Risale-i NurLampiran Kastamonu

(Surat ini sangat penting)

Lampiran Kastamonu · hlm. 164

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Beberapa hari ini aku memikirkan dasar takwa dan amal saleh yang — dalam pandangan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana — setelah iman dijadikan dasar paling utama. Takwa adalah menjauhi larangan dan dosa; dan amal saleh adalah bergerak dalam lingkaran perintah dan meraih kebaikan. Setiap saat, menolak keburukan lebih utama daripada menarik manfaat; lagi pula, di zaman perusakan, kebejatan, dan hasrat yang memikat ini, takwa yang berupa menolak kerusakan dan meninggalkan dosa besar menjadi pondasi dasar dan meraih sebuah keutamaan besar. Di zaman ini, karena perusakan dan arus negatif kian dahsyat, takwa adalah dasar terbesar menghadapi perusakan ini. Orang yang menjalankan fardhu dan tak melakukan dosa besar, selamat. Di tengah dosa-dosa besar yang dahsyat semacam ini, keberhasilan amal saleh dengan keikhlasan sangat sedikit. Lagi pula, sedikit amal saleh, di tengah keadaan berat ini, berkedudukan sebagai banyak. Lagi pula, dalam takwa ada sejenis amal saleh. Sebab, meninggalkan sebuah haram adalah wajib. Mengerjakan sebuah wajib, pahalanya setara banyak sunnah. Takwa, di zaman semacam ini, di tengah serbuan ribuan dosa, satu penghindaran saja, dengan amal sedikit, dalam meninggalkan seratus dosa, berarti telah mengerjakan seratus wajib. Dengan niat poin penting ini, dengan nama takwa, dan dengan maksud menjauhi dosa, ia menjadi amal saleh penting yang datang dari ibadah negatif (menjauhi).

Tugas terpenting murid-murid Risale-i Nur di zaman ini: menjadikan takwa sebagai dasar dan bersikap menghadapi perusakan dan dosa. Selama tiap menit, dalam corak kehidupan sosial sekarang seratus dosa mendatangi manusia; tentu, dengan takwa dan niat menjauhi, ia berkedudukan telah mengerjakan seratus amal saleh. Maklum bahwa: sebuah istana yang dirobohkan seseorang dalam sehari, tak bisa dibangun dua puluh orang dalam dua puluh hari; dan menghadapi perusakan seorang, mestinya dua puluh orang bekerja; kini, menghadapi ribuan perusak, ketahanan dan pengaruh seorang tukang perbaikan seperti Risale-i Nur sampai derajat ini sungguh luar biasa. Andai kedua kekuatan yang berhadapan ini berada pada satu tingkat, akan terlihat keberhasilan dan fütuhat ajaib dalam perbaikannya.

Misalnya: hormat dan rahmat — dasar terpenting yang mengelola kehidupan sosial — telah sangat tergoncang. Di sebagian tempat ia memberi hasil-hasil dahsyat dan pedih terhadap para orang tua, ayah, dan ibu yang malang. Syukur kepada Cenab-ı Hak bahwa Risale-i Nur, menghadapi perusakan dahsyat ini, di tempat-tempat yang dimasukinya, bertahan dan memperbaiki. Sebagaimana dengan robohnya Bendungan Zulkarnain, Ya'juj dan Ma'juj merusak dunia; begitu pula dengan tergoncangnya bendungan Qur'ani — yaitu syariat Muhammadi صلى الله عليه وسلم (şeriat-ı Muhammediye) — sebuah anarki yang gelap dalam akhlak dan kehidupan, dan sebuah ateisme yang zalim, yang lebih dahsyat daripada Ya'juj dan Ma'juj, mulai merusak dan mengacau. Jihad maknawi murid-murid Risale-i Nur dalam peristiwa semacam ini, insya Allah seperti di zaman Sahabat, dengan amal sedikit menjadi sumber pahala sangat besar dan amal saleh.

Wahai saudara-saudaraku! Nah, di zaman semacam ini, menghadapi peristiwa-peristiwa dahsyat ini, setelah kekuatan ikhlas, kekuatan terbesar kami adalah: dengan prinsip keikutsertaan dalam amal ukhrawi (iştirak-i a'mal-i uhrevî), sebagaimana kami saling menuliskan kebaikan dengan pena ke buku amal saleh satu sama lain, begitu pula dengan lisan mengirim kekuatan dan bantuan ke benteng dan parit takwa satu sama lain. Dan khususnya, berlari menolong saudara kalian yang fakir dan tak berdaya ini — yang menjadi sasaran serbuan penuh badai — pada tiga bulan mulia dan hari-hari masyhur ini, adalah ciri orang-orang pahlawan, setia, dan penuh kasih seperti kalian. Dengan segenap ruhku aku memohon bantuan maknawi ini dari kalian. Dan aku pun, dengan syarat iman dan kesetiaan, menjadikan murid-murid Risale-i Nur penyerta dalam seluruh doa dan perolehan maknawiku, dalam dua puluh empat jam, dengan prinsip keikutsertaan dalam amal ukhrawi, kadang lebih dari seratus kali dengan sebutan murid-murid Risale-i Nur. Said Nursî

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kemarin, sehubungan dengan sebuah korps tentara yang datang ke kawasan ini, Emin menyebutkan — padahal aku tak menginginkannya dan tak tahu apakah Rusia melanjutkan perang — bahwa hubungan Rusia dengan Kaukasus terputus. Padahal aku memotong ucapannya dan membuatnya diam, hatiku menunjukkan sebuah kepedulian dengan kesungguhan. Lalu hari ini, ketika aku dalam salat dan tasbihnya, secara maknawi dikatakan: pasti salah satu dari arus-arus yang bertarung dan berbenturan di muka bumi akan berpihak kepada Islam, Al-Qur'an, Risale-i Nur, dan jalan kami; dari poin ini perlu menengoknya. Sebab-sebab yang kutulis dalam satu-dua surat untuk tidak menengok, memang cukup bagi hati dan akal; tapi tak cukup bagi nafsu yang penuh rasa ingin tahu dan hasrat — demikian terlintas di hatiku. Persis pada tasbih, diingatkan: adapun sebab pentingnya begini: dalam menengok, sebuah perasaan keberpihakan terbangun; pandangan yang berpihak tak melihat cela arus yang dibelanya, ridha terhadap kezalimannya, bahkan menyoraknya. Padahal sebagaimana ridha terhadap kekufuran adalah kekufuran, begitu pula ridha terhadap kezaliman adalah kezaliman.

Tentu, di muka bumi dalam duel dahsyat ini, terjadi kezaliman dan perusakan yang membuat langit menangis; hak banyak orang tak berdosa dan terzalimi hilang dan musnah. Dengan prinsip zalim peradaban yang kejam tanpa mim* — "Demi jamaah individu dikorbankan, demi keselamatan bangsa hak-hak parsial tak dipandang" — ia membuka sebuah medan kezaliman yang sedemikian dahsyat sehingga tak ada bandingannya bahkan dalam kebiadaban abad-abad pertama. Keadilan hakiki Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat tak mengorbankan hak seorang individu demi jamaah; dengan "Hak adalah hak; tak dipandang besar-kecil, sedikit-banyak" — dari sisi hukum samawi dan keadilan hakiki — bagi orang-orang yang sibuk dengan hakikat Qur'aniah seperti murid-murid Risale-i Nur, tak pantas — tanpa keterpaksaan, secara tak perlu, hanya demi sebuah rasa ingin tahu penuh hasrat — sibuk mengikuti gerak-gerik arus itu secara pikiran (yang dari sisi hasil punya manfaat) dengan cara menengoknya secara tak perlu sebelum hasil datang dan menyorak perusakan zalimnya, dengan alasan ia akan berkhidmah demi Islam dan Al-Qur'an; maka — demikian kupahami — nafsu pun tunduk kepada akal dan hati, lalu meninggalkan rasa ingin tahunya.