بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 168
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ بِعَدَدِ عَاشِرَاتِ دَقَائِقِ هٰذِهِ الشُّهُورِ الثَّلاَثَةِ
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Pertama: kami mengucapkan selamat atas Malam Mi'raj (Leyle-i Mi'rac) yang telah berlalu dan Malam Bara'ah (Leyle-i Berat) yang akan datang, dan kami memohon doa-doa kalian yang terkabul. Kedua: separuh akhir Kalimat Kedua Puluh Lima (Yirmibeşinci Söz) yaitu Mu'cizat-ı Kur'aniye, alih-alih tetap sangat ringkas karena bencana tergesa-gesa; sebagaimana kutulis kepada kalian sebelumnya, kami telah menggabungkan beberapa lampiran di akhirnya. Kini sebuah bagian terpenting kami temukan di Lemaat yang dicetak dua puluh tahun lalu. Penyisipannya pun ke dalam lampiran-lampiran Mu'cizat-ı Kur'aniye dipandang sangat tepat. Naskah Lemaat yang dibawa sang pahlawan Tahirî kepadaku kupandang sangat berharga. Kalau ada satu naskah lagi di kawasan itu, kalian pun tuliskan bagian itu di akhir naskah-naskah kalian. Memang Lemaat sendiri pun luar biasa. Pada Ramadan Mulia, dalam dua puluh hari, dalam bentuk prosa, tanpa dibuat-buat, ditulis sekaligus. Lalu kami melihat, ia mengambil bentuk prosa-berirama dan nazm-prosa, bagai sehl-i mümteni' (mudah-tampak namun tak tertiru). Di dalamnya, bagian ini lebih luar biasa. Judul bagian itu di Lemaat: "İjaz dengan menjelaskan kemukjizatan Al-Qur'an." "Suatu ketika dalam mimpi kulihat: aku di bawah Gunung Ağrı. Tiba-tiba gunung meledak, menghamburkan batu-batu sebesar gunung ke dunia, mengguncang alam." Dari sini sampai judul "Cara pandang itu ada dua; satu gelap, satu bercahaya." Kalau Lemaat belum jatuh ke tangan kalian, bagian itu akan kami kirim dari sini.
Ketiga: aku akan menceritakan sebuah peristiwa yang halus, indah, dan menarik: di negeri ini, para perempuan tua yang berpegang kepada Risale-i Nur dengan pengorbanan melebihi laki-laki, dan para perempuan muda tak berdosa yang berkedudukan seperti perempuan tua, menarik keping-keping berharga dari peralatan pengantin bersulam emas dan berlapis emas zaman dahulu ke atas jilid-jilid bagian Risale-i Nur, sehingga seluruh risalah masuk ke sebuah bentuk seakan dijilid dengan lapisan emas. Mereka menambahkan sebuah keindahan manis lagi di atas jilid, kepada keindahan maknawi Risale-i Nur dan keindahan tulisan berlapis emas saudara-saudara kami seperti Hüsrev, Tahirî, para Ali, Hasan Âtıf, dan Âsım. Senilai Ümmühan dan Şahinde yang ditulis Hâfız Ali dalam suratnya, di sini ada banyak saudari kami yang bekerja untuk Risale-i Nur dengan segenap kekuatannya. Misalnya, para murid Risale-i Nur seperti Âsiye, Sâniye, Ulviye, Lütfiye, Aliye memberi salam dan doa kepada para saudari dan saudara di sana.