Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kali ini aku mengirimkan dua penggalan kepada kalian:
Lampiran Kastamonu · hlm. 84
Yang Pertama: sebelumnya aku telah mengirim sebagiannya kepada kalian. Sekarang, dengan sebuah peringatan maknawi, penggalan itu sekaligus disempurnakan dan diberitahukan bahwa ia penting. Ia bermanfaat bagi mereka yang melihat karya-karya lama Said yang Lama (Eski Said) yang berkaitan dengan politik; tapi ia agak rahasia (mahrem), maka mesti masuk ke Lâhika.
Penggalan Kedua: berdasarkan sebuah peringatan maknawi, ia adalah sebuah teguran dan peringatan bagi salah satu saudara kami yang mengambil beberapa karya baru yang — tanpa ia sadari — bisa merugikan khidmah Risale-i Nur; sekaligus sebuah peringatan agar murid-murid Risale-i Nur yang lain tak mencederai tugas mereka. Ini pun hendaknya masuk ke Lâhika.
Aku menerima sepucuk surat dengan tanda tangan "Hulusi-i Sâlis" (Hulusi Ketiga) — surat penting yang sangat menggembirakanku — dari seorang yang merupakan pewaris Küçük Lütfü, yang menerangkan khidmah berharga dan pembelaannya (tesahub) terhadap Risale-i Nur. Siapakah tokoh itu? Aku mengucapkan selamat kepadanya dengan banyak salam dan doa. Salam satu per satu untuk seluruh saudaraku, dengan didahului Pabrik Gül dan Pabrik Nur serta para Mübarek. Semoga Cenab-ı Hak memberi taufik dan melanggengkan pabrik-pabrik itu, yang mencerahkan negeri ini dan mengharumkannya dengan wewangian Surga, âmîn. Di sini, dengan cahaya-cahaya cemerlang mereka dan wangi mereka yang manis dan indah, kami menghirup wewangian Alam Keabadian (Âlem-i Beka).
بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ Kepada saudara-saudaraku — yaitu para pemilik dan pewaris yang merupakan murid-murid khusus Risale-i Nur, serta para rukun dan dasar yang merupakan kalangan khusus dari yang khusus — sehubungan dengan sebuah peristiwa yang terjadi beberapa hari ini, aku menerangkan bahwa:
Risale-i Nur mencukupi kebutuhan-kebutuhan terkait hakikat-hakikat Islam, tak menyisakan kebutuhan kepada karya lain. Telah dipahami secara pasti lewat banyak pengalaman bahwa jalan terpendek dan termudah untuk menyelamatkan, menguatkan, dan men-tahkik-kan iman ada di dalam Risale-i Nur. Ya, alih-alih lima belas tahun, dalam lima belas pekan Risale-i Nur memendekkan jalan itu, dan mengantarkan ke iman yang hakiki. Saudara kalian yang fakir ini, lebih dari dua puluh tahun lalu, dengan banyaknya menelaah, kadang dalam sehari menelaah satu jilid kitab sambil memahaminya; sedangkan sudah hampir dua puluh tahun, Al-Qur'an dan Resail-in Nur yang datang dari Al-Qur'an telah mencukupiku. Aku tak membutuhkan satu kitab pun, tak menyimpan kitab lain di sisiku. Padahal Risale-i Nur berkenaan dengan hakikat yang sangat beragam, namun sejak masa penulisannya, selama dua puluh tahun aku tak membutuhkan yang lain. Tentu kalian semestinya tak membutuhkan yang lain dua puluh derajat lebih lagi. Lagi pula, selama aku telah dan masih merasa cukup dengan kalian, tak melihat dan tak menyibukkan diri dengan yang lain — kalian pun mesti merasa cukup dengan Risale-i Nur; bahkan di zaman ini ia sangat perlu.
Lagi pula, karena untuk saat ini pada karya-karya baru sebagian ulama jalan dan tabiatnya berbeda dan condong memberi peluang kepada bid'ah-bid'ah, maka sebagaimana Risale-i Nur berupaya menjaga hakikat-hakikat iman terhadap zindik (kemurtadan terselubung), begitu pula menjaga huruf dan tulisan Al-Qur'an terhadap bid'ah adalah salah satu tugasnya; padahal salah satu murid khusus secara nyata mengajarkan huruf dan tulisan Al-Qur'an, namun dengan sebuah hawa yang rahasianya tak diketahui, mereka mengambil karya-karya yang dipakai dalam pukulan oleh sebagian hoja yang — di balik tabir ilmu agama — memukul huruf dan tulisan Al-Qur'an secara berpengaruh. Tanpa kuketahui, di gunung aku merasakan sebuah ketegangan terhadap murid-murid khusus itu secara hebat. Lalu aku menegur. Alhamdulillah mereka tersadar. Insya Allah mereka terselamatkan sepenuhnya.
Wahai saudara-saudaraku! Jalan kita bukanlah penyerangan, melainkan pembelaan diri; bukan penghancuran, melainkan perbaikan; dan kita bukanlah penguasa, melainkan yang terkuasai. Mereka yang menyerang kita tak terhitung banyaknya. Pada jalan mereka tentu ada hakikat-hakikat yang sangat penting yang juga merupakan milik kita. Untuk penyebaran hakikat-hakikat itu, mereka tak membutuhkan kita. Ada ribuan orang yang membaca dan menyebarkan hal-hal itu. Dengan berlarinya kita untuk membantu mereka, tugas yang sangat penting di pundak kita tercederai, dan ia menjadi sarana hilangnya sebagian dasar dan hakikat-hakikat tinggi yang mesti dijaga, yang masing-masing khusus bagi sebuah golongan. Misalnya: dengan dalih kejadian-kejadian zaman, telah ditulis karya-karya dengan cara menyiapkan landasan bagi sejenis Wahabisme dan Malamiyah, dengan menjadikan sebagian rukhsah syar'i sebagai tabir. Memang Risale-i Nur tak dengan cara memberlakukannya kepada umum; tapi bagaimanapun, menjaga dasar-dasar yang halus namun penting — seperti dasar kewalian, dasar takwa, dasar 'azimah, dan dasar-dasar Sunnah yang mulia — yang mengalir di dalam hakikat Islam, adalah salah satu tugas aslinya. Dengan dorongan keterpaksaan dan dengan fatwa-fatwa kejadian, dasar-dasar itu tak boleh ditinggalkan.
بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ Tiga puluh empat tahun setelah penulisannya, aku melihat karya bernama Münazarat, dan aku dapati: pada karya-karya semacam ini yang ditulis Said yang Lama dengan sebuah kondisi kejiwaan yang lahir dari revolusi masa itu, dari lingkungan itu, dan dari pengaruh-pengaruh luar, terdapat kesalahan-kesalahan. Atas kekurangan dan kesalahan-kesalahan itu, aku beristighfar dengan segenap kekuatanku, dan aku menyesali kesalahan-kesalahan itu. Permohonanku dari rahmat Cenab-ı Hak adalah: semoga kesalahan-kesalahan yang ia lakukan dengan niat menghilangkan keputusasaan ahli iman diampuni demi niat baiknya, dimaafkan.
Pada karya-karya semacam ini Said yang Lama, dua dasar penting berlaku. Kedua dasar itu memiliki hakikat; tapi sebagaimana penyingkapan (keşfiyat) ahli kewalian membutuhkan takwil-takwil dan mimpi yang benar (rü'ya-yı sadıka) membutuhkan takwil, begitu pula firasat sebelum kejadian (hiss-i kabl-el vuku) itu membutuhkan ungkapan-ungkapan yang lebih halus — sementara penjelasan kedua hakikat yang dirasakan Said yang Lama lewat firasat itu, secara tanpa takwil dan tanpa ungkapan halus, tampak sebagian keliru dan sebagian menyalahi.
Dasar Pertama: yaitu bahwa ia memberi kabar gembira terhadap keputusasaan ahli iman: "Di masa depan ada sebuah nur." Dengan sebuah firasat sebelum kejadian, ia merasakan bahwa Risale-i Nur di masa depan, pada sebuah zaman yang dahsyat, akan menguatkan dan menyelamatkan iman banyak ahli iman; lalu dengan lensa itu ia memandang ke lingkaran-lingkaran politik dalam Revolusi Kebebasan (Hürriyet İnkılabı); ia berupaya menerapkannya tanpa ungkapan halus dan tanpa takwil. Ia menyangkanya dari sisi politik, kekuatan, dan kuantitas. Ia merasakannya dengan benar, tapi tak bisa mengatakannya dengan benar sepenuhnya.
Dasar Kedua: Said yang Lama, seperti yang dirasakan oleh sebagian manusia politik yang jenius dan para sastrawan luar biasa, merasakan sebuah istibdad (despotisme) yang sangat dahsyat lalu mengambil sikap menentangnya. Padahal firasat sebelum kejadian itu membutuhkan ungkapan dan takwil, namun tanpa menyadarinya ia melihat sebuah istibdad yang resmi, lemah, dan hanya pada namanya, lalu menunjukkan serangan terhadapnya. Padahal mereka menyangka sebuah bayangan lemah dari istibdad-istibdad yang akan datang beberapa waktu kemudian — yang membuat mereka ngeri — sebagai yang asli, lalu bersikap dan menjelaskan demikian. Maksudnya benar, tapi sasarannya keliru.
Nah, Said yang Lama pun, di masa lampau merasakan sebuah istibdad yang aneh semacam ini. Pada sebagian karyanya, ada pernyataannya yang menyerangnya. Ia memandang meşrutiyet yang sah secara syar'i (meşruta-i meşrua) sebagai sebuah sarana keselamatan terhadap istibdad-istibdad aneh yang dahsyat itu. Dan ia berpikir bahwa kebebasan syar'i (hürriyet-i şer'iye) — dengan musyawarah dalam lingkup hukum-hukum Al-Qur'an — akan menolak musibah dahsyat itu, lalu bekerja demikian. Ya, zaman menunjukkan bahwa: sebuah negara yang menyandang nama pencinta kebebasan — sebagai sebuah contoh dari istibdad yang datang di masa depan itu — dengan tiga ratus pegawai despotiknya, sejak tiga ratus tahun telah mengikat tiga ratus juta India semudah tiga ratus orang, lalu menundukkannya di bawah istibdad sampai tingkat tak bisa bergerak; ia memberi nama "ketertiban" dan "keadilan" kepada undang-undang despotiknya yang merupakan kezaliman terberat pada tingkat maksimal — yakni menghukum ribuan orang karena kesalahan satu orang — lalu menipu dunia dan membakarnya.
Pada karya bernama Münazarat, terdapat sebagian catatan dan haşiye-haşiye kecil dalam bentuk kelakar. Pada penulisan masa lampau itu, ia berupa sejenis candaan bagi para murid yang berperangai halus. Sebab, mereka berada bersamanya di gunung-gunung itu. Ia menerangkannya kepada mereka dalam bentuk pelajaran. Lagi pula, hakikat Medreset-üz Zehra di penutupnya — yang berkedudukan sebagai ruh dan dasar Risalah Münazarat ini — adalah menyiapkan sebuah buaian, sebuah landasan bagi Risale-i Nur yang akan muncul di masa depan; tanpa ia ketahui dan tanpa kehendaknya, ia digiring ke arah itu. Dengan sebuah firasat sebelum kejadian, ia mencari hakikat yang bercahaya itu dalam bentuk material. Lalu sisi material hakikat itu pun mulai terwujud. Sultan Reşad memberikan sembilan belas ribu lira emas untuk Medreset-üz Zehra yang fondasinya diletakkan di Van, dan fondasinya pun diletakkan. Tapi Perang Umum (Dunia I) yang dahulu pecah, sehingga ia tertunda. Lima-enam tahun kemudian aku pergi ke Ankara, lalu kembali bekerja untuk hakikat itu. Dengan tanda tangan seratus enam puluh tiga anggota dewan (meb'us) dari dua ratus anggota, alokasi untuk madrasah kami itu — dengan menaikkannya menjadi seratus lima puluh ribu banknot — diterima. Tapi seribu sayang, madrasah-madrasah ditutup, aku tak bisa sepaham dengan mereka, sehingga ia kembali tertunda. Tapi Cenab-ı Erhamürrâhimîn (Yang Maha Penyayang di antara para penyayang) menegakkan identitas maknawi madrasah itu di Provinsi Isparta, dan menjelmakan Risale-i Nur. Insya Allah di masa depan, para murid Risale-i Nur akan berhasil pula menegakkan bentuk material hakikat yang tinggi itu.
Sedangkan penentangan keras Said yang Lama terhadap komite İttihad ve Terakki (Persatuan dan Kemajuan) — beserta penghargaan tinggi dan keberpihakannya secara memihak terhadap pemerintahan mereka dan khususnya terhadap tentara — itu: dengan sebuah firasat sebelum kejadian, ia merasakan bahwa di jamaah militer dan perkumpulan nasional itu — yang masih ada "minyaknya" di dalamnya — akan tampak, enam-tujuh tahun kemudian, para syuhada yang berjumlah hampir sejuta dan berada di tingkat wali. Tanpa kehendaknya, berlawanan dengan tabiatnya, selama empat tahun ia memihak mereka. Dengan goncangan Perang Umum (Dunia I) yang dahulu, "minyak" yang diberkahi itu diambil, dan ia berubah menjadi "ayran yang telah diambil minyaknya". Said yang Baru pun menentang Said yang Lama, lalu kembali ke mujahadahnya.
Karena makna-makna hakiki dari hadis-hadis sahih tentang turunnya (nüzul) Nabi 'Isa 'alaihissalam di akhir zaman dan tentang pembunuhannya terhadap Dajjal tak dipahami, sebagian ulama zahiri memandang sisi lahir riwayat dan hadis itu lalu jatuh ke dalam keraguan. Atau mereka mengingkari kesahihannya, atau memberinya makna yang bersifat khurafat sehingga seakan menanti sebuah bentuk yang mustahil — dengan cara demikian mereka merugikan kaum awam Muslim. Sedangkan kaum mulhid menjadikan hadis-hadis yang secara zahir jauh dari akal semacam ini sebagai dalih, lalu memandang hakikat-hakikat Islam secara merendahkan dan menyerangnya. Risale-i Nur menunjukkan takwil-takwil hakiki dari hadis-hadis mutasyabih semacam ini dengan feyiz Al-Qur'an. Untuk saat ini, sebagai contoh, kami sebutkan satu misal saja. Begini:
Ada riwayat yang maknanya: pada masa Nabi 'Isa 'alaihissalam bertarung dengan Dajjal, ketika Nabi 'Isa 'alaihissalam hendak membunuhnya, ia melompat sepuluh hasta* ke atas lalu baru bisa menjangkau lutut Dajjal dengan pedangnya — sedemikian rupa sehingga tubuh dan postur Dajjal sebesar itu lebih besar daripada Nabi 'Isa. Berarti, Dajjal mestinya berperawakan sepuluh, barangkali dua puluh kali lipat lebih tinggi daripada Nabi 'Isa 'alaihissalam. Ungkapan lahir riwayat ini, selain bertentangan dengan rahasia taklif (sırr-ı teklif) dan rahasia ujian (sırr-ı imtihan), tak sesuai pula dengan sunnatullah (âdetullah) yang berlaku pada jenis manusia. Padahal — untuk membungkam kaum zindik yang, hâşâ, menyangka riwayat dan hadis ini mustahil dan khurafat, sekaligus untuk menegur para hoja zahiri yang meyakini sisi lahir itu sebagai hakikat itu sendiri dan yang masih menanti, padahal mata mereka telah melihat sebagian hakikat hadis itu — telah muncul salah satu dari sekian makna hadis itu, yang di zaman ini pun merupakan hakikat itu sendiri, sepenuhnya sesuai, dan kebenaran murni. Begini:
Seandainya menjelma sosok maknawi (şahs-ı manevî) sebuah pemerintahan yang berperang melawan pemerintahan-pemerintahan yang penuh fitnah dan lalim (cebbar) — yaitu pemerintahan pertama, sebuah pemerintahan yang bekerja demi menjaga Agama Kristen (İsevîlik) dan adat-adatnya yang berlangsung terus yang datang dari agama itu, melawan sebuah pemerintahan lain yang dengan pengumuman resminya menolong dan mempromosikan ketidakberagamaan dan bolshevisme demi kepentingan kotor yang penuh kegelapan, yang demi kepentingan hina pula memihak penyebaran ketidakberagamaan di kalangan kaum Muslim dan di Asia — dan seandainya seluruh pendukung arus ketidakberagamaan pun menjelma menjadi sebuah sosok maknawi: maka dari tiga sisi, hadis yang memiliki sekian makna ini, di zaman ini, menunjukkan persis salah satu maknanya. Kalau pemerintahan yang menang itu memenangkan hasil perang, makna isyari ini pun naik ke tingkat sebuah makna yang jelas (mana-yı sarih). Kalaupun tak menang sepenuhnya, ia tetap sebuah makna isyari yang sesuai.
Sisi Pertama: seandainya menjelma jamaah para rohaniwan Kristen yang menjadikan Agama 'Isa yang hakiki sebagai dasar, dan jamaah yang mulai mempromosikan ketidakberagamaan terhadap mereka, maka yang kedua tak akan sebesar seorang anak pun di samping seorang manusia setinggi menara.
Sisi Kedua: sebuah pemerintahan yang dengan pengumuman resminya berkata "aku akan bersandar kepada Allah dan menghapus ketidakberagamaan, aku akan melindungi Islam dan kaum Muslim" berjumlah seratus juta sekian, sedangkan ia memberi pukulan yang menang dan mematikan kepada sebuah negara lain yang menguasai penduduk hampir empat ratus juta, kepada Cina yang berpenduduk hampir empat ratus juta dan merupakan sekutunya, kepada Amerika, serta kepada kaum bolshevik yang menjadi penolong dan sekutu mereka; seandainya menjelma sosok maknawi jamaah pejuang di pemerintahan itu beserta sosok-sosok maknawi kaum tak beragama dan para pendukungnya yang ia lawan, maka lagi-lagi ia menjadi seperti nisbah seorang manusia kecil dibandingkan seorang manusia setinggi menara. Dalam sebuah riwayat, makna "Dajjal menguasai dunia" berarti mayoritas mutlak memihak kepadanya. Sekarang pun terjadi demikian.
Sisi Ketiga: seandainya — di antara empat benua Bola Bumi (Hâsiye: Australia tak diperhitungkan.) — negeri sebuah pemerintahan yang tak sampai seperempat Eropa, benua terkecil, yang berperang secara menang melawan sebagian besar Asia, Afrika, Amerika, dan Australia bersama sebuah negara yang mengklaim perwakilan Nabi 'Isa, dan yang dengan bersandar kepada agama berperang serta bertarung dengan parasut-parasut langit (semavî paraşüt) melawan arus-arus ketidakberagamaan yang sangat despotik — seandainya sosok-sosok maknawi pemerintahan itu beserta yang lainnya masuk ke dalam rupa manusia; sebagaimana yang sejak dahulu dilakukan surat-surat kabar — yaitu menunjukkan kekuatan negara-negara dan derajat pemerintahan-pemerintahan — seandainya sosok-sosok maknawi itu pun menjelma seperti penggambaran mereka dalam rupa manusia di surat kabar permukaan bumi, di halaman abad ini; maka muncullah persis dan tepat sebuah makna penuh dari sekian makna peristiwa akhir zaman yang dijelaskan hadis mulia secara mukjizat dari jenis pemberitaan gaib (ihbar-ı gaybî). Bahkan, sebagai sebuah makna isyari dari isyarat turunnya diri 'Isa 'alaihissalam dari langit, sebuah golongan yang mewakili Nabi 'Isa 'alaihissalam dan bergerak atas namanya pun, dengan cara yang sampai sekarang tak pernah terdengar dan terlihat, diturunkan dari langit dengan pesawat-pesawat (tayyare) dan parasut-parasut seperti sebuah bencana langit, dan diturunkan di belakang para musuh. Ia menunjukkan sebuah misal material dari turunnya Nabi 'Isa.
Ya, dengan ungkapan hadis mulia itu, turunnya Nabi 'Isa dari langit adalah pasti; namun di samping itu, sebagaimana ia mengungkapkan hakikat-hakikat lain dengan makna isyarinya, ia pun mengisyaratkan hakikat ini secara mukjizat. Karena pertanyaan dan desakan Feyzi — yang adalah Küçük Hüsrev — dan Emin, dengan niat menjaga iman beberapa orang malang dari syubhat, aku berniat menulis hanya satu-dua-tiga baris tentang masalah ini; namun ketika mulai, di luar kehendakku, ia dituliskan panjang. Hikmahnya pun tak kami pahami; barangkali ada sebuah hikmahnya, maka kami biarkan apa adanya. Maafkanlah, pada tulisan ini kami tak menemukan waktu untuk mengoreksi dan mencermati, sehingga ia tetap kacau.
* hasta (arşın): satuan panjang Utsmani, kira-kira 68 cm.