkan Allahu Akbar, sehingga satu kalimat itu menampakkan diri (tamatstsul) di udara pada mulut-mulut laksana gua dari seluruh mukmin di penjuru bumi. Sebagaimana dengan gema satu kalimat Allahu Akbar terjadi Allahu Akbar yang tak terhingga, demikian pula zikir dan takbir yang diterima itu menggemakan langit pula dan bergelombang memberi suara ke alam-alam barzakh.
Nah, kepada Zat Yang Mahaagung — yang menjadikan Bumi ini demikian bersujud dan beribadah kepada-Nya, menjadikannya masjid bagi hamba-hamba-Nya, ayunan bagi makhluk-makhluk-Nya, serta yang bertasbih dan bertakbir kepada-Nya — kami memuji, bertasbih, dan bertakbir sebanyak jumlah atom bumi, dan kami memuji sebanyak jumlah yang ada; karena Dia telah menjadikan kami umat bagi Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm yang mengajarkan kepada kami jenis ubudiah ini.
NOTA KESEPULUH:
Ketahuilah, wahai Said yang lalai lagi kalut! Untuk sampai kepada cahaya makrifat Allah, memandangnya, melihat tajallinya pada cermin ayat-ayat dan saksi-saksi, serta menontonnya melalui pori-pori bukti dan dalil, dituntut bahwa; setiap cahaya yang melintas di atasmu, yang datang ke kalbumu, dan yang tampak pada akalmu — janganlah engkau meraba-rabanya dengan jari-jari kritik dan janganlah mengkritiknya dengan tangan keraguan! Janganlah engkau mengulurkan tanganmu untuk menangkap suatu cahaya yang menyinarimu; melainkan lepaskanlah dirimu dari sebab-sebab kelalaian, menghadaplah kepadanya, dan berdirilah. Karena aku menyaksikan bahwa: saksi-saksi dan bukti-bukti makrifat Allah ada tiga macam.
Sebagian: laksana air; ia tampak, terasa, tetapi tak dapat dipegang dengan jari. Pada bagian ini, seseorang harus melepaskan diri dari khayalan dan menyelam ke dalamnya sepenuhnya. Ia tak dapat diraba dengan jari-jari kritik; jika diraba, ia mengalir dan lari. Air kehidupan itu tak menjadikan jari sebagai tempatnya.