بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 146
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ بِعَدَدِ كَلِمَاتِ الْقُرْاٰنِ وَحُرُوفَاتِهَا
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, diberkahi, dan kawan-kawanku yang kuat, aktif, dan teguh dalam khidmah Al-Qur'an! Beberapa hari ini aku bersama enam orang — dengan Tukang Kayu Ahmed di depan, dan aku di akhir — atas sebuah peringatan maknawi, masing-masing menjadi sumber sebuah masalah:
Pertama: dalam surat Tukang Kayu Ahmed — murid yang aktif, sungguh rajin, dari Risale-i Nur dan Madrasah Nuriah — dikatakan bahwa seorang anak tak berdosa berusia sepuluh tahun bernama Eşref, dengan meninggalkan desa dan hartanya, datang dari jarak dua hari, lalu — padahal ia tak pernah menulis — dalam sepuluh hari berhasil menulis Risale-i Nur; ini sebuah keramat Risale-i Nur, sekaligus sebuah bunga luar biasa dari Madrasah Nuriah. Ya, kami pun berkata: sebagaimana mekarnya bunga-bunga indah di sebuah musim dingin yang materiil adalah sebuah keajaiban kekuasaan; begitu pula di musim dingin yang maknawi dan dahsyat abad ini, Desa Sava — yakni pohon Sava — mekar dengan seribu bunga indah dan buah-buah Surga, dan kebun negeri Isparta mekar dengan ribuan bunga mawar Muhammadi صلى الله عليه وسلم; (Hâsiye: Dan tiap-tiapnya berupa "sad berk", yakni pada tiap bunga ada seratus keping daun.) — tentu, ini sebuah mukjizat rahmat yang luar biasa, sebuah keramat pertolongan Rabbani yang luar biasa bagi negeri ini, dan sebuah pemuliaan Ilahi yang luar biasa bagi para murid Risale-i Nur — demikian kami yakini, dan kami bersyukur tak terhingga kepada Cenab-ı Hak.
Dalam surat Tukang Kayu Ahmed, murid-murid penuh pengorbanan dari Desa Darıviran yang mengingatkan kepada murid-murid rajin zaman dahulu — yang mengenang kami dan murid-murid zaman dahulu dengan penuh rindu, lulusan madrasah — memberi sebuah kegembiraan mendalam kepada para murid Risale-i Nur. Bantuan maknawi para murid perempuan Madrasah Nuriah kepada pena-pena yang rajin — dengan wirid-wirid Qur'aniah, doa, dan wirid mereka — sangat indah. Itu pun menjadi pelajaran penuh bagi para perempuan di kawasan ini. Semoga Cenab-ı Hak ridha selamanya kepada mereka, kepada seluruh murid madrasah itu, dan kepada guru-gurunya.
Mimpi Ahmed sangat diberkahi dan indah. Mendengar suara kuat Nabi 'Isa 'alaihissalam bisa menjadi isyarat sebuah bantuan kuat dari kaum Isawi (Kristen) yang bergabung ke Hizb-ül Kur'an.
Orang Kedua dan Masalahnya: seorang hafiz muda dari murid Risale-i Nur berkata seperti yang dikatakan banyak orang: "Penyakit pelupa makin bertambah padaku, apa yang harus kuperbuat?" Aku pun berkata: sebisa mungkin jangan memandang yang bukan mahram. Sebab ada riwayat. Seperti yang dikatakan İmam Syafi'i radhiyallahu 'anhu: pandangan haram menimbulkan kelupaan. Ya, pada ahli Islam, makin bertambah pandangan haram, hasrat-hasrat nafsu bergejolak, lalu dengan penyalahgunaan dalam tubuhnya ia masuk ke pemborosan. Ia terpaksa mandi junub beberapa kali seminggu. Dari situ, secara medis, daya hafalnya melemah. Ya, di abad ini, karena keterbukaan-keterbukaan aurat, khususnya di negeri-negeri panas ini, penyalahgunaan dari pandangan buruk itu mulai menghasilkan sebuah penyakit pelupa yang umum. Setiap orang, parsial atau menyeluruh, mengeluhkan hal itu. Nah, dengan bertambahnya penyakit umum ini, takwil sebuah kabar mengerikan yang diberikan hadis mulia tampak di ujung. Ia bersabda: "Di akhir zaman, Al-Qur'an dicabut dari dada para hafiz, keluar, terlupakan." Berarti, penyakit ini akan kian dahsyat; dengan pandangan buruk ini, pada sebagian orang penghafalan Al-Qur'an akan terbendung; itu akan menunjukkan takwil hadis tersebut. لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ
Orang Ketiga dan Masalahnya: seorang tokoh yang sangat peduli kepada kami sering mengeluh dengan dahsyat: "Aku tak bisa menjadi manusia yang baik, kian lama kian buruk, aku tak bisa melihat hasil khidmah maknawiku," — demikian ia meminta pertolongan. Kami menulis kepadanya: "Dunia ini adalah tempat khidmah (dâr-ül hizmet), bukan tempat menerima upah. Upah, buah, dan cahaya amal-amal saleh ada di barzakh dan akhirat. Menarik buah-buah baka itu ke dunia ini dan memintanya di dunia ini, berarti menjadikan akhirat tunduk kepada dunia. Keikhlasan amal saleh itu pecah, cahayanya pergi. Ya, buah-buah itu tak diminta, tak diniatkan. Kalau diberikan, ia memikirkan bahwa itu diberikan untuk dorongan, lalu bersyukur." Ya, di abad ini, sebagaimana diterangkan dalam satu-dua surat, kehidupan dunia telah sedemikian menyentuh, melukai, dan menggugah urat itu, sehingga seorang tokoh yang diberkahi, sepuh, alim, dan saleh pun menginginkan sejenis kenikmatan kehidupan ukhrawi di dunia; pada derajat pertama, kenikmatan hidup di dunia berkuasa padanya.
Keempat: seorang tokoh yang peduli kepada kami, seperti banyak orang yang mengeluh; ia mengeluh dengan sedih bahwa ia telah kehilangan kenikmatan dan semangat wirid yang dahulu ia baca dalam sebuah tarekat yang keras, dan bahwa kebosanan dan kantuk menguasainya. Kami berkata kepadanya: sebagaimana ketika udara materiil rusak ia menimbulkan kesempitan, dan pada dada-dada yang gampang naik darah mulai keadaan tertekan; begitu pula kadang udara maknawi rusak. Khususnya di abad yang telah liar dari maknawiat ini, terutama di negeri-negeri yang merata hasrat dan syahwat nafsu, dan khususnya pada bulan-bulan Muharram serta bulan-bulan mulia: kebangkitan dan perhatian umum Dunia Islam yang menyaring udara maknawi, ketika berhenti dengan perginya bulan-bulan mulia itu — pada masa pengaruh kesesatan yang merusak udara, dan khususnya di bawah tekanan musim dingin, karena berkurangnya cengkeraman kehidupan dunia dan hasrat nafsu — kerinduan ahli Islam dan ahli iman untuk bekerja demi kehidupan akhirat, pada saat ia tersembunyi oleh tersingkapnya kehidupan dunia dan hasrat nafsu dengan datangnya musim semi, tentu pada wirid-wirid suci semacam itu, alih-alih kenikmatan dan semangat, datang menguap dan kelesuan. Tapi selama — dengan rahasia خَيْرُ اْلاُمُورِ اَحْمَزُهَا — amal saleh dan urusan kebaikan yang sukar, berat, tak menyenangkan, dan menyempitkan itu lebih berharga, lebih berpahala; maka perlu memikirkan pahala besar dan keterkabulan dalam kesempitan dan kesukaran itu, lalu bersyukur dengan gembira dalam kesabaran.
Kelima: seorang murid Risale-i Nur berkata bahwa salah satu sebab ia tak bisa bekerja untuk Risale-i Nur adalah bertambahnya derita penghidupan (derd-i maişet). Kami pun berkata kepadanya: karena engkau tak bekerja untuk Risale-i Nur, derita penghidupan menjadi keras bagimu. Sebab, di kawasan ini tiap murid mengakui, dan aku pun mengakui, bahwa: makin kami bekerja untuk Risale-i Nur, kami melihat kemudahan dalam hidup, kelapangan di hati, dan kemudahan dalam penghidupan.
Keenam: ini adalah Said yang malang. Yang diinginkan, dikehendaki, dan diterima dengan suka oleh semua orang — yaitu hormat, cinta, dan obrolan terhadap pribadiku — kecuali pada poin-poin yang berkaitan dengan Risale-i Nur — terasa berat bagiku, menyempitkanku, dan menyedihkanku. Aku menduga bahwa sifat-sifat tinggi Risale-i Nur dan keutamaan-keutamaan sangat besar dari sosok maknawi murid-muridnya, kalau makna-makna sebesar gunung itu dipikulkan ke bahu lemah seorang lemah dan malang yang terlalu maju dalam jalan kelemahan (meslek-i acz) seperti diriku, ia akan terhimpit dan tertekan di bawahnya — demikian kupahami. Pada dua masalah terakhir ini, kertas memaksaku memotong sangat singkat.
Kepada tiap-tiap pewaris pahlawan Nur, Gül, dan Lütfü, kepada himpunan tinggi para Mübarek, kepada Madrasah Nuriah, kepada anak-anak tak berdosa dan para orang tua ummi, kami memberi ribuan salam.
Saudara kalian yang membutuhkan doa kalian, yang rindu kepada kalian, Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, tak tergoyahkan, tak gentar, teguh, dan penuh pengorbanan! Aku tak memandang perlu menyemangati kalian menghadapi serangan-serangan keras semacam ini. Ketabahan kuat kalian dan keyakinan kalian bahwa di balik tiap peristiwa pedih yang menimpa Risale-i Nur ada sebuah pertolongan dan rahmat, sudah cukup untuk menyemangati kalian, kami tahu itu. Hanya satu poin yang kugelisahkan. Seluruh Risale-i Nur yang berhasil diraih, apakah hanya satu set, dan milik siapa? Aku ingin tahu. Siapa pun ia, janganlah gelisah. Di kedudukan-kedudukan yang lebih penting, mereka melakukan fütuhat atas namanya, memberinya pahala. Untuknya bisa disediakan satu set Risale-i Nur. Lagi pula, adakah seseorang dalam penahanan? Dan siapa hoca yang ditugaskan untuknya?
Kedua: dengan keputusan yang diberikan atas pendapat Sabri dan Hâfız Ali untuk memudahkan komunikasi, kadang lewat jalur Atabey — seperti mereka, kami pun menerimanya. Akan dikirim atas nama dan alamat seorang pewaris Lütfü bernama Abdullah Çavuş.
Ketiga: istihrac Sabri dalam suratnya tentang Mu'cizat-ı Kur'aniye yang ditulisnya penuh tevafuk dan tentang Risale-i Nur, sangat menggembirakan kami. Dengan menjadikan Mu'cizat-ı Kur'an karya Hasan Âtıf yang gemerlap dan memikat sebagai dasar, kami menggabungkan pembahasan tentang nuktah-nuktah kemukjizatan Al-Qur'an di risalah-risalah lain sebagai lampiran (zeyil) padanya; ia menjadi bentuk yang indah. Misalnya: martabat ketujuh belas Âyet-ül Kübra tentang Al-Qur'an, Kalimat Kedua Puluh (Yirminci Söz), Kilatan Ketujuh (Yedinci Lem'a) tentang kemukjizatan ayat terakhir Surah Al-Fath, bagian-bagian penting Fihrist tentang Rumuzat-ı Semaniye, dan dua nuktah Kenz-ül Arş — bagian-bagian semacam itu masuk ke lampiran-lampiran itu. Ia bersinar persis seperti lampiran-lampiran Mu'cizat-ı Ahmediye. Sabri, sentral Cahaya, insya Allah akan menyempurnakan keindahan Mu'cizat-ı Kur'aniye indah yang ditulisnya dengan lampiran-lampiran itu.
Keempat: surat Abdullah Çavuş — pewaris hakiki dan sangat sungguh-sungguh dari mendiang (merhum) Lütfü — menunjukkan derajat kesetiaan, keikhlasan, dan keterikatannya. Setiap saat aku mengenang Abdullah dari İslâmköy dan Abdullah Çavuş itu bersama-sama dalam doa. Sungguh ia menunjukkan bahwa ia layak untuk kedudukan itu. Bagian terakhir Fihrist yang telah dikoreksi yang ia minta, insya Allah akan dikirim kepadanya. Tapi tak banyak dikoreksi seperti yang ia kira. Sebab, dengan cara pembagian tugas (taksim-ül a'mal), tulisan saudara-saudaraku yang diberkahi itu kupandang sebagai kenangan yang diberkahi, dan aku tak tega mengubahnya.
Kelima: beberapa hari ini, dalam peristiwa itu, karena kegelisahan bahwa aku akan terpaksa — atas berhentinya Risale-i Nur sampai taraf tertentu, atas menengok dunia, atas berbicara dengan orang-orang yang tak kuajak bicara selama dua puluh tahun, dan atas menyentuh politik yang terlarang bagi kami dari sisi khidmah Al-Qur'an — sebuah penyesalan keras menyerangku; lalu sebuah penyakit yang lahirnya tak terlihat tapi maknawinya berbahaya menyerangku. Karena aku tak bisa menjalankan kebiasaan tetapku secara penuh, sekali lagi seperti penyakit Ramadan, aku sangat memohon bantuan maknawi dari saudara-saudaraku. Tapi jangan gelisah, aku tak terbaring di ranjang. Hanya saja, aku tak bisa mengoreksi naskah-naskah yang ditulis berlebih.
Keenam: kalaupun Risale-i Nur berhenti di satu front, fütuhatnya di front-front lain menggantikan posisi berhenti itu. Bahkan sehubungan dengan peristiwa ini, padahal di sini — atas dasar kewaspadaan sampai taraf tertentu — kami berniat dan mengupayakan berhenti, justru sebaliknya, terhadap berhentinya Isparta, di sini ia tampil dengan tersingkapnya. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى
Seorang pejabat penting yang paling banyak mengawasi kami dan peduli kepada kami dan kepada politik, datang ke sisiku. Aku berkata kepadanya: "Selama delapan belas tahun ini aku tak merujuk kepada kalian dan tak membaca satu koran pun; selama delapan bulan ini, sekali pun aku tak bertanya apa yang terjadi di dunia; selama tiga tahun aku tak mendengarkan radio yang terdengar dari sini; supaya tak datang kerugian maknawi kepada khidmah suci kami. Sebabnya begini: khidmah iman, hakikat-hakikat iman, di alam ini berada di atas segala sesuatu; ia tak bisa tunduk atau menjadi alat bagi apa pun. Tapi di zaman ini, demi kegelisahan agar khidmah iman itu — di mata orang-orang lalai yang menjual agamanya demi dunia dan menukar intan-intan baka dengan kaca — tidak dianggap tunduk atau menjadi alat bagi arus-arus kuat di luar, dan agar nilai-nilainya yang tinggi tidak diturunkan di mata umum, maka khidmah Al-Qur'an Yang Mahabijaksana secara pasti telah mengharamkan politik bagi kami. Wahai kalian, ahli politik dan pemerintahan! Janganlah berprasangka dan mengusik kami. Sebaliknya, kalian semestinya memberi kemudahan. Sebab khidmah kami — dengan menegakkan keamanan, hormat, dan rahmat — berupaya menyelamatkan ketertiban, kedisiplinan, dan kehidupan sosial dari anarki, lalu menetapkan, memperkuat, dan meneguhkan batu-batu fondasi tugas hakiki kalian."
Ketujuh: dalam surat Hâfız Ali, sepucuk surat yang kami tulis ditujukan kepada sebagian orang, beserta surat terakhir tentang bahwa peristiwa terkini akan berlalu ringan, diserahkan ke pos seminggu sebelum hari ini. Bahwa Hâfız Ali menulis suratnya seakan telah membaca kedua surat yang masih di jalan itu, adalah sebuah kilatan keramat dari kesetiaannya; begitu pula, pada hari yang sama, kedatangan seorang pejabat politik penting yang besar ke sisiku — yang sama sekali tak pernah terjadi — dilihat persis dalam mimpi oleh Köroğlu Ahmed, salah satu kawan Nazif, lalu tiga jam sebelum pejabat itu datang ia menceritakan mimpi itu kepada kami dan meminta takwil; takwilnya keluar tanpa penyimpangan. Kepada seluruh saudara kami satu per satu, khususnya kepada para korban musibah, kami memberi salam dan doa.
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, diberkahi, dan kawan-kawanku yang teguh, tak tergoyahkan, tak gentar dalam khidmah Al-Qur'an dan iman, serta para sahabat seperjalananku yang penuh kasih, penuh pengorbanan, dan setia di rumah penginapan dunia ini! Kali ini, surat-surat penuh kabar gembira dari pemilik Pabrik Nur, dari sang pahlawan Tahir yang merupakan pembantu sempurna dan seorang Hüsrev sejati, dan mimpi kedua Tukang Kayu Ahmed — salah satu pahlawan Madrasah Nuriah — serta di akhir mimpi ketiga, bahwa Hâfız Mehmed yang aktif dan tak tergoyahkan setelah musibah yang termaklum memimpin doa khatam untuk anak-anak dan membacakan Risale-i Nur — semua itu mengangkat dari atas kami beban-beban maknawi sebesar gunung. Semoga Cenab-ı Hak menjaga kalian dan mereka dari bencana maknawi dan materiil, âmîn.
Mimpi kedua Tukang Kayu Ahmed — dari sisi keterkaitannya dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan sifatnya yang menggembirakan, menjadi mimpi yang benar; sehubungan dengan isyaratnya bahwa khidmah materiil para saudara dan saudari di sekitar Madrasah Nuriah itu mengambil bentuk yang hidup dan berjiwa, lalu menjadi sumber penghidupan sunnah mulia Nabi صلى الله عليه وسلم — aku menerangkan sebuah mimpi yang kulihat dua hari sebelum menerima surat kalian. Begini: aku melihat: presiden sekarang atau para presiden sekarang menerapkan pangkat dan masalah-masalah khilafah kepada satu-dua hoca penting yang kukenal; dan dalam mimpi aku pahami kepada hoca atau presiden mana khilafah itu akan diberikan. Dan untuk menunjukkan keputusan hasil itu kepadaku, kulihat mereka datang ke hadapanku. Lalu aku terbangun. Pagi harinya kukatakan kepada saudara-saudaraku. Aku berkata: Allahu a'lem, di kawasan Isparta, di dalam kekalahan materiil Risale-i Nur ada sebuah kemenangan maknawi; sehingga di kedudukan-kedudukan resmi yang besar, masalah-masalah Islam terpenting akan menjadi bahan pembahasan.
Karena kami di Isparta tak mengetahui sejauh mana musibah itu berkembang, dan karena sudah lama kami tak memahami atau mendengar keadaan dunia maupun keadaan resmi, sebuah pertanda bahwa mimpi ini adalah mimpi yang benar membuatku menengok suatu hari. Pertanda itu: seorang murid Risale-i Nur yang penting datang dari Ankara, dan sebelum kutanya ia berkata: "Presiden memerintahkan menulis tafsir baru untuk Al-Qur'an, dan ia pun sedang menulisnya." Dan ia berkata pula: Menteri Dalam Negeri, berlawanan dengan kebiasaan dua puluh tahun, membuat pernyataan yang membela agama dengan berkata "Bangsa tanpa agama tak bisa hidup"; dan Menteri Pendidikan pun, berlawanan dengan prinsip-prinsip lamanya, membuat pernyataan yang membela adab Islam, demikian ia memberi isyarat sebuah perubahan penting; maka setelah delapan bulan menutup telingaku, demi mimpi ini, aku menerima kabar-kabar ini. Aku sungguh ingin memahami sebabnya. Tiba-tiba diingatkan bahwa: ahli kesesatan, dengan memperdaya pejabat politik, menyerang secara luas dari sana sampai ke sini dalam sebuah lingkaran terhadap Risale-i Nur, lalu ingin mengetahui derajat kekuatannya. Mereka melihat ia dalam sebuah kekuatan yang tak akan tercabut, tak akan terkalahkan; maka karena mereka menjadikan hakikatnya bahan pembahasan dan perhatian di kedudukan-kedudukan resmi besar yang penting, dengan terpaksa mereka berupaya menyiapkan sebuah jalan ke arah sejenis perdamaian; dan — alih-alih, secara berlawanan dengan hakikat dan hikmah, memberi kebaikan kepada presiden yang mati dan keburukan kepada bangsa serta tentara — sebagai ganti kesalahan besar itu, mereka berupaya membentuk sebuah landasan untuk mencari jalan menyelamatkan diri mereka sampai taraf tertentu dari kesalahan-kesalahan dahsyat itu, dengan menimpakan semua keburukan kepada yang telah mati; demikian baik mimpi maupun kabar-kabar ini mengabarkan.
Surat bersama Hulusi pertama dan kedua: dengan tiap peristiwa terlihat bahwa upaya dan kesetiaan dua rukun penting ini lebih kokoh daripada baja. Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, teguh, dan para pewaris hakikiku! Beberapa hari ini, sebagai akibat sebuah amarah yang ditimbulkan dalam diriku oleh mereka yang berbuat makar terhadap Risale-i Nur dan yang menyusahkan kalian, aku mencoba berdoa keburukan (beddua). Tiba-tiba aku tak tega kepada Isparta. Sudah berkali-kali aku berniat, tapi karena orang-orang baik di Isparta, para pembuat makar itu pun selamat. Aku tak tega; sebagai ganti beddua, aku berdoa dan terus berdoa: "Wahai Rabb! Selama Isparta adalah sebuah Medreset-üz Zehra Risale-i Nur, perbaikilah pula para pejabat buruk di sana dan berilah akhir yang baik."
Kedua: beberapa hari ini aku memandang risalah-risalah Arab seperti Habbe, Katre, Şemme, Hubab yang dibawa Salahaddin dari İstanbul. Aku melihat: hakikat-hakikat yang disaksikan Said Baru secara langsung dalam gerak-gerak hatinya, berkedudukan sebagai benih-benih Risale-i Nur. Lagi pula, bersama Şu'le dan Zühre, ini adalah bagian-bagian Arab Risale-i Nur. Karena ia secara langsung pelajaran nafsuku sendiri, ia diungkapkan dengan ungkapan Arab yang singkat, dan orang lain tak diperhitungkan. Pada masa itu, dengan Şeyhülislâm di depan, para anggota Dâr-ül Hikmet dan para ulama besar İstanbul menyambutnya dengan pujian dan penghargaan. Karena ini karya Said Baru, ia adalah bagian-bagian Risale-i Nur. Adapun dari Said Lama, hanya İşarat-ül İ'caz dari risalah-risalah Arabnya yang mengambil kedudukan terpenting dalam Risale-i Nur.
Lagi pula, risalah Turki bernama Lemaat — yang dengan keikutsertaan kedua Said disusun dalam satu Ramadan di antara dua hilal, yang dengan sendirinya, di luar kehendakku, sampai taraf tertentu mengambil bentuk manzum, dan yang berisi lima puluh-enam puluh halaman dalam ukuran İşarat-ül İ'caz — pun bisa masuk ke Risale-i Nur. Sayang sekali, aku tak bisa memperoleh satu naskah pun. Karena disukai semua orang, naskah-naskah cetaknya tak tersisa. Lagi pula, risalah ilmu mantik cetak bernama "Kızıl Îcaz" — yang merupakan sebuah ijaz mukjizat yang tersaring dari Ta'likat tak tercetak yang berkedudukan sebagai sebuah mahakarya dari sisi ilmu mantik Said Lama, dan yang menggiring para ulama yang cermat kepada perhatian dengan kekaguman dan pujian — kupandang layak untuk diikatkan dengan Risale-i Nur dan ditunjukkan kepada bagian ulama dari murid-muridnya. Tapi ia sangat dalam. Beberapa hari ini aku memberi sedikit pelajaran kepada Feyzi. Barangkali suatu saat Feyzi sendiri akan menuliskan pelajarannya dalam bahasa Turki agar orang lain pun memahaminya.
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, teguh, dan para pewaris hakikiku! Beberapa hari ini, atas nama para murid Risale-i Nur, sebuah pertanyaan maknawi yang sangat penting dan menggelisahkan diingatkan ke hatiku. Lalu aku pahami bahwa lisan keadaan kebanyakan murid Risale-i Nur menanyakan dan akan menanyakan pertanyaan ini. Tiba-tiba sebuah jawaban terlintas, kukatakan kepada Feyzi. Ia berkata: "Setidaknya catatlah secara ringkas."
Pertanyaan yang Menggelisahkan: dalam fitnah akhir zaman ini, kelaparan akan memainkan peran penting. Dengannya, ahli kesesatan akan berupaya menenggelamkan ahli iman yang malang dan lapar dalam derita penghidupan, lalu membuat perasaan keagamaan dilupakan, atau ditinggalkan di derajat kedua dan ketiga — demikian dipahami dari riwayat-riwayat. Apakah — bahwa pada segala sesuatu, bahkan dalam azab kehancuran, ada sebuah sisi rahmat bagi ahli iman dan orang-orang tak berdosa serta sebuah keadilan dari sisi takdir Ilahi — dalam hal ini terjadi dengan cara bagaimana? Dan bagaimana ahli iman, khususnya murid-murid Risale-i Nur, menghadapi musibah ini dari sisi iman dan akhirat, lalu mengambil manfaat, bersikap, dan bertahan?
Jawaban: karena sebab terpenting musibah ini adalah sebuah pembangkangan yang datang dari pengingkaran nikmat, dari ketidaksyukuran, dan dari tak menghargai nilai nikmat Ilahi; maka Al-Âdil Al-Hakîm — dengan menunjukkan kelezatan hakiki, nilai yang sangat penting, dan derajat luar biasa dari sisi kenikmatan dari nikmat-Nya, khususnya bagian makanan, khususnya roti yang merupakan nikmat terbesar dari sisi kehidupan — dengan hikmah menggiring kepada syukur hakiki, memberi musibah ini kepada manusia tak bersyukur yang tak menjalankan riadhah keagamaan seperti Ramadan, dan demi hikmah yang sama Ia berbuat adil.
Tugas ahli iman, ahli hakikat, khususnya murid-murid Risale-i Nur: berupaya menjadikan kelaparan musibah ini sebagai sarana berlindung, penyesalan, dan kepasrahan, seperti kelaparan dalam bentuk riadhah keagamaan Ramadan. Dan tidak memberi peluang bagi terbukanya jalan ke pengemisan, pencurian, dan anarki dengan dalih keterpaksaan. Dan sebagian orang kaya serta sebagian penerima gaji yang tak mengasihani fakir yang lapar, hendaklah mendengarkan Risale-i Nur, lalu dengan rasa lapar wajib ini datang merahmati yang lapar dan berlari menolong mereka dengan zakat. Dan para pemuda yang memanjakan nafsunya dengan makanan-makanan lezat, yang membuatnya liar, dan yang menggiringnya ke syahwat hina dan pembangkangan lalu memabukkannya, hendaklah — dengan bimbingan Risale-i Nur — mengambil manfaat secara jantan dari peristiwa ini, lalu dengan sebab bahwa mereka sampai taraf tertentu menarik tangan dari kekejian dan dosa serta mematahkan kenikmatan nafsu dan gejolaknya terhadap kekotoran, masuk ke ketaatan dan kebaikan, lalu mengeluarkan peristiwa itu dari sisi yang merugikan mereka dan menggunakannya demi keuntungan mereka. Dan ahli ibadah dan kesalehan pun, di zaman ketika kebanyakan orang lapar ini — dan ketika harta telah sangat bercampur dan mengambil bentuk yang halal-haramnya tak terbedakan, dan berkedudukan sebagai harta syubhat, dan secara maknawi bersama — hendaklah memandang bencana wajib ini dengan pandangan riadhah syar'i, dengan berkata "Demi halal, dari rezeki umum yang secara maknawi bersama itu, aku mencukupkan diri pada derajat keterpaksaan." Yaitu, menghadapi takdir Ilahi bukan dengan keluhan, melainkan dengan keridhaan. Aku memberi banyak salam kepada seluruh saudaraku, khususnya kepada para korban musibah, dan mendoakan keselamatan mereka.
Saudaraku Sabri! Kepada mereka yang mewakilkanmu dan mengirim salam, aku pun mewakilkanmu. Aku memberi salam satu per satu kepada mereka. Suratmu kali ini memang datang terlambat, tapi pada beberapa poin ia sangat menyenangkanku. Ia menunjukkan ketabahan Sabri yang bagai intan dan baja serta ketepatan pikirnya. Selama engkau dan Hâfız Ali memandang tepat untuk berkomunikasi juga lewat jalur Atabey, beritahukanlah alamat Abdullah Çavuş di Atabey atau orang lain yang kalian pandang tepat. Jilid kedua Fihrist bernama Onuncu Şua yang diminta Abdullah Çavuş atas nama kalian telah kami suruh tulis, dan Hizb-ül Ekber-i Nuriye ditulis Feyzi. İnsya Allah dalam waktu dekat akan kami kirimkan. Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kali ini, surat-surat Sabri dan Hâfız Ali menunjukkan sebuah keramat luar biasa dan kekuatan ajaib Risale-i Nur. Bahwa murid-murid rajin dan bersemangat Madrasah Nuriah, dalam beberapa hari, berjanji menulis dan memberikan kembali secara keseluruhan kitab-kitab Hâfız Mehmed yang hilang, sangat menggembirakan murid-murid di kawasan ini. Bahwa mereka yang datang ke penyelidikan Hâfız Ali berkata "Di toko-toko kertas habis. Murid-murid Risale-i Nur menghabiskan kertas," dan bahwa kitab-kitab Mehmed Zühdü dikembalikan kepadanya, adalah peristiwa yang dengan penuh kebanggaan menyemangati dan mendorong murid-murid Risale-i Nur. Dalam suratnya Sabri bertanya hikmahnya: "Sudah dua-tiga tahun Risale-i Nur melewati masa berhenti dari sisi penyusunan (te'lif)." Jawabannya panjang. Lagi pula, penyusunan tak dalam kehendak kami. Lagi pula, agar para murid Risale-i Nur tetap punya bagian dalam penyusunan, beberapa sebab penting dan halangan menjadi penghalang.
Di sini, dengan Âsiye di depan, para murid perempuan yang sangat rajin seperti Ulviye, Lütfiye, menyampaikan hormat, salam, dan doa kepada para saudari di Madrasah Nuriah, kepada istri Sabri yang mengirim salam, dan kepada saudara-saudara mereka. Kami memberi salam dan doa satu per satu kepada seluruh saudara kami.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Surat-surat sang pahlawan Tahirî dan Kâtib Osman sungguh berkedudukan sebagai sebuah obat bagiku. Ia berkedudukan sebagai sebuah penawar bagi penyakit kegelisahan yang separuh materiil, separuh maknawi. Semoga Cenab-ı Hak ridha selamanya kepada mereka dan kepada kalian. Ya, tekad dan keteguhan kalian, keikhlasan dan kesungguhan kalian, telah dan terus mengalahkan ahli dunia. Kalau tidak, sebab mereka yang menahan seratus dua puluh orang dengan satu Risalah Tabir (Tesettür Risalesi) tak bisa menahan satu orang dengan seratus tiga puluh risalah, adalah keikhlasan dan ketabahan kalian — demikian ia berlaku. Kepergian Tahirî ke İstanbul untuk mencetak Hizb-ül Ekber dan Vird-ül A'zam, dengan segenap ruh kami, kami mengucapkan selamat kepadanya dan mendoakan keberhasilannya. Di İstanbul, selain Şefik, banyak yang peduli sungguh kepada Risale-i Nur, tapi aku tak tahu alamat mereka. Hanya Hacı Bekir dari Barla, Hâfız Emin yang ada di kantor eksekusi di İnebolu, dan Mehmed Efendi dari Güran bisa ditemukannya lewat Şefik.
Sehubungan dengan sahabat-sahabat İstanbul: seorang penceramah masyhur datang untuk bertemu denganku, tapi pergi sebelum bisa bertemu. Salinan sepucuk surat yang ditulis kepada seorang tokoh dikirim kepada kalian; barangkali sebagian orang di sana, seperti orang ini, membutuhkan seruan itu. Murid-murid Risale-i Nur yang singgah di İstanbul mengabarkan kepada kami upaya, kesungguhan, dan ceramahmu yang berpengaruh. Mereka ingin melihat seorang tokoh yang kokoh dan ikhlas sepertimu di lingkaran Risale-i Nur. Aku pun, seperti mereka, sungguh ingin melihatmu di lingkaran Risale-i Nur. Engkau tahu bahwa dua huruf alif kalau terpisah punya dua nilai. Kalau berdampingan di atas satu garis, ia mengambil nilai sebelas; begitu pula, kalau khidmah iman yang engkau siapkan dengan nasihatmu yang berpengaruh berdiri sendiri, sangat sulit ia bertahan menghadapi serbuan bersatu sekarang. Kalau ia bergabung ke khidmah Risale-i Nur, seperti dua alif itu ia akan bernilai dan berkekuatan sebelas, bahkan seratus sebelas, dan akan bertahan menghadapi kesesatan-kesesatan yang telah bersekutu di hadapannya. Zaman ini, bagi ahli hakikat, bukan zaman kepribadian dan keakuan. Zaman adalah zaman jamaah. Sebuah sosok maknawi yang lahir dari jamaah berkuasa dan bisa bertahan. Untuk memiliki sebuah kolam besar, perlu melempar dan melumerkan keakuan dan kepribadian yang berkedudukan sebagai sebongkah es itu ke kolam. Kalau tidak, bongkahan es itu meleleh, hilang; dan dari kolam itu pun tak diambil manfaat.
Lagi pula, sungguh sebuah hal yang mengherankan sekaligus menyedihkan bahwa: ahli hak dan hakikat menyia-nyiakan kekuatan luar biasa dalam persatuan dengan perselisihan, sedangkan ahli nifak dan kesesatan — padahal berlawanan dengan watak mereka — bersatu demi memperoleh kekuatan penting dalam persatuan. Padahal sepuluh persen, mereka mengalahkan sembilan puluh persen ahli hakikat.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Pada saat ini aku gelisah kapan Hüsrev, Rüşdü, Re'fet, dan Hâfız Ali dari Isparta akan datang dari wajib militer. Khususnya aku ingin tahu kapan pena Hüsrev akan menggapai penyebaran Risale-i Nur yang penuh kemenangan. Sampaikanlah pula salamku kepada mereka. Kini, sepuluh menit sebelum ini, dua orang yang berani tapi tanpa pena, satu sama lain membawanya ke lingkaran Risale-i Nur. Aku berkata kepada mereka: "Sebagai imbalan atas hasil-hasil besar yang diberikan lingkaran ini, ia menuntut sebuah kesetiaan yang tak tergoyahkan dan ketabahan yang tak terpatahkan. Dasar dari keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan para pahlawan Isparta dan khidmah nurani yang membuat dunia kagum, adalah kesetiaan mereka yang luar biasa dan ketabahan mereka yang luar biasa. Sebab pertama ketabahan ini: kekuatan iman dan sifat ikhlas. Sebab keduanya: keberanian fitri." Aku berkata kepada mereka: "Kalian dikenal dengan keberanian dan kepahlawanan (efelik), dan kalian menunjukkan pengorbanan demi hal-hal duniawi yang tak penting. Tentu, dalam khidmah suci Risale-i Nur dan sebagai imbalan atas hasil-hasil ukhrawi yang seharga dunia, kalian akan menunjukkan keberanian dan ketabahan secara jantan dan penuh pengorbanan, lalu menjaga kesetiaan kalian." Mereka pun menerimanya sepenuhnya.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia, serta kawan-kawanku yang kuat dalam khidmah Al-Qur'an! Kali ini sang pahlawan Tahir kulihat atas nama kalian semua, dan pada dirinya kusaksikan seorang Lütfü, seorang Hâfız Ali, seorang Hüsrev, dan seorang Said (tapi Said muda). Aku sangat bersyukur kepada Cenab-ı Hak. Sehubungan dengan komisaris dan petugas penyelidik yang datang ke sisiku — yang mencium baunya, datang sebelum ia sendiri datang — sebuah masalah yang ditanyakan kepadaku oleh murid-murid kukirim, dengan harapan ada manfaatnya bagi kalian pula. Ini jawaban atas sebuah pertanyaan yang diajukan murid-murid Risale-i Nur yang berkhidmah tetap.
Pertanyaan: sudah sekian lama kami berkhidmah kepadamu. Kami tak melihat satu pun kepedulian atau perhatianmu terhadap dunia, kehidupan sosial, dan politik. Kami tak melihat kesibukanmu selain pelajaran iman dan akhirat. Kami pahami bahwa selama delapan belas tahun ini keadaanmu memang begini. Mengapa, padahal di Isparta tak ada apa-apa, mereka menggugah negeri lalu menyerahkanmu ke pengadilan? Dan padahal setelah empat bulan penyelidikan pengadilan terhadap seratus kawanmu, mereka tak menemukan apa pun tentang kaitan dengan dunia atau politik. Mereka hanya menemukan sebuah dalih yang akan mempermalukan mereka dan pengadilan mereka selamanya; dan dari seratus orang, hanya kepada lima-sepuluh orang mereka memberi hukuman lima-enam bulan. Lagi pula, padahal di sini selama lebih dari enam tahun engkau duduk di bawah pengawasan dan pandangan pos polisi, dengan jendela-jendela kamar tempatmu duduk yang setiap saat seluruh keadaanmu terlihat oleh pos polisi; mengapa sampai dua-tiga bulan lalu mereka selalu mengintaimu secara sembunyi dan terang-terangan, berkali-kali menggeledahmu, dan memandangmu seperti seorang politikus paling penting dan rumit dengan penyelidikan-penyelidikan untuk menjauhkan sahabat-sahabat darimu? Kami sedih sekaligus heran akan hal ini. Baru dua-tiga bulan ini kami bisa datang ke sisimu dengan bebas. Dahulu, dengan ketakutan, kami hanya bisa datang sembunyi-sembunyi. Jelaskanlah masalah ini kepada kami.
Jawaban: aku pun, seperti kalian, bahkan jauh lebih dari kalian, heran sekaligus keheranan akan keadaan ini. Jawaban terperinci atas pertanyaan kalian adalah Kilatan Kedua Puluh Tujuh (Yirmiyedinci Lem'a) — yaitu Lampiran Pembelaan (Müdafaat Lem'ası) menghadapi pengadilan — dan risalah Surat Keenam Belas (Onaltıncı Mektub). Untuk saat ini aku terangkan secara singkat satu-dua dasar:
Pertama: para petugas penjaga keamanan dan pengelola, polisi ketertiban, dan komisaris — bukan menyerang dan berprasangka secara penuh waham terhadap kami dan jalan kami, melainkan justru menyemangati dan mendorong secara penuh perlindungan — adalah tuntutan tugas mereka. Sebab: batu fondasi tugas mereka — hormat, rahmat, mengetahui halal-haram — dengan prinsip ketaatan, membuat kehidupan sosial bisa berjalan dalam lingkaran keamanan. Risale-i Nur, ketika menengok kehidupan sosial, menegakkan dasar-dasar ini. Hasilnya pun telah terlihat secara nyata. Karena pusat Risale-i Nur yang terpenting adalah Isparta dan Kastamonu, kalau petugas keamanan — dibandingkan negeri lain — memperhatikannya dengan adil, mereka akan melihat bantuan gemilang Risale-i Nur kepada mereka. Lagi pula, padahal pada murid-muridnya ada sedemikian banyak jumlah, kekuatan, dan kebenaran di tangan, orang yang hatinya tak rusak akan melihat bahwa Risale-i Nur tak menyentuh sedikit pun kerugian pada keamanan, dan bahwa seribu murid tak memberi kerugian pada kehidupan sosial sebesar sepuluh orang. Rahasia hikmah masalah ini begini: di alam kemanusiaan dan dalam Islam ada tiga masalah teragung, yaitu iman, syariat, dan kehidupan. Karena yang teragung di antaranya adalah hakikat-hakikat iman; maka untuk: tidak menjadikan hakikat-hakikat iman Qur'aniah ini tunduk atau menjadi alat bagi arus-arus dan kekuatan-kekuatan lain, tidak menurunkan hakikat-hakikat Al-Qur'an yang bagai intan itu ke pecahan-pecahan kaca di mata orang-orang yang menjual atau menjadikan agama sebagai alat dunia, dan menjalankan sepenuhnya khidmah menyelamatkan iman yang merupakan tugas paling suci dan paling besar; murid-murid khusus dan setia Risale-i Nur lari dari politik dengan kekerasan dan kebencian yang besar. Bahkan saudara kalian ini — kalian pun tahu — selama delapan belas tahun ini, padahal aku sangat membutuhkannya, demi tak menyentuh politik dan kehidupan sosial, tak satu kali pun merujuk kepada pemerintah; dan selama delapan-sembilan bulan ini, dari kekacauan dunia ini tak satu kali pun aku bertanya, gelisah, memahami, atau menjadikannya bahan obrolan; bahkan apakah sekarang sudah damai, apakah perang sudah usai, siapa yang berperang selain Inggris dan Jerman — aku tak tahu, kalian tahu itu. Lagi pula, radio yang terdengar dari kamarku selama tiga tahun — yang membuat semua orang cerewet dan linglung — selain dua kali, tak kudengar dan tak kutanyakan; kalian yang bersamaku tahu itu. Bahwa orang yang sedemikian tak peduli dan acuh terhadap keadaan-keadaan ini diserang, diprasangkai, dan disusahkan dengan pengintaian — betapa jauh dari keadilan — bahkan orang yang paling tak adil pun membenarkannya.
Dasar Kedua: Wahai saudara-saudaraku! Kalian tahu bahwa dalam jalan kami, kami lari dari menjadi pemilik kedudukan di balik tabir kebanggaan, keakuan, dan kemegahan, seperti dari racun mematikan. Kami menjauh keras dari keadaan-keadaan yang memberi kesan itu. Tentu, di sini, dengan mata kalian selama enam-tujuh tahun dan dengan penyelidikan kalian selama dua puluh tahun, kalian telah memahami bahwa aku tak ingin diberi hormat dan kedudukan terhadap pribadiku. Aku telah keras menegur kalian pada poin itu. Aku marah kepada kalian dengan berkata: jangan beri aku kedudukan yang melampaui batasku. Hanya saja, atas nama Risale-i Nur yang merupakan sebuah mukjizat maknawi Al-Qur'an Yang Mahabijaksana di zaman ini, aku pun — dengan kehormatan sebagai salah satu muridnya — menerima dengan syukur kepasrahan dan ketautan yang penuh pembenaran kepadanya. Nah, betapa tak berarti dan tak perlunya prasangka para ahli pemerintahan, ahli pengelolaan, dan polisi terhadap orang-orang yang menjadikan lari dari keakuan, kebenaran-diri, dan kemunafikan di balik nama kebanggaan dan kemegahan sebagai prinsip gerak — bahkan orang-orang gila pun memahaminya. Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan teguh! Kemenangan maknawi dan pembebasan para korban musibah, bukan hanya menyenangkan kalian dan kami, melainkan berhakikat menyenangkan seluruh ahli iman di negeri ini. Sebab ia membuka jalan bagi kebebasan Risale-i Nur. Sampai sekarang, karena prasangka penyitaan, kami terpaksa sangat berhati-hati. Selama delapan belas tahun ini, khususnya selama enam tahun di sini, dalam hal menyembunyikan risalah-risalah aku sangat bersusah payah, dan selalu gelisah serta menderita azab. Syukur dan puji kepada Cenab-ı Hak sebanyak huruf Risale-i Nur, bahwa kali ini dengan kemenangan maknawinya ia merobek tabir yang zalim dan gelap itu. Dengan kesusahan sedikit, ia menyiapkan landasan bagi sebuah upah besar dan fütuhat luas. Dan masa berhenti dua bulan ini, persis seperti peristiwa pemenjaraan kami, dengan cara lain, di lingkaran yang lebih luas, menjadi sarana penyebaran Risale-i Nur. Kami mengucapkan selamat kepada kalian, khususnya kepada para korban musibah, terutama kepada Hâfız Mehmed, dan kami berkata "semoga berlalu dengan baik." Bagi kami telah menjadi pasti, tak ada lagi keraguan: bahwa yang berkuasa dan mengalahkan sebuah pengadilan — yang dengan satu Risalah Tabir menahan seratus orang selama seratus hari, tapi tak bisa menahan satu orang selama sehari dengan seratus risalah sepertinya — adalah kesetiaan luar biasa kalian, keikhlasan luar biasa kalian, ketabahan tak tergoyahkan kalian, dan ketautan kuat kalian. Semoga Cenab-ı Hak ridha selamanya kepada kalian, âmîn.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Pertama: kami mengucapkan selamat atas tiga bulan mulia (şuhur-u selâse) yang akan memberi kalian sebuah umur maknawi delapan puluh tahun lebih, dan khususnya atas Malam Raghaib (Leyle-i Regaib) malam ini. Pembebasan dan kemenangan maknawi kalian membuat para zalim bingung. Mereka mengubah front di sini. Mereka berhenti dari serangan permusuhan, lalu menyusup secara bersahabat; demi menjauhkan murid-murid khusus dari khidmah Risale-i Nur, mereka mencari sebuah kesibukan seperti jabatan kepegawaian, atau mencari — dengan dalih kenaikan pangkat karena banyak pekerjaan — sebuah jabatan lain atau kesibukan lain. Di sini banyak kejadian semacam itu. Serangan ini dari satu sisi tampak lebih merugikan.
Kedua: di sini sebuah cahaya yang berpengaruh masuk ke sekolah lise. Yaitu, Posisi Pertama (Birinci Mevkıf) Kalimat Ketiga Puluh Dua (Otuzikinci Söz), Nuktah İsm-i Adl dan Hakem Kilatan Ketiga Puluh (Otuzuncu Lem'a), Kilatan Alam (Tabiat Lem'ası) sampai penutupnya, dan Maqam Pertama Âyet-ül Kübra yang dimulai dengan "Ya, tiap tamu yang masuk ke negeri dan rumah penginapan dunia ini..." — dari awalnya, dengan martabat ilham dan wahyu dikecualikan, sampai martabat kedelapan belas yaitu hakikat kebaruan (hudûs) alam, sampai kemungkinan (imkân) — dengan huruf baru, dengan sebuah peringatan maknawi kami beri izin. Mereka menulisnya sendiri dengan mesin tik (daktilo). Kalian pun bisa menjilid keempat bagian ini menjadi satu, lalu dengan huruf baru menembakkannya kepada ahli pengingkaran seperti peluru meriam dua belas. Karena tahun ini aku berada dalam keadaan sangat lemah, sepuh, dan tak berdaya, aku memohon bantuan maknawi dari saudara-saudaraku yang muda pada tiga bulan mulia ini. Kepada tiap-tiap mereka kami beri salam satu per satu dan mendoakan keselamatan mereka di dua negeri. Said Nursî