Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Lampiran Kastamonu · hlm. 205

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا

Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan lurus! Ada keperluan untuk menerangkan sebuah hakikat dengan sebuah peringatan yang sangat serius. Begini: dengan rahasia لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ الاَّ اللّٰهُ, para ahli kewalian tak mengetahui hal-hal gaib kalau tak diberitahukan kepada mereka. Bahwa bahkan seorang wali terbesar pun bisa bertarung secara tak adil karena tak mengetahui keadaan sebenarnya lawannya — hal ini ditunjukkan oleh peperangan di antara Asyarah Mubasysyarah (sepuluh sahabat yang dijanjikan surga). Berarti, dua wali, dua ahli hakikat, dengan saling mengingkari, tak jatuh dari maqam mereka. Kecuali kalau ia bergerak dengan sebuah ijtihad yang sepenuhnya bertentangan dengan lahir syariat dan kesalahannya nyata.

Berdasarkan rahasia ini — dengan mengikuti prinsip keluhuran budi (ulüvv-ü cenab) dalam وَ الْكَاظِم۪ينَ الْغَيْظَ وَ الْعَاف۪ينَ عَنِ النَّاسِ, dan demi keperluan menjaga iman mukmin awam tanpa terguncang dengan tak mematahkan prasangka baik mereka kepada para syaikh mereka, serta menyelamatkan para tokoh utama Risale-i Nur dari kemarahan yang benar tapi merugikan terhadap keberatan-keberatan tak adil; dan demi menghindari agar kaum ateis (ehl-i ilhad) tak memanfaatkan permusuhan di antara dua kelompok ahli kebenaran — dengan senjata dan keberatan yang satu melukai yang lain, dan dengan dalil yang lain meruntuhkan yang ini, lalu menjatuhkan dan meruntuhkan keduanya; murid-murid Risale-i Nur — berdasarkan empat dasar tersebut — tak boleh menghadapi penentang dengan kemarahan, kegusaran, dan balasan setimpal. Mereka hanya perlu — demi membela diri, secara damai — menjelaskan poin-poin yang dijadikan keberatan dan memberi jawaban.

Sebab, di zaman ini keakuan telah melaju jauh. Setiap orang tak melumerkan dan tak menghancurkan keakuannya yang bagai sebongkah es seukuran tubuhnya; ia menganggap dirinya benar, dari situ muncul perselisihan. Ahli kebenaran rugi, ahli kesesatan beruntung. Peristiwa keberatan yang masyhur di İstanbul mengisyaratkan bahwa: di masa depan, sebagian tokoh yang sangat menyukai meşreb-nya, sebagian sufi yang egois (hodgâm), dan sebagian ahli irsyad serta ahli kebenaran yang tak sepenuhnya mematikan nafsu amarahnya dan tak terbebas dari jurang cinta kedudukan (hubb-u câh), akan berkeberatan terhadap Risale-i Nur dan murid-muridnya — dengan niat menjaga meşreb mereka, laku jalan mereka, dan perhatian baik para pengikut mereka — bahkan ada kemungkinan mereka membalas secara dahsyat. Pada terjadinya peristiwa-peristiwa semacam ini, kami perlu berkepala dingin (itidal-i dem), tak terguncang, tak masuk ke permusuhan, dan tak pula meruntuhkan para pemimpin kelompok penentang itu.

Sebuah rahasia yang tak terlintas untuk kuungkap, terpaksa kuungkap. Begini: karena sosok maknawi Risale-i Nur dan sosok maknawi murid-murid khasnya yang mewakili sosok maknawi itu mendapat maqam "Ferîd" (kemandirian rohani), jangankan dari pengelolaan quthub sebuah negeri tertentu, ia bahkan — dengan mayoritas mutlak — berada di luar pengelolaan quthub teragung (kutb-u a'zam) yang berada di Hicaz.. dan tak terpaksa masuk di bawah hukumnya. Seperti dua imam yang ada di tiap zaman, ia tak terpaksa mengenalnya. Dahulu aku menyangka sosok maknawi Risale-i Nur adalah salah satu dari para imam itu. Kini aku paham bahwa: karena pada Gavs-ı A'zam, beserta kekutuban dan kegausan, juga terdapat "ferdiyet" (kemandirian), maka Risale-i Nur yang menjadi pegangan murid-muridnya di akhir zaman adalah cermin maqam ferdiyet itu. Berdasarkan rahasia agung yang layak disembunyikan ini, sekiranya — sebagai pengandaian mustahil — sebuah keberatan terhadap Risale-i Nur datang bahkan dari quthub teragung di Mekah al-Mukarramah pun; murid-murid Risale-i Nur takkan terguncang, melainkan menerima keberatan quthub teragung yang diberkahi itu sebagai sebuah kasih sayang dan salam, dan — demi meraih perhatiannya pula — menjelaskan poin-poin yang dijadikan keberatan kepada üstad besar mereka itu, lalu mencium tangannya.

Ya, saudara-saudaraku; di zaman ini, di tengah arus-arus yang dahsyat dan peristiwa-peristiwa yang akan mengguncang kehidupan dan dunia, perlu memanggul ketabahan tak terbatas, kepala dingin, dan pengorbanan tanpa batas. Dengan rahasia isyari ayat يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلاٰخِرَةِ: padahal mereka mengetahui akhirat dan mengimaninya, mereka dengan suka mengutamakan dunia atas akhirat; dengan sengaja, ridha, dan gembira mengutamakan kaca yang akan pecah atas berlian yang kekal; dan — dengan hukum perasaan buta yang tak melihat akibat — mengutamakan kenikmatan beracun sedirham yang ada sekarang atas kenikmatan murni sebatman di masa depan; ini sebuah penyakit dahsyat, sebuah musibah zaman ini.* Dengan rahasia musibah itu, kaum mukmin hakiki pun kadang terjerumus ke kesalahan dahsyat seperti memihak ahli kesesatan. Semoga Cenab-ı Hak menjaga ahli iman dan murid-murid Risale-i Nur dari kejahatan musibah-musibah ini, âmîn. Said Nursî

* (Dirham ≈ 3,2 gram; batman ≈ 8 kg — satuan berat lama, dipakai di sini sebagai kiasan "sedikit lawan banyak".)

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Sebuah kilauan pertolongan Ilahi yang berbeda mulai terlihat, yang akan menandingi dua musibah — satu samawi, satu duniawi (arzî) — yang menghadang penyebaran dan fütuhat Risale-i Nur. Musibah duniawi dan insani: seperti di Isparta dan İstanbul; di kawasan Kastamonu pun, ahli kesesatan menyerang dalam berbagai cara di dalam sebuah rencana umum — demi membendung penyebaran Risale-i Nur, mematahkan semangat murid khas dan para pekerja serius, serta memberi kelesuan (fütur) kepada mereka. Karena tak bisa memberi kelesuan kepada yang ikhlas, mereka merugikan kerja mereka dengan memunculkan kesibukan-kesibukan lain. Adapun musibah samawi: akibat penimbunan (ihtikâr), rasa hidup dan bertahan hidup mengalahkan perasaan keagamaan, sehingga kebanyakan orang selalu memikirkan perut dan nafkahnya. Bahkan murid-murid Risale-i Nur — yang kebanyakan dari golongan fakir — karena terpaksa bersusah-payah menghadapi musibah ini, terpaksa meninggalkan khidmah penyebaran yang merupakan tugas hakiki dan terpentingnya.

Dan sebagai imbangan terhadap datangnya sebuah masa terhenti — karena benak dan pikiran manusia, secara sengaja dan langsung, mengambil sikap acuh sampai taraf tertentu terhadap hakikat-hakikat iman akibat ini; Cenab-ı Hak, dengan pertolongan dan rahmat-Nya, telah membuka medan bagi penyebaran dan fütuhat Risale-i Nur dengan cara lain. Antara lain: tokoh-tokoh ulama tinggi dari ufuk İstanbul — seperti mantan Amin Fatwa Ali Rıza, Ahmed-i Şiranî, dan dari para penceramah gemilang Şemsi — mulai berhubungan dengan Risale-i Nur secara serius dan penuh penghargaan. Lagi pula, padahal tak terpikir oleh kami, untuk mencetak dengan huruf baru — di awalnya bagian terpenting Âyet-ül Kübra — kami kirim ke percetakan tujuh bagian untuk dicetak dalam satu kumpulan; dan tiga-empat bagian yang membangunkan kaum muda dalam sebuah risalah tersendiri, bersama Hâfız Mustafa. Lagi pula, seorang tokoh penting berupaya: ia berniat mencetak sebagian dari bagian-bagian penting di Ankara, dengan bantuan seseorang berpangkat besar. Aku untuk sekarang tak menyetujuinya. Singkatnya, kalau satu pintu tertutup, pertolongan Ilahi membuka pintu-pintu yang lebih gemilang lewat Risale-i Nur, memberi jalan. Sebanyak huruf tertulis dan terucap Risale-i Nur, segala puji, sanjung, dan syukur bagi Cenab-ı Erhamürrâhimîn. هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

Berdasarkan ini, jangan risau atas keterhentian dan kelesuan sementara ini. Toh, kerja-kerja sampai sekarang berupa benih, yang di masa depan bisa memberi bulir-bulir yang cukup. Sebagai pengandaian mustahil, seandainya tak dikerjakan sama sekali pun, ia tetap mencukupi. Telah pasti tetap bahwa: di zaman ini ada kebutuhan kepada hakikat-hakikat Risale-i Nur seperti kebutuhan kepada makanan. Kebutuhan ini tak akan membiarkannya terhenti, ia akan menggerakkannya, insya Allah. Kami berjumpa dengan Hâfız Mustafa sebagai ganti kalian semua, tapi dalam waktu yang sangat singkat. Semoga Cenab-ı Hak menjadikannya dan Tahirî berhasil dalam urusan pencetakan, âmîn. Dalam surat Hâfız Ali, pertemuan dan musyawarahnya yang sangat akrab dan penuh persaudaraan dengan Hacı Hâfız, üstad Medrese-i Nuriye, sangat menggembirakan kami. Said Nursî

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Pemilik pabrik Nur, dalam bahasan Ayat Keempat Birinci Şua, bertanya tentang kalimat bahwa tujuh dasar hakikat keislaman dibuktikan secara gemilang: kami tahu rukun Islam ada lima. Ia juga bertanya bagaimana rukun wajibnya zakat dijelaskan dalam risalah-risalah. Jawaban: rukun-rukun Islam itu satu hal, dasar-dasar hakikat keislaman itu hal lain. Dasar-dasar hakikat keislaman adalah: enam rukun iman (Hâsiye: kata "beserta" (beraber) kurang dalam Şua, sehingga timbul keraguan.) beserta dasar ubudiyah, yang merupakan ringkasan keseluruhan lima rukun Islam (puasa, salat, haji, zakat, kalimat syahadat). Yang dimaksud adalah bahwa Risale-i Nur membuktikan dasar ubudiyah ini beserta enam rukun iman, lalu mendapat cermin kilauan سَبْعَ الْمَثَانِى. Adapun yang dimaksud dengan penjelasan wajibnya zakat, bukanlah perincian cabang-cabang zakat; melainkan maksudnya bahwa derajat keperluan dan nilai penting zakat dalam kehidupan sosial telah dibuktikan. Ya, maksudnya bahwa dalam risalah-risalah yang kami tulis sebelum Risale-i Nur, dan juga di berbagai tempat dalam Risale-i Nur, betapa pentingnya wajibnya zakat dalam kehidupan sosial telah dibuktikan secara pasti dan jelas.

Wafatnya dua anak muda saudara kami Şükrü Efendi — yang sempat mewakafkan dua vilanya di Isparta untuk pengajaran dan penyebaran Risale-i Nur — membuatku bersedih. Sebab, ketika putrinya yang suci masih berumur lima-enam tahun, tiap kali ia datang kepadaku, selalu kutanya "Siapa namamu?" Dengan polos, penuh kebanggaan ia berkata "Hayrünnisa", membuatku tersenyum penuh kasih. Cenab-ı Hak tiba-tiba mengambil bocah suci yang diberkahi itu ke surga-Nya, menyelamatkannya dari neraka dunia ini. Adapun putranya yang almarhum, Hayati, insya Allah penyakit menjadikannya juga tak berdosa dan suci seperti Hayrünnisa. Bersama mereka pergi menuju surga. Dari sudut pandang ini, aku memberi selamat kepada kedua anak itu. Dan kepada ayah-bunda mereka, aku menyampaikan takziah sekaligus selamat secara maknawi bahwa: kedua anak mereka mendapat rahasia وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ. Aku memasukkan keduanya ke dalam doa-doa kami, di antara murid-murid Risale-i Nur yang telah wafat. Hendaklah Rüşdü Efendi, atas namaku, membacakan Surat Ketujuh Belas (Onyedinci Mektub) yang merupakan surat takziahnya kepada Şükrü Efendi, di tempatku.

Sabri, sang nakhoda Risale-i Nur, menulis kabar wafatnya ayah-bunda Veli Efendi — saudara kami di pulau Nis yang, setelah pencetakan Onuncu Söz, beberapa bulan menyembunyikannya di rumahnya demi menjaganya dari bahaya, dan yang bersama ayah-bundanya peduli serius kepada kami. Semoga Cenab-ı Hak merahmati mereka. İnsya Allah, untuk waktu yang lama aku akan menyertakan mereka dalam perolehan-perolehan maknawiku.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Di zaman ini, khususnya saat-saat ini, murid-murid Risale-i Nur membutuhkan ketabahan, ketautan (tesanüd), dan kehati-hatian yang penuh. Segala puji bagi Allah, para pahlawan Isparta dan sekitarnya, dengan menunjukkan ketabahan bagai besi, menjadi teladan baik pula bagi tempat-tempat lain.

Wahai Hüsrev! Suratmu yang berpengaruh dan indah telah kuterima. Kembalimu ke pucuk tugasmu sangat menggembirakan kami. Selamat datang dengan ribuan kebahagiaan. Jangan risau karena pena materimu tak bekerja selama satu setengah tahun. Sebagai gantimu dan sebagai kenangan penamu yang penuh keramat, salah satu naskah Mu'cizat-ı Ahmediye berkeliling secara aktif di wilayah-wilayah timur. Naskah lain yang terakhir kau tulis pun, bekerja di tempatmu di İstanbul, dan insya Allah melakukan fütuhat. Pikirkanlah pahala, pujian, dan ucapan selamat yang diraih untukmu di kawasan ini, khususnya pada Ramadan Mulia, oleh dua mushaf Al-Qur'an Yang Mahaagung penuh mukjizat yang kau tulis; serta — dengan masuknya ke percetakan dalam waktu dekat, insya Allah — doa-doa rahmat yang akan tercurah ke ruhmu dari Alam Islam, lalu bersyukurlah kepada Allah.

Dalam surat Hâfız Ali, keputusannya untuk mencintai dan bersahabat dengan para hoca di İslâmköyü menyenangkan kami. Ya, sebagaimana İslâmköyü meraih keunggulan dan kepeloporan dalam kepedulian yang sangat besar kepada Risale-i Nur; begitu pula, karena ketika aku di sana kulihat para hoca İslâmköyü pun lebih adil dan menghargai Risale-i Nur dibandingkan hoca-hoca lain, aku menjadikan mereka teladan baik terhadap keacuhan para hoca di kawasan ini. İnsya Allah tak datang kerugian dari mereka. Aku menganggap İslâmköyü seperti Desa Nurs (Nurs Köyü), dan memandang para hoca itu dengan pandangan kerabatku, serta memberi salam pula kepada mereka. Ya, dengan keadilan mereka dan persahabatan mereka kepada Risale-i Nur, aku perkirakan Pabrik Nur berdiri di desa itu tanpa gejolak.

Wahai saudara Sabri! Turut berdukacita atasmu (başın sağ olsun). Semoga Cenab-ı Hak mengampuni ibu kita itu! Âmîn. Karena tanda pada jari-jarimu yang memberi kesan kekerabatan nasab denganku, dan karena selama tujuh-delapan tahun ini engkau menjalankan tugas persaudaraan secara lebih hangat dan aktif daripada Abdülmecid, tentu ibumu yang almarhumah adalah ibuku pula. Ia pun kusertakan — di samping ibuku — dalam perolehan maknawi dan doa-doaku. Semoga Cenab-ı Hak menganugerahimu kesabaran yang indah (sabr-ı cemil) dan menenggelamkan almarhumah dalam rahmat! Âmîn.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Secara sangat pasti, sebagai hasil hampir seribu pengalamanku, telah datang keyakinan pasti padaku, dan di kebanyakan hari kurasakan: pada hari aku berada dalam khidmah Risale-i Nur, sesuai derajat khidmah itu, kulihat sebuah kemekaran, keterbentangan, kelapangan, dan keberkahan dalam hati, tubuh, benak, dan nafkahku. Baik ketika di sana maupun di sini, kurasakan dan kurasakan keadaan yang sama dari banyak saudaraku. Dan banyak yang mengakui, mereka berkata "Kami pun merasakannya." Bahkan, seperti yang kutulis kepada kalian tahun lalu, rahasia hidupku dengan makanan yang sangat sedikit, ternyata keberkahan itu. Lagi pula, ada riwayat dari İmam-ı Şafiî radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: aku bisa menjamin rezeki para penuntut ilmu yang ikhlas. Sebab, pada rezeki mereka ada keluasan dan keberkahan. Selama hakikatnya begini, dan selama murid-murid Risale-i Nur di zaman ini telah menunjukkan kelayakan penuh atas gelar penuntut ilmu yang ikhlas; tentu, menghadapi kelaparan dan kelangkaan sekarang, alih-alih meninggalkan khidmah Risale-i Nur dan berlari mengejar nafkah dengan dalih keterpaksaan hidup, cara terbaik adalah syukur, qana'ah, dan berpegang penuh pada kemuridan Risale-i Nur.

Ya, di segala tempat derita nafkah (derd-i maişet) ini mengguncang setiap orang. Ahli kesesatan memanfaatkannya. Ahli agama pun menganggap dirinya berudzur, berkata "Ini keterpaksaan, apa boleh buat?" Berarti, murid-murid Risale-i Nur harus menghadapi musibah kelaparan dan keterpaksaan ini, lagi-lagi, dengan Nur. Tugas tiap murid bukan hanya menyelamatkan imannya sendiri; melainkan ia diwajibkan menjaga iman orang lain pula. Itu pun terjadi dengan melanjutkan khidmah secara serius. Kami telah menulis kepada kalian agar tak menghadapi penentang dengan permusuhan. Sebisa mungkin, ambillah sikap bersahabat terhadap ahli takwa dan ahli ilmu. Tapi perhatikanlah poin ini: jangan masukkan mereka ke dalam lingkaran kalian dengan cara yang merugikan Risale-i Nur dan menyentuh kekokohan serta ketabahan murid-muridnya. Kalau orang-orang semacam itu tak masuk dengan niat yang bersih, mereka mungkin memberi kelesuan. Kalau ia penuh keakuan dan suka pamer-diri, mereka mematahkan ketabahan murid-murid Risale-i Nur; menarik dan mencerai-beraikan pandangan mereka ke luar Risale-i Nur. Kini sangat diperlukan kehati-hatian, ketabahan, dan kewaspadaan.

Di kawasan ini, sungguh di luar harapanku, telah tumbuh dua pahlawan dari murid-murid Risale-i Nur. Ayah dan anak; Ahmed Nazif, Salahaddin. Kami melihat dua tokoh ini bekerja sebanyak dua ratus orang dalam penyebaran Risale-i Nur. Antara lain: salah satunya, yakni anaknya, berada di Kars lalu bekerja secara berpengaruh lewat surat-menyurat — seperti surat yang kukirim terlampir kepada kalian — ke Van, Erzurum, Konya, dan ke sini; ia benar-benar seorang Abdurrahman. Saudara kalian, Said Nursî

Risale-i Nur bukan tarekat, melainkan hakikat. Ia sebuah cahaya yang merembes dari ayat-ayat Al-Qur'an. Ia tak diambil dari ilmu-ilmu Timur, tak pula dari sains-sains Barat. Ia sebuah kemukjizatan maknawi Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat yang khusus bagi zaman ini. Tak ada kepentingan pribadi. Karena begitu Anda membaca seluruh Söz dan Mektub Risale-i Nur — setidaknya — banyak hakikat akan tampak, maka Anda akan segera berlepas diri dari pikiran Anda hari ini, yakni dari ragu dan menarik diri dalam menulis Risale-i Nur.

Saudaraku yang terhormat dan berharga! Mulailah menulis segera, jangan takut. Khidmah Al-Qur'an, insya Allah, akan menjaganya. Semoga lekas pulih bagi mereka yang pergi mengunjungi Efendi yang lain dan bagi saudara-saudara kami di kawasan itu yang menulis Risale-i Nur. (Hâsiye: Saudara kami Salahaddin di sini mengisyaratkan peristiwa ketika — seperti di Isparta — rumah-rumah mereka pun digeledah dan ditekan untuk mencari Risale-i Nur, namun dengan penjagaan Ilahi mereka tak menemukan apa pun. — Feyzi) Sang Penjaga Hakiki (Hâfız-ı Hakikî), insya Allah, akan menjaganya. Karena perlu tunduk pada perintah İmam-ı Ali radhiyallahu 'anhu تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ سِرًّا بَيَانَةً ❊ تُقَادُ سِرَاجُ السُّرْجِ سِرًّا تَنَوَّرَتْ, Risale-i Nur harus dibaca diam-diam, ditulis diam-diam, disebarkan diam-diam. Karena ia muncul dari tak diindahkannya perintah ini oleh saudara-saudara kami, dan karena mereka menerima sebuah tamparan kasih sayang yang ringan, sekali lagi semoga lekas pulih. Janganlah mereka risau sama sekali; tak ada apa pun yang bisa diperbuat, tak bisa diperbuat, dan tak bisa mereka lihat. Jangan bersedih dan menarik diri karena peristiwa ini. Sebaliknya, perbanyaklah kerja kalian agar kalian berhasil dalam ujian di medan percobaan. Mereka kerap mengusik Risale-i Nur, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, dengan berkah perlindungan dan doa tokoh-tokoh seperti Gavs-ı A'zam quddisa sirruhu dan İmam-ı Ali radhiyallahu 'anhu, Sang Penjaga Hakiki menjaganya. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

Kesempitan rohani, insya Allah, akan berlalu. Risale-i Nur mendapat rahasia لِلَّذ۪ينَ اٰمَنُوا هُدًى وَشِفَٓاءٌ. Mintalah pertolongan darinya. Karena murid-murid Risale-i Nur saling bersekutu dalam ibadah satu sama lain, ayat agung ini yang menjadi wirid tetap mereka memberi syifa kepada kalian pula. Tulislah Risale-i Nur. Indahkanlah kewaspadaan. Salam dan hormat untuk semua saudaraku. Kuanjurkan sekali lagi agar kalian bekerja untuk Risale-i Nur, saudara-saudaraku. Saudara kalian, Salahaddin