Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Lampiran Kastamonu · hlm. 140

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia, serta kawan-kawanku yang pahlawan dalam khidmah Al-Qur'an! Sebelum ini, setelah menerima amanat, aku telah mengirim tiga surat. Pada surat Hâfız Ali kali ini ia tak menyebut surat-surat itu, aku jadi gelisah. Penyakit Hâfız Ali, pemilik Pabrik Nur, menyedihkanku dan menggiring kami kepada doa. Semoga Cenab-ı Hak menganugerahkan kekuatan dan kesembuhan, âmîn.

Surat-surat Ahmed Feyzi dalam sistem Halil İbrahim — yang merupakan salah satu rukun penting Risale-i Nur — bersama surat Hâfız Ali: kalaupun prasangka baik mereka yang seratus derajat melampaui batasku terhadap pribadiku kita kesampingkan — terlepas dari itu — karena ia menunjukkan ikatan Halil İbrahim dan Ahmed Feyzi yang tak tergoyahkan dan sangat kuat terhadap sosok maknawi (şahs-ı manevî) Risale-i Nur di kawasan itu, ia sungguh menggembirakan kami. Ya, kepedulian mereka yang hebat itu menanamkan dan melanggengkan Risale-i Nur di kawasan itu. Surat keduanya, dari sisi lahirnya menyandarkan kepentingan kepada pribadiku, memang tak tepat dan berlebihan. Tapi hakikat di balik bentuk yang keliru itu — yakni ungkapan-ungkapan dalam surat-surat itu, yang sepenuhnya tepat dan benar bila ditujukan kepada sosok maknawi yang tersaring dari ketautan tulus para murid Risale-i Nur dan kepada hakikat Risale-i Nur yang datang dari Al-Qur'an — ternyata ditujukan kepada seorang individu parsial sepertiku. Meski ia seribu derajat melampaui batasku, aku menerimanya atas nama sosok maknawi itu, demi hakikat Risale-i Nur, dan dari sisi menjadi tanda sebuah kepedulian dan keaktifan luar biasa di negeri yang penting dan sangat membutuhkan itu.

Surat Ahmed Feyzi pun kami terima sebagai bentuk sebuah tekad dan keputusan bahwa — insya Allah seperti Feyzi dari Kastamonu — ia akan bekerja untuk Risale-i Nur dengan segenap kekuatannya. Tapi karena kerendahan-hatinya dan ketawadhuannya sangat berlimpah, dan permintaannya pun berlimpah, dan doa-doa dalam suratnya pun indah, ia masuk bahu-membahu dengan Feyzi dari sini dalam doa tetap kami. Surat Halil İbrahim — barangkali tiap suratnya — aku terima atas nama dia sekaligus İnce Mehmed. Kepada keduanya, seperti Hüsrev dan Rüşdü, aku memandang dengan pandangan satu ruh dua jasad. Semoga Cenab-ı Hak menjadikan mereka berhasil dan memperbanyak orang semisal mereka di sana. Dan dalam surat itu, ia mengabarkan bahwa — bersama Hâfız Mehmed Emin dan Mustafa Çavuş dari murid-murid Risale-i Nur — tokoh-tokoh seperti Ahmed, Salahaddin, dan İzzeddin dari Siirt pun peduli terhadap Risale-i Nur. Kami pun memberi salam satu per satu kepada mereka, dan akan menyertakan mereka pula dalam doa, di antara murid-murid Risale-i Nur.

Pada surat Hâfız Ali, ia telah menghargai dan meringkas dengan indah surat kami yang sampai ke tangannya. Ungkapannya — bahwa karena Risale-i Nur adalah toko kebahagiaan abadi dan menjual intan-intan baka, maka pecahan kaca yang fana dan rapuh jangan diminta darinya — sungguh terungkap dengan sangat indah. Kepada seluruh saudara kami, baik di Isparta maupun di Manisa, kami memberi salam dan doa satu per satu, dan kami meminta doa mereka. Di penjara, sang pahlawan Şefik, juru tulis terakhir Risale-i Nur — apakah ia masih hidup? Di mana ia? Aku gelisah. Tanyakanlah kepada Halil İbrahim.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Setelah bulan-bulan Muharram (Şuhur-u Muharreme), khususnya menjelang musim semi, aku gelisah bahwa — beserta kelalaian kehidupan dunia yang sampai taraf tertentu memberi kelesuan — beberapa guncangan, penyakit, dan keberangkatan ke wajib militer telah sedikit melemahkan khidmah Risale-i Nur. Syukur kepada Cenab-ı Hak bahwa, dengan surat-surat kalian dan kedatangan Âtıf Hasan, kegelisahan itu lenyap.

Di surat kalian itu ada pembahasan tentang sebuah peristiwa nurani yang sangat penting, yaitu upaya mencetak Hizb-ül Ekber-ül Kur'an. Ya, ayat-ayat dalam Hizb-ül Ekber itu adalah ruh, dasar, tambang, üstad, dan matahari seluruh Risalah-Risalah Nur (Resail-i Nuriye). Setelah pencetakannya, kalau mungkin, perlu pula dicetak risalah bernama Hizb-ül Ekber Risale-i Nur — yang berlafal Arab dan merupakan ringkasan dua Âyet-ül Kübra dan Münacat. Tapi naskah yang ada di tangan kalian tak sesempurna naskahku. Kami akan menulisnya di sini, dan kalau kalian mau, kami kirimkan kepada kalian. Atau kalau kalian mau, kami kirimkan kepada wakil kalian yang ada di percetakan di İstanbul. Beritahukanlah alamatnya.

Saudara kami Hasan Âtıf sungguh sangat layak dan berbakat untuk khidmah Risale-i Nur. Beserta tulisannya yang istimewa, keikhlasan, keterikatan, kepedulian, kesungguhan, dan kesetiaannya pun sempurna. Semoga Cenab-ı Hak memperbanyak orang semisalnya. Saudara kami ini kami kirim kepada kalian sebagai surat hidup, senilai dua puluh surat. Terhadap surat yang ditulis Hâfız Ali kepada saudara-saudara di sini secara sangat tinggi dan sangat berpengaruh, dengan Feyzi dan Emin di depan, atas nama semua, Feyzi berkata: "Kami, para murid negeri ini, adalah adik-adik para pahlawan Isparta, bahkan murid-murid mereka. Pelajaran, khidmah, dan kesungguhan kami terima dari mereka. Tiap-tiap mereka, bagi kami, adalah seorang üstad. Kami mencium tangan mereka dan menyampaikan hormat. Semoga Cenab-ı Hak ridha selamanya kepada para pahlawan itu, âmîn." Demikian kata mereka.

Tulisan indah dalam surat mungil seorang murid kecil Risale-i Nur yang penting — murid pertama Sabri, sang pengawas dermaga Risale-i Nur — menggembirakan kami. Semoga Cenab-ı Hak menganugerahkan taufik, keselamatan, dan kebahagiaan kepadanya dan kepada anak-anak tak berdosa yang bekerja untuk Risale-i Nur sepertinya, âmîn.

Surat Hâfız Mustafa, yang bagi kami sangat penting, menunjukkan sebuah hakikat yang sudah lama kunanti: bahwa murid-murid di lingkaran Risale-i Nur, secara musyawarah, mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sangat penting seperti mencetak.

Saudara-saudaraku yang mulia, setia, jujur, ikhlas, dan murni! Aku akan berbicara sebentar-sebentar tentang empat-lima saudaraku:

Pertama: kami melihat untuk ketiga kalinya sebuah pemberian (teberrük) dari saudara kami Hacı Hâfız — sang mürsyid, pendiri, dan pengelola Madrasah Nuriah. Dahulu, saat masih di Barla, suapan-suapan manis yang penuh keramat dan keberkahan ajaibnya, dan dua setengah okka madu di Isparta yang memaniskan Risalah Hemat (İktisad Risalesi) menjadi sebab sebuah peristiwa luar biasa, (Hâsiye: Kini aku menduga, madu itu pun darinya; tapi aku tak bisa benar-benar mengingatnya.) — kini untuk ketiga kalinya pula, ia mengirim sebuah hadiah yang tak terbagi-bagi, yang mewakili seribu kenangan dan perhatian para mübarek yang diberkahi dan tak berdosa. Sebuah kaidah hidupku yang berusia enam puluh tahun, demi kenangan seribu kenangan itu, kuabaikan kaidahku itu.

Kedua: Mukjizat-Mukjizat Qur'aniah (Mu'cizat-ı Kur'aniye) penuh tevafuk yang ditulis Âtıf Hasan secara sungguh luar biasa, kusaksikan setelah ia pergi. Andai aku mampu, aku akan memberi satu lira untuk tiap lembarnya. İnsya Allah, dengan naskah itu ribuan orang akan mengambil manfaat, dan ia akan memberi pemasukan bagaikan sebuah mata air bagi kehidupan bakanya. Ia menjadi yang ketiga, setelah Hüsrev dan sang pahlawan Tahirî.

Ketiga: mimpi yang benar dan penuh hikmah dari Kâtib Osman — murid lama, penting, dan rajin Risale-i Nur — beserta takwilnya yang tepat, sebagaimana menyenangkan mereka, juga menggembirakan kami. Dan dengan suratnya itu, ia menulis hal-hal yang kugelisahkan; serta salam dari Hüsrev dan Rüşdü, Hâfız Ali, Zühdü Bedevi, Nuri dan pemilik Pabrik Nur, para Tahir, himpunan para mübarek, madrasah nuriah, para orang tua ummi, dan anak-anak tak berdosa — semuanya. Kami pun memberi salam satu per satu kepada mereka. Kami mendoakan keberhasilan dan keselamatan mereka.

Di kawasan ini pula, bahkan di banyak tempat, karena keaktifan kalian menggugah semangat dan Risale-i Nur kian meluas, hal itu membuat ahli dunia berpikir dan menarik perhatian. Sedikit-sedikit gangguan kecil pun datang dari situ. Kewaspadaan, sebagaimana selalu, tetap diperlukan. Bahwa Hazret-i İmam Ali radhiyallahu 'anhu dua kali berkata "Sırran tenevverat" mengisyaratkan bahwa Risale-i Nur bercahaya dan menerangi di balik tabir. Sebisa mungkin jangan beri perhatian pada angin-angin sesaat, jangan menengoknya. Lagi pula, ketautan tulus dan musyawarah syar'i (meşveret-i şer'iye) di antara kalian sudah menjaga kalian dari hal-hal semacam itu. Pikiran sosok maknawi di dalam kalian, ia beritahukan lewat musyawarah itu.

Saudara kalian, dan kawan kalian dalam khidmah Al-Qur'an di dunia, barzakh, dan akhirat yang penuh syukur berbangga dengan kalian dan akan terus berbangga, Said Nursî

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Jangan bersedih karena peristiwa serangan yang baru ini. Sebab, dengan pengalaman berulang, Risale-i Nur berada di bawah pertolongan (inayet). Tak ada satu golongan pun, sampai sekarang, yang dalam khidmah sepenting ini selamat dengan kesulitan sesedikit kami. Lagi pula, dengan banyak kejadian — seperti penyakitku Ramadan lalu dan musibah kami di Eskişehir — terlihat bahwa di bawah keadaan-keadaan yang lahirnya sulit dan susah, justru tersingkap dan terjadi fütuhat yang lebih berpengaruh demi manfaat Risale-i Nur. İnsya Allah, peristiwa yang menyulitkan ini pun, dengan berbalik dari maksud kaum munafik, menjadi sarana untuk memudahkan fütuhat Risale-i Nur pada jalur lain.

Bahwa Sinar Kelima (Beşinci Şua) — yang masalah-masalahnya ditulis dua puluh lima tahun lalu, lalu hanya dengan tambahan satu-dua halaman penerapan masuk ke Şualar — jatuh ke tangan mereka, adalah hal yang penting. Tapi dalam hal ini pun ada hikmah. Barangkali ia sebuah ketetapan Ilahi (kaza-i İlahî) di luar daya luar biasa kita, supaya mereka mengenali jalan mereka sendiri dan mengetahui hakikat orang yang menuju Neraka; maka percayakanlah kepada hikmah, pertolongan, dan penjagaan Cenab-ı Hak, jangan gelisah.

Hendaklah kalian dan mereka tahu: sebagaimana sedekah menolak bencana, begitu pula Risale-i Nur menjadi sarana penolakan dan pengangkatan bencana-bencana langit dan bumi (âfât-ı semaviye ve arziye) dari Anatolia, khususnya dari Isparta dan Kastamonu. Ya, makna yang diistihrac (ditarik) Sabri dari ayat يَٓا اَرْضُ ابْلَع۪ى … وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِىِّ adalah benar dan tepat. Ya, Risale-i Nur — seperti Bahtera Nuh — menjadikan Anatolia berkedudukan seperti Gunung Cudi, lalu menjadi sebuah sebab keselamatannya dari kebakaran dan banjir bumi. Sebab, sebagaimana pembangkangan (tuğyan) yang datang dari lemahnya iman menarik kebanyakan musibah umum, begitu pula Risale-i Nur yang menguatkan iman secara luar biasa menjadi sarana — dari pihak rahmat Ilahi — untuk meninggalkan musibah umum itu di luar lingkarannya.

Para ahli dunia ini, para penduduk Anatolia ini: kalaupun mereka tak masuk ke Risale-i Nur, janganlah mereka mengganggunya. Kalau mereka mengganggu; hendaklah mereka memikirkan bahwa mereka akan tertimpa serbuan kebakaran, banjir, gempa, dan wabah tha'un yang menanti dalam waktu dekat, dan hendaklah mereka sadar. Selama kami tak mencampuri dunia mereka, maka campur-tangan mereka secara tak perlu sampai sedemikian dalam urusan akhirat kami pun, kuat kemungkinan mendatangkan bencana bagi mereka.

Nah, selama delapan bulan ini, khususnya beserta peristiwa kalian yang menggugah ini; kini Feyzi dan Emin di sisiku serta semua sahabat yang bersentuhan denganku menjadi saksi bahwa selama delapan bulan ini tak sekali pun aku menanyakan, baik Perang Umum maupun politik. Dan radio yang terdengar dari kamarku pun, sudah tiga tahun tak kudengar. Padahal aku punya alasan untuk menengok dunia sebesar ribuan orang. Berarti, yang mengganggu kami, secara langsung menyerang iman. Mereka kami serahkan kepada Cenab-ı Hak.

Lagi pula, padahal kami sama sekali tak punya kaitan dengan ahli politik, hendaklah mereka tahu pasti: di negeri ini, di abad ini, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan bangsa dari anarki, dari kemerosotan dan keterpurukan mutlak, adalah dasar-dasar Risale-i Nur. Hendaklah anak-anak tak berdosa yang menderita kesulitan dalam peristiwa ini, beserta guru-guru mereka, tahu: sebagaimana di bawah keadaan berat, satu jam berjaga setara satu tahun ibadah, dan dengan tafakur iman yang hakiki satu jam setara satu tahun ketaatan, begitu pula insya Allah kesulitan mereka menjadi sumber pahala semacam itu. Hendaklah mereka pun menyambutnya bukan dengan gelisah dan sedih, melainkan dengan suka dan gembira. Tapi berdasarkan ucapan Hazret-i Ali radhiyallahu 'anhu dua kali سِرًّا بَيَانَةً سِرًّا تَنَوَّرَتْ, kita berkewajiban setiap saat menjaga sikap penuh kewaspadaan dan penuh kehati-hatian.

Bahwa para anggota Risale-i Nur — di luar kesadaran dan kehendak mereka — saling berkaitan dan saling peduli terhadap peristiwa satu sama lain, dibuktikan pula oleh sebuah dalil beberapa hari ini. Begini: dari saat terjadinya peristiwa di sana sampai hari ini, keadaan murid-murid dari berbagai lapisan di sini melewati sebuah masa berhenti (tevakkuf) — seakan berubah karena sebuah peristiwa penting — agar terkesan menghindar dan agar tak menarik perhatian kaum munafik kepada mereka dan kepada kami. Aku pun keheranan. Dan kami pahami bahwa takwil mimpi beberapa tokoh seperti Nazif adalah peristiwa kalian. Kami memberi salam dan doa satu per satu kepada seluruh saudara kami, khususnya kepada para korban musibah. Semoga Cenab-ı Hak segera menyelamatkan mereka dan mengirim mereka ke pos tugas mereka, âmîn.