Masalah Kedua
Lampiran Kastamonu · hlm. 167
kemenangan pasti Risale-i Nur di Isparta membuat kaum zindik bingung. Tapi sebagian zindik yang keras kepala, bandel, dan berkedudukan sebagai ruh jahat dari herif yang telah mati, dengan pikiran melawan kekalahan itu, dari atas sampai bawah, menentang Al-Qur'an dan Nabi صلى الله عليه وسلم, tapi di balik tabir; persis seperti dalam pembahasan munazarah setan, ungkapan-ungkapan yang dikatakan partai setan tentang Nabi صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur'an sesuai jalan mereka, herif zindik itu pakai dengan cara lain. Poin-poin yang sejak dahulu dijadikan bahan kritik oleh para filsuf Yahudi, bandel, dan tak beragama semisalnya serta oleh kaum zindik Eropa tentang keadaan Al-Qur'an dan Nabi صلى الله عليه وسلم; zindik berkedok nama Islam ini, secara licik, ia tempuh dengan cara sedemikian rupa untuk diperdengarkan dan ditunjukkan kepada Muslim yang lugu dan kepada mereka yang tak melihat Risale-i Nur, lalu ia berupaya menyembunyikan kekufurannya, sehingga dalam kesetanan ia melampaui setan. Itu sangat menyedihkanku.
Sebagaimana dalam surat saudara kami Sabri ia berkata bahwa tipu-daya rapuh dan kosong yang dipasang kaum mulhid bandel terhadap arus Risale-i Nur — seperti jaring dan sarang laba-laba — tak berkekuatan, dan bahwa tabir-tabir kesetanan itu tak bernilai dan tak punya daya tahan, akan robek dan akan dirobek menghadapi Risale-i Nur; begitu pula, karya cetak yang ditulis oleh zindik — ruh jahat dari herif zindik, bandel, keras kepala yang telah mati ini — yang lahirnya membela Turkisme di hadapan Muslim, tapi hakikatnya ditulis dengan niat mematahkan, meniadakan, dan menghinakan keagungan dan kemegahan maknawi Al-Qur'an dan Nabi صلى الله عليه وسلم — pun tak akan bisa menjadi jaring laba-laba menghadapi Mu'cizat-ı Kur'aniye dan Mu'cizat-ı Ahmediye صلى الله عليه وسلم, ia akan tercabik. Tapi seribu sayang bahwa: sebagaimana ia memberi kerugian pasti kepada mereka yang tak melihat Risale-i Nur, begitu pula mereka yang melihat Risale-i Nur pun, dengan rasa ingin tahu dan berkata "Sebenarnya apa isinya?", mengeruhkan hati mereka yang jernih. Setidaknya ia memberi waswas dan prasangka. Para murid pahlawan Risale-i Nur perlu bersikap waspada terhadap hal-hal semacam itu dan memperbanyak keaktifan mereka. Karena sibuk secara pikiran dengan hal buruk pun adalah buruk, aku potong singkat. Jangan sekali-kali, dengan memberinya kepentingan, membuat orang gelisah dan menengoknya. Justru hendaklah diketahui bahwa ia sebuah kain buruk yang tak penting, tak beragama, yang dari dalamnya pun ia keluar dari sebagian makna nama-nama yang diberkahi dan ayat-ayat yang diberkahi. Pahamilah dari perumpamaan ini sejauh mana herif ini melampaui batasnya. Misalnya: seorang dungu yang ingin memandang dari jarak yang sangat jauh sebuah kitab yang dibaca dan ditelaah oleh para ulama yang ahli dan cermat di sebuah majelis yang sangat jauh, dan seorang tokoh tempat mereka belajar, lalu tak melihatnya, kemudian memberi hukum berlawanan dengan para ulama itu lalu mengkritik mereka — ia mengigau secara gila. Semoga Cenab-ı Hak menjaga ahli iman dan murid-murid Risale-i Nur dari keburukan orang-orang semacam itu, âmîn. Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Setelah kemenangan ketabahan dan keikhlasan luar biasa kalian dan tertolaknya musibah itu, ahli dunia mengubah front. Dengan tipu-daya kaum zindik, di kawasan ini telah mulai penumpukan materiil dan maknawi terhadap kami di balik tabir. Dengan sangat cermat dan secara setan, mereka berupaya merusak ketautan (tesanüd) yang merupakan kekuatan hakiki murid-murid. Padahal mereka mengembalikan risalah-risalah kepada kalian, secara licik tipu-daya diputar. Padahal kami berkedudukan sebagai sebuah cabang kalian, karena mereka menganggap kami sebagai pokok dan pusat, mereka lebih banyak menggunakan tipu-daya terhadap kami. Penjaga Hakiki (Hâfız-ı Hakikî) adalah Cenab-ı Hak. İnsya Allah mereka tak akan bisa memberi kerugian apa pun. Tapi pada hari dan malam mulia bulan-bulan mulia ini, tolonglah kami dengan doa-doa ikhlas kalian. Tak ada apa-apa. Tapi sebisa mungkin, bersikaplah waspada dan cermat. Jaminan maknawi para pahlawan seperti Hazret-i Ali radhiyallahu 'anhu dan Gavs-ı Geylanî quddisa sirruhu, dan seruan قُلْ وَلاَ تَخَفْ serta وَلاَ تَخْشَ, setiap saat memberi kami keberanian dan kekuatan maknawi. Dalam surat Kâtib Osman, ia menulis bahwa Burhan, saudara gagah sang pahlawan Rüşdü, sangat berkhidmah dalam menyelamatkan risalah-risalah. Memang saudara kami yang berani itu dahulu pun punya khidmah semacam ini. Kepadanya, kepada mereka yang berupaya menyelamatkan Risale-i Nur dan punya andil, bahkan kepada ketua pengadilan dan anggota-anggotanya yang adil, kami memberi doa sekaligus terima kasih. Kalau dipandang tepat, sampaikanlah ucapan terima kasih khusus kami kepada ketua pengadilan.