Saudara-saudaraku yang mulia! Kali ini, sebagai ganti surat, kami mengirim buah ini.
Lampiran Kastamonu · hlm. 214
Sebuah Buah dari Karadağ
Sebuah individu dari keumuman makna isyari sebuah ayat, adalah masa dari Hürriyet (proklamasi kebebasan) sampai saat ini. Pada hari ketiga puluh bulan Teşrin-i sâni, di tahun seribu tiga ratus lima puluh delapan (1358), aku sedang mendaki puncak Karadağ. Terlintaslah: "Kehancuran dan kerugian beruntun manusia, khususnya kaum Muslimin ini, mulai sejak kapan, dan akan berlanjut sampai kapan?" Tiba-tiba, Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat — yang menyelesaikan tiap kesulitanku — menampilkan Surah Wal-'Asr di hadapanku. Ia berkata: "Pandanglah!" Aku memandang. Seperti ia menyeru tiap abad, ia lebih menengok abad kita ini: makam cifir اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَف۪ى خُسْرٍ dalam ayat وَ الْعَصْرِ ❊ اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَف۪ى خُسْرٍ (tasydid dan tanwin dihitung) menjadi seribu tiga ratus dua puluh empat (1324), lalu — dengan musibah-musibah samawi dan duniawi serta kerugian kemanusiaan seperti pergantian kesultanan yang dimulai dengan revolusi kebebasan, Perang Balkan dan Perang Italia, kekalahan-kekalahan Perang Umum Pertama dan perjanjian-perjanjiannya yang dahsyat, terguncangnya syiar-syiar Islam, gempa-gempa dan kebakaran-kebakaran negeri ini, serta badai-badai Perang Umum Kedua di muka bumi — ia menunjukkan sebuah hakikat ayat اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَف۪ى خُسْرٍ bagi abad ini pula, secara materiil dengan tarikh yang sama, lalu menampakkan sebuah kilatan kemukjizatannya.
اِلاَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (kalau ت di akhir dihitung هـ, dan tasydid dihitung) makam cifirnya menjadi seribu tiga ratus lima puluh delapan dan sembilan (1358-1359); dengan menunjukkan tarikh yang sama dengan tahun ini dan tahun depan, ia menunjukkan bahwa cara satu-satunya untuk selamat dari kerugian-kerugian itu — terutama kerugian maknawi — adalah iman dan amal saleh; dan dengan makna kebalikannya, ia menunjukkan bahwa sebab satu-satunya kerugian itu adalah kekufuran dan keingkaran, ketidaksyukuran — yakni ketiadaan iman — serta kefasikan dan kebejatan. Dengan membenarkan keagungan dan kesucian Surah وَ الْعَصْرِ, dan bahwa — beserta kependekannya — ia perbendaharaan hakikat yang sangat luas dan panjang, kami bersyukur kepada Cenab-ı Hak.
Ya, sebab selamatnya Alam Islam dari Perang Umum Kedua yang dahsyat — kerugian terbesar abad ini — adalah iman dan amal saleh yang datang dari Al-Qur'an; sebagaimana pula, sebab kelaparan pahit dan kelangkaan yang menimpa kaum fakir adalah karena mereka tak menanggung kelaparan manis puasa; dan sebab kerugian dan kehilangan yang menimpa kaum kaya adalah karena mereka menimbun (ihtikâr) alih-alih berzakat. Dan banyak pertanda serta keyakinan ribuan ahli hakikat dan ketelitian dari murid-muridnya membuktikan bahwa sebab Anadolu tak menjadi medan perang adalah Risale-i Nur, yang secara luar biasa mengajarkan hakikat kalimat suci اِلاَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا secara tahkiki ke hati ratusan ribu manusia. Antara lain: salah satu pertandanya, seperti banyak orang yang memberi kesulitan kepada Risale-i Nur atau menarik diri dari khidmahnya lalu menerima tamparan; tahun ini, dengan kesalahan memberi kesulitan secara umum kepada penyebaran Risale-i Nur di sekitar negeri ini lalu memunculkan sejenis masa terhenti sekarang, ia menunjukkan bahwa hal itu adalah salah satu sebab kesulitan umum sekarang.
(Sebuah hâsiye bagi nuktah Surah Wal-'Asr yang bernama Buah Gunung — Dağ Meyvesi): ت dalam اَلصَّالِحَاتِ: "ta"-"ta" di akhir, karena kebanyakan jatuh pada waqaf, dalam cifir bisa dihitung هـ, dan اِلاَّ ikut serta. Pada titik ini (1358) ia menunjukkan zaman kita ini. Dan karena dalam pelafalan هـ tak dibaca, ت bisa tetap. Dari titik ini, kalau tasydid tak dihitung dan اِلاَّ tak ikut serta, ia mengisyaratkan bahwa sampai dua ratus tahun lebih lamanya, sebuah kelompok besar beserta iman dan amal saleh akan melanjutkan perjuangan menghadapi kerugian-kerugian besar; kepada zaman yang ditunjukkan oleh صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ di akhir Fatihah, yaitu seribu lima ratus empat puluh tujuh (1547) atau seribu lima ratus tujuh puluh tujuh (1577); dan لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمَّت۪ى ظَاهِر۪ينَ عَلَى الْحَقِّ حَتّٰى يَاْتِىَ اللّٰهُ بِاَمْرِه۪ — kalimat pertama, dengan makam seribu lima ratus (1500), menunjuk masa-masa akhir sebuah kelompok mujahid di akhir zaman; kalimat kedua, dengan makam seribu lima ratus enam (1506), menunjuk tarikh perjuangan yang penuh kemenangan; dan kalimat ketiga, dengan makam seribu lima ratus empat puluh lima (1545), dengan selisih sangat kecil, mengisyaratkan isyarat gaib kedua kalimat Fatihah dan Surah Wal-'Asr sekaligus, lalu bertevafuk. Berarti, masing-masing dari tiga kalimat hadis mulia ini — pada isyaratnya tentang tarikh seribu lima ratus dan sampai kapan perjuangan berlanjut — berserikat dengan اَلَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ini (kalau tasydid tak dihitung) dengan makam seribu lima ratus enam puluh satu (1561), serta dengan وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (tasydid dihitung, tapi بِالصَّبْرِ adalah lam) dengan makam seribu lima ratus enam puluh (1560); lalu mereka menunjukkan — dengan makna isyari dan cifir — sampai kapan perjuangan kelompok besar itu akan berlanjut. Dan dengan makam ebced mereka, mereka mendekati tarikh yang ditunjukkan Fatihah dan hadis, bertevafuk dengan selisih derajat tertentu, dan dengan makna-maknanya pun sepenuhnya bersesuaian, lalu menunjukkan sebuah kilatan kemukjizatan gaib yang gemilang.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Said Lama lama bekerja dengan menjadikan Medreset-üz Zehra sebagai cita-cita. Cenab-ı Hak, dari kesempurnaan rahmat-Nya, menjadikan Isparta dalam kedudukan Medreset-üz Zehra itu. Dan alih-alih kerabat dan sahabat terbatas dari Isparta kecil yang merupakan kecamatan kami, Ia memberi Provinsi Isparta yang diberkahi, lalu menganugerahkan ribuan saudara. Bahkan mungkin saja, asal Isparta kecil itu berasal dari Isparta besar ini. Boleh jadi tanah air asliku adalah Isparta ini. Bahkan, siapa pun orang Isparta, kulihat ia lebih peduli kepadaku dan kepada Risale-i Nur dibandingkan orang lain. Bahkan, di antara semua perwira di sini — kecuali satu — kulihat pembawa surat ini, Hilmi Bey orang Isparta, sebagai yang paling serius peduli kepada kami dan kepada Risale-i Nur. Kami menerimanya ke dalam murid-murid khas Risale-i Nur.
Serangan di Isparta dan Sava sampai taraf tertentu bersifat umum. Di tiap tempat yang ditembusi penyebaran Risale-i Nur, saat-saat ini, sampai sekarang ada serbuan terhadap fütuhat Risale-i Nur di dalam sebuah rencana. Ia merugikan semangat dan kegembiraan sampai taraf tertentu, membuka sebuah masa terhenti. Keterhentian itu menjadi sebab kelangkaan sekarang. Tapi syukur kepada Cenab-ı Hak, para pahlawan Isparta dan sekitarnya yang menunjukkan ketabahan bagai baja, memperkuat pula kekuatan maknawi tempat-tempat lain. Karena ada kerugian-kerugian parsial akibat sebagian orang yang tak waspada dan tak teliti, kewaspadaan dan ketelitian selalu diperlukan.
Sebagaimana di Barla — karena penghentian sementara Risale-i Nur — kekeringan mulai, dan dengan campur tangan Risale-i Nur hujan datang khusus untuk kawasan di sekitar Barla; dan dengan kerinduan Isparta kepada Risale-i Nur — seperti kata Hüsrev — hujan datang menolong secara luar biasa; dengan banyak pertanda semacam itu dan dengan petunjuk ratusan peristiwa yang muncul sehubungan dengan Risale-i Nur di sini, kami berkata: bahwa serangan umum dan luas semacam ini terhadap Risale-i Nur — yang merupakan rahmat itu sendiri bagi Anadolu — di zaman aneh ini, dan keterpaksaan penghentian di sebagian tempat, telah memberi kami keyakinan bahwa ia berbuah kelangkaan dan kemahalan, penimbunan yang aneh ini, ketiadaan berkah, dan kelaparan. Kini kawan-kawanku yang lain seperti Emin dan Feyzi yang ada di sampingku pun berkeyakinan sama. Said Nursî
(Ini jawaban bagi pertanyaan yang diajukan murid-murid Risale-i Nur)
Pertanyaan: Tahun lalu kami pernah bertanya kepada Anda; selama lima puluh hari Anda tak penasaran, tak menengok dan tak menanyakan arus-arus dunia, dan ketika itu Anda memberi kami sebuah jawaban. Memang jawaban itu hakiki dan mencukupi. Tapi padahal Anda perlu menengok sampai taraf tertentu dari sisi penyebaran dan khidmah Risale-i Nur serta kemaslahatan Alam Islam, kini sudah tiga belas bulan keadaan yang sama berlanjut. Anda sama sekali tak penasaran dan tak bertanya.
Jawaban: Karena manusia yang kini saling bergulat menjadi cermin ayat اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَظَلُومٌ dengan cara yang paling besar, jangankan memihak mereka, atau penasaran mengikuti arus-arus itu, atau mendengar propaganda dusta dan penipu mereka, atau menonton pergulatan mereka dengan iba — bahkan memandang kezaliman-kezaliman aneh itu pun tak boleh. Sebab, ridha kepada kezaliman adalah kezaliman; kalau ia memihak, ia menjadi zalim. Kalau ia condong, ia menjadi cermin ayat وَ لاَ تَرْكَنُٓوا اِلَى الَّذ۪ينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ. Ya, sebuah dalil pasti bahwa ia bukan atas nama hak, hakikat, agama, dan keadilan; melainkan atas nama sebuah kezaliman bengis yang tak ada bandingannya di dunia, yang bersandar pada kedegilan, fanatisme kebangsaan, kepentingan jenis, dan keakuan nafsu — adalah ini: membinasakan dengan bom seribu anak-istri, orang tua, dan orang sakit yang tak berdosa di sebuah tempat, dengan dalih adanya satu-dua tentara musuh; dan — di dalam arus-arus lapisan manusia — beraliansi dengan kaum anarkis yang merupakan para tiran terdahsyat dari kaum borjuis dan kaum paling ekstrem dari sosialis serta bolshevik; dan menyia-nyiakan darah ribuan, jutaan orang tak berdosa; serta melanggengkan perang yang merugikan seluruh manusia ini dan menolak perdamaian.
Nah, dari pergulatan-pergulatan semacam ini — yang tak sesuai dengan satu pun hukum keadilan dan kemanusiaan, dan tak satu pun prinsip hakikat dan hak — tentu Alam Islam dan Al-Qur'an berlepas diri. Ia tak merendahkan diri sampai hina dengan membantu mereka. Sebab, pada mereka berkuasa sebuah firaunisme dan keegoisan yang dahsyat; jangankan menolong Al-Qur'an dan Islam, ia mengulurkan tangan justru dengan menjadikannya pengikut dan alatnya. Bersandar pada pedang orang-orang zalim semacam itu — kebenaran Qur'aniah tentu tak merendahkan diri ke situ. Dan alih-alih sebuah kekuatan yang teradon dari darah jutaan orang tak berdosa, bersandar pada kekuasaan dan rahmat Pencipta Alam Semesta (Hâlık-ı Kâinat) adalah fardhu dan wajib bagi ahli Al-Qur'an. Memang, zindik dan ketidakberagamaan bersandar pada salah satu pihak yang bergulat itu lalu menindas ahli agama. Untuk lepas dari tekanan zindik itu, memihak arus yang berlawanan dengannya adalah sebuah jalan. Tapi sampai sekarang, pemihakan itu — tanpa memberi satu pun manfaat — telah menimpakan banyak kerugian. Lagi pula, zindik — dengan sifat kemunafikan — berpaling ke segala arah. Ia menjadikan sahabatmu sebagai sahabatnya, lalu menjadikannya musuhmu. Dosa-dosa yang kau peroleh dari sisi pemihakan, tinggal di lehermu tanpa guna.
Karena tugas murid-murid Risale-i Nur adalah iman, urusan-urusan kehidupan tak terlalu memedulikan mereka dan tak membuat mereka menengok dengan penasaran. Nah, berdasarkan hakikat ini, jangankan tiga belas bulan, sekalipun tiga belas tahun (Hâsiye: Bahkan persis selama tujuh tahun keadaan yang sama berlanjut. Ia tak penasaran, tak bertanya, dan tak mengetahui.) aku tak menengok pun, itu hakku. Kalian sudah menengok. Apa yang kalian peroleh selain dosa? Aku tak menengok, apa yang kuhilangkan?
Pertanyaan Kedua: Dalam Risalah İşarat-ı Kur'aniye, apa sebab dan apa sisi pengkhususan bahwa sebuah individu — secara khusus, di dalam kelompok ahli jalan lurus yang digambarkan ayat الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ di akhir Fatihah, dan di dalam para mujahid yang ditunjukkan hadis لاَ تَزَالُ طَٓائِفَةٌ مِنْ اُمَّت۪ى dan seterusnya... di akhir zaman, serta di dalam makna isyari tiga kalimat Surah Wal-'Asr yang dimulai dari اِلاَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا — adalah murid-murid khas Risale-i Nur?
Jawaban: Sebabnya: Risale-i Nur telah memecahkan dan menyingkap hampir seratus tilsam (teka-teki) agama dan teka-teki hakikat-hakikat Qur'aniah; yang dari tak diketahuinya tiap tilsam, banyak orang terjatuh ke syubhat dan keraguan, tak bisa lepas dari kebimbangan, lalu kadang kehilangan imannya. Kini, seandainya semua orang tak beragama berkumpul, setelah penyingkapan tilsam-tilsam itu mereka tak bisa menang. Dalam İnayat-ı Seb'a (Tujuh Pertolongan) di Surat Kedua Puluh Delapan (Yirmisekizinci Mektub) telah diisyaratkan sebagiannya. İnsya Allah, suatu saat tilsam-tilsam itu akan dihimpun dalam sebuah risalah tersendiri.